Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Bikin ulah


__ADS_3

Hendra terbangun saat Firda membuka pintu kamarnya, Hendra melirik jam weker yang ada di meja kecil dekat sofa Hendra tidur.


Jam dua dini hari, jam segini Firda baru pulang.


Hendra berpura- pura tidur...ia memejamkan matanya.


Firda mengendap- ngendap masuk ke kamar...ia berjalan dengan kaki menjingkrak.


Hendra tersenyum sinis.


Terdengar Firda membuka lemari baju lalu masuk ke kamar mandi.


"Dasar perempuan ga tau diri...tinggal di rumah mertua saja dia berani pulang jam segini apalagi kalau kami tinggal sendiri," gumam Hendra dalam hati.


Tidak lama kemudian, Firda keluar dari kamar mandi. Ia menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


Firda sudah berganti baju dengan piyama.


Firda menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, lalu langsung terlelap.


Hendra tidak mempedulikan Firda, ia juga memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.


Keesokan harinya di meja makan...


"Firda pulang jam berapa Nak?" tanya mama Hendra.


"Jam dua pagi ma...," jawab Hendra yang menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Apa?" Papa Hendra membulatkan matanya.


"Firda masih tidur?" tanya Papanya kemudian.


"Masih...," jawab Hendra singkat.


Papa Hendra menarik napas panjang.


" Kamu sebagai suaminya harus menegurnya," ujar papa Hendra.


"Papa saja....Hendra ga peduli Firda ga pulang sekalian juga ga apa- apa," jawab Hendra dingin.


"Kamu bagaimana sih...bagaimana kalau terjadi apa- apa sama dia?" tanya Papanya lagi.


"Ya itu salah dia sendiri...pergi tanpa izin pulang semau- maunya," jawab Hendra asal.


"Lalu tanggung jawab kita bagaimana pada orang tuanya?" papa Hendra bertanya kesal.


"Itu urusan Papa....papa pikirkan saja sendiri," sahut Hendra.


"Hendra...!" bentak Papa Hendra.


Hendra mau menjawab lagi, tapi mama Hendra menepuk lembut tangan Hendra.


"Sudah Pa...ini lagi di meja makan...pagi- pagi jangan marah- marah," tegur mama Hendra.


Papa Hendra langsung bungkam, ia meneruskan sarapannya dengan perasaan kesal.


Hendra cuma melirik papanya, sejak ia dipaksa menikah dengan Firda, Hendra dan papanya sudah seperti kucing dan tikus selalu saja tidak akur.


Hendra sudah tidak bersikap hangat pada papanya seperti dulu lagi, hanya dengan mamanya saja Hendra bersikap hangat.


Firda keluar dari kamar masih memakai piyamanya, rambutnya masih terlihat acak- acakan.


Firda tidak menyapa orang tua Hendra yang sedang sarapan.


Ia mengambil segelas air minum lalu meneguknya hingga tandas.


"Ga ikutan sarapan Fir?" Mama Hendra menyapa Firda.


"Masih mau balik tidur...oammm...," Firda menguap dengan mulut lebar, kemudian ia melangkah kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


Mama Hendra terbengong melihat tingkah laku menantunya.


"Dasar tidak punya sopan santun...menguap saja tidak menutup mulutnya....entah di mana letak bibit, bebet, bobotnya," sindir Hendra pada papanya sambil tertawa kecil.


Muka papa Hendra merah padam, ia merasa tersindir dengan kata- kata Hendra.


"Setahu Hendra orang yang punya bibit, bebet, bobot yang bagus itu kalau terhadap mertua ada rasa malu dan punya sopan- santun...., seenggaknya menyapa lah selamat pagi ma..pa...," sambung Hendra.


Papa Hendra diam seribu basah, ia tidak bisa menjawab perkataan Hendra.


Yang dikatakan Hendra itu tidaklah salah.


Papa Hendra buru- buru menghabiskan makannya, lalu meneguk segelas air putih.


"Ma...papa berangkat dulu ya...," papa Hendra beranjak dari kursinya.


"Hati- hati di jalan Pa," ucap mama Hendra.


Hendra tersenyum- senyum melihat papanya yang salah tingkah setelah disindir Hendra.


Satu- persatu sifat Firda akan terungkap sendiri, biar papa Hendra tau ia sudah menjodohkan orang yang salah.


**********


Mama Lusiana asyik menonton drakor kesayangannya, Lusiana menemani mamanya sambil memainkan ponselnya.


Sudah lama Eni dan Fendi tidak memberi kabar pada Lusiana.


"Apa mereka baik- baik saja?" Lusiana berkata dalam hati.


Lusiana mencemaskan kedua sahabatnya itu.


Lusiana mengetik pesan buat Eni.


" En....gimana kabarmu?"


Cuma ada centang satu, pesan Lusiana belum sampai.


"Fen...gimana kabarmu? Eni bagaimana juga kabarnya? apa kalian sering bertemu?"


Centang dua, pesan Lusiana sudah terkirim tapi belum dibaca.


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Lusiana.


"Sepertinya mas Dirga ma, Lusi lihat dulu ya," ujar Lusiana pada mamanya.


Mamanya mengangguk, masih tetap fokus pada tontonan nya.


Lusiana keluar dan benar saja mas Dirga yang datang ke rumahnya.


"Masuk Mas Dirga," ajak Lusiana.


"Ini Lus ada oleh- oleh dari mama," Dirga menyerahkan bungkusan pada Lusiana.


"Apa ini mas?" tanya Lusiana.


"Baju sepertinya Lus, mama baru pulang dari Paris...dibuka saja Lus, kata mama satu buat kamu satu buat mamamu," kata Dirga.


Lusiana membuka bungkusannya.


" Bagus banget mas, makasih ya...sampaikan juga makasih buat Tante," ucap Lusiana.


Sebuah dress cantik selutut berwarna kuning gading buat Lusiana, dan blus cantik berwarna biru muda buat mama Lusiana.


"Syukurlah kalau kamu suka," jawab Dirga tersenyum.


" Duduk dulu mas, Lusiana ambil minum dulu ya," ujar Lusiana.


Dirga menemui mama Lusiana yang sedang menonton untuk menyapanya.

__ADS_1


" Malam Tante," sapa Dirga.


"Malam Nak...duduk sini," ajak mama Lusiana.


"Ga usah Tan...Dirga duduk di depan saja," jawabnya.


Lusiana datang membawa segelas minum dan sepiring cemilan pisang rebus.


"Ma....dikasih oleh- oleh sama mama mas Dirga...blus cantik buat mama dari Paris," Lusiana memberitahu mamanya.


" Repot- repot Nak, sampaikan makasih buat mamanya ya," ucap mama Lusiana.


"Iya Tante nanti disampaikan," jawab Dirga lalu kembali duduk ke ruang tamu.


" Minum mas...pisang rebus nya dimakan," ujar Lusiana.


"Makasih Lus..."


"Lus, besok mas Dirga mau ke Kalimantan...ada tawaran kerja sama dari teman yang tinggal di sana...masih di bidang makanan hasil UMKM sih...mas mau lihat dan cobain makanannya dulu untuk dijual di Swalayan punya mas," Dirga memberitahu Lusiana.


" Juga mau bicarakan proses pengiriman dan lain- lain, mungkin bisa sampai dua mingguan," sambungnya lagi.


" Oh hati- hati di jalan mas, semoga sukses ya...," jawab Lusiana.


"Makasih Lus doanya."


Suara mobil berhenti di depan rumah Lusiana.


Lusiana keluar untuk melihat diikuti Dirga di belakangnya.


Lusiana langsung mengenali mobil itu.


"Pak Nino, ngapain lagi dia berani ke sini?" gumam Lusiana.


Nino keluar dari mobil, ia kaget melihat ada Dirga di belakang Lusiana.


"Maaf Pak Nino, ada perlu apa ya?" Lusiana langsung bertanya tanpa basa- basi.


"Lus, menikahlah denganku....aku akan menceraikan Desi," ia ingin memegang tangan Lusiana, tapi langsung ditepis oleh Lusiana.


"Apa Pak Nino sudah gila? Desi lagi hamil...sadar Pak...," jawab Lusiana.


"Aku mencintaimu Lus...aku sudah tidak mencintai Desi lagi, tolong terima cintaku Lus....aku sungguh mencintaimu...," ujar Nino.


"Maaf Pak, saya masih punya hati...lagian saya tidak pernah cinta sama Pak Nino. Sebaiknya Pak Nino segera pulang...ga enak dilihat orang," jawab Lusiana tegas.


"Tapi...Lus...," Nino kembali ingin memegang tangan Lusiana.


Dirga maju menghalangi Nino.


"Maaf Pak...jangan bersikap tidak sopan, Lusiana calon isteri saya...tolong bapak segera pulang dari sini, jangan pernah ganggu Lusiana lagi atau bapak akan berhadapan dengan saya," ancam Dirga.


Nino terdiam, ia sangat kecewa. Ia nekad menemui Lusiana walaupun ia tau Lusiana pasti menolaknya.


Tapi Nino tidak bisa melupakan Lusiana, ia sudah tergila- gila.


"Sebaiknya bapak segera pulang....sebelum saya marah," tegas Dirga lagi.


Nino dengan lesu membalikkan badannya, lalu masuk kembali ke dalam mobilnya.


Akhirnya mobil itu meninggalkan rumah Lusiana.


Lusiana menarik napas lega.


"Maaf ya Lus, mas mengaku sebagai calon suami mu," kata Dirga merasa tidak enak.


"Ga apa- apa mas, makasih ya, untung hari ini mas Dirga datang ke sini."


Mama Lusiana keluar...

__ADS_1


" Tadi ada apa Nak?" tanyanya.


__ADS_2