
Sesampainya di kantor, Tiara terlebih dahulu mengantar Wanda sampai lobi. Di sana, sudah ada Arjuna yang menunggu Tiara sehingga Wanda bersikeras untuk menuju ruangan sendiri dan meminta Tiara untuk tinggal karena sudah ditunggu atasannya. Tiara melirik jam yang melingkar di tangannya dan menunjukkan 07.55. Ia bersyukur karena tidak telat namun wajah Arjuna yang mendekatinya terlihat agak garang.
"Mari berangkat!" titah Arjuna sambil menjentikkan jari sebagai isyarat agar Tiara mengikuti langkahnya.
"Teman yang lain ke mana, Pak?" tanya Tiara bingung karena tak melihat satu pun anggota tim-nya di sana.
"Mereka sudah berangkat. Kamu terlambat," tekan Arjuna galak.
"Loh, bukannya ini belum jam delapan ya, Pak?" sahut Tiara membela diri.
"Saya kepala divisi dan terserah saya juga mengganti jadwal. Karyawan saya tentu sudah paham dengan saya. Jika saya sudah memberi jadwal kegiatan, minimal tiga puluh menit sebelum jadwal sudah siap. Saya bisa saja memulai lebih awal dan tidak mungkin melewati jam yang saya janjikan jika memang tidak ada alasan yang darurat. Kamu harusnya proaktif jika mau bekerja di divisi saya. Saya tidak akan bicara banyak sehingga banyak belajar dan bertanya kepada rekan-rekanmu," nasihat Arjuna sambil terus berjalan menuju mobilnya.
"Baik, Pak," sahut Tiara menundukkan kepala.
"Satu lagi. Saya tidak suka keterlambatan. Saya harap ini pertama dan terakhir keterlambatanmu. Ke depannya, saya tidak menerima alasan apa pun, kecuali memang keadaan darurat," kata Arjuna dengan penuh penekanan.
"Baik, Pak. Mohon maaf," sahut Tiara merasa bersalah walaupun agak jengkel juga.
"Kali ini, saya terima maafmu karena memang saya tahu musibah yang menimpamu tadi pagi," ucap Arjuna masih cuek dan membuka pintu mobilnya.
"Saya duduk di depan sini, Pak?" tanya Tiara kikuk harus satu mobil dan duduk berdampingan dengan lelaki yang bukan suaminya.
"Iya mau duduk di mana lagi? Mau duduk di atas kap mobil juga boleh. Yang penting jangan di belakang karena saya bukan supir. Terserah pilih saja yang mana!" jawab Arjuna ketus.
Tiara pun nyengir kebingungan namun tak ada pilihan lain karena mobil kantor sudah membawa teman-temannya berangkat lebih awal. Tiara pun memasukkan tas di kursi belakang, lalu masuk ke kursi samping kemudi dengan penuh keraguan dan kaki sedikit gemetar. Mereka pun melesat dengan cepat. Saat lalu lintas padat tentu Tiara bisa bernapas lega karena Arjuna mengurangi kecepatannya. Namun, lengang sedikit saja Tiara merinding dan Arjuna tentu takkan melewatkan untuk melintas di lajur cepat sehingga Tiara seakan sedang diajak melintasi sirkuit balap.
"Pak, bisakah mengurangi kecepatan?" cetus Tiara harap-harap cemas walaupun ia akui kemampuan mengemudi Arjuna memang luar biasa.
"Bukankah lebih seru seperti ini? Kita bisa menyusul timmu dan kamu bisa bergabung dengan mereka di mobil kantor," sahut Arjuna sambil tertawa bahagia sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal yang dibolehkan di jalan toll.
Tiara sampai menggeleng-gelengkan kepala dan nggak habis pikir dengan atasannya yang seperti gila. Arjuna tak henti mengumpat jika lalu lintas padat dan tertawa bahagia saat bisa mengendarai mobilnya seperti kesetanan. Tiara terus berdoa dalam hati karena terlampau khawatir dengan jiwanya yang seakan hendak melesat dari jasad saat Arjuna kebut-kebutan. Ia sudah pasrah kepada ketetapan Tuhan jika memang ajalnya sudah dekat.
__ADS_1
Tiba-tiba, perut Tiara terasa bergejolak. Kepalanya mulai pening, badannya mulai dingin, dan keringat dingin juga bercucuran di dahinya. Lambungnya mulai bereaksi dan ingin memuntahkan apa pun yang ada di dalamnya. Tiara menahan sekuat tenaga.
"Pak, bisa mampir ke rest area sebentar? Sepertinya saya... Uwoookkkk," ucap Tiara sambil menahan agar isi perutnya tak tumpah di mobil Arjuna. Bisa jadi masalah panjang kalau itu terjadi tentunya.
"Oke. Tahan. Depan ada rest area. Kamu tahan sebentar. Oke," sahut Arjuna tiba-tiba cemas dan membelokkan mobilnya ke rest area terdekat.
Arjuna sengaja parkir di depan toilet agar Tiara bisa cepat menuntaskan mabuknya dan tidak sampai merepotkannya. Setelah keluar dari toilet, Tiara terlihat sangat pucat dan menguning sekujur tubuhnya. Begitu lemas seakan tak berdaya. Ia berjalan gontai menuju mobil Arjuna yang sudah dibuka kap atas mobilnya.
Tiara duduk di samping Arjuna dengan napas terengah-engah karena benar saja sarapannya tadi pagi keluar semua. Tiara pun menjadi lapar dan ingat masih ada gudeg yang dibelikan Bayu tadi pagi. Tiba-tiba, Arjuna menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya dengan raut sedikit mengendur. Tiara menerimanya dan berterima kasih segera meminumnya.
"Mau makan dulu? Mau saya belikan apa gitu?" tanya Arjuna mendadak iba.
"Memang, tidak apa kalau saya makan dulu?" tanya balik Tiara was-was
"Boleh. Masih banyak waktu. Acara dimulai jam sebelas," jawab Arjuna santai.
"Ya udah. Saya makan dulu ya, Pak. Lemas," sahut Tiara tak berdaya.
"Tidak usah, Pak. Saya sudah membawa makanan. Tadi sebelum ke kantor, saya sudah membeli makanan," jawab Tiara sambil berjalan ke jok belakang dan mengambil seporsi gudeg di tas.
Untung gudeg itu dikemas dengan foodcontainer berbahan plastik sehingga mudah dimakan di mana saja. Tiara kembali duduk di samping Arjuna dan memakannya dengan lahap. Arjuna pun menggeleng-gelengkan kepala melihat makan Tiara namun ia memaklumi karena perut Tiara mungkin kosong karena muntah tadi.
"Kamu suka gudeg?" tanya Arjuna tiba-tiba membuat Tiara hampir tersedak.
Tiara segera meminum air mineral yang diletakkan di pangkuannya, kemudian menelan makanannya sebelum menjawab.
"Iya doyan aja. Awalnya cuma mengikuti sahabatku aja, tapi lama-lama ketagihan juga. Walaupun aku lebih suka rawon," jawab Tiara sambil kembali menikmati makanannya.
"Aku juga suka gudeg karena aku lahir di Yogyakarta. Jadi, sejak kecil sudah terbiasa dengan makanan itu. Tahu nggak filosofi gudeg?" tanya Arjuna tiba-tiba tertarik bercerita dengan Tiara.
Dahi Tiara berkerut sambil menatap sekilas Arjuna. Kemudian, kembali menyantap makanannya.
__ADS_1
"Enggak. Emang Pak Juna tahu?" tanya Tiara polos tanpa menatap Arjuna.
Sejenak, Arjuna tersentak mendengar Tiara memanggilnya Juna. Ada yang membuat batinnya ingin melanjutkan bercerita dengan Tiara.
"Proses memasak gudeg ini ada filosofinya. Ini digambarkan dengan jelas melalui seporsi gudeg yang disajikan dengan isi yang cukup beragam namun terikat menjadi satu citarasa manis yang kaya rempahnya. Memasak gudeg dipahami sebagai cerminan sempurna dari filosofi Jawa yang penuh nilai ketenangan, kesabaran, teliti, dan anti sembrono. Hal ini dikarenakan proses pengolahan gudeg itu cukup lama. Mungkin, memakan waktu hampir satu hari. Memasak gudeg ini harus diteliti betul dari komposisi dan kualitas bahan yang akan diolah. Bahkan, besar kecil ukuran apinya pun diperkirakan dalam proses pemasakannya. Cukup rumit memang namun terbayar dengan penyatuan antara satu komposisi dengan lainnya yang saling mendukung untuk memperkaya citarasa namun begitu padu dan sangat menggugah selera," terang Arjuna begitu detail karena memang gudeg adalah makanan favoritnya.
"Dalam juga ya filosofinya, Pak. Pak Juna sering makan gudeg berarti dong?" tanya Tiara singkat namun ia begitu menyimak cerita Arjuna.
"Dulu sering, sekarang udah jarang. Papa diabetes, jadi aku berusaha mengurangi yang terlalu manis karena aku beresiko juga. Iya mencegah bukankah lebih baik daripada mengobati. Ya paling kalau memang lagi benar-benar ingin saja," jawab Arjuna tersenyum tipis sambil membayangkan masa kecilnya makan gudeg ternikmat masakan almarhum eyang putrinya.
"Oh kasihan Pak Hadi," ucap Tiara sambil mengemas bekas peralatan makannya.
"Kok kasihannya ke Papa? Kamu pasti menutup-nutupi hubunganmu dengan Papa," tanya Arjuna selidik dan mendadak galak.
"Astaghfirullaah. Ya ampun, Pak Juna. Berapa kali harus saya jelaskan bahwa saya tidak minat dengan bapak-bapak. Mohon maaf sekali. Iya kan yang kena diabet Pak Hadi. Pak Juna kan hanya mengurangi makan gudeg. Kan yang kasihan Pak Hadi to? Masa mengurangi makan gudeg saja perlu dikasihani?" jawan Tiara tak habis pikir dengan karakter Arjuna yang susah ditebak. Kadang serius, kadang galak, seringnya aneh sih dengan pemikirannya yang berbeda dengan manusia pada umumnya.
Tiara pun membuang peralatan makannya di tempat sampah, kemudian kembali ke mobil Arjuna yang masih belum tertutup kap atas mobilnya.
"Oke. Sudah bisa melanjutkan perjalanan?" tanya Arjuna sambil menyalakan mobilnya.
"Boleh, Pak. Tapi kecepatannya tolong yang normal saja atau gudeg saya akan mabuk dan malas dicerna," jawab Tiara sambil memasang sit belt-nya.
"Iya. Iya. Baru segitu aja udah mabuk. Lemah," tukas Arjuna sembari tersenyum tipis tanpa sengaja.
"Ya udah loh. Pak Juna juga mengendarai mobilnya kayak kesetanan. Bagaimana perutku ini tak menolak? Batin saya saja berdoa sepanjang jalan untuk memohon keselamatan," sahut Tiara membela diri sambil cemberut.
Dari kejauhan, ternyata dua pasang mata sedang memerhatikan Tiara dan Arjuna yang sedang saling melempar tawa tanpa tahu pembicaraan mereka. Kemudian, ia mengeluarkan ponsel dan berhasil mengabadikan momen mereka berdua dua detik sebelum kap atas mobil itu mulai menutup lagi. Senyum sang pelaku mengembang sempurna karena melihat harapan di depan yang lebih terang.
"Mati kau, Tiara!" sarkas orang itu penuh dendam dan kebencian.
...****************...
__ADS_1