Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Sekar Si Anak Kritis


__ADS_3

"Tiup lilinnya. Tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga. Sekarang juga," senandung orang-orang di perayaan ulang tahun Rama yang ke-29 tahun.


Acara itu hanya dihadiri keluarga inti Rama, yakni Bu Ina, dua kakak Rama (Rio dan Rissa), dua ipar Rama (Dimas dan Kartika), tiga keponakan Rama (Anjani, Mahesa, dan Sekar), dan spesial kali ini sudah bersama Tiara juga. Selain keluarga, ada juga Bi Siti, Pak Rahmat, Bayu, dan Susan yang memang sudah langganan menjadi tamu undangan di acara itu.


Ulang tahun Rama dirayakan di taman belakang rumah yang luas nan asri walaupun hanya beralas rumput jepang dan bunga warna-warni di sekelilingnya. Di sana sudah siap meja dengan kue ulang tahun yang cukup besar, berbagai camilan, buah, daging beserta frozen food untuk barbeque-an, dan beberapa kompor portabel lengkap dengan grill pan-nya.


Rama yang didampingi Bu Ina dan Tiara di depan pun menutup mata memanjatkan doa-doa. Kemudian, membuka mata dan meniup lilin penuh harapan tentang hari esok dan pribadi yang lebih baik. Tak lupa, ia memanjatkan doa untuk Tiara dan rumah tangga yang baru dibinanya.


Setelah prosesi tiup lilin, Rama pun memotong kue cokelat yang dibuat khusus oleh Bu Ina dan Rissa. Potongan pertama tentu ia berikan kepada mama tercinta dan orang tua satu-satunya. Bu Ina menerimanya penuh keharuan. Bu Ina langsung mencium pipi kanan dan kiri putra bungsunya dengan air mata yang menderai-derai.


"Selamat bertambah usia, Sayang Mama. Sekarang kamu sudah berumah tangga, jadilah imam yang baik dan bersikaplah lebih dewasa. Kamu sudah punya tanggung jawab besar, jaga dan lindungi dia. Terima kasih sudah memberi menantu yang baik, cantik, dan sayang sama Mama. Kebahagiaan Mama sudah sempurna sekarang," ucap Bu Ina menepuk punggung Rama dan menatap putranya yang menunduk menahan air mata.


Lalu, potongan kedua tentu diberikan kepada Tiara. Tiara yang sempat merajuk pun menerima dengan tersipu malu. Ingin sekali memeluk Rama namun ia sungkan karena banyak orang di sana, terlebih ada tiga anak di bawah umur juga.


"Thanks, Abang. Happy milad ya. Semoga semakin berkah umur Abang. Diberkahi juga dalam segala urusan," ucap Tiara sambil menyalami tangan Rama dan menciumnya. Ya hanya cara itu yang bisa dilakukannya.


Sikap Tiara yang sangat menjaga diri di depan keluarga Rama, tentu membuat Rama semakin sayang sekaligus gemas kepadanya. Berbeda sekali dengan Selvi yang dulu berani menempel dan bergelayut manja di lengannya tanpa peduli ada keluarga maupun anak kecil di depan mereka. Iya bukan membandingkan namun begitulah adanya.


"Iya sama-sama, Mutiara," sahut Rama sambil mengusap ubun-ubun istrinya penuh cinta dan rasa syukur tak terhingga.


"Om, biasanya yang kedua kan buat Anjani," protes Anjani mencibir.


"Iya kan sekarang Om Rama sudah punya Tante Tiara. Kan Tante Tiara itu istrinya. Coba, kalau Papa ulang tahun kan yang diberi dulu Mama baru Anjani, kan? Iya seperti itu juga Om Rama," tutur Kartika berusaha memberi pemahaman kepada putrinya.


"Berarti Om Rama udah nggak sayang Anjani lagi dong gara-gara udah ada Tante Tiara?" tanya Anjani cemburu.


Rama pun mendekati Anjani sambil membawa potongan kue ketiganya. Anjani pun memalingkan muka tak mau menerima pemberian Rama.


"Kata siapa Om udah nggak sayang Anjani? Kalau nggak sayang, ngapain Om beli ini," rayu Rama sambil menunjukkan paper bag bertuliskan Dior.


Anjani sontak saja menoleh dan matanya berbinar ketika melihat paper bag yang dibawa Rama. Senyum Anjani langsung melebar dan memeluk Rama dengan manjanya. Rama sudah menduga Anjani yang akan cemburu dengan kehadiran Tiara sehingga ia membelikan sepatu impian keponakannya yang ditaksir harganya sekitar dua belas jutaan.


"Anjani, dengarkan Om ya. Mau ada Tante Tiara atau nggak, sayang Om ke Anjani akan selalu sama. Tante Tiara itu orang baik, nggak akan bikin Om jadi nggak sayang ke Anjani. Ini sepatu juga yang belikan Tante Tiara. Bilang terima kasih sana sama, Tante," ucap Rama berbohong namun memang tidak ada cara lain karena Anjani gampang-gampang susah.


Terlebih, Anjani adalah keponakan pertama dan pernah tinggal serumah sehingga dia sangat dekat dan manja dengan Rama. Anjani memang mudah cemburu dengan wanita mana pun yang dekat dengan Rama karena takut kasih sayang Rama berkurang kepadanya.

__ADS_1


Dengan malu-malu, Anjani pun melepas pelukan Rama dan berjalan menuju Tiara yang masih terperangah dengan kebohongan Rama yang diucapkan tanpa beban. Anjani pun menyalami Tiara dengan tulus dan senyum yang sangat jujur.


"Terima kasih, Tante," ucap Anjani tiba-tiba bergelayut manja di lengan Tiara.


Ketegangan Tiara pun mereda saat merasakan sikap hangat Anjani kepadanya. Tiara mengusap tangan Anjani yang ada di lengannya.


"Sama-sama, Anjani. Semoga kamu suka ya," sahut Tiara bingung sendiri dan tak tahu apa yang ada di dalam paper bag itu.


Semua orang di pesta itu sangat lega ketika melihat Anjani sudah mencair dan mau menerima Tiara. Bahkan, begitu manja kepadanya.


...****************...


Saat Rama sedang memanggang slice beef dan teman-temannya, tiba-tiba Sekar mendekat Rama dengan membawa selembar kertas yang berisi gambar orang-orangan ala anak-anak.


"Om. Ini Sekar gambar sendiri loh. Ini buat Om ya," ucap Sekar memberikan selembar kertas di pangkuan Rama.


"Sini Sekar jelasin ya," tambah Sekar sambil menunjuk gambar satu per satu dengan telunjuknya, "Ini Oma, ini Ayah, ini Ibu, ini Sekar, Ini Om Rama, ini Tante Tiara."


"Wah terima kasih cantiknya Om Rama. Tapi, Om mau tanya ini. Kok Tante Tiara cuma setengah kepalanya?" tanya Rama tersenyum lucu.


"Tadi kan lupa belum ada Tante Tiara, terus Om Rama terlalu pinggir jadi gambar Tante cuma separo aja. Hihi," jawab Sekar terkikik sendiri.


"Om, suami istri itu apa sih?" tanya Sekar polos membuat semua orang di taman terdiam karena suaranya cukup keras.


Rama menggaruk kepala dan nyengir bingung harus menjawab bagaimana.


"Iya kalau udah menikah namanya suami istri," jawab Rama seadanya.


"Tapi, kok Om Rama dan Tante Tiara nggak ganti nama jadi suami istri?" tanya Tiara selidik


Rama kelimpungan tidak tahu cara menjelaskannya.


"Sekar, suami istri itu seperti Ayah dan Ibu. Ayah itu suami dan Ibu itu istri. Nah kalau Om Rama itu suami seperti Ayah dan Tante Tiara itu istri seperti Ibu," sela Rissa angkat bicara.


"Oh. Kalau seperti Ayah dan Ibu, yang seperti Sekar siapa?" tanya Sekar semakin kritis membuat Rama kelu sendiri.

__ADS_1


"Iya nanti kalau Om Rama udah punya dedek, nah itu seperti Sekar," kata Rissa sabar sekali walaupun sambil menata makanan di meja.


"Oh. Terus kapan ada dedek Om Rama? Biar ada yang seperti Sekar," tanya Sekar sangat ingin tahu.


Rama dan Tiara pun tersedak bersamaan saat mendengarkan pertanyaan polos keponakannya yang sungguh kepo. Semua orang di acara tersebut terkekeh mendengar penuturan polos Sekar, kecuali Tiara dan Rama yang bingung bagaimana menanggapi pertanyaan keponakannya yang masih kecil.


"Om belum punya dedek karena Tante Tiara masih sekolah," jawab Rama berusaha santai.


"Oh Tante masih sekolah. Tapi, udah menikah, Om?" cecar Sekar tak kehabisan pertanyaa.


"Udah. Makanya Tante Tiara jadi istri Om dan jadi tantenya Sekar," sahut Rama kuwalahan sampai menyuruh Bayu mengambil alih tugasnya untuk grill daging.


"Sekar kan juga masih sekolah. Berarti Sekar juga udah boleh menikah dong seperti Tante Tiara?" cetus Sekar membuat orang-orang di acara tersebut tertawa sampai geleng kepala.


"Belum boleh, Sayang. Tante Tiara kan sudah besar. Sekar masih kecil. Mana boleh anak kecil menikah," sahut Rama mulai kelabakan.


"Oh begitu. Menikah itu apa sih, Om?" ucap Sekar semakin penasaran membuat Rama semakin geregetan.


"Kak Rissa! Please, help me!" rengek Rama sudah kehabisan jawaban untuk anak sekecil Sekar.


Rissa pun tersenyum sambil mendekati Rama yang sedang ngengir tak bisa menjawab pertanyaan Sekar. Iya berlutut menyejajari tinggi Sekar dan menatap putrinya penuh kelembutan.


"Menikah itu suatu janji seperti Sekar janji dengan teman Sekar. Tapi, beda dengan janji Sekar dengan teman yang sehari atau dua hari juga udahan, kan? Kalau menikah itu janji sampai tua, sampai kakek nenek seperti Oma dan Opa," ujar Rissa berusaha menanggapi dengan bahasa sederhana.


"Oh iya, Ibu," sahut Sekar mengangguk-angguk paham layaknya orang dewasa.


"Ya sudah. Ayo Sekar bantu Ibu menyiapkan makanan. Biar Om Rama memanggang dagingnya buat kita makan ya," ajak Rissa mengalihkan perhatian Sekar untuk mengantisipasi pertanyaan Putrinya yang lebih rumit.


"Wah! Ayo, Ibu!" timpal Sekar sangat semangat, kemudian beralih kepada Rama seraya berkata, "Om, gambar ini disimpan ya. Jangan dibuang!" suruh Sekar dengan imutnya.


"Siap, Nona Kecil!" sahut Rama sambil hormat kepada Sekar dengan napas yang kembali lega.


Setelah Sekar pergi dari hadapan, Rama pun berjalan menuju Tiara yang sedang makan sosis panggang bersama Mahesa dan Anjani. Ia duduk di samping Tiara sambil menoleh ke bekalang namun mendekatkan kepala kepada Tiara.


"Sekar tanya tuh dedeknya mana?" bisik Rama membuat Tiara mendelik sengit kepadanya.

__ADS_1


Kemudian, Rama mengambil sosis yang tinggal separuh di tangan Tiara dan memakannya sambil berlalu kembali menuju Bayu.


...****************...


__ADS_2