Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana: Hendra berang


__ADS_3

Aku sedang bersantai, menemani mama yang asyik dengan tontonan drakornya.


" Lus...malam mingguan nih, bentar lagi


pasti ada yang datang," mama meledekku.


"Kok mama tau?" tanyaku.


" Firasat mama," jawab mama.


Belum lima menit mama selesai bicara, terdengar suara mobil berhenti di depan rumahku.


" Tuh tamunya datang...," senyum mama.


Aku keluar untuk melihat...


"Paling mas Dirga yang suka berkunjung," pikirku.


Deg...


Yang datang bukan mas Dirga, tapi orang yang paling ingin kuhindari.


Pak Nino turun dari mobilnya, ia berpakaian sangat rapi.


Kemeja lengan panjang berbahan flanel yang dipadukan dengan celana jeans casual.


Rambutnya disisir rapi kelihatan sangat kelimis.


Tangannya menenteng sebuah kantong plastik transparan yang kutebak berisi makanan yang bisa kulihat dari bentuk dusnya seperti martabak.


"Kok bengong Lus, ga disuruh masuk?" tegurnya sambil mengedipkan satu matanya.


" Eh iya Pak Nino...silahkan masuk," ajakku sambil membuka pintu teralis anti nyamuk.


"Duduk Pak Nino," suruhku.


"Mamamu mana Lus?" tanyanya.


"Ada lagi nonton di ruang tengah," jawabku.


"Aku permisi ya Lus mau nyapa mamamu," kata Pak Nino meminta izin.


Aku mengangguk lalu mengikutinya yang sudah masuk ke ruang tengah.


"Malam Tan...," sapanya lalu menyalami mamaku.


"Malam Nak Nino," jawab mama ramah.


" Ini Nino bawain martabak buat Tante," kata Pak Nino memberikan tentengan yang ia bawa.


" kok repot- repot Nak....makasih ya," ucap mama lalu menerima pemberian Pak Nino.


Aku mengambilkan minum untuk Pak Nino.


" Duduk di ruang tamu aja Pak," ajakku.


" Baik Lus...permisi ya Tante..." kata Pak Nino sebelum mengikutiku ke ruang tamu.


"Silahkan Nak...." jawab mama.


"Diminum Pak," aku meletakkan gelas yang berisi air putih di atas meja tamu.


"Malam mingguan ga keluar Lus?" tanyanya setelah kami duduk.


"Ga Pak di rumah aja," jawabku.


" Kita keluar yuk pergi nonton bioskop atau keluar makan?" ajaknya.


"Maaf Pak...bentar lagi ada teman yang mau datang, udah janjian tadi," jawabku asal.


Aku berharap ada salah satu penyelamatku, Aldo atau Mas Dirga.

__ADS_1


Biasanya mereka sering datang di malam Minggu begini.


"Owh...aku telat dong Lus, mestinya aku janjian dulu ya," ujarnya penuh percaya diri.


"Minggu depan boleh aku ajak kamu keluar Lus?" tanyanya.


" Aku ga biasa keluar malam Pak," jawabku menolaknya.


" Ya sudah...aku datang ngapelin kamu aja udah senang kok," katanya tertawa.


Aku terpaksa tersenyum, tidak bisa menjawab apa- apa.


Aku takut membuatnya tersinggung, tapi yang penting aku tidak memberinya harapan palsu.


Suara mobil berhenti di depan rumahku, pasti mas Dirga pikirku.


"Maaf Pak, sepertinya dia sudah datang...aku lihat dulu ya," kataku pada Pak Nino.


Ia hanya mengangguk.


Aku keluar untuk melihat ke depan.


Mas Hendra keluar dari mobilnya, ia tersenyum padaku lalu menoleh pada mobil yang sudah parkir di sebelah mobilnya.


"Malam Lus..." sapanya.


Mas Hendra menenteng makanan di tangan kirinya.


"Martabak lagi," gumamku dalam hati.


"Malam mas Hendra, ayo masuk," ajakku.


" Lus ini martabak buat mamamu," kata mas Hendra lalu memberikan bungkusan martabak yang ia bawa.


"Ada tamu..." kata Mas Hendra.


"Halo Pak Hendra," sapa Pak Nino.


"Lus, numpang ke toilet ya," kata Mas Hendra lalu masuk menuju bagian belakang rumahku.


"Malam Tante..." Mas Hendra menyalami mama.


"Tante, Hendra numpang ke toilet ya," izinnya pada mama.


"Silahkan Nak Hendra," jawab mama.


Mas Hendra menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur kami.


Aku meletakkan martabak di meja ruang tengah tempat mama menonton televisi. Aku menunjuk martabak pada mama.


"Dari mas Hendra buat mama," kataku pada mama.


Mama mengangkat kedua alisnya, aku cuma mesem- mesem.


Dua buah tangan yang sama dari orang yang berbeda.


Aku mengambilkan segelas air putih untuk mas Hendra.


Aku lalu kembali ke ruang tamu menemui Pak Nino dan meletakkan gelas yang kubawa di atas meja tamu.


"Maaf ya Pak," ucapku.


"Ga apa- apa Lus, orang cantik memang banyak yang suka," jawabnya mengedipkan sebelah matanya padaku.


"Diminum Pak Nino..." tawarku.


"Iya Lus...," jawabnya.


" Lus...kapan dong aku bisa ajak kamu jalan berdua?"


Aku belum sempat menjawab, saat itu mas Hendra sudah kembali ke ruang tamu.

__ADS_1


"Pak Nino ada perlu apa kemari?" tanya mas Hendra yang terlihat tidak suka.


" Sama kayak Pak Hendra lah, mau ngapelin Lusiana," jawab Pak Nino blak- blakan.


"Kalau saya bukan ngapelin, saya memang udah sering kemari," jawab Mas Hendra agak ketus.


"Pak Hendra bukan pacarnya Lusiana kan? mengapa kelihatan tidak suka saya kemari? Lusiana aja ga keberatan kok," Pak Nino tersenyum mengejek.


"Apa maksud Pak Nino bicara begitu?" Mas Hendra kelihatan berang.


" Ya selama Lusiana masih bebas, saya juga bebas mendekatinya, lagian apa hak Pak Hendra" jawab Pak Nino.


" Lusiana itu pegawai saya, saya berhak melindunginya dari laki- laki seperti anda," mas Hendra mulai meninggikan suaranya.


" Hanya status pegawai saja kan?" Pak Nino mengejek mas Hendra.


Mas Hendra berdiri dari duduknya, aku yang melihat situasi yang mulai memanas segera menarik tangan mas Hendra untuk duduk.


"Tolong mas Hendra...Pak Nino...jangan berantem...hargai aku sebagai tuan rumah. Ga enak sama mama...," ucapku tegas.


Aku tidak ingin mamaku kaget hanya gara- gara masalah kecil.


"Dia yang mulai duluan," tunjuk Pak Nino.


"Apa?"


"Sudah mas...," aku melerai mereka.


Mereka berdua bersikap seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.


Aku bisa melihat sisi lain mas Hendra, ia tidak bisa mengendalikan emosinya.


Terhadap mas Dirga dan Aldo selama ini mas Hendra biasa saja saat mereka main ke rumahku.


Kenapa terhadap Pak Nino, mas Hendra dengan terang- terangan menunjukkan sikap tidak sukanya.


Pak Nino dan mas Hendra saling memandang dengan tatapan dingin.


Suasana berubah menjadi hening, aku tidak tau harus berbuat apa untuk mencairkan suasana.


Terdengar suara motor gede parkir di depan rumahku, kalau ini sudah pasti Aldo karena ia jarang membawa mobilnya jika datang ke rumahku.


Aku membuka pintu teralis, dan benar Aldo yang sedang membuka helm dari kepalanya.


" Malam Lusiana, hari ini rame ya?" tanyanya tersenyum sambil menunjuk ke arah kedua mobil yang terparkir di situ.


" Masuk Al..." ajakku.


" Halo bro..." sapa mas Hendra pada Aldo.


" Halo juga bro..." sambut Aldo lalu menyalami mas Hendra.


"Ini..?" tanya Aldo lalu menyalami Pak Nino.


" Aku Nino," jawab Pak Nino memperkenalkan dirinya.


"Aldo," balas Aldo.


" Duduk Al...," aku menuju dapur mengambilkan minum untuk Aldo.


" Udah lama bro?" tanya Aldo pada mas Hendra saat aku meletakkan minum buat Aldo.


" Lumayan bro," jawab mas Hendra.


"Diminum Al..."


" Makasih Lus....," jawabnya.


Aku lega, untung Aldo datang....


Kalau ga suasana panas tetap akan terasa di dalam ruang tamu rumahku...

__ADS_1


__ADS_2