Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Membuka Luka Lama


__ADS_3

Setelah pertanyaannya berhasil membuat sepasang suami istri terperangah, Nafisa pun kembali tak sadarkan diri. Pak Latif sangat sigap dan langsung menangkap putrinya yang hampir saja tergolek di lantai. Bu Aida pun membantu membaringkan Nafisa ke sofa.


Rama dan Tiara pun duduk di sofa lagi dengan perasaan resah. Keduanya bingung harus merespon bagaimana sehingga berpikir agak lama untuk menjawab pertanyaan Nafisa yang di luar dugaan mereka.


"Pak, Bu, apa tidak lebih baik Nafisa dirawat di sini saja? Kalau berobat jauh, bukankah kalian juga akan terlalu mencemaskannya?" tanya Rama memberi solusi.


"Kalau ini memang permintaan Nafisa, kami hanya bisa melakukan yang terbaik dan menurutinya. Dia sudah menjalani hidup yang berat sehingga kami selalu ingin mengupayakan yang terbaik untuknya karena kebahagiaan dia jauh lebih penting bagi kami. Jika dia mau berobat ke Jakarta, tentu kami hanya bisa mendoakan dan berharap kalian mau membantu kami menjaganya sementara," harap Pak Latif.


"Masalahnya, saya sibuk kerja dan Tiara juga sedang menjalani magang mahasiswa. Mama yang sudah tua tentu tak mungkin saya suruh merawat Nafisa," sahut Rama jujur.


"Sepertinya, dia bisa merawat dirinya sendiri. Yang penting, bantu kami mewujudkan keinginannya. Aku yakin dia tidak akan menjadi benalu di rumah tangga kalian walaupun begitu terobsesi dengan Rama. Kami memohon. Bantu kami untuk kesembuhan Nafisa. Mungkin dengan bertemu Rama, perlahan trauma Nafisa bisa berangsur sembuh. Melihat Nafisa yang sakit-sakitan begini, kami sangat tidak tega. Apalagi dia sering berucap seolah ajalnya sudah dekat membuat kami ingin mengusahakan segala yang dia inginkan," jelas Bu Aida membujuk Tiara dan Rama agar menyetujui keinginan Nafisa.


"Bu, sepertinya kami ti__," sahut Rama terpotong oleh usapan tangan Tiara di pahanya seakan memerintahkannya diam.


"Untuk hal itu, sepertinya lebih baik kami diskusikan dulu dengan Mama. Bagaimanapun, rumah itu adalah rumah Mama dan tidak mungkin kami mengizinkan orang tinggal di sana tanpa seizin Mama. Selain dapat memunculkan kesalahapahaman, juga dikhawatirkan akan membuat Mama tidak nyaman. Terlebih, Mbak Nafisa bukan keluarga. Tentu, kami perlu mempertimbangkan banyak hal," sela Tiara memberikan pemahaman.


"Tapi, Ra," bantah Rama lirih menatap istrinya tak percaya.


"Abang, kita diskusikan dulu dengan Mama ya," ucap Tiara dengan mata memohon dan berkedip sekali.


Tiara dapat memahami kekhawatiran dan harapan orang tua Nafisa. Tentu, banyak hal yang telah mereka upayakan untuk kesembuhan putri kesayangannya. Ia benar-benar tak tega melihat harapan besar orang tua Nafisa pun begitu prihatin melihat keadaan Nafisa. Perasaan Tiara berhasil terketuk membuat kepedualiannya mulai tumbuh secara alami. Walaupun di lubuk hati terdalam Tiara masih tersemat kecemburuan dan kecemasan namun ia berusaha memendamnya demi rasa kemanusiaan. Toh, orang tua Nafisa tak lagi memaksa Rama untuk menikahi putrinya.


"Baiklah. Semoga Ibu Nak Rama berbesar hati untuk membantu kesembuhan Nafisa. Segera kabari jika memang Ibu Nak Rama bersedia menerima Nafisa tinggal sementara di sana," harap Pak Latif.


"Jika memang Mama tidak berkenan, saya juga mohon Bapak dan Ibu berbesar hati dan jangan sampai ada dendam," sahut Nafisa sangat dewasa.


Rama menunduk tak habis pikir dengan rencana yang sedang dibuat oleh istrinya. Hal ini belum mereka diskusikan namun kata-kata Nafisa memberikan harapan besar kepada keluarga Nafisa. Sungguh, kedewasaan istrinya malah jadi terasa meresahkan dan mengguncang batinnya. Kehadiran Nafisa di tengah-tengah keluarga mereka pun tak menutup kemungkinan huru-hara di sana. Banyak peluang kecemburuan, meskipun Rama sudah yakin tak ada rasa sama sekali kepada Nafisa.


...****************...


"Apa? Nafisa tinggal di sini? Kalian ini sadar nggak sih mengatakan itu? Mama benar-benar nggak bisa memahami jalan pikiran kalian. Datang ke sana bukannya menyelesaikan masalah malah membawa masalah baru" sentak Bu Ina menyorot kesal kedua anaknya.


"Mama, kasihan Nafisa. Keadaannya sangat memprihatinkan dan orang tuanya menaruh harapan besar untuk kesembuhannya. Mereka berharap kita mau membantunya, Ma. Tiara mohon," pinta Tiara memelas.

__ADS_1


"Tiara, kamu juga seharusnya memahami perasaan Mama. Ibu mana yang nggak hancur melihat anaknya hampir gila karena ditolak wanita. Mama paham betul bagaimana tulusnya Rama kepada Nafisa, tapi cerita Papa tentang sikap dan perkataan orang tuanya masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Tiara, lenyapkan kepedulianmu kepada mereka. Biarkan mereka menerima karmanya!" bentak Bu Ina mendadak galak namun matanya sendu menyembilu.


"Mama," panggil Tiara merasa bersalah karena memahami Bu Ina sedang meluapkan kesedihannya yang tidak main-main.


"Kamu harus tahu semuanya, Ra. Dulu, Nafisa memberi harapan kepada Rama walaupun dirinya sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria lain. Mama tahu Nafisa pun tulus kepada Rama namun ia juga sangat patuh kepada orang tuanya. Mama nggak menyalahkan dia patuh, tapi menyayangkan saja kalau pada saat Rama berharap besar dan dia tetap tak bisa membantah orang tuanya. Kalau memang seperti itu, bukankah lebih baik tak usah memberi harapan kepada Rama. Tepat di hari ulang tahunnya, Rama datang ke sana bersama Papa dengan niat yang tulus sampai-sampai Rama menjadi lebih rajin dan baik semenjak bermimpi untuk menikah dengan Nafisa," terang Bu Ina menahan amarahnya karena harus mengingat-ingat kejadian itu.


"Namun, saat dia sampai di sana, ternyata sudah ada calon suami Nafisa yang datang bersama orang tuanya. Saat Papa mengutarakan niat kedatangannya untuk melamar Nafisa, mereka pun diam seakan menahan tawa. Terlebih saat melihat tato di lengan Rama dan label Rama sebagai kepala geng di kampus, membuat mereka semakin memandang Rama sebelah mata. Mereka bahkan tak menolak atau mengiyakan, namun ucapan sopan mereka sangat tajam menusuk perasaan. Walaupun tidak diucapkan secara langsung namun Papa dan Rama cukup tahu diri jika pembicaraan itu mengarah kepada Rama. Mereka masih mencoba bersabar ketika Rama dibanding-bandingkan dengan calon Nafisa yang katanya alim, berwibawa, bertanggung jawab, dan dewasa, sedangkan Rama itu keras, begajulan, nakal, suka mabuk-mabukan, hanya mengandalkan orang tua, ilmu agama tak seberapa sehingga tak ada yang bisa diharapkan dari Rama di masa depan," papar Bu Ina mulai melirih menahan tangis dan sakit hatinya.


Tiara menyimak dengan mata berkaca-kaca tak menyangka mertuanya memendam sakit hati yang luar biasa. Ia pun menyesal telah membuat Bu Ina harus menceritakan kembali semua luka yang sudah berusaha dikubur dalam ingatannya.


"Yang paling menyakitkan, mereka bilang sampah nggak pantas bersanding dengan berlian. Rasanya sangsi saat mendengar sindiran itu keluar dari mulut orang yang mengaku alim dan berpendidikan seperti mereka namun Papa mendengarnya sendiri, bahkan di depan mata. Walaupun memang kami menyadari kekurangan Rama namun tidak sepantasnya mereka berkata demikian. Di sana mereka berbincang, sedangkan Papa dan Rama hanya menyimak menekan sabar sekuat tenaga. Sampai akhirnya, mereka tak memberi jawaban pasti namun mereka membahas tentang pernikahan Nafisa dengan pemuda itu. Kalaupun ditolak dengan bahasa lugas pun kami akan terima dengan lapang dada karena mungkin memang belum jodohnya. Mereka berdua pun pulang karena sadar diri tak diharapkan. Semenjak saat itu, Rama sangat frustrasi. Sepulangnya dari kantor, ia mampir entah ke mana dan sampai rumah dalam keadaan mabuk, bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri karena tak bisa lepas dari bayangan Nafisa. Ia belum bisa menerima jika Nafisa menikah dengan lelaki lain karena sudah begitu besar harapan yang diberikan Nafisa kepadanya. Nafisa yang diharapkan menjadi kado terindah di hari ulang tahunnya yang ke-23 malah memberikan kenangan buruk dan luka di hati Rama, bahkan di hati kami sebagai orang tua," cerita Bu Ina mulai terisak pilu.


"Mama, cukup. Tiara minta maaf," bujuk Tiara menyesal dan sudah tak tahan melihat kesedihan mertuanya.


Tiara pun menangis dan menghambur ke pelukan Bu Ina. Ia menumpahkan rasa bersalah dan kesedihannya di pelukan mertua yang begitu menyayanginya. Rama hanya menyimak mereka dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.


.


Rama menyesali kepeduliannya kepada Nafisa ternyata disalahartikan selayaknya perhatian. Rama menunduk karena merasa bersalah telah membuat Bu Ina harus kembali membuka luka lamanya. Tentu, Bu Ina lebih hancur dari dirinya.


"Iya, Ma. Sekarang Tiara tahu. Tiara nggak akan lagi membahas mereka. Mama tenang ya," bujuk Tiara memeluk Bu Ina lebih erat dan hangat.


Bu Ina pun mengatur napas untuk lebih menenangkan diri. Kemudian, dibelainya mahkota sang menantu dengan penuh kelembutan karena mengetahui saat ini, ia sedang dilanda ketakutan dan kecemasan.


"Iya, Sayang. Mama sudah lebih baik sekarang. Kamu memang harus tahu semua ini biar bisa membujuk suamimu untuk berhenti peduli padanya. Semua ini mungkin nggak akan terjadi kalau suamimu tidak berlagak seperti pahlawan kesiangan," sindir halus Bu Ina sambil melirik sengit ke arah Rama.


Rama pun menunduk semakin dalam. Ia berusaha menyelami pikirannya untuk mencari alasan mengapa ia bisa langsung peduli dengan Nafisa. Namun, ja tak menemukan apa pun yang bisa diterima logikanya. Seperti sudah insting saja, ia mendadak tergerak untuk membantunya tanpa memikirkan konsekuensinya. Tiba-tiba, ia cemas dengan perasaannya sendiri.


Setelah ketegangan di ruang keluarga mereda, Bu Ina pun pamit untuk beristirahat karena mengingat kenangan buruk itu sangat menguras pikiran, emosi, dan perasaannya. Membuat tubuhnya terlampau lelah. Sepeninggal Bu Ina, Rama dan Tiara pun kembali ke kamar tanpa percakapan.


Sesampainya di kamar, Rama merebahkan diri di kasur sambil menghempaskan napas kasar. Ia masih sangat merasa bersalah sekaligus lelah karena mereka sampai di Jakarta waktu subuh dan belum tidur sama sekali karena menunggu sarapan terlebih dahulu. Kemudian, dilanjut diskusi yang hasilnya memang sudah Rama duga sebelumnya. Ia tak mau mencegah Tiara karena dia cukup keras kepala jika sudah ada kemauan kuat dalam dirinya.


Tiara duduk di tepi kasur sambil memandangi wajah masygul suaminya yang sangat penat sekaligus lelah. Banyak ketakutan yang saat ini hinggap di kepalanya setelah mendengar cerita Bu Ina yang menggambarkan perasaan Rama yang teramat dalam kepada Nafisa.

__ADS_1


"Abang, boleh Tiara tanya?" tanya Tiara serius.


"Apa, Ra?" jawab Rama cuek.


"Abang sama sekali udah nggak ada rasa kepada Mbak Nafisa?" tanya Tiara harap-harap cemas.


"Apa aku kurang meyakinkanmu? Selalu bertanya hal yang sebenarnya kamu pun udah tahu jawabannya karena akan selalu sama," sahut Rama meninggikan suara.


"Kok malah Abang nyolot ditanya baik-baik juga. Tiara hanya butuh kejelasan Abang dan perlu memastikan perasaan Abang ke Tiara," decak kesal Tiara yang terkejut Rama tiba-tiba membentaknya.


"Mau penjelasan bagaimana lagi? Bukankah aku sudah jujur semuanya? Apakah kamu berharap aku menjawab masih ada rasa untuk Nafisa? Kalau ternyata begitu, kamu memang mau apa? Ha!" sentak Rama mendadak galak.


"Jawabnya biasa aja dong, Bang. Tiara hanya bertanya," sahut Tiara terpancing juga amarahnya.


"Tapi, pertanyaanmu itu aneh. Selalu bertanya hal yang sama, padahal jawabannya juga takkan beda. Apalagi soal perasaan. Kamu maunya selalu diberi kepastian dan menyuruhku mengerti sikap kekanak-kanakanmu itu, tapi kamu tak pernah mau memahami perkataanku dengan sungguh-sungguh. Pernyataanku hanya dijadikan sebagai pemuas perasaanmu," cetus Rama teramat ketus.


"Iya bagaimana aku tak ragu. Kamu bisa langsung sepeduli itu dengan wanita yang pernah kamu cintai begitu dalam, bahkan telah melukaimu dan keluargamu juga," sahut Tiara memuntahkan kekesalannya.


"Setiap habis mendengar kabar dari luar, kamu suka ragu tanpa alasan. Kamu bisa mudah percaya dengan perkataan orang, tetapi kenapa tidak berlaku dengan perkataanku juga yang jelas-jelas sah suamimu," bantah Rama.


"Iya Tiara kan hanya mencoba memastikan," bela Tiara.


"Iya selama kamu masih ada keraguan kepadaku, mau kebenaran yang aku ungkapkan juga tentu akan selalu salah di matamu. Belajar lebih konsisten dan dewasa! Kemarin mendukungku untuk membantu Nafisa, kenapa sekarang malah menyalahkanku? Bukankah ini sudah kesepakatan kita berdua?" tanya Rama akhirnya duduk di samping Tiara dengan garangnya.


"Iya memang Tiara masih kekanak-kanakan, Abang yang paling dewasa, paling konsisten. Abang! Bagaimana Tiara bisa menolak kalau Abang sudah kepalang berjanji kepadanya? Abang masih memikirkannya dan peduli padanya saja sudah cukup membuat hati Tiara ragu, apalagi Abang membiayai pengobatannya tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Tiara. Bukankah itu berarti dia lebih penting di hati Abang daripada Tiara?" tanya Tiara menantang dan menatapnya tak kalah garang.


"Iya kalau tak setuju bisa dibicarakan. Makanya, jujur dari awal sebelum semua telanjur! Jangan kamu pikir aku cenayang yang bisa membaca pikiranmu tanpa dijelaskan," jawab Rama nyolot.


"Memang kalau Tiara nggak setuju, Abang lantas membatalkan janji kepadanya saat itu juga?" tukas Tiara berhasil membuat Rama bungkam.


Rama pun teringat ucapan Bu Ina saat sedang membahas itu dan benar saja pertanyaan itu akan keluar dari mulut Tiara. Rama tiba-tiba tak bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu.


"Abang nggak bisa jawab kan? Berarti memang Abang masih ada perasaan dengan dia," ucap Tiara menyimpulkan sembarang.

__ADS_1


__ADS_2