
" Aku kangen kamu Lus," ulang Fendi.
Lusiana lidahnya mendadak jadi kelu, di dalam hatinya ia juga merindukan Fendi tapi ia masih ragu dengan perasaannya sendiri.
" Lus, kamu masih di situ?" tanya Fendi yang membuat Lusiana tersadar dari diamnya.
" Hmm....i...ya Fen aku dengar kok," ucap Lusiana dengan terbata.
Jantungnya berdetak lebih kencang, Lusiana tiba- tiba merasa gugup. Ia diserang panik.
" Lus, aku serius aku kangen sama kamu, apa kamu ga kangen aku?"
Lusiana yang dari dulu biasanya suka bercanda dengan Fendi entah mengapa hari ini tiba- tiba jadi salah tingkah, perutnya mendadak mules.
" Lus, kok dari tadi diam aja sih, lagi sariawan ya? " terdengar suara Fendi tertawa.
" He...he...sori Fen perutku mendadak mules nih, mau ke kamar mandi, boleh ditutup dulu ga teleponnya? atau kamu mau nunggu bentar?" sahut Lusiana akhirnya.
" Jangan ditutup dulu Lus, kamu pergi aja ke kamar mandi tapi jangan dimatiin teleponnya, aku tunggu kamu," jawab Fendi.
Busyet, Lusiana salah menduga. Ia pikir Fendi akan segera mengakhiri sambungan telepon mereka.
" Ga kelamaan Fen kamu nungguin?"
" Santai aja Lus, buruan gih...katanya mules...."
Terlanjur basah, ya sudah deh Lusiana menuju kamar mandi lalu mencuci basah mukanya. Perutnya mules bukan karena sakit perut beneran, tapi karena ia gugup.
Lusiana sibuk menenangkan hatinya, ia menarik napas panjang.
Setelah agak tenang, Lusiana keluar dari kamar mandi dan mengambil kembali ponselnya.
"Halo Fen, kamu ga ketiduran kan?" canda Lusiana yang sudah bisa menenangkan kegugupannya.
"Cepet banget selesainya,"
"Mulesnya mendadak hilang Fen," Lusiana tertawa.
" Jangan bilang kamu mules karena aku," ledek Fendi tertawa.
" Geer banget sih kamu Fen."
" Lus, kamu sebenernya kangen ga sih sama aku?" ada rasa penasaran dalam hati Fendi.
"Jujur sih kangen sebenarnya Fen," kata Lusiana akhirnya.
Lusiana berkata jujur, ia tidak ingin berbohong.
"Kalau gitu, boleh ga aku minta jawaban dari pertanyaanku yang dulu, yang belum kamu jawab sampai sekarang?"
Lusiana berpikir keras, ia harus memberikan jawaban sejujur- jujurnya.
"Mau jawaban jujur apa enggak Fen?" Lusiana masih menjawab pertanyaan Fendi dengan bercanda.
" Jawaban jujur dong, tanpa paksaan dari siapapun Lus."
__ADS_1
Lusiana kemudian berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Fendi.
" Fen, sebenarnya dari dulu pun aku juga ada rasa suka sama kamu, tapi jujur aku tidak ingin berhubungan jarak jauh Fen."
"Aku tidak siap berkomitmen, aku mau kalau punya cowok yang ada setiap saat ada di dekatku Fen."
" Kalau semisal aku mau minta dianterin, pacarku ada dan siap nganterin aku, aku ingin dia ngapelin aku setiap malam Minggu, seperti itu Fen."
" kamu ngerti kan maksudku Fen?"
" Iya Lus, aku juga sempat mikirin kayak gitu. Tapi aku masih punya harapan kan?"
" Aku kan sampai sekarang belum punya pacar Fen, kita lihat saja nanti kalau kita memang berjodoh kita pasti bisa bersama, sementara kita temenan dulu ya Fen?"
" Oke Lus, siap....ga apa- apa selama janur kuning belum melambai masih ada kesempatan. Ha...ha..."
"Kamu emang bisa aja Fen.."
" Ya udah Lus, udah malam besok kan kamu harus kerja, aku tutup dulu ya teleponnya."
" Oke Fen, bye...."
" Bye Lus....salam buat mama kamu ya,"
Mereka mengakhiri sambungan telepon setelah saling mengucap salam.
.......................................
Yanti berusaha untuk bersikap biasa, ia telah menutup rapat- rapat perasaannya pada Aldo.
Di kantorpun, Yanti dan Aldo masih suka bercanda seperti biasa.
Walaupun perasaan itu tidak begitu saja bisa dihilangkan dengan mudah, setidaknya ia menjaga hatinya agar tidak lagi berharap.
Saat makan siang, Yanti dan Aldo berada di kantin yang ada di seberang kantor Aldo.
Mereka ngobrol seperti biasanya.
" Yan, Minggu depan bagaimana kalau kita pergi nonton? aku akan ajak Herman, anaknya Tante Dewi."
" Tumben Mas Aldo ngajak pergi bertiga, emang ada acara apa mas?"
tanya Yanti.
" Ga ada acara spesial sih, cuma tempo hari aku pernah janjian sama Herman kapan- kapan mau ajak dia," ucap Aldo menjelaskan.
" Kita lihat nanti saja mas, aku pikirin dulu ya," jawab Yanti.
" Ya udah, nanti kabarin aku ya kalau jadi biar aku bisa kabarin si Herman juga."
"Oke mas Aldo, nanti dikabarin."
" Yan..."
" Ya mas Aldo..."
__ADS_1
" Mas Aldo boleh tanya sesuatu ga sama kamu Yan?"
" Tanya apa Mas?"
" Menurut kamu Herman orangnya gimana?"
" Hmmm...lucu, ramah, baik sih. Emang ada apa sama Herman, kok Mas Aldo nanyanya ke aku. Bukannya Mas Aldo lebih tau, dia kan sepupu Mas Aldo?" tanya Yanti sedikit bingung.
" Enggak kenapa- napa sih, Mas Aldo hanya ingin tau aja pendapat kamu sebagai seorang perempuan, soalnya Si Herman lagi suka sama seseorang."
" Oh ya Mas Aldo, gimana dengan Mas Aldo sendiri, urusan lamarannya udah selesai?"
" Udah disampaikan Tante Dewi ke orangnya, dan udah dapat juga jawabannya Yan," jawab Aldo.
" Sebenarnya gadis yang mau Mas Aldo lamar adalah Lusiana, sepupu kamu Yan."
Yanti sudah tidak kaget, karena memang ia sudah tau dari cerita mamanya.
" Terus kenapa waktu itu mas Aldo ga kasih tau waktu aku tanya?"
" Tadinya sih pengen kasih kejutan sama kamu, kamu pasti kaget kalau mas naksirnya sama sepupu kamu."
" Lalu apa jawaban Lusiana? dia terima lamaran Mas Aldo?"
" Sayang sekali Yan, Lusiana menolak lamaran dari Mas Aldomu, ga jadi deh kasih surprise ke kamu," Aldo tertawa kecil.
Yanti terdiam, dia tidak tau harus merasa senang atau sedih.
Di satu sisi ia belum bisa melupakan perasaannya pada Aldo, di sisi lain ia kasihan kepada Aldo. Ia merasa mempunyai nasib yang sama dengan Aldo.
Hanya merasakan cinta sepihak, cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Cinta kadang tidak tau kapan datangnya, kepada siapa cinta itu tertuju.
Dia tidak akan bisa memilih kepada siapa dia akan jatuh cinta.
Dan perasaan cinta tidak bisa dipaksakan, dia akan datang dan pergi dengan sendirinya.
Pemilik hatilah yang bisa memilih, apakah cinta itu akan terus dipupuk ataukah harus mencari cinta yang lain.
Yanti juga menyadari, ia adalah sang pemilik hati.
Diapun akan dipaksakan pada dua pilihan, lanjut atau hentikan.
Dan hatinya memilih pilihan kedua karena dia juga menyadari cinta tidak bisa dipaksakan.
Dia harus mencari pemilik hati yang memiliki perasaan yang sama dengannya, perasaan mencintai dan dicintai.
" Bengong aja Yan, awas nanti kesambet, mikirin apa sih?" Aldo menyikut lengan Yanti sambil tertawa.
Yanti tersadar dari lamunannya, ia lalu tertawa.
" Apa rencana Mas Aldo selanjutnya?"
" Sementara tidak ada, tapi belum menyerah."
__ADS_1
"Masih mau kejar Lusiana Mas?"
" Berteman dulu aja, pendekatan dulu...siapa tau nanti hati Lusiana bisa Mas Aldomu ini dapatkan."