
Sampai di tempat pernikahan, Rama menggandeng Tiara ke pelaminan tak memedulikan banyak pasang mata memerhatikan mereka. Rama menyalami teman Bu Ina dan menyampaikan permohonan maaf mamanya yang tidak bisa hadir karena tidak enak badan. Setelah itu, ia juga mengenalkan Tiara kepada mereka sebagai istrinya. Mereka pun terkejut sekaligus bahagia mengetahui anak Bu Ina sudah menemukan pasangan semua.
Setelah turun dari pelaminan, Tiara dan Rama berjalan menuju stand-stand makanan beraneka ragam. Tiara memilih ke stand buah-buahan karena terlalu banyak pilihan dan malas makan yang berat-berat, sedangkan Rama memilih mengekor istrinya karena malas mengambil apa pun. Tiara mengambil potongan melon, semangka, angggur, dan kiwi, kemudian menyiramnya dengan sedikit saus salad yang sudah disediakan di sana.
"Abang mau yang mana?" tanya Tiara.
"Mau yang kamu makan aja," jawab Rama dengan mimik serius.
"Mau ini? Kuambilkan lagi ya?" tawar Tiara.
"Enggak. Yang punyamu aja," tolak Rama.
"Ya udah. Mau apanya?" tanya Tiara sambil memegang garpu kecilnya.
"Melon dulu deh," jawab Rama.
Tiara pun menusuk melon dan menyerahkan garpu ke Rama namun Rama malah merespon dengan membuka mulut ya. Dengan ragu, Tiara pun menyuapkan melon itu dan Rama menerima dengan bahagia.
Saat sedang menikmati salad buah, tiga orang mendekati Rama dan Tiara. Mereka adalah Selvi beserta orang tuanya, Pak Bima dan Bu Rita. Orang tua Selvi sangat antusias saat bertemu dengan Rama setelah sekian lama. Mereka tidak memedulikan wanita di depan Rama karena ia pikir hanya sepupu karena masih kecil dan imut-imut.
"Hei, Nak Rama. Lama tak berjumpa," sapa Pak Bima basa-basi.
"Eh, Om Bim. Iya ini udah lama nggak ke mana-mana. Paling pergi urusan kerja atau nemenin Mama aja," sahut Rama.
"Wah jadi CEO, terus punya bisnis di mana-mana juga. Pasti sibuk banget ya, Nak. Hebat. Laki-laki memang harus kerja keras," sambung Bu Rita semangat.
Tiara terbelalak saat tahu suaminya sehebat itu. Ia tak menyangka sama sekali jika suaminya benar-benar kaya karena kerja kerasnya. Selama ini, Rama dan Bu Ina sangat sederhana dalam kesehariannya sehingga ia sama sekali tidak memerhatikan mereka dari sisi materi. Mobil pun hanya satu milik ia dan satunya lagi milik Bu Ina. Yang jelas Bu Ina baik hati dan suaminya ya kepribadiannya berganti-ganti.
"Nggak sehebat itu, Tante.Kalau bisnis mah cuma bantu teman-teman aja buat nambah kegiatan," jawab Rama tetap merendah.
"Hebat loh masih muda udah sukses. Bisnis lancar. Bisa mendirikan sekolah-sekolah sampai pedalaman untuk membantu yang kurang mampu dan banyak membantu panti asuhan. Duh bahagianya mertua yang punya mantu sepertimu, Nak," puji Bu Rita antusias.
__ADS_1
Batin Tiara semakin tersentak dan dibuat melongo dengan ucapan Bu Rita yang memperlihatkan sisi lain Rama yang belum diketahuinya.
"Nak Rama belum ingin main ke rumah? Om dan Tante sudah menunggu kabar baiknya dari lama lho," tanya Pak Bima penuh makna.
"Nanti coba kalau sempat saya main ke rumah bersama istri saya ya, Om Bim," jawab Rama sambil merangkul bahu Tiara yang kebingungan bagaimana meresponnya.
"Istri?" sentak orang tua Selvi kompak.
Pak Bima dan Bu Rita tercenung bersamaan, sedangkan Selvi masih memaku kepanasan. Mereka berharap Rama tidak sungguhan mengatakannya karena sudah menganggap Rama adalah menantu yang sangat ideal bersanding dengan anak semata wayangnya.
"Iya kenalkan, Om Bim, Tante Rita. Ini istri saya, Tiara," ucap Rama tersenyum.
Tiara pun menyalami kedua orang tua Selvi yang masih sangsi dengan ucapan Rama. Rasanya, mereka tak bisa percaya begitu saja.
"Bercanda kan, Nak Rama? Paling sepupu orang masih muda begini," tanya Bu Rita meragukan.
"Benar, Tante. Dia memang istri saya. Kami menikah sekitar empat bulan yang lalu," jawab Rama meyakinkan.
"Iya, Ma. Dia masih kuliah terus dijodohkan sama keluarganya," sahut Selvi tiba-tiba nimbrung.
"Wah, masih muda sekali ya. Yang sabar menikah dengan yang muda ya, Nak Rama. Masih suka labil, belum dewasa, susah diatur, dan masih suka main. Apalagi kalian menikah karena perjodohan, biasanya harus ekstra menyesuaikannya. Pandai juga keluarganya memilih kamu sebagai menantu ya," kata Bu Rita memancing emosi.
"Hati-hati. Anak zaman sekarang kadang suka sama yang jauh lebih tua apalagi kaya biar bisa memanfaatkan dan memeras hartanya," sahut Selvi semakin mengompori.
Peringatan Bu Rita sontak membuat Tiara bermuka masam. Kalau saja bukan di acara orang, pasti ia sudah menjambak duo mak lampir di depannya itu. Keduanya melirik sinis kepadanya dan ia hanya membalas dengan tatapan biasa saja.
"Kalian hanya bisa menilai jadi jangan mudah menyimpulkan sebelum mengenal lebih dalam. Keluarga saya juga tidak mungkin sembarangan memilih wanita untuk menjadi pendamping hidup saya," tukas Rama.
"Lalu, kalau memang sudah dijodohkan, kenapa harus berpacaran dengan anak kami dan memberinya harapan tinggi? Kamu pikir anak kami mainan yang bisa kamu bawa dan buang semaunya!" bentak Pak Bima agak mengeraskan suara.
Beberapa tamu pun sempat tertegun mendengar suara Pak Bima yang meninggi. Mereka hanya menatap heran tanpa berani mendekat.
__ADS_1
"Pak, ini acara orang. Tidak pantas kita merusak momen mereka karena masalah pribadi. Mari selesaikan di luar," ajak Rama sopan.
Rama pun keluar dari gedung menggandeng Tiara, di belakangnya mengekor Selvi dan kedua orang tuanya. Sampai di tempat parkir, mata Pak Bima semakin berkilat. Napasnya memburu menandakan dia sedang dikuasai amarah karena tidak terima anaknya dipermainkan.
Buuugggghhh
Satu bogeman Pak Bima mendarat di sudut bibir Rama hingga bibir Rama pecah dan berdarah. Rama mengepalkan tangan dan menahan diri untuk tidak membalasnya karena ia tahu kekerasan tidak akan menyelesaikan semua.
Buuuggghhh
Satu bogeman lagi menghantam perut Rama hingga Rama terdorong mundur beberapa langkah. Selvi dan Bu Rita segera menahan Pak Bima agar tidak menyerang Rama lagi.
"Cukup, Pa," pinta Selvi.
"Abang!" pekik Tiara sembari memegang lengan Rama agar tetap terjaga keseimbangannya.
"Itu belum ada apa-apanya dibanding dengan sakit hati anak saya dan sakit hati kami yang sudah kamu khianati," ucap Pak Bima masih mengepalkan tangannya.
"Ya. Saya semakin yakin orang tua saya memang tidak salah memilih wanita untuk bersanding dengan saya," sahut Rama tersenyum simpul.
"Dasar bajingan! Brengsek!" umpat Pak Bima ingin menyerang Rama lagi namun ditahan oleh anak istrinya.
"Dasar pelakor! Saya sumpahi kalian tidak akan bisa bahagia di atas luka anak saya!" serapah Bu Rita.
"Saya tidak mengkhianati siapa pun. Meski perjodohan ini sudah dari saya kecil namun saya baru menerimanya setelah putus dengan Selvi. Untuk alasan putusnya kami, tentu tidak ada hubungannya dengan pernikahan ini. Tanyakan saja pada putri tercinta kalian. Percuma saya menjelaskan juga belum tentu Anda mempercayainya. Jadi, jangan pernah sangkut-pautkan istri saya dalam hal ini apalagi memanggilnya dengan sebutan pelakor! Terima kasih atas pukulannya. Terima kasih atas sumpah serapahnya. Semoga kalian tidak menyesali suatu hari nanti," papar Rama berusaha tetap tenang dan tidak terbawa amarah.
Selvi pun menunduk ketika tatapan Pak Bima dan Bu Rita tertuju padanya untuk meminta penjelasan. Ia pun pura-pura pingsan untuk menutupi kecemasannya dan untuk mengalihkan perhatian orang tuanya.
Tanpa berpamitan, Rama kembali menggandeng istrinya dan berjalan menuju mobil sambil memegangi perutnya yang sangat nyeri padahal sakit selepas jatuh dari kasur saja masih terasa dan ini ditambah lagi. Kalau saja bukan orang tua, Rama ingin membalasnya dengan lebih kejam. Meski amarah di ubun-ubunnya sangat mendidih, untung saja kesadarannya tetap utuh hingga masih bisa berpikir jernih.
...****************...
__ADS_1