
Dddrrrtttt dddrrrrrrtttt dddrrrttt
Tiara yang sedang membereskan tempat tidur dikejutkan dengan getaran ponsel Rama yang tergeletak di atas nakas. Ternyata ada panggilan masuk dari Nafisa. Tiara membiarkannya karena mengingat petuah Rama untuk tidak mengotak-atik ponselnya. Selain itu, ia juga malas mengangkatnya karena tidak berminat mengobrol dengan mantan calon pacar suaminya.
Rama pun masuk kamar masih lengkap dengan sarung yang masih terpakai rapi dan lipatan sajadah yang tersampir di bahu. Rasanya sungguh menyejukkan mata melihat suaminya mulai tergerak hatinya untuk salat. Seakan suaminya menjadi nampak sepuluh kali lipat lebih tampan dari biasanya.
"Abang, ponselmu sangat berisik dari tadi. Sepertinya ada panggilan penting karena berkali-kali bergetar," ucap Tiara sedang duduk santai di sofa dengan mata mengarah ke luar jendela di sampingnya.
"Dari siapa? Bayu?" tanya Rama hanya melirik sekilas ponselnya yang mulai bergetar dan berkedip-kedip lagi.
Rama segera menerima panggilan itu dan sengaja mengeraskan suara agar Tiara turut mendengarkan. Ia pun duduk di kasur dengan ponsel masih tergeletak di atas nakas.
"Assalamualaikum, Ram," salam Nafisa dari seberang telepon sana.
"Waalaikumsalam. Ada apa, Na?" tanya Rama to the point karena sudah melihat perubahan ekspresi istrinya yang mengumumkan perang.
"Eeee... Ini berkaitan dengan pengobatanku," jawab Nafisa terdengar sungkan.
"Iya bagaimana?" sambung Rama tenang.
"Bisakah aku jalani pengobatan di Semarang saja agar tetap dekat dengan orang tuaku? Aku sudah berkonsultasi dengan dokterku sebelumnya dan beliau mengizinkan asal rajin kontrol," tanya Nafisa ragu-ragu mengucapkannya.
"Terserah. Berobatlah di mana saja yang membuat kamu nyaman. Nanti beri aku kontak rumah sakit pilihanmu agar aku bisa segera mengurus dan kamu bisa segera berobat," jawab Rama tak ingin berlama-lama membiarkan sang istri yang sudah mulai berasap kepalanya.
"Terima kasih, Rama. Kamu baik sekali kepadaku. Aku sangat berhutang budi," ujar Nafisa penuh arti.
"Iya aku hanya membantu semampuku. Lagian, tidak ada namanya hutang budi untuk membantu teman yang sedang kesulitan," sahut Rama terus menatap istrinya yang kini sudah memalingkan muka dan memilih memandang ke luar jendela yang sudah gelap.
__ADS_1
"Baiklah. Mungkin, aku cukupkan dulu pembicaraan kita kali ini. Takutnya, istrimu salah paham dengan hubungan kita," pamit Nafisa membuat Rama mengernyitkan dahi.
Mendengar ucapan Nafisa yang terdengar aneh pun Tiara langsung mengepalkan tangan dan siap melayangkan bogemannya ke wajah suaminya yang menyebalkan. Entah apa yang membuatnya bisa semurka itu namun rasanya sangat tak suka mendengarkan kata-kata Nafisa yang terlalu manis untuk sekadar teman.
"Oke," sahut Rama singkat dan mengakhiri panggilan setelah mengucapkan salam.
Menyadari sikap Tiara yang jelas tergambar kejengkelannya, membuat Rama segera meletakkan ponsel ke tempat semula. Diletakkannya sajadah di laci nakas, kemudian berjalan ke arah Tiara perlahan-lahan.
"Suamimu nggak dibuatkan kopi ini?" tanya Rama berusaha menarik perhatian Tiara.
Tiara pun berbalik badan dan menatap suaminya dengan raut kesal. Matanya menyorot tajam memasang wajah garang.
"Nggak, Abang. Tadi siang kan udah. Kurangi kafein, nggak baik buat kesehatan. Susu aja ya?" nego gadis itu galak.
"Susu Tiara aja mau," celetuk Rama begitu santai namun berhasil membuat istrinya mendelik sengit penuh waspada.
Tiara langsung menyauk bantal bulu di sampingnya untuk menutupi dada. Tatapannya tak ingin lepas dari Rama karena tak mau lengah dari gerak-gerik suaminya yang mendadak genit.
"Kenapa kamu mudah nyambung kalau soal begituan? Sungguh menggemaskan sekali. Aku jadi nggak perlu susah-susah lagi mengajari," sahut Rama tersenyum geli melihat istrinya memasang wajah garang namun matanya sangat ketakutan.
"Mau nggak mau harus nyambung lah supaya otak mesum sepertimu tak bisa memperdayaiku. Awas saja kalau macam-macam, apalagi sampai...," ancam Tiara agak gentar.
"Sampai apa?" tantang Rama dengan tatapan liar sembari berjalan ke arah istrinya yang sudah bersiap-siap menerima serangannya.
"Sampai memperkosaku," tegas Tiara pura-pura angkuh mendongakkan kepala.
Rama pun terkekeh kecil mendengarkan penuturan istrinya yang sungguh membuat hasratnya meninggi.
__ADS_1
"Mana ada suami memperkosa istrinya. Kalaupun kasus semacam itu memang ada, aku ingin menjadi salah satu pelakunya," ujar Rama mulai gerah dalam arti yang sesungguhnya.
Rama membuka satu per satu kancing kemejanya. Tiara menatapnya seraya menelan saliva masih waspada. Tiara tentu sudah memikirkan berbagai cara untuk kabur jika sewaktu-waktu Rama menyergapnya.
Setelah sempurna bertelanjang dada, Rama juga melepaskan sarungnya membuat Tiara terlonjak hampir beranjak karena keadaan sudah sangat membahayakan lahir dan batinnya. Tersisalah Rama hanya dengan celana boxer yang agak longgar namun menunjukkan sebuah gundukan di antara pangkal paha yang menyakiti mata Tiara.
"Mau ke mana?" tanya Rama yang dengan cepat menghadang Tiara yang hendak ngacir karena sudah sangat terancam.
"Mau membuatkan susu untukmu. Minggir, Bang. Aku mau lewat," gertak Tiara lebih hati-hati dan berusaha menghindari kontak mata dengan suaminya.
"Kalau aku maunya susu yang ini bagaimana?" seloroh Rama dengan lirikan nakal mengarah ke bagian vital Tiara.
Tentu Tiara langsung menyilangkan kedua tangannya di dada untuk melindungi aset berharganya dari tatapan jahanam sang suami. Gadis itu pun beringsut mundur untuk menghindari Rama yang sudah sangat siap menerkamnya kapan saja. Dalam hati, ia merutuki diri sendiri karena semua strategi yang sudah disiapkan tadi tidak berguna di saat genting seperti ini. Otaknya mendadak seperti berhenti berfungsi.
"Mana keberanianmu tadi yang sudah lancang mengancamku? Tadi menggebu-gebu, sekarang melempem seperti kerupuk di lontong sayur," satire Rama semakin berjaya terus maju mendekati istrinya yang sudah bungkam seribu bahasa.
Dan lagi-lagi, kesialan menimpa Tiara. Badannya sudah tidak bisa mundur lagi karena tembok telah bertengger di belakangnya seakan bekerja sama dengan Rama. Senyum kemenangan pun terlukis jelas di bibir Rama saat sudah berhasil menawan Tiara di dalam permainannya.
Dengan cepat, Rama menelusupkan telapak tangan ke ketiak Tiara dan mengangkatnya pelan. Karena takut jatuh, Tiara pun refleks melingkarkan kaki di perut suaminya dan melingkarkan tangan di lehernya. Sempurna. Wajar Tiara dan Rama pun sudah sejajar, kesempatan itu tentu takkan Rama lewatkan. Tanpa basa-basi, Rama mendekap erat Tiara di gendongannya dan memagut bibir Tiara pelan namun menggairahkan.
Tiara sempat memberontak dari pelukan pun cium@n Rama namun tenaganya tak cukup untuk melawannya. Lambat laun, permainan Rama yang sangat halus itu mampu membawa Tiara pada sensasi yang membuatnya ingin membalas juga.
Dyyyyaaaaarrrr!
Tahu-tahu, pintu kamar Tiara terbuka sangat lebar karena dibuka kasar oleh seseorang. Rama dan Tiara pun melepaskan pagutannya namun masih mematung dengan posisi badan yang sama. Sang pelaku pembuka pintu masih diam memaku, bahkan berkedip pun tak sempat. Mereka bertiga sama-sama menelan ludah getir dan masih dalam proses kembali berpikir. Dada mereka pun riuh oleh suara jantung yang mirip dengan pementasan grup drumband.
Kenapa harus setelak ini? Oh Tuhan, aku harus bagaimana. Pekik batin Tiara sangat bimbang menyembunyikan wajah malunya.
__ADS_1
Rama berusaha setenang mungkin menurunkan Tiara yang sedang gemetar digendongannya. Kemudian, mengusap pelan saliva yang membasah di sekitar bibirnya.
Sial sekali. Aku harus bagaimana ini? Maki Rama dalam hati.