
Aku lagi ada tugas di Kota Pangkalpinang selama dua hari ini.
Kesempatan ini tidak akan kusia- siakan.
Ku coba menghubungi Lusiana, sekalian untuk memberitahunya nomor ponselku yang baru.
Aku sengaja mengganti nomor teleponku, karena dikejar wanita- wanita yang pernah kugombali, sementara aku ingin fokus mendapatkan Lusiana.
Lusiana mengangkat teleponnya.
Terdengar suaranya yang sangat kurindukan.
Aku menyapanya dengan sedikit rayuan gombalku.
Ia langsung bisa mengenali suaraku.
"Maaf Pak Nino ada apa ya?" tanyanya.
" Aku kangen kamu Lus, udah lama aku ga liat kamu," gombalku.
"Boleh aku jemput kamu pulang sore ini? aku lagi ada tugas di Pangkalpinang," aku memberitahu Lusiana.
"Maaf Pak, sepertinya nanti sore tidak bisa," jawabnya.
"Kenapa Lus?" tanyaku.
"Aku pulang bareng bosku, kami ada acara," jawab Lusiana.
Aku sangat kecewa mendengar jawaban Lusiana.
"Dengan cara apa ya bisa mengajak kamu Lus? apa perlu aku culik?" ucapku tertawa.
"Sekali lagi saya minta maaf ya Pak," ucapnya padaku.
" Ya udah Lus, lain kali saja. Tapi tolong dong jangan ditolak lagi," pintaku.
Benar- benar harus bekerja keras untuk mendekatinya, tetapi hal ini tidak membuatku patah semangat.
Aku seorang Nino, bukanlah orang yang gampang pantang menyerah.
Semakin Lusiana menghindari ku, Semakin penasaran aku padanya.
Sore itu ku tunggu Lusiana di dekat kantornya, ia belum muncul- muncul juga.
Kulihat ada sebuah sedan putih yang berhenti di depan pintu gerbang kantor Lusiana.
Lalu seorang pria kulihat turun dari mobil lalu berbicara dengan satpam kantor Lusiana, tak lama kemudian satpam kantor membuka pintu gerbang untuknya.
Aku tidak sempat melihat wajah pria itu karena terhalang oleh beberapa kendaraan yang lalu lalang di dekat situ.
Hanya sekilas terlihat punggung dari pria itu saat ia naik kembali ke mobilnya.
Mungkin ia salah satu petinggi di kantor itu atau seseorang yang sedang ada keperluan di sana.
Pintu gerbang kantor Lusiana ditutup kembali setelah mobil pria tadi sudah masuk.
Ku pandangi jam ro**x di pergelangan tanganku, sudah jam lima sore lewat lima menit.
Aku menatap pintu gerbang kantor Lusiana, pintunya dibuka kembali oleh satpam kantor Lusiana.
Mobil sedan berwarna putih yang tadi masuk sudah keluar lagi, mungkin sudah selesai dengan urusannya.
Mobil itu lalu membelok ke jalan raya dan sudah melaju pergi.
Karyawan kantor Lusiana sudah mulai keluar, ada yang dengan menggunakan sepeda motor dan juga ada yang berjalan kaki menuju trotoar.
Aku menajamkan penglihatan ku, satu- satu aku melihat para karyawan yang keluar, tapi tidak tampak Lusiana dan teman Lusiana yang biasa bersamanya.
Apa benar yang Lusiana katakan kalau dia bersama dengan bosnya karena ada acara.
__ADS_1
Aku menunggu selama setengah jam, tapi tetap tidak tampak batang hidung Lusiana.
Aku menghembuskan napasku dengan kasar, kali ini aku gagal lagi.
Mungkin Lusiana memang ada acara bersama bosnya.
"Ya sudahlah, besok masih bisa," gumamku dalam hati.
Aku lalu masuk ke dalam mobilku, ku tinggalkan kantor Lusiana untuk kembali ke rumahku yang ada di Pangkalpinang.
"Aku harus lebih bisa bersabar, hari ini gagal masih ada kesempatan lain," hiburku dalam hati.
Dering ponselku terdengar dari dalam saku kemejaku.
Aku lalu menghubungkan headset di telingaku.
" Halo Mas Nino..." sapa Desi.
" Iya ada apa?" jawabku ketus, aku masih kesal karena gagal menjemput Lusiana pulang.
" Ketus amat Mas?" tegor Desi.
" Kamu mengganggu saja, aku lagi di jalan sedang nyetir," sahutku.
"Ya udah kalau begitu, aku hanya mengkhawatirkan kamu mas....aku juga kangen kamu," katanya dengan suara lemah lembut.
"Aku lagi tugas...ngapain kamu kangen aku," masih dengan ketus ku balas ucapannya.
"Kok gitu sih mas...mas ga kangen sama aku?" tanyanya sabar.
" Baru juga ketemu, masa udah kangen lagi,' jawabku tidak suka.
Desi jadi tempat pelampiasan kekesalanku, aku tidak peduli dengan perasaannya.
Siapa suruh dia jadi pengganggu, dan ia menelepon di saat aku sedang kesal.
" Ya udah mas kalau begitu, aku ga ganggu lagi...jaga kesehatan ya," ucapnya penuh perhatian.
Dia lalu memutuskan sambungan teleponnya, apa ga capek Desi mengejar cintaku.
Sementara perasaanku padanya sudah hambar, sehambar- hambarnya.
Seperti makan sayur tanpa garam...
Desi memang sangat bersabar menghadapi sikapku yang agak kasar padanya.
Mungkin karena cintanya padaku yang begitu tulus tanpa banyak menuntut.
"Ah...mending aku membayangkan wajah cantik Lusiana," gumamku lalu tersenyum sendiri.
"Bibir Lusiana yang begitu ra**m," aku membayangkan menc**** bibir gadis cantik itu.
Gadis yang terlihat masih polos, aku begitu ber**r**h hanya dengan membayangkan wajah cantik nya saja.
Bagaimana seandainya aku berhasil menjadikannya sebagai kekasihku.
Semangat jiwa mudaku begitu membara...
"Ah Lusiana....," desahku.
"Tin......" aku sangat kaget....
"Hampir saja...." gumamku.
Sebuah minibus mengklaksonku karena aku mengambil jalur terlalu ke tengah.
Karena terlalu asyik membayangkan Lusiana, aku hampir hilang kewaspadaanku mengemudikan mobilku.
Aku mengumpat dalam hati...
__ADS_1
"Kamu sudah gila Nino...," aku mengomeli diriku sendiri.
Aku bisa gila kalau seperti ini, rasa penasaran begitu menguasai pikiranku.
"Besok aku harus bisa mendekati Lusiana, aku harus bisa membawanya masuk ke dalam mobilku....setidaknya aku bisa tau di mana rumahnya," desisku.
Perlahan aku membelokkan mobilku, rumahku sudah terlihat.
Aku memarkirkan mobilku di halaman depan rumahku yang cukup luas.
Keesokan sorenya di jam yang sama.
Ku lihat Lusiana dan temannya berjalan beriringan keluar dari gerbang kantornya yang sudah dibuka sejak lima menit yang lalu.
Ia tidak menyadari kehadiranku...aku segera mendekatinya.
Lus..." tanganku menyentuh pergelangan tangannya.
Lusiana spontan menepis tanganku yang memegangnya.
Ia nampak kaget, terlihat dari raut wajahnya yang sangat kurindukan.
Pak Nino..."
"Maaf Lus...aku ingin mengantarmu pulang," ada rasa bersalah melihat kekagetannya.
" Ga usah Pak Nino, bentar lagi kita dijemput kok," tolaknya.
"Siapa yang jemput Lus?" tanyaku.
"Abangku Pak, ini mau nemenin mbak Tin dulu ke toko buah, kami janjian dijemput di situ," tunjuknya pada toko buah di seberang kantornya.
Aku tidak sepenuhnya percaya, jangan- jangan Lusiana mencari- cari alasan agar bisa menolak ajakan ku.
Ia lalu mengambil ponselnya, lalu ia menelepon seseorang.
Lusiana membuka speaker ponselnya, sepertinya sengaja agar aku mendengar percakapannya.
"Halo Lus...."
"Tunggu bentar ya Pak Nino, ini Abangku," tunjuknya ke ponselnya dengan suara agak keras.
"Halo mas Dirga, jangan lupa jemputnya di toko buah seberang kantorku ya,"
"Aku dan Mbak Tin tunggu di sana," sambungnya lagi.
"Oke Lus, bentar lagi mas Dirga sampai kok...ini lagi otw," jawab suara yang dipanggil Lusiana dengan mas Dirga.
Aku tidak bisa berkata- kata apa- apa lagi, rasa kecewa membuncah di dalam dadaku.
Teman Lusiana yang seingatku bernama mbak Tin dengan tidak sabaran menegur Lusiana.
" Jadi ga Lus temani mbak beli buahnya?" tanyanya.
" Jadi mbak Tin, ayo," ajak
"Permisi ya Pak Nino, maaf kami duluan ya."
"Baiklah Lus, lain kali ya aku jemput kalau pas lagi tugas di sini," kataku dengan perasaan kecewa.
"Mari Pak...permisi," pamit Lusiana padaku.
Aku memandang punggung Lusiana yang berlalu dari hadapanku bersama dengan temannya.
Aku berulangkali menelan kekecewaan dengan penolakannya.
Apa aku kurang menarik, apa wajahku yang kurang tampan?
Kenapa Lusiana seakan enggan untuk sekali saja menerima tawaranku untuk mengantarnya pulang.
__ADS_1
Dengan cara apa agar aku berhasil mendekatinya?
Aku mendesah....