
Malam kedua di hotel, Tiara mulai bosan karena kegiatannya monoton, hanya makan, mandi, nonton, main hp, tidur. Hidup tanpa tugas kuliah, ternyata memang membuatnya terlihat sangat kurang kerjaan. Bahkan saking kurang kerjaannya, ia berdiri di balkon sambil menghitung kumpulan lampu di kejauhan yang menghias pegunungan.
"... Tiga puluh lima, tiga puluh enam, tiga puluh tujuh, empat puluh," hitung Tiara dengan serius.
"Ara! Lagi ngapain sih?" tanya Rama kesal melihat Tiara yang menunjuk-nunjuk ke udara sambil berhitung.
Tiara mendengus seraya membalikkan badan dan menatap Rama yang masih berdiri di tengah pintu. Tiara melirik tajam dan memanyunkan bibirnya.
"Isshh, Abang ganggu konsentrasi aku aja. Jadi lupa kan udah sampai mana hitungnya. Mulai dari awal lagi deh," sesal Tiara merengut.
"Lho, kan aku cuma tanya lagi ngapain," sahut Rama membela diri.
"Aku lagi menghitung lampu-lampu di sana," ucap Tiara sambil menunjuk sorot lampu-lampu di pegunungan.
Rama pun tak bisa menahan tawanya. Bahkan, ia sampai terpingkal-pingkal mengetahui tingkah istrinya yang di luar kebiasaan manusia pada umumnya. Ia sampai sakit perut karena susah menghentikan tawanya. Terlebih lagi, Tiara hanya menatapnya dengan wajah datar dan keheranan sehingga tawanya semakin menjadi-jadi melihat ekspresi lugu dan lucu istrinya.
"Abang, apa yang lucu? Kamu kerasukan?" tanya Tiara panik.
Tiara berlari menuju Rama yang terus tertawa dan tidak menjawab pertanyaannya. Ia sangat takut jika Rama benar-benar kerasukan. Pasalnya, ia pernah punya teman di sekolah yang kalau kerasukan memang suka tiba-tiba tertawa dan tidak merespon ucapan di sekitarnya. Ia mendongak sambil mengguncang bahu Rama agar segera sadar.
"Abang, jangan bercanda! Jangan kerasukan!" gertak Tiara ketakutan.
"Siapa juga yang kerasukan," sahut Rama mulai mereda tawanya.
Tiara segera mengambilkan air mineral di meja dan menyerahkannya kepada Rama. Rama pun menuruti perintah Tiara untuk meminumnya. Benar saja, tawanya benar-benar reda dan Tiara terlihat lebih tenang.
__ADS_1
Tiara merasa lelah setelah berperang dengan ketakutannya sendiri. Ia pun lemas dan duduk di lantai balkon sambil menikmati suasana malam.
"Abang, kenapa tadi ketawa sampai segitunya?" tanya Tiara penasaran.
"Abisnya kamu aneh. Ngapain juga menghitung lampu segala. Kurang kerjaan bener," jawab Rama menyusul duduk di samping Tiara.
"Iya aku bingung harus ngapain. Bosan juga nggak ada kegiatan. Abang emang enggak bosen?" tanya Tiara samb menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Bosen sih. Ya udah besok kita cari spot yang bagus ya. Mumpung kamu lagi liburan. Aku juga penat nggak pernah piknik karena banyak kerjaan," jawab Rama.
"Oke, Abang," sahut Tiara sangat antusias.
Rama pun mengacak-acak rambut Tiara karena gemas. Senyum Tiara benar-benar polos dan alami, tak terlihat pura-pura sama sekali. Ia sangat ekspresif dan perasaannya mudah ditebak dari gestur tubuh juga.
"Abang pernah mencintai diam-diam?" cetus Tiara dengan pandangan masih menerawang ke depan.
"Memang, kenapa?" tanya Rama penasaran.
"Aku pernah mencintai diam-diam, rasanya sangat melelahkan dan menyakitkan. Hanya bisa menatapnya dari kejauhan karena tembok kita terlalu tinggi. Sebenarnya, aku dan dia sama-sama sendiri namun iman kita nggak merestui. Meski aku bukan wanita yang alim namun aku tetap tahu diri. Awalnya, aku kira hanya mengaguminya saja namun lama-kelamaan aku bisa merasa kesal kalau dia dekat-dekat dengan wanita lain, merasa ingin lebih diperhatikan olehnya, merasa ingin tahu segala tentangnya," jelas Tiara berhenti sejenak untuk minum bekas minuman Rama.
"Sampai-sampai, ia pernah takut berpapasan denganku karena aku dan sahabatku terlalu heboh saat bertemu dengannya. Aku juga sangat bodoh, nggak bisa menyembunyikan perasaan. Mungkin aku gitu karena baru pertama kali punya ketertarikan lebih kepada lelaki jadi kayaknya terlalu agresif mendekatinya. Setelah melihat respon dia yang semakin menghindar dan menjauh, aku pun menyerah dan berusaha bersikap senormal mungkin. Beberapa bulan kemudian, dia malah berbalik mendekatimu. Dalam hati, aku tentu bahagia ternyata perasaanku berbalas. Akan tetapi, aku pun menyadari jika dia merespon baik pun tidak ada akan menyatukan perbedaan kita juga. Mungkin, kita bisa menjalani saat ini dengan bahagia dan saling berbagi rasa namun untuk jenjang ke depan tentu kita tak tahu hubungan akan dibawa ke mana. Saat sedang bimbang-bimbangnya, malah Kakek meminta aku menikah denganmu," papar Tiara runtut.
"Dia cinta pertamamu?" tanya Rama menyimak.
"Mungkin, bisa dibilang begitu. Kata teman-temanku juga gitu, tapi aku nggak tau persisnya. Aku memang belum pernah pacaran jadi belum terlalu paham tentang perasaan semacam itu," jawab Tiara polos.
__ADS_1
"Kalau aku, dulu memang bisa dibilang bad boy walaupun sekarang juga masih. Aku dulu suka mabuk-mabukan, suka main di club malam. Waktu SMA, aku suka berganti-ganti wanita hanya biar terlihat keren di mata teman-teman, meskipun prinsipku tetap sama, yakni nggak mau merusak wanita. Aku berhenti menjadi play boy sejak aku menyukai cewek berkerudung dan sangat taat agama. Awal aku kenal dia karena kami satu kelas dan sering satu kelompok jadi banyak berinteraksi dengannya. Aku pernah beberapa kali menembaknya namun selalu ditolak. Mungkin itu salah satu yang membuat aku semakin penasaran kepadanya karena dia satu-satunya wanita yang berani menolakku saat itu. Setelah lulus kuliah, aku beranikan diri untuk melamar ke rumahnya namun langsung ditolak mentah-mentah oleh orang tuanya karena beliau dosen di prodiku dan sangat paham perangai burukku. Ia pun dijodohkan dengan seorang alim. Sejak saat itu, aku pun putus asa dan menutup diri dari wanita," jelas Rama.
"Lalu, Si Mak Lampir itu?" tanya Tiara.
"Selvi? Kalau sama dia, aku bertemu di suatu pemotretan untuk bikin iklan produk kolegaku dan dia yang menjadi modelnya. Singkat cerita ya kita dekat karena dia sangat agresif mendekatiku dan berani menembakku, aku tentu sungkan menolaknya sehingga aku mencoba membuka hati untuknya. Namun, dia malah lebih memilih bos di agency-nya. Ya aku lebih baik mundur dan menerima tawaran Mama soal wasiat Papa," jawab Rama.
"Aih menyebalkan sekali Si Mak Lampir itu ya. Udah punya satu sugar daddy aja masih kurang," celetuk Tiara.
"Sugar daddy? Maksud kamu itu aku?" tanya Rama tidak jadi terbawa suasana.
"Hehe iya," jawab Tiara cengengesan
"Hiiiihh..." ucap Rama sambil memegang kepala Tiara dengan gemas.
"Cinta pertama kita ternyata sama-sama menyakitkan ya, Bang. Cinta beda iman sulit, cinta seiman tapi nggak direstui juga rumit," ujar Tiara sambil tersenyum mengingat-ingat masa lalunya.
Rama hanya diam. Ia berusaha mengubur dalam-dalam semua kenangan yang sedang berusaha bermunculan. Ia tak ingin terlarut dalam pusara masa lalu.
"Abang, nggak mau pinjami aku jaketmu itu?" tanya Tiara memecahkan kesunyian di antara ia dan suaminya.
"Ayo masuk aja. Udah malam. Waktunya istirahat. Besok jaketmu sampai," ajak Rama berdiri.
"Abang beliin jaket?" tanya Tiara berseri-seri.
"Udah ayo masuk. Siapkan tenaga buat besok," jawab Rama berdiri dan berjalan masuk kamar meninggalkan Tiara sendirian.
__ADS_1
"Terima kasih, Abang!" seru Tiara sambil berlari kecil menyusul Rama dengan riang.
...****************...