
"Om, otw ke rumahmu. Lima menit lagi harus udah siap dan rapi," instruksi Tiara di telepon dengan tiba-tiba.
"Apa maksudnya ini, Mbak? Nggak salam, nggak ada pengantar, tiba-tiba udah otw jemput," sahut Bayu yang masih mengumpulkan nyawa pun kebingungan tanpa arah dan tujuan.
"Aih. Om tidur lagi? Dasar! Jam segini baru bangun. Jodohnya dipatok ayam baru tahu rasa," ejek Tiara.
"Iya kalau jodohnya dipatok ayam ya tinggal ditolongin aja terus ayamnya dimasak kan enak. Dapet jodoh, bonus ayam pula," balas Bayu masih malas beranjak dari kasur.
"Udah. Nggak usah banyak omong. Mending Om cepat sana mandi, pakai baju rapi, jangan lupa pakai minyak wangi. Ayo jangan malas-malasan. Ada misi penting yang harus kita pecahkan," ajak Tiara menggebu-gebu membuat Rama tersenyum-senyum sambil menyetir.
"Apa sih, Nona Kecil? Ini masih pagi. Baru jam sembilan. Lagian ini hari libur. Bisa nggak sih aku menikmati liburanku," rengek Bayu memelas.
"Perasaan baru tadi kita membahas, tadi Om mimpi atau bagaimana sih? Ya udah lah kita pergi bertiga aja sama Wanda kalau begitu. Selamat menikmati hari libur, Om Bayu," goda Tiara membuat kantuk Bayu sirna sempurna.
Bayu berpikir sejenak mencerna kata-kata Tiara. Setelah mengingat kejadian tadi pagi, Bayu baru mengingat bahwa mereka ada janji. Tadi setelah Tiara mematikan panggilan, ia ingin memejamkan mata lima atau sepuluh menit lagi namun ternyata terlewat hampir dua jam lamanya.
"Pergi sama Wanda?" Bayu tiba-tiba duduk dengan semangat membara.
"Ya udah kalau Om nggak mau ikut. Bye, Om," ucap Tiara jahil membuat Bayu mati kutu sendiri.
"Eh sebentar, Nona Kecil. Tawaranmu masih berlaku, kan?" tanya Bayu cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Tadi katanya mau menikmati liburan. Bagaimana sih Om ini? Sangat tidak punya pendirian. Janji sendiri, bingung sendiri. Nggak bisa dipercaya emang," jawab Tiara pura-pura merajuk.
"Aku siap-siap deh ya. Jemput aku dalam waktu sepuluh menit lagi," suruh Bayu tak tahu diri.
"Eheeem," Rama sengaja berdehem keras, kemudian berseru, "Untung kita nggak menunggu jemputanmu yang katanya khusus karena kita mau membantumu melepas masa jomblo."
"Maaf, Bos. Terlalu bersemangat sampai lupa segalanya. Iya terserah kalian saja. Aku nurut aja deh," sahut Bayu meringis.
"Om, serius dengan Wanda?" tanya Tiara mendadak serius.
"Apa sih, Nona Tiara?" jawab Bayu abu-abu.
"Aku serius," tegas Tiara.
Bayu pun terdiam sejenak antara bingung dan malu untuk mengungkapkan.
"Aku sebenarnya belum tahu persis perasaanku, tetapi aku ingin mengenal dia," jawab Bayu jujur karena memang selama ini, ia bimbang dengan sikap Wanda yang terkesan menjauhinya.
"Oke, Om. Oh iya ingat pesanku ya, Om. Jangan terlalu agresif dan menunjukkan kalau kamu lagi mendekati Wanda. Wanda nggak seperti cewek lain yang bisa ditaklukkan dengan kata romantis dan sikap manis. Semakin kamu kejar, dia akn semakin menghindar. Jadi dekati pelan-pelan karena berdekatan dengan laki-laki yang terang-terangan menunjukkan rasa suka akan membuatnya taj nyaman. Pokoknya bertingkah layaknya kamu menganggap dia teman walaupun aku tahu kamu mulai menaruh hati padanya. Baru kali ini, aku mendukung orang yang mau mendekati Wanda. Nggak usah dibantah, aku ini cenayang. Iyakan saja apa yang kukatakan dan pergilah siap-siap mumpung kami lagi punya stok kesabaran," cerocos Tiara membuat Rama tersenyum geli, sedangkan Bayu merasa terintimidasi.
Tanpa menunggu jawaban Bayu, Tiara pun mematikan panggilan secara sepihak. Bayu terbengong sesaat mencerna semua kata-kata Tiara. Setelah sadar telepon sudah berakhir, ia pun melompat dari kasur dan bersiap-siap dengan cepat.
Di sisi lain, Rama pun gemas dengan istrinya yang tentu membuat Bayu nge-blank tentunya. Ucapannya yang tak berjeda seperti gerbong kereta berhasil membuat Bayu terdiam namun kepeduliannya terhadap Bayu dan Wanda memang tulus adanya. Rama tentu amat bersyukur memiliki istri yang tak hanya fokus memikirkan tentang mereka namun peka terhadap orang-orang di sekitarnya juga. Istri kecilnya benar-benar telah menjelma gadis dewasa yang dikemas dalam sosok mungil nan manja.
"Bagaimana, Abang? Hebat, kan?" tanya Tiara dengan bangga membusungkan dadanya dan menatap Rama dengan gembira.
"Iya, Sayang. Bayu tunduk sekali denganmu sampai terdiam begitu," jawab Rama mengusap ubun-ubun istrinya penuh kasih.
"Kalau nggak digituin, Om Bayu bakal banyak alasan dan basa-basi lah. Kelamaan. Aku itu males sama cowok yang bertele-tele. Iya ya iya. Nggak ya nggak. Cowok itu harus punya pendirian. Kalau apa-apa dijawab0 terserah, buang aja ke laut. Jadi cowok kok nggak tegas," sahut Tiara sedikit emosi.
"Iya nggak usah pakai marah-marah juga, Sayang. Santai aja. Darah tinggi nanti," ucap Rama menenangkan sambil mengusap bahu Tiara.
Tiara pun membalas dengan senyum manja nan menggemaskannya. Rama sampai menggigit bibir bawah untuk menahan hasrat yang ingin sekali menyambar bibir ranum menggoda milik istrinya.
"Abang, kita mau ke mana?" tanya Tiara membuat Rama menelan ludah getir.
Setelah Rama mendengar sendiri bagaimana penuturan Tiara tentang bagaimana seharusnya lelaki dalam bersikap, rasanya pertanyaan Tiara bak busur yang siap meluncurkan anak panah kepadanya. Tentu, Rama akan kena mental jika sampai tak bisa menjawab pertanyaan maut Tiara dan siap dibuang ke laut olehnya. Wanita memang meresahkan. Rama berpikir cepat untuk menutupi kegugupannya.
"Ke mall? Ke Dufan?" tanya Rama menahan napas dan memberi pilihan untuk memancing Tiara menyatakan persetujuan.
"Wah ide bagus, Abang," jawab Tiara senang membuat Rama bisa leluasa menghembuskan napasnya kembali.
"Dufan aja. Aku pengen bersenang-senang. Lagian, untuk menciptakan keakraban Om Bayu dan Wanda sepertinya memang butuh suasana yang menyenangkan yang tanpa dibuat-buat," imbuh Tiara semakin berapi-api.
"Semangat banget sih," ledek Rama.
"Iya aku kasihan sama Wanda, Bang. Aku hanya berharap dengan kehadiran Om Bayu, bisa mengubah mindset Wanda terhadap lelaki. Semoga Om Bayu bisa menerima Wanda apa adanya," sahut Tiara mendadak sendu.
"Aku udah kenal Bayu. Dia orangnya baik banget kok dan nggak banyak menuntut. Dia orang yang tulus dan bertanggung jawab. Setia, jangan ditanya lagi. Pasti setia banget. Sama status jomblonya aja setia banget, apalagi sama wanita," ucap Rama sedikit bercanda namun dengan tampang serius.
Tiara yang awalnya murung dang mengiba, tiba-tiba tergelak mendengar penuturan Rama.
"Apa yang lucu, Ra? Kamu ini bahaya sekali. Bisa mood swing begini," tanya Rama keheranan.
__ADS_1
"Iya Abang loh. Bercanda kok dengan muka seserius itu," jawab Tiara setelah mereda tawanya.
"Nggak ada yang bercanda. Aku kan serius. Bayu itu setia sama status jomblonya, makanya betah bertahun-tahun bertahan. Sudah teruji kan kesetiaannya? Apalagi sama wanita, tentu lebih-lebih setianya," timpal Rama memasang wajah serius tanpa senyum sedikit pun.
"Iya bukan begitu juga konsepnya, Bapak," balas Tiara sambil mencubit paha Rama hingga sang pemilik paha nyengir kesakitan sekaligus kaget.
"Aduh. Maju dikit juga boleh kok nyubitnya. Dengan senang hati dan senang sekali tentunya. Masih ingat kan cara yang kuajarkan tadi malam?" goda Rama membuat Tiara menyorot tajam dengan wajah merah padam.
"Berisik. Dasar. Om-Om mesum. Om-Om genit. Om-Om nggak tahu diri. Om-Om cabul. Om-Om gila," hardik Tiara sambil menabok-nabok bahu Rama yang malah tertawa mendapat serangan itu.
"Biar. Yang penting enak. Duh istriku udah nggak polos lagi," ledek Rama semakin membuat Tiara jengah dan memilih memalingkan wajah.
"Berisik Abang ini," sungut Tiara menatap ke arah luar jendela dengan jantung yang berdegup kencang.
"Yah. Ada yang salah tingkah," ejek Rama semakin merasa menang melihat Tiara terdiam dengan wajah bersemu merah.
"Berisik. Berisik. Berisik!" pekik Tiara memekakkan telinga Rama.
"Abang, mana rumah Om Bayu kok nggak sampai-sampai?" tanya Tiara heran.
Rama pun menepuk jidatnya.
"Astaga, kelewatan," ujar Rama terkejut.
"Kan. Abang sih banyak omong dan banyak mesum. Bisa-bisanya sampai kelewat," sungut Tiara melirik sinis.
"Iya namanya aja lupa," sahut Rama ingin dimaklumi.
"Aih makanya pikirannya jangan kotor jadi nggak gampang lupa," tukas Tiara pura-pura sebal.
"Kotor sama istri sendiri kan halal," rayu Rama sembari mencolek dagu Tiara dan menepikan mobilnya ke jalur yang diperuntukkan berbalik arah.
"Hiss," desis Tiara membuang muka.
...****************...
Setelah menjemput Bayu, Tiara dan Rama tentu berpindah posisi ke jok belakang sehingga Bayu harus menerima nasib menjadi supir pribadi. Bayu menguatkan hati mendengar seloroh Rama dan Tiara yang terus menggodanya tentang Wanda hingga ia hanya diam dan pasrah menerima keadaan. Entah sejak kapan Tiara dan Rama berdamai lagi hingga bersekongkol membuat Bayu tersipu malu.
Sesampainya di kos Wanda, Tiara pun turun untuk memanggil sahabatnya itu. Tak lama setelah itu, Wanda keluar dengan pakaian casual andalannya untuk hangout, yakni celana jeans panjang dan kaos pendek yang berbalut sweater. Wanda memang suka tertutup dalam berpakaian, meskipun dia tak berhijab. Setidaknya, ia suka menutupi lekuk tubuhnya.
"Iya sibuk nih sekarang di divisi marketing ya. Enak banget bisa jalan-jalan. Lagian kamu, tahu sendiri aku kalau libur bangun jam berapa. Masih sepagi itu ngajak jalan," sahut Wanda sembari mengusap punggung sahabat yang serasa adiknya walaupun sudah menyandang predikat istri.
"Hehe. Capek, Nda. Ih gila sih itu kepala divisinya, killernya kayak suamiku. Cuma sekarang udah mendingan sih," bisik Tiara agar tak terdengar Rama yang menunggunya di dalam mobil bersama Bayu.
"Iya udah. Ayo kita mau ke mana? Emang nggak ganggu kamu dan suamimu kalau aku ikut?" tanya Wanda melepas pelukannya.
"Nggak. Santai. Kita emang mau bersenang-senang aja untuk merayakan gencatan senjaga hehe. Lagian, libur begini pasti kamu gabut di kamar, kan? Kita ke dufan, Nda. Kalau cuma berdua kan nggak seru, jadi berempat deh," jawab Tiara riang.
"Berempat?" sangsi Wanda mengernyitkan dahi.
"Iya. Sama Om Bayu. Tenang aja, dia jinak kok. Kalau dia mengusik kamu, kamu bilang aja ke aku biar aku jewer dia dan kusuruh Abang memotong gajinya," jawab Tiara dengan suara sengaja dilantangkan supaya terdengar sampai ke dalam mobil yang pintunya sedikit terbuka.
"Istriku memang pintar dan menggemaskan," ujar Rama gemas di dalam mobil.
"Memang ya, suami istri sama aja. Suka mengancam," gerutu Bayu hanya membuat Rama tersenyum.
Awalnya, Wanda ragu untuk masuk mobil setelah tahu bahwa Bayu ada di rombongan mereka. Setelah Tiara membujuk dan memberi pengertian beberapa saat, Wanda pun luluh juga dan masuk mobil dengan menundukkan pandangan. Sesuai mandat Tiara, Bayu pun hanya diam dan fokus pada kemudinya.
"Bagaimana kabarmu, Wanda?" tanya Rama mencoba mencairkan suasana.
"Alhamdulillah baik, Bang," jawab Wanda menoleh ke belakang dan tersenyum sebisanya.
"Syukurlah. Kamu juga pergi-pergi ke luar kota seperti Tiara?" tanya Rama terus mencoba mengendurkan kekakuan yang tergurat jelas di raut Wanda.
"Nggak, Bang. Aku cuma di kantor magangnya," jawab Wanda masih terdengar gugup.
"Iya malah lebih baik. Nggak capek ke mana-mana. Jadi fokus," ucap Rama.
"Terus, Abang nyindir aku yang magangnya ikut ke mana-mana? Aku jadi nggak fokus?" tanya Tiara kembali merajuk.
"Enggak, Sayang. Bukan begitu maksudku, Sayangku, Cintaku, Tiaraku," rayu Rama menyesal dan tak habis pikir kata-katanya akan membuat sang istri tersindir.
"Alah. Abang mah suka bikin perkara emang sama aku ih," sahut Tiara kesal.
"Nggak, Sayang. Wah di depan ada dimsum itu. Mau?" tawar Rama untuk menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Ngapain nawarin, kalau mau beli ya beli aja," decak kesal Tiara.
Menyimak percakapan sepasang suami istri, Bayu dan Wanda hanya bisa tersenyum sekaligus menggeleng dalam angan. Namun, ketegangan Wanda perlahan mengendur dan kegugupannya beringsut mundur. Bayu masih stay cool dengan kemudinya sesuai anjuran sang Nona Kecil.
"Bay, berhenti di dimsum depan ya," titah Rama sambil merengkuh kepala Tiara ke dadanya.
"Siap, Komandan," hormat Bayu tanpa menoleh ke belakang.
Tiara pun berangsur tenang setelah mendengar detak jantung dan merasakan belaian kasih sayang suaminya. Setelah dipikir-pikir, Tiara malu sendiri karena sedari tadi mengamuk, sedangkan Rama selalu mengalah dan menanggapinya tanpa emosi sama sekali.
"Abang, hehe," cetus Tiara cengengesan dalam dekapan Rama.
"Apa? Udah sadar?" tanya Rama dengan nada bercanda.
"Hehe. Udah," jawab Tiara tersenyum meringis.
"Lalu?" lanjut Rama.
"Maaf. Kayaknya efek hormon karena haid deh," sahut Tiara sambil membenamkan wajah ke dada Rama dengan malu-malu.
"Iya. Iya Nggak apa, Sayang," balas Rama tersenyum-senyum gemas.
Bayu dan Wanda ikut lega mendengar dua sejoli sepasang suami istri itu berdamai. Setidaknya, mengurangi beban di telinga dan pikiran mereka karena bingung harus bagaimana menanggapi pertengkaran itu. Bayu pun menepikan mobil di depan stand dimsum.
"Mau, Bay?" tawar Rama.
"Ya jelas, Bos," sahut Bayu cepat.
"Wanda mau juga?" tanya Rama.
"Boleh, Bang," jawab Wanda lembut.
"Oke. Tunggu di sini aja kalian ya," ucap Rama sambil membuka pintu mobil.
Setelah Rama memesan dan menunggu pesanannya, Wanda, Bayu, dan Tiara pun terjebak dalam keheningan yang membuat mereka kikuk sendiri. Wanda yang masih sedikit waspada, Bayu yang bingung harus berbuat apa, dan Tiara yang mencari cara untuk mencairkan suasana di antara mereka.
"Bang Rama benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Begini ya kalau udah bertemu pawangnya. Dari buas bisa langsung mode jinak," cetus Bayu membuat Tiara dan Wanda sedikit mengendur.
"Iya emang aku hebat, Om," sahut Tiara bangga.
"Serius loh. Selama Mbak Tiara pergi, Bos kembali ke mode killer, tetapi bedanya itu kerja lembar-lembur bukannya kelar malah makin kacau. Pokoknya, tanpa Mbak Tiara itu Bos sungguh mengerikan," terang Bayu dengan wajah serius.
"Semenakutkan itu?" tanya Tiara antusias.
"Iya, Mbak. Pokoknya udah nggak semangat hidup, kerjaan berantakan, tampilan nggak terurus, dan jarang makan," jawab Bayu.
Tiara pun berpikir sejenak walaupun terbesit penyesalan namun dengan pengalaman yang telah mereka lewati itu menyadarkan Tiara betapa besar rasa cinta Rama untuknya. Tentu kebanggaan bertahta di hati Tiara mengetahui bahwa ia benar-benar menjadi penakluk Sang CEO killer bin sombong.
Tak berselang lama, Rama kembali ke mobil menenteng dua plastik dengan masing-masing plastik berisi dua box dimsum. Rama memberikan satu plastik kepada Bayu untuk dibagikan juga ke Wanda. Mereka pun beristirahat sejenak untuk menikmati dimsum hangat sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah dibuka, ternyata dalam satu box berisi empat buah dimsum dengan beraneka rasa, yakni original, keju, pedas, dan mentai.
Bayu pun memerhatikan sekilas raut Wanda yang berubah sedikit terkejut dan bingung namun dia hanya diam dan menikmati terlebih dahulu dimsum rasa pedas. Melihat itu, Bayu pun tercetus ide untuk memberikan dimsum pedasnya kepada Wanda karena Wanda terlihat menikmati makanan pedas itu. Bukan tanpa alasan dan sekadar cari perhatian, memang Bayu punya masalah lambung. Selain itu, lidahnya memang tidak begitu bisa menikmati pedas cabai rawit karena terasa membakar di mulut namun pedas mentai masih bisa diterimanya.
"Ada rasa yang nggak kamu suka, Nda?" tanya Bayu membuat Wanda menoleh dan sedikit terdiam.
Beberapa saat, mereka bersitatap sampai lupa saling berucap. Wanda pun mengalihkan pandang lagi ke dimsumnya.
"Aku nggak suka mentai, Pak Bayu," jawab Wanda berhasil membuat Rama dan Tiara tersedak menahan tawa.
What? Pak? Oh My God. Sabar, Bayu. Sabar. Oke. Untung yang ngomong Wanda. Gumam Bayu dalam hati.
"Pak Bayu," ledek Tiara terkekeh tak tahan melihat ekspresi Bayu yang terbengong-bengong.
"Satu panggil Om, satu panggil Pak. Nggak apa. Tandanya kamu terlihat dewasa, Bay. Mengayomi," imbuh Rama mengejek dengan nada menenangkan.
"Bukan terlihat dewasa, tapi tua. Puas!" sahut Bayu berdecak kesal.
Bayu kembali menatap Wanda dengan ekspresi lebih lembut.
"Kamu suka pedas rawit, Wanda?" tanya Bayu dengan mode kalem.
"Suka," jawab Wanda menunduk tanpa menatap Bayu.
"Kita tukeran yuk. Aku ambil mentaimu, aku kasih kamu rawit. Aku bisa menikmati pedas mentai, tapi nggak tahan dengan pedas rawit," tawar Bayu harap-harap cemas.
Tiba-tiba, jantung Wanda berdetak lebih cepat mendengar tawaran Bayu. Perhatian Bayu menyeruakkan ketakutannya. Wanda pun menunduk lebih dalam dan berhenti menikmati makanannya karena tangannya gemetar dan dingin.
__ADS_1
Rama dan Tiara harap-harap cemas menunggu jawaban Wanda. Lain halnya dengan Bayu, Bayu merasa bersalah telah mencetuskan ide yang mungkin mengusik ketenangan Wanda.