Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Si Polos dan Si Bawel


__ADS_3

Rama tak kalah tercengang saat melihat wanita yang ditabrak oleh Bayu. Matanya langsung mengarah ke Tiara yang sudah berlari ke arahnya dan bersimpuh di samping Bayu sembari terisak-isak.


"Wanda! Hei, bangun!" tangis Tiara menggoyang-goyangkan tubuh Wanda yang ternyata menjadi korban di tragedi itu.


Rama pun memegang bahu Tiara dan membimbingnya berdiri.


"Kamu tenang. Aku dan Bayu akan membawanya ke rumah sakit. Dia tidak apa. Ayo kamu masuk. Kita bawa Wanda juga," ucap Rama menenangkan istrinya.


Bayu melepas helm Wanda dan menyerahkannya kepada Tiara. Ia segera menggendong Wanda untuk dibawa ke mobil. Di jok belakang, sudah ada Tiara yang menunggunya. Wanda pun direbahkan dengan kepala berada di pangkuan Tiara.


Tiara segera menghubungi mentor Wanda yang juga pernah menjadi mentornya untuk mengabari Wanda kecelakaan. Setelah itu, ia juga mengabari tim auditnya dan ternyata keberangkatan diundur menjadi pukul 08.00 karena Arjuna ada meeting mendadak. Tiara bisa sedikit bernapas lega karena ia bisa menemani Wanda namun kecemasannya belum reda karena Wanda belum sadar juga.


"Abang, kenapa Wanda belum sadar juga? Om Bayu bagaimana sih? Main tabrak aja!" omel Tiara mencak-mencak.


"Mana tahu kalau itu teman Mbak Tiara. Lagian tadi dia berhenti mendadak dan aku udah berusaha rem sekuat tenaga, tapi ternyata bumper depan tetap mencium motor dia. Ya hanya mencium sebenarnya, tak sampai menabrak yang sesungguhnya. Kita juga sedang tidak melaju kencang. Aku juga nggak nyangka dia sampai pingsan begini karena Demi Tuhan aku nggak menabraknya," sahut Bayu membela diri namun ia tak kalah khawatir juga.


"Mau mencium atau menabrak bodo amat. Nabrak ya nabrak aja. Jangan dibercandain, ini nyawa manusia loh, ini sahabatku. Kalau sampai dia kenapa-napa, kujitak Om sampai pingsan!" ancam Tiara.


"Duh, Mbak. Suwer. Sumpah. Nggak sengaja. Saksi di TKP juga tahu kalau yang salah memang pengendara motornya karena berhenti tiba-tiba di tengah jalan. Sepertinya motornya mogok karena tadi saat dinyalakan mau dibawa ke tepi juga tidak bisa di starter. Untung saja kita mau bertanggung jawab dan menolongnya," ucap Bayu.


"Iya harus tanggung jawab. Kasihan dia. Orang tuanya di Jawa. Dia di Jakarta sendirian, tak ada kerabat," desak Tiara.


"Stop! Lebih baik kalian diam. Pening aku mendengar suara kaleng rombeng kalian. Bayu, fokus saja ke jalan biar kita selamat sampai ke klinik. Tiara, kamu juga tak usah berlebihan. Aku dan Bayu bertanggung jawab, kamu tenang. Oke," cetus Rama membungkam keduanya.


...****************...


"Dok, bagaimana keadaan teman saya?" tanya Tiara selepas dokter di IGD memeriksa Wanda yang sudah siuman.


"Tidak ada apa-apa. Tidak ada luka juga di badannya. Ini kakinya agak terkilir saja mungkin karena tertimpa motor tadi, tapi ringan. Mungkin, beberapa hari akan sembuh yang penting jangan dibawa banyak aktivitas dulu, apalagi aktivitas berat. Sepertinya dia pingsan karena terlalu shock atau panik saja," jawab dokter dengan santainya, kemudian beralih kepada Wanda, "Kamu belum sarapan ya, Mbak? Lapar?' tanya dokter dengan sangat ramah.


"Iya, Dok. Belum sempat karena tadi niatnya setelah sampai kantor baru sarapan," jawab Wanda polos.


"Saya tidak memberi obat karena memang Mbak Wanda baik-baik saja. Iya sudah. Mbak sudah boleh pulang. Jangan lupa sarapan ya," ucap dokter membuat Wanda dan Tiara bahagia.

__ADS_1


Tiara pun menuntun Wanda keluar dari IGD. Di luar, Rama dan Bayu menunggu dengan cemas. Mereka tentu takut Wanda kenapa-napa walaupun terasa janggal jika Wanda seperti ini karena tertabrak mereka. Setelah Tiara keluar dari ruangan IGD menuntun Wanda, Bayu dan Rama pun mendekat bersama.


"Kok sudah keluar. Sudah boleh pulang?" tanya Rama dan Bayu penasaran.


"Udah, Abang. Udah, Om," jawab Tiara lebih melembut.


"Kamu tidak apa-apa?" tanta Bayu khawatir bukan main.


"Tidak apa-apa. Aku minta maaf ke Bang Rama dan Om__ emmmm__ supir Bang Rama. Gara-gara kesalahanku malah jadi kalian harus tanggung jawab," sesal Wanda menundukkan kepala.


Om? Supir? Oh My God, bocah emang meresahkan dan semaunya sendiri. Setua itukah aku? Untung teman Nona Rama kalau bukan tentu udah kujitak tuh anak. Gerutu Bayu dalam hati.


"Kamu nggak usah masuk kerja dulu ya. Istirahat dulu," usul Tiara perhatian.


"Nggak, Ra. Aku nggak apa-apa kok. Kan kerja juga banyak duduk dan ke mana-mana banyak naik lift, kan. Tenang aja. Aku nggak apa-apa kok. Ini juga udah dikasih perban elastis jadi enak buat dibawa jalan," sahut Wanda tersenyum menenangkan sahabat yang sangat menyayanginya.


Dua pria dewasa dan dua wanita tanggung itu pun berjalan menuju mobil pelan-pelan. Dua pria hanya menyimak pembicaraaan yang didominasi oleh kecerewetan nona kecilnya dan sang teman lebih kalem nan dewasa menanggapinya.


"Tapi, besok-besok kamu sarapan. Bahaya kalau sampai pingsan seperti tadi," ucap Tiara pura-pura galak.


"Nggak tahu sih, Om. Tadi ya lapar, ya panik juga karena motornya mati. Mana lalu lintas lagi padat kan serba takut," jawab Wanda polos.


"Tuh, kan bukan salah aku, Bang. Duuh hampir aja kita kena amuk massa gara-gara motor bocah ini," sahut Bayu membela diri.


"Iya kan aku udah minta maaf, Om," sesal Wanda menunduk.


"Bisa nggak sih jangan panggil Om. Aku bukan suami tantemu ya. Panggil boss aja Bang masa panggil aku Om," protes Bayu cerewet.


"Iya udah. Iya, Pak," sebut Wanda tanpa dosa.


Tiara dan Rama pun tersenyum menahan tawa melihat tingkah mereka berdua. Si supir yang menggebu-gebu dan si bocah yang polosnya kebangetan. Bayu mengacak rambutnya frustrasi, sedangkan Wanda hanya menunduk santai.


"Sejak kapan aku jadi bapak kau," protes Bayu lagi.

__ADS_1


"Udah deh, BAPAK. Bawel amat. Mending kita beliin sarapan untuk Wanda. Di depan tuh ada rumah makan gudeg, kesukaan Wanda nih. Aku juga mau ya, Bang," sela Tiara menengahi, kemudian menatap Rama penuh harap.


"Bayu!" sebut Rama langsung Bayu paham dengan apa yang harus dilakukan, yaitu membeli dua porsi gudeg.


Tiara pun masuk mobil. Saat Wanda akan menyusul Tiara, Rama memberi isyarat agar Wanda duduk depan di samping kursi kemudi. Wanda pun menurut.


"Loh, kok Abang di sini?" tanya Tiara sangsi.


"Udah biar dia depan. Barangkali bisa akur sama Bayu kan. Biar ada angin segar buat Bayu," jawab Rama terkekeh namun Wanda hanya mengernyit tak paham apa yang dimaksud Rama.


"Oh, iya," sahut sang istri tak kalah tulalitnya, kemudian ia mencolek bahu Wanda dan bertanya, "Bukannya motormu kemarin habis diservis, Nda? Kok udah mogok lagi."


"Nggak tahu tuh si abang bengkel. Padahal udah habis dua ratus ribu kan lumayan ya buat anak kos. Bisa buat makan beberapa kali," sahut Wanda berubah sendu.


Rama dan Tiara pun menjadi kasihan. Terlebih, Tiara tahu keseharian Wanda yang memang uang sakunya ya bisa dibilang cukuplah buat menghidupi diri sendiri namun tak bisa buat main atau hura-hura seperti teman lainnya. Namun, ia juga tak suka dikasihani sehingga jika Tiara ingin mentraktir Wanda juga harus mentraktir kedua sahabatnya agar Wanda tidak tersinggung.


"Tenang aja. Untuk servis, itu udah jadi urusanku. Udah kusuruh orang dealer buat mengambil motormu di warung dekat TKP. Tadi kan mobil ini juga sempat menabrakmu. Aku servis di dealer yang bagus. Untuk sementara, biar kusuruh Bayu untuk mengantar jemput kamu. Kaki kamu juga sedang sakit," mandat sang CEO begitu santai.


"Nggak, Bang. Duh udah diservisin motorku aja aku berterima kasih banget. Nggak usah repot-repot. Aku malah jadi tidak enak. Gara-gara keteledoranku, jadi Bang Rama dan Pak Bayu bertanggung jawab. Aku biasa kok naik ojol atau busway," bantah halus Wanda sungkan dan agak takut dengan kepedulian berlebihan semacam itu.


"Tenang aja. Kami sudah berjanji ke para saksi untuk bertanggung jawab sampai kamu sembuh. Jangan menolak. Kami bukan kasihan atau bagaimana, ini sudah tanggung jawab kami berdua yang memang sudah menabrakmu. Servis motor tanggung jawabku, antar jemput kamu tanggung jawab Bayu. Paling motormu butuh dua hari servis, jadi setelah itu kamu boleh berangkat sendiri lagi. Oke?" tawar Rama dengan sangat tulus.


"Tidak apa ya, Nda? Abang dan Om Bayu cuma mau bertanggung jawab. Kalau kamu menolak malah mereka jadi merasa bersalah. Lagian, aku mau ke Bogor nggak bisa berangkat bersamamu," bujuk Tiara memohon.


Melihat ketulusan Rama dan Tiara, Wanda pun berangsur luluh dan mengangguk. Kalau bukan karena Tiara, tentu ia takkan menerima tawaran itu walaupun itu bentuk tanggung jawab sekali pun. Tiara membuatnya merasan aman untuk tak menolak.


"Oke, Tiara. Nanti kamu kirim nomor Wanda ke Bayu dan nomor Bayu ke Wanda ya. Biar mereka mudah berkomunikasi untuk menjemput sore nanti," perintah Rama dibalas anggukan semangat dari Tiara.


Bayu pun membuka pintu mobil dan menyerahkan masing-masing makanan ke pemesan.


"Iya kan, Bay? Iya. Oke," ucap Rama sembarang sambil mendelik membuat Bayu melongo dan mengangguk meskipun tak tahu maksud Rama.


...***************...

__ADS_1


Hello, pembaca semuaaa. Terima kasih udah mengikuti ceritaku sejauh ini. Terima kasih dukungannya sehingga author sangat semangat untuk update cerita.


Sekadar intermezo dan pengen kenalan dikit nih. Kira-kita, readers dari mana aja nih? Kalau author tinggal di Bogor sekarang, aslinya sih orang Wonosobo, Jawa Tengah 🥰


__ADS_2