Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Belum Menyerah?


__ADS_3

Waktu kunjungan ke rumah Nafisa pun tiba. Rama dan Tiara berangkat ke sana menggunakan kereta sleeper luxury yang berangkat dari Jakarta pukul 21.30 dan sampai di Semarang 03.00. Mereka pun menginap di hotel dekat stasiun untuk mengistirahatkan badan.


Pagi hari, Rama menghubungi nomor Pak Latif untuk menanyakan keberadaan Nafisa. Pak Latif pun menjawab bahwa putrinya sudah di rumah. Setelah itu, Rama meminta share lokasi untuk memudahkannya menemukan rumah yang dituju.


Rama dan Tiara pun datang ke rumah Nafisa dengan membawa parsel buah-buahan. Pak Latif dan istrinya, Bu Aida, menyambut mereka dengan sangat ramah. Kemudian, Bu Aida masuk dan keluar membawa nampan berisi teh beserta camilannya. Di belakangnya, mengekor Nafisa yang menunduk malu dengan wajah masih pucat dan kuyu. Mereka pun bergabung duduk di ruang tamu.


"Dari Jakarta jam berapa, Rama?" tanya Pak Latif.


"Kemarin malam, Pak," jawab Rama berusaha menjaga sikap karena bagaimana pun, Pak Latif adalah dosennya.


"Oh iya. Kira-kira, ada apa datang kemarin?" tanya lagi lelaki tua itu penasaran.


"Pak, maaf sebelumya kalau kami datang tiba-tiba. Kedatangan kami berkenaan dengan yang pernah Pak Latif katakan tempo lalu. Dengan berat hati, saya ungkapkan bahwa saya tidak bisa menerima lamaran Bapak. Saya masih teguh dengan pendirian untuk setia pada istri saya. Secara ilmu agama pun, saya tentu jauh dari Nafisa. Jadi bukankah lebih baik Nafisa mencari yang sepadan saja?" tegas Rama.


Nampak nyata raut kecewa di wajah Nafisa dan orang tuanya. Nafisa pun menunduk lebih dalam karena malu dan hancur ditolak oleh lelaki pilihannya. Kemudian, Nafisa mendadak tak sadarkan diri membuat orang di ruangan itu terkejut diliputi kecemasan, termasuk juga Rama dan Tiara yang langsung berdiri ikut mendekatinya. Wajahnya memucat dan tubuhnya terkulai lemah tak berdaya.


"Astaghfirullah. Inna lillaaah," ucap Pak Latif dan Bu Aida serempak.


"Memangnya, Nafisa sakit apa, Pak?" tanya Rama sambil memerhatikan Nafisa dari kejauhan dengan penuh keibaan.


Terbesit rasa bersalah di hati Rama namun menerimanya juga tidak kuasa. Selain akan menyakiti Tiara, restu Bu Ina pun takkan mudah didapatkan.

__ADS_1


Pak Latif segera merebahkan putrinya di sofa dan memandang putrinya dengan prihatin.


"Entahlah, Rama. Setiap kami ingin menemani kontrol, dia menolak dengan dalih tak mau merepotkan atau ada saja alasannya. Akhir-akhir ini memang dia sering pingsan, badannya lemas, susah makan. Dia seperti sedang terpuruk sekali. Mungkin bayangan pernikahannya yang bermasalah masih membuatnya trauma, apalagi harus menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak bisa melahirkan keturunan," jawab Pak Latif menahan kesedihan yang teramat sangat.


"Kadang, dia tiba-tiba murung dan menangis berjam-jam. Setiap ditanya, ia hanya menjawab tidak apa-apa. Kadang juga, dia berandai-andai soal takdir dan mengatakan jika mungkin dulu kami menerima lamaran Rama sepertinya dia takkan menanggung beban sepedih ini dan dia bisa hidup lebih bahagia. Entah bagaimana iman dia bisa serapuh ini walaupun dia tetap anak yang taat kepada orang tua dan taat ibadahnya," sambung Bu Ida sambil memijit telapak tangan putrinya.


"Tapi, Pak, Bu. Sekarang keadaannya sudah berbeda. Saya sudah berkeluarga dan saya sangat mencintai istri saya, bukan lagi Nafisa. Sekali lagi, saya minta maaf jika kedatangan saya memperburuk keadaan Nafisa, tapi saya merasa harus memperjelas semuanya biar tidak ada kesalahpahaman atau harapan yang tak semestinya ada. Saya berharap, Pak Latif dan Bu Aida bisa memahami yang saya sampaikan," harap Rama sedikit menyesal namun sudah lebih lega di dada.


"Cah Ayu, apakah kamu mengizinkan jika kami memohon untuk merestui suamimu menikahi putri kami? Tidak lama. Hanya sementara sampai dia bisa punya harapan dan semangat hidup lagi bersanding dengan lelaki impiannya. Kalaupun memang umurnya tidak lama lagi, setidaknya dia bisa lebih bahagia di sisa umurnya. Kami tidak bisa berbuat banyak, meskipun sudah mengupayakan segala yang kami bisa. Sebab, satu-satunya impian Nafisa hanya ingin menikah dengan Rama. Saya berjanji tidak menuntut apa pun, nikah secara agama dan tidak perlu ada pesta pun kami rela. Bahkan, jika kalian menyembunyikan pernikahan ini, kami akan terima. Yang penting, Nafisa bisa mewujudkan impian satu-satunya. Dia sudah tidak bisa punya keturunan, jadi dia hanya punya harapan punya pasangan yang bisa membahagiakannya.," bujuk Bu Aida sambil mengusap tangan Tiara.


Tiara mendadak kelu dan tak tahu harus bagaimana. Harapan Bu Aida sangat tinggi kepadanya, sedangkan hatinya bertolak belakang dengan harapannya. Di satu sisi, memang begitu kasihan dengan keadaan Nafisa yang separah ini. Di sisi lain, ia pun tak bisa membayangkan jika suaminya harus menikah lagi.


Nafisa yang sudah tersadar dari pingsannya pun menangis pilu mendengar jawaban Rama yang menohok itu. Pupus sudah harapannya bersama Rama dan selamanya menjadi angan saja. Ia menanggung malu dan sakit hati luar biasa. Ia sempat optimis Rama akan kembali mencintai dan menerimanya kembali namun lain dengan kenyataan yang ada di depan mata.


Pak Latif dan Bu Aida pun sama kecewanya. Mereka sedikit menyesali penolakan yang pernah dilakukannya kepada Rama. Namun, penyesalan itu segera ditepis karena semua takdir sudah punya jalannya, tentu takkan ada yang tersesat atau keliru.


"Apakah benar-benar tidak ada harapan lagi, Rama?" tanya Pak Latif memastikan.


"Tidak, Pak," tegas Rama.


"Ayah, aku ingin berobat di Jakarta. Mungkin di sana bisa bertemu dokter yang bisa menyembuhkan penyakitku atau setidaknya meringankan sakitku," pinta Nafisa penuh harap.

__ADS_1


Mata Rama dan Tiara membola mendengar permintaan Nafisa yang tak terduga. Mereka tak habis pikir dengan Nafisa yang belum mau menyerah.


"Boleh. Di mana pun yang penting kamu sembuh, Nak. Kami akan menemanimu ke mana pun kami pergi," sahut Pak Latif sambil membantu Nafisa duduk.


"Tidak, Ayah, Ibu. Kalian harus tetap di rumah. Ada Zara yang lebih membutuhkan kalian. Walaupun dia bukan anak kandung, tapi kasih sayang dan perhatian yang dia dapatkan harus sama dengan Nafisa. Nafisa sudah besar dan bisa menjaga diri," ujar Nafisa.


"Tapi, kamu sedang sakit, Nak. Bagaimana mungkin kami tega membiarkan kamu di Jakarta sendirian. Kami tentu tidak akan tenang melepasmu sejauh itu," bantah Bu Aida.


"Walaupun Ayah pernah bekerja di sana namun kita tak punya keluarga atau kerabat yang bisa menjagamu juga. Jangan meminta yang memberatkan kami, Nak. Perkara biaya tentu kami takkan berat menghabiskan berapa pun untuk kesembuhanmu namun melepasmu di Jakarta sendirian itu yang terlalu sulit kami turuti. Bagaimana kalau kamu tiba-tiba sakit dan pingsan, siapa yang akan merawatmu?" bujuk Pak Latif agar Nafisa mengurungkan niatnya.


"Percayalah, Ayah, Ibu. Nafisa akan baik-baik saja. Yang penting, kalian doakan saja kesembuhan Nafisa," sahut Nafisa sambil duduk karena merasa tenaganya sudah kembali.


"Nafisa, tolong. Kamu pahami kekhawatiran kami," pinta Bu Aida menahan cemas dan air mata.


Nafisa mengarahkan tatapannya kepada Rama dan Tiara membuat mereka berdua dilanda kecemasan pun kebimbangan. Pikiran mereka tertuju pada hal yang sama dan membuat mereka terdiam menunggu penuturan selanjutnya dari bibir Nafisa.


"Rama, apakah boleh aku tinggal di rumahmu selama pengobatan? Aku janji takkan merepotkan kalian dan bersedia membantu apa pun yang kalian butuhkan. Setidaknya, biar Ayah dan Ibu lebih tenang melepasku selama pengobatan. Aku dengar dari Ayah, di rumahmu masih ada Ibu dan asisten rumah tangga juga jadi mungkin tidak akan ada fitnah jika aku menumpang sementara di sana. Boleh, Rama, Tiara?" tanya Nafisa dengan mata berbinar penuh harapan.


Baru kali ini, Pak Latif dan Bu Aida melihat harapan kembali di mata indah putrinya. Antara sedih, bingung, dan bahagia melihat perubahan sikap putrinya. Mereka sebenarnya tidak enak hati jika Nafisa menumpang di rumah Rama namun jika itu bisa membantu kesembuhan putri kandung satu-satunya, mereka pun akan merelakan dia jauh sementara. Mereka pun berpikir, mungkin dengan berada di dekat Rama bisa memulihkan trauma putrinya sekali pun tak dapat mewujudkan pernikahannya.


Rama dan Tiara pun tercengang mendapati prasangka mereka tidak meleset dari kenyataan. Keduanya saling bertatapan penuh kegamangan. Tiara langsung melingkarkan tangannya ke lengan Rama karena tak tahu harus menjawab apa dan entah apa yang membuatnya begitu takut hingga meremas lengan Rama begitu kuat. Sedangkan Rama masih berdiri dengan ekspresi datar saking kagetnya mendengar pertanyaan Nafisa yang membuatnya kehabisan kata.

__ADS_1


__ADS_2