Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Hendra: apa aku keterlaluan?


__ADS_3

Aku masih di sini, suasana kantor sudah terlihat sepi karena jam kantor sudah lama berakhir, mungkin hanya tinggal Pak Surya yang berjaga di depan pos jaga, aku memejamkan mata sambil menyandarkan kepalaku di kursi kebesaran ku.


Hari ini entah mengapa, emosiku memuncak dan aku lampiaskan pada Lusiana tadi siang. Sedang apa gadis itu di rumahnya sekarang?


Ada rasa sesal di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku sudah membentak Lusiana. Aku tau dia sampai menangis walaupun dia menyusut air matanya secara diam- diam.


Semua itu karena Nino, pria ga jelas yang berani secara terang-terangan ingin mendekati Lusiana. Tadi sempat kutanyakan juga pada Susan tujuan Nino berkunjung ke kantor.


Aku menyadari sepertinya aku mulai cemburu, aku tidak suka melihat ada yang tertarik apalagi mendekati Lusiana.


Lusiana tidak bersalah, ia hanya menemui Nino yang kata Susan mencari Lusiana karena ada keperluan.


Aku saja yang terlalu berlebihan, tidak bisa mengontrol emosiku. Mungkin tanpa sengaja aku malah menyakiti hati Lusiana.


Lagian apa hakku untuk marah- marah? aku bukan siapa- siapa bagi Lusiana. Hanya hubungan antara atasan dan bawahan.


Lusiana juga tidak bersalah, ia menerima tamu di saat istirahat yang tidak mengganggu jam kerja. Lalu kenapa aku marah?


Tiba- tiba hpku yang ada di meja berdering, segera ku lihat panggilan dari mamaku. Astaga, saking galaunya aku lupa mengabarinya masih berada di kantor.

__ADS_1


" Halo, ma."


" Nak, kamu masih di kantor? kenapa belum pulang?"


" Iya ma, masih ada yang harus dikerjakan. Maaf lupa ngabarin mama."


" Ya udah ga pa-pa , yang penting mama tau kamu ada di mana. Kamu udah makan?"


" Bentar lagi ma, Hendra juga udah mau siap- siap pulang ma, mama sama papa makan duluan saja ga usah nunggu Hendra. Nanti Hendra cari tempat makan kalau Hendra udah lapar."


" Ya sudah nak, jangan pulang terlalu malam, kerjaan bisa dilanjutkan besok."


"Mama tutup dulu ya teleponnya."


" Iya, bye..ma.."


Aku menghela napas, perasaan ini terasa mengganjal karena perasaan bersalah pada Lusiana.


Aku harus minta maaf pada gadis itu, kalau tidak mungkin malam ini aku ga bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


Aku ketik nama Lusiana di nomor kontak hpku, lalu ku tekan nomor hp nya, terdengar nada sambung di hp nya tapi tidak diangkat.


Kemana gadis itu? apa dia sudah tidur atau memang sengaja ga mau angkat teleponnya. Apa dia marah dan sakit hati?


Aku mendesah, ah.. Lusiana angkat teleponnya. Aku mau minta maaf.


Setelah panggilan yang ketiga kali, teleponnya masih tidak diangkat, aku menggaruk kepalaku dengan kesal.


Bagaimana ini? semua salahku, emosian ga bisa sabar. Aku terus menyalahkan diri- sendiri.


Aku sebaiknya pulang, malam sudah mulai merayap. Kasihan mama, biasanya beliau dengan sabar menungguku di ruang keluarga. Mamaku tidak akan mengistirahatkan tubuhnya kalau puteranya ini belum pulang.


Pak Surya membuka gerbang saat melihatku menjalankan mobilku.


" Selamat malam Pak, hati- hati di jalan."


Aku mengangkat tanganku sambil membunyikan klakson tanda berpamitan pada satpam kantorku itu.


Aku melarikan mobilku dalam kegelapan malam. Besok aku harus meminta maaf pada Lusiana, karena hatiku belum tenang dengan rasa bersalah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, ku lihat mama sudah menyambutku. Wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku itu tersenyum pada puteranya yang galak ini.


__ADS_2