
Aku sering main ke rumah tanteku, Tante Dewi. Tante Dewi adalah adik bungsu Papaku.
Papaku cuma punya satu orang adik perempuan, yaitu Tante Dewi.
Hubungan kami sangat dekat, anak Tante Dewi, Herman yang merupakan sepupuku adalah teman sepermainan.
Kami selalu satu sekolah dari TK sampai di bangku SMA. Setelah tamat kuliah pun, kami masih sering bertemu.
Aku dan Herman sangat lengket, mungkin karena kami sama- sama anak tunggal, sehingga hubungan kami malah seperti saudara kandung.
Kadang aku menginap di rumah Herman sampai beberapa hari, begitu juga dengan Herman. Ia juga kadang menginap di rumahku sampai beberapa hari.
Kami seperti punya dua rumah dan empat orang tua.
Aku beberapa kali diajak Tante Dewi main ke rumah Tante Nadya, sahabat Tante Dewi. Rumahnya juga tidak begitu jauh dari rumah tanteku itu.
Tante Nadya punya anak gadis yang sangat cantik menurutku. Lusiana namanya.
Aku udah beberapa kali juga ngobrol dengan Lusiana, ia gadis yang asyik, nyambung kalau diajak ngobrol.
__ADS_1
Tanpa kusadari, aku mulai menyukai Lusiana tepatnya jatuh cinta pada gadis itu. Selama ini aku belum pernah merasakan jatuh cinta pada gadis manapun.
Lusiana cinta pertamaku dan aku ingin menjadikannya juga cinta terakhirku.
Aku membicarakan perasaanku pada mamaku, dan mamaku mendukung keinginanku untuk melamar Lusiana.
Karena usiaku udah cukup untuk berumah tangga dan udah mapan secara ekonomi, apa salahnya aku ingin langsung mengikatnya.
Lusiana gadis yang cantik dan menarik, pasti banyak pria lain yang tertarik padanya. Mustahil kalau tidak ada pria yang mengejarnya.
Aku ga ingin nanti kalah cepat dari para pria yang mengejarnya, bisa gigit jari aku nantinya.
Aku lalu memberanikan diri meminta bantuan Tante Dewi untuk membicarakan hal ini pada Tante Nadya.
Aku serius dan hatiku sudah mantap, ini juga karena aku menghormati Tante Nadya sebagai mama Lusiana, agar beliau saja yang nanti menyampaikan lamaranku pada Lusiana.
Hatiku sudah siap kalau nanti pun Lusiana akan menolak lamaranku.
Aku tidak akan sakit hati dan akan menghormati apapun keputusan dan jawaban Lusiana.
__ADS_1
Namanya juga usaha, kalau ga dicoba ga akan tau hasilnya, begitu prinsipku.
Tante Dewi juga sudah mengabariku, bahwa Tante Dewi udah menyampaikan lamaranku pada Tante Nadya. Tinggal menunggu jawaban dari Lusiana.
Aku selalu berdoa dan berharap semoga Lusiana mau menerima lamaranku.
Aku juga tau dari cerita Tante Dewi, Lusiana adalah gadis yang baik, sopan, rajin dan sayang sama mamanya.
Di mana lagi di zaman sekarang masih ada gadis yang seperti itu, ibarat barang udah termasuk barang langka.
Bukannya aku menganggap Lusiana seperti barang, hanya sebagai perumpamaan saja.
Di saat gadis lain seusia Lusiana suka bersenang- senang, gonta- ganti pacar, pake make up tebal semuanya ga ada pada Lusiana.
Lusiana belum pernah pacaran, ia serius bekerja dan masih suka membantu mamanya di rumah. Itu yang ku dengar dari Tante Dewi.
Itu juga nilai plus yang membuatku kagum dan serius ingin menjadikannya sebagai isteriku.
Lusiana juga tetap cantik walaupun berpenampilan sederhana. Gadis itu cantik natural tanpa polesan make up.
__ADS_1
Kecantikannya pasti diturunkan dari mamanya, mamanya walaupun sudah tidak lagi muda tapi masih tampak sisa-sisa kecantikan saat mudanya.
Aku juga pernah melihat foto mama Lusiana saat muda yang piguranya digantung di ruang keluarga rumah Lusiana. wajah Lusiana sangat mirip dengan mamanya saat masih muda.