
Setelah acara selesai....tamu- tamu sudah pulang.
Eni meminta sopir papanya untuk mengantar Desi pulang.
Sementara Eni, Fendi, Rina dan pacarnya Gio, Aldi dan juga Lusiana masih mengobrol.
Mereka seperti sedang reunian.
"Al...kamu kemana aja jarang kelihatan?" tanya Lusiana pada Aldi.
"Sama kayak kamu Lus...sibuk kerja," jawab Aldi tertawa.
"Dulu kita berlima paling kompak selalu bersama tidak terpisahkan," ujar Fendi tertawa.
" Kalian berempat masih jomblo aja, masa aku sendiri yang sudah punya pacar," ledek Rina memandang Gio pacarnya.
"Aku maunya sama Lusiana, tapi ga bisa bareng...gimana dong?" tawa Fendi.
Mendengar kata- kata Fendi, Lusiana mukanya jadi memerah.
"Ya udah jadiin dong...kamu balik ke Indonesia aja...yang cowok ngalah," ceplos Rina tertawa.
Fendi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eni sama Aldi...Fendi sama Lusiana....beres kan?" tawa Rina.
"Aku juga mau sama Lusiana...gimana dong?" canda Aldi yang langsung membuat teman- temannya tertawa.
" Kalau gitu aku yang ga laku sendiri...hiks...hiks," Eni pura- pura menangis.
Tawa mereka bergema...seru sekali kalau mereka berlima sudah berkumpul.
Cuma Gio yang menemani lima sekawan itu geleng- geleng kepala lalu ikutan tertawa.
Mereka ngobrol sampai malam sampai tempat resepsi itu sudah sepi, barulah mereka pulang.
" En...Lusiana biar aku yang antar, aku bawa mobil abangku," kata Fendi pada Eni.
" Okelah kalau begitu...aku titip Lusiana ya, soalnya mama Lusiana tau nya aku yang tadi jemput," jawab Eni.
" Siap bos...," sahut Fendi.
Kelima sahabat kental itu lalu saling melambaikan tangan, ada sejuta kenangan manis yang sudah tersimpan di hati mereka sejak di masa SMA.
Lusiana dan Fendi berdampingan menuju tempat mobil Abang Fendi terparkir.
Fendi membuka pintu depan mobil untuk Lusiana, lalu Fendi duduk di depan kemudi dan menjalankan mobilnya untuk mengantar Lusiana.
"Kamu kapan lagi balik ke Taiwan Fen?" tanya Lusiana.
" Minggu depan Lus...bareng Eni...," jawab Fendi.
"Aku akan kehilangan kalian berdua...," kata Lusiana sendu.
" Kan masih bisa video call Lus...lagian di sini masih ada Rina dan Aldi," sahut Fendi.
__ADS_1
" Kalau Rina dan Gio nikah, kamu dan Eni balik ke Bangka kan?" tanya Lusiana.
" Kalau ga ada halangan, tentu harus balik dong Lus...memangnya Rina udah mau nikah?" Fendi bertanya balik.
" Belum sih...tapi kan cepat atau lambat mereka pasti nikah...," jawab Lusiana yang diiyakan oleh Fendi.
"Lus...kalau seandainya aku punya pacar di Taiwan, bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Fendi.
"Kamu udah punya pacar Fen?" tanya balik Lusiana.
" Belum Lus...ini hanya seandainya," jawab Fendi.
" Ya aku akan menerimanya Fen...itu berarti kita memang tidak berjodoh...aku tidak apa-apa, toh kita juga tidak bisa mengikat satu sama lain," jawab Lusiana mantap.
Fendi manggut- manggut, Fendi hanya ingin tau bagaimana seandainya Fendi pacaran dengan orang lain.
Fendi ingin tau perasaan Lusiana, Fendi tidak ingin melukai perasaan Lusiana seandainya nanti hal itu terjadi.
"Kita masih bebas Fen...kita tidak bisa saling gantung tanpa kelanjutan hubungan yang jelas kan? aku ikhlas misalkan nanti kamu memilih gadis lain," jawab Lusiana.
" Dan aku di sini pun bebas juga kan seandainya aku memilih orang lain sebagai cowokku?" tanya Lusiana.
" Iya Lus, aku tidak boleh egois...kita bebas memilih siapa aja jadi pendamping hidup kita."
"Tapi aku dengan tulus selalu berdoa Lus, agar siapapun yang menjadi pendamping kamu nantinya...kamu akan bahagia bersamanya," sambung Fendi.
"Terima kasih Fen...doa yang sama aku berikan buat kamu," sahut Lusiana.
"Nanti apapun yang terjadi dengan hubungan kita, aku harap sikap kamu masih tetap sama Lus...aku ingin kamu tetap mencariku kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan...jangan pernah merasa sungkan ya..." pesan Fendi.
" Tetap bahagia ya Lus..." senyum Fendi tulus.
*********
Desi sampai ke rumahnya...
" Makasih ya Pak...salam buat keluarga Eni," ucap Desi pada sopir papa Eni.
"Sama- sama neng," jawab sopir papa Eni yang mengantar Desi pulang.
Desi lalu keluar dari mobil, sopir papa Eni lalu meninggalkan tempat itu.
Desi melihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman rumah mereka.
Dengan gontai Desi berjalan menuju pintu depan lalu mencari anak kunci di dalam tasnya.
"Krek..."
Desi membuka pintu lalu menutupnya kembali.
Desi melihat suaminya yang sudah tertidur di sofa ruang keluarga.
Televisi masih tampak menyala, Desi lalu menekan tombol remote yang ada di atas meja untuk mematikannya.
Desi masuk ke kamar untuk mengambil selimut, lalu ia keluar lagi.
__ADS_1
Desi menyelimuti tubuh suaminya yang tampak sudah terlelap itu.
Kemudian Desi menyiapkan handuk dan baju tidurnya lalu membawanya ke kamar mandi.
Ia ingin segera membersihkan tubuhnya yang terasa gerah karena pengaruh kehamilannya.
Setelah selesai mandi, Desi kembali melihat suaminya yang tidak terusik oleh suara apapun.
" Mungkin suamiku kecapean setelah mobilnya mogok," gumamnya dalam hati.
"Selamat malam mas," Desi mengecup kening suaminya.
Desi lalu melangkah ke kamar tidur...malam ini ia tidur sendiri karena ia tidak ingin membangunkan suaminya yang sudah terlelap.
Desi lalu membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
" Selamat malam sayang," usapnya lembut pada perutnya.
Desi memejamkan matanya, ia merasa lelah dan ingin segera beristirahat.
Malam semakin larut segera membawa Desi ke alam mimpi.
Keesokan harinya....
Desi bangun dengan tubuh yang lebih segar.
Ia keluar dari kamar tidurnya dan sudah tidak melihat suaminya ada di sofa.
Hanya selimut yang sudah terlipat rapi digeletakkan di atas sofa tempat suaminya tidur semalam.
Desi menuju ke dapur...tampak di atas meja sudah ada potongan roti panggang yang sudah diisi selai nanas kesukaan Desi dan juga ada segelas susu yang masih hangat.
Desi tersenyum, suaminya sudah menyiapkan sarapan untuknya.
Desi melirik jam dinding, sudah pukul delapan pagi...suaminya pasti sudah berangkat kerja.
Dua hari ini kebetulan suaminya ada tugas di Pangkalpinang.
Desi bisa menemani suaminya selama dua hari ini karena pernikahan Marsella, kakak sepupunya.
Desi mencuci muka dan tangannya lalu menyantap roti panggang buatan suaminya.
" Enak..." senyum Desi.
Desi segera menghabiskan sarapannya lalu meneguk segelas susu hangat buatan suaminya itu hingga tandas.
" Makasih mas," gumamnya tersenyum.
Ia merasa bahagia dengan perhatian kecil dari suaminya, tidak sering Desi bisa makan sarapan dan minum susu dari suaminya itu.
Selama ini, Desi lah yang lebih banyak melayani suaminya.
Sangat jarang suaminya itu menyiapkan sarapan untuk Desi walaupun Desi dalam keadaan hamil.
Mungkin pagi ini suaminya kasihan melihat Desi yang kelihatan kelelahan karena acara semalam.
__ADS_1