Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Hendra: getir


__ADS_3

Akhirnya, hari ini acara pertunanganku dilaksanakan di sebuah hotel mewah di kotaku.


Semua diurus oleh papaku, aku tidak peduli dengan acara pertunangan yang dilakukan dengan hati yang terpaksa.


Firda terlihat cantik dengan gaun panjang berwarna merah, aku memakai jas hitam dan memakai dasi berwarna merah agar terlihat matching dengan warna gaun Firda.


Wajah Firda terlihat sumringah, sedangkan aku jangankan untuk tersenyum...berbicarapun aku enggan.


Dari tadi aku hanya diam...dan hanya melakukan perintah dari host.


Acara pertunanganku dibuat mewah oleh papa, para undangannya pun dari kalangan konglemerat dan pengusaha kenalan papa dan Om Dicky.


Saat acara tukar cincinpun, tidak sedikitpun aku bisa tersenyum.


Di acara sesi foto, fotografer selalu meminta aku untuk tersenyum namun aku tidak mempedulikannya, aku hanya diam dan hanya berpose saja.


Aku berharap acara pertunangan ini cepat selesai, karena aku sangat muak.


Papa ku lihat begitu bahagia, dan selalu tertawa- tawa saat mengobrol dengan para tamu undangan.


Sedangkan mama sama sepertiku, mama lebih banyak diam.


Firda selalu ingin menggandeng tanganku, tapi sering aku tepis dengan halus.


Acara pertunangan ini terasa seperti siksaan bagiku, sebentar- sebentar aku melihat jam tanganku.


Aku ingin acara ini segera berakhir...


"Sayang...kenapa kamu terlihat gelisah? kamu tidak bahagia hari ini?" Firda bertanya dengan mata berbinar.


Ia terlihat begitu bahagia...tapi tidak dengan aku.


Aku tidak menjawab pertanyaan Firda, aku hanya mengangkat bahuku.


" Kamu kok ga mau bicara sama aku?" desak Firda yang melihat aku hanya diam.


" Lagi sariawan," jawabku singkat.


"Serius?" tanya Firda lagi.


Aku merasa jengkel dibuatnya, kenapa dia banyak tanya sih.


Aku diam saja.


" Nanti minum vitamin C aja sayang, biar sariawannya cepat hilang," ujarnya tersenyum.


"Kalau aku bisa menghilang, aku akan menghilang di hadapan semua orang," gumamku dalam hati.


Setelah malam, acara pertunangan akhirnya selesai...


Para tamu undangan pun satu- persatu pamit pulang.


Kedua keluarga masih berkumpul untuk sesi foto bersama.


Setelah acara foto- foto selesai, akhirnya kami pun pulang.


Sesampainya di rumah aku ingin segera masuk di kamarku.


" Hendra tunggu dulu," panggil papaku.


" Ada apa pa?" tanyaku malas.


" Setelah ini segera persiapkan pernikahan kalian. Bagaimana kalau bulan depan?" tanya papa.


" Terserah papa, toh hidup Hendra papa yang atur," jawabku sedikit ketus.


"Kamu kenapa terlihat tidak senang?" papa bertanya dengan sedikit kesal.


"Tanya saja pada diri papa sendiri," jawabku lalu berlalu dari situ.


Mama ku dengar menghela napas panjang, mama pasti merasakan kekesalanku.


" Anak itu semakin hari semakin tidak sopan," masih sempat kudengar papa bicara pada mama.


" Papa pikirin saja penyebabnya apa," jawab mama dingin.

__ADS_1


"Ibu dan anak sama saja ga ada bedanya," Omelan papa kudengar ketika aku menutup pintu kamarku.


Aku masuk ke kamar mandi, ku guyur tubuhku dengan air dingin.


Sengaja aku berlama- lama untuk mendinginkan kepalaku.


Aku berharap setelah terkena air dingin, tubuh dan pikiranku bisa menjadi lebih segar.


Di acara pertunanganku sengaja tidak ku undang para pegawaiku, termasuk Lusiana.


Aku tidak ingin membagi kesedihanku dengan mereka, bagiku pertunangan ku adalah awal aku untuk menjalani neraka dunia.


Biarlah akan kujalani apa yang menjadi keinginan papa.


Biarlah papa yang memutuskan kapan hari pernikahanku dan Firda akan dilaksanakan.


Aku sudah tidak ada tenaga untuk melawan papa.


Karena aku tau kalau aku melawan, maka Lusianalah yang akan menderita.


Biarlah kukorbankan kebahagiaanku, asal papa tidak "menyentuh" Lusiana.


Aku tidak ingin keselamatan gadis itu terancam karena ulah papa yang keras kepala.


"Lusiana....semoga kamu hidup bahagia," desahku lirih mendoakannya.


********


Sebulan kemudian, aku benar- benar berada di sini.


Duduk di pelaminan bersama dengan orang yang tidak ingin ku nikahi, Firda.


Kali ini aku mengundang para pegawaiku, termasuk Lusiana.


Lusiana datang bersama dengan mas Dirga, sahabat abangnya itu.


Lusiana terlihat cantik dan anggun dengan dress selutut berwarna merah maron.


Aku sampai terpana melihatnya.


"Selamat ya mas untuk pernikahannya...semoga berbahagia," ucapnya tulus.


"Makasih Lus," tatapku lekat di wajahnya yang cantik, sehabis ini aku sudah tidak boleh untuk sekedar menatapnya lagi.


Hatiku begitu perih, sakit rasanya....dengan menahan gejolak di hatiku.


Air mataku rasanya sudah ingin turun, tapi berusaha untuk ku tahan.


Aku seorang laki- laki, mana boleh menangis apalagi di acara pesta pernikahanku.


Mas Dirga juga menyalamiku dan memberi selamat padaku.


Semoga Lusiana berjodoh dengannya, aku bisa melihat kedewasaannya dan aku bisa melihat mas Dirga adalah laki- laki yang baik.


Lusiana dan mas Dirga bergantian menyalami Firda yang wajahnya terlihat sangat bahagia.


"Apa hanya aku yang tidak bahagia saat sudah menjadi pengantin?" keluhku dalam hati.


Mama ku lihat sebentar- sebentar melirikku, mungkin mama mencemaskan aku.


Hanya mama yang tau saat ini aku sangat tidak bahagia.


Sedangkan papa, om Dicky dan Tante Sumi yang mulai saat ini kupanggil dengan sebutan papa dan mama juga terlihat begitu bahagia dengan pernikahan ini.


Apa mereka tidak tau, aku sangat tidak menginginkan pernikahan ini.


Para wartawan pencari berita ku lihat juga ikut meliput acara pernikahanku.


Entah siapa yang telah mengundang mereka, mungkin papaku atau papa mertuaku.


Mereka juga sempat mewawancarai ku di saat break di sela- sela acara, tapi aku hanya menjawab sekedarnya.


Lebih banyak Firda yang menjawab pertanyaan mereka, aku lebih memilih untuk lebih banyak bungkam.


Untuk apa mengumbar kebahagiaan semu.

__ADS_1


Aku berstatus suami Firda hanya di atas kertas, di hati tidak sedikitpun aku menganggapnya sebagai isteriku.


Setelah acara pernikahan selesai, aku dan Firda menginap di hotel tempat kami mengadakan resepsi.


Aku segera membersihkan tubuhku di kamar mandi, gerah sekali rasanya walaupun dari tadi duduk di tempat full AC.


Setelah aku selesai mandi, Firda lalu mandi.


Aku duduk di ranjang hotel dengan terpaku, aku tidak siap untuk melakukan tugasku dengan hati yang menolak Firda.


Firda keluar dari kamar mandi dengan memakai lingerie berwarna merah menyala.


Sedikitpun aku tidak tertarik melihatnya, Firda mendekatiku dan mulai menggodaku.


Aku menepis tangannya yang mengelus tanganku.


"Sayang...kamu kenapa sih? aku sekarang adalah isterimu," Firda ingin menc**mku.


Aku menjauhkan wajahku, entah mengapa aku merasa jijik.


"Kamu haus?" tanyanya menjauh.


Aku menarik napas lega, aku tidak ingin melakukannya pada Firda karena aku tidak mencintainya.


Firda mengambilkan aku minum.


" Minumlah sayang, lalu segera tidur," ujarnya tersenyum.


Aku sedikit lega, Firda tidak menuntut ku. Aku meneguk air minum yang disodorkannya padaku.


Aku menenggaknya hingga tandas tak bersisa.


Firda tersenyum miring, senyumnya terlihat sedikit aneh.


Aku merasa tubuhku semakin panas saja, aku membuka kancing piyamaku.


Entah mengapa, ada yang terasa aneh di tubuhku.


Aku merasa sangat gerah dan aku tidak tahan lagi, kepalaku terasa sedikit pusing.


Aku membuka baju piyamaku, Firda mendekatiku lalu entah mengapa di mataku Firda berubah menjadi Lusiana.


Aku seperti orang yang kehilangan akal sehatku, aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku.


Aku tidak bisa menolak Firda lagi, ia terlihat begitu menggoda.


"Lusiana....," ucapku dalam hati.


Lalu terjadilah apa yang tidak aku harapkan sebelumnya....


Setelah semuanya selesai, sedikit demi sedikit kesadaran ku kembali.


Firda tertidur pulas di sampingku.


Aku mencerna apa yang baru saja terjadi antara aku dan Firda.


"Apa yang sudah aku lakukan?" aku mengacak rambutku.


"Dasar ular....ia pasti sudah memasukkan sesuatu di dalam minumanku," aku bangkit dari ranjang lalu mengenakan piyamaku yang berantakan di pinggir ranjang.


Aku bangkit menuju minibar yang ada di kamar hotelku.


Ku lihat di samping gelas tempat aku minum tadi ada bekas bungkusan kertas yang sudah diremas.


Tidak salah lagi, dugaanku pada apa yang telah dilakukan Firda padaku sepenuhnya benar, ia sudah memasukkan obat pe*******g di dalam minumanku.


"Dasar wanita murahan...tidak tau malu...ternyata dia juga sudah tidak suci lagi, entah siapa yang sudah merenggut kesuciannya," kesalku.


Ternyata Firda adalah wanita licik, aku semakin membencinya.


"Inilah wanita dengan bibit, bebet, bobot yang dibanggakan papa," sinisku dalam hati.


"Aku tidak akan memaafkan apa yang sudah dilakukan Firda," aku mengepalkan kedua tanganku dengan marah.


"Lihat saja Firda....kamu akan menangis dengan apa yang sudah berani kamu lakukan," ujarku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2