
Bi Asih baru pulang belanja dari pasar, ia membawa masuk belanjaannya ke dalam dapur.
Bi Asih melihat tudung saji yang terbuka, ia menggelengkan kepalanya.
Bi Asih lalu menutup tudung saji yang terbuka.
" Untung di sini ga ada lalat," gumamnya.
Bi Asih lalu melihat piring bekas makan yang digeletakkan di tempat cuci piring.
Tulang ikan dan tulang ayam masih ada di sana.
" Tulangnya bukan dibuang dulu ke tong sampah," ucap bi Asih dalam hati, ia hanya menggeleng- gelengkan kepalanya.
Bi Asih membuang tulang ikan dan tulang ayam ke tong sampah lalu mencuci piring dan gelas bekas Firda makan.
" Kalau Bu Melda, aku lagi ke pasar begini habis makan pasti cuci piring sendiri, kalaupun ga dicuci pasti tulang dibuangnya ke tong sampah," gumamnya.
Bi Asih lalu membongkar belanjaannya, ia bersiap untuk menyiangi sayuran agar disimpan dalam keadaan rapi di dalam kulkas.
"Bi Asih....kemari...," tiba- tiba Firda berteriak.
"Ada apa Non Firda teriak- teriak, Bu Melda aja selama ini ga pernah teriak- teriak," keluhnya dalam hati.
"Bi Asih....lama amat sih...cepetan kemari," teriakan Firda terdengar lagi dari kamarnya.
Bi Asih tergopoh- gopoh menemui Firda di kamarnya.
Mama Hendra keluar dari kamarnya dengan membawa rajutan yang sedang dirajutnya.
" Ada apa Bi Asih, kenapa Firda teriak- teriak?" mama Hendra mengerutkan dahinya.
" Ga tau Bu...ini saya mau lihat," jawab Bi Asih.
Mama Hendra mengikuti di belakang bi Asih, ia juga ingin tau mengapa menantunya itu teriak- teriak.
"Bi Asih...."
Bi Asih membuka pintu kamar Hendra.
" Iya Non Firda, ada apa Non?" tanyanya setelah membuka pintu.
"Aku haus, ambilkan aku minum," perintahnya.
Bi Asih mengerutkan dahinya, hanya karena ingin minum Firda teriak- teriak.
"Baik Non..," jawab Bi Asih berbalik hendak menuruti perintah Firda.
"Tunggu dulu Bi," cegah mama Hendra.
Bi Asih langsung menghentikan langkahnya.
Mama Hendra masuk ke kamar Hendra, ia melihat menantunya itu tengkurap di tempat tidur dengan mengangkat kakinya sambil memainkan ponselnya.
Ia tidak menyadari kehadiran mama mertuanya di dalam kamar.
"Firda...," panggilnya.
Firda mendongak, ia kaget dengan kehadiran mama Hendra di situ.
Firda langsung duduk.
"I..iya Ma...," jawabnya.
" Mama ingin tanya....apa kamu sedang sibuk?" tanya mama Hendra.
" Enggak ma...Firda lagi nonton yo*t*be," jawabnya.
"Kalau tidak sedang sibuk, kenapa hanya untuk ambil minum aja harus teriak- teriak suruh bi Asih? kamu tidak tau bi Asih kerjaannya banyak ngurusin dapur...? apa susahnya jalan sendiri ke dapur ambil minum sendiri," tegur mama Hendra masih dengan nada lembut.
"Bi Asih...lanjutkan pekerjaanmu....biar Firda ambil minum sendiri," perintah mama Hendra pada bi Asih yang berdiri menunggu di depan kamar.
" Mama menegur kamu supaya kamu bisa melakukan hal kecil sendiri, kasihan Bi Asih kalau semua urusan harus dia yang mengerjakan," mama Hendra berkata lembut tapi tegas.
__ADS_1
" Ba....ik ma," jawab Firda tergagap.
Mama Hendra lalu meninggalkan Firda untuk melanjutkan pekerjaan merajutnya.
Mama Hendra menghela napas panjang.
"Menantu manja...andai Hendra menikahnya dengan Lusiana," gumamnya dalam hati.
Sepeninggal mama Hendra dari kamarnya, Firda mengomel dalam hati.
" Punya mertua sama kayak puteranya, ga bisa biarin aku senang....lebih belain pembantu daripada menantu sendiri. Huh....sebal..."
Firda berdiri lalu pergi menuju dapur, ia sudah kehausan.
"Di rumah papa biasa aku tinggal perintah, di sini kok ga boleh?" omelnya.
Firda mengambil gelas, lalu membuka kulkas dan menuang jus jeruk yang ada di situ.
"Bi Asih ngadu sama mama?" tanya Firda ketus.
" Bukan Non...tadi Bu Melda dengar sendiri Non Firda teriak- teriak," jawab Bi Asih.
"Owh...kirain..." balas Firda lalu berlalu dari dapur setelah meletakkan gelasnya di tempat cuci piring.
Firda berganti pakaian, ia memesan taxi online lewat aplikasi di ponselnya.
Firda merasa tidak betah di rumah, ia ingin refreshing.
Setelah menunggu tidak terlalu lama, taxi yang menjemputnya sampai di halaman rumah mertuanya.
" Bi Asih aku keluar dulu....kalau mama tanya bilang aja keluar," Firda memberitahu bi Asih.
Firda berlalu dengan buru- buru tanpa berpamitan dengan mama mertuanya yang sedang merajut di kamarnya.
"Tidak punya sopan santun," gumam bi Asih.
********
Mama Hendra keluar dari kamarnya untuk membantu Bi Asih memasak.
" Pergi ke mana dia? kok tidak pamitan sama saya?" tanya mama Hendra.
" Ga tau Bu...tadi cuma bilang mau keluar," jawab Bi Asih.
Mama Hendra cuma bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah Hendra dan papanya kembali ke rumah, Firda belum juga kembali.
Hendra selesai mandi dan keluar dari kamarnya.
"Firda di mana ma?" tanya Hendra pada mamanya.
"Mama ga tau Nak, tadi naik taxi pergi keluar...pamitnya cuma sama bi Asih ga pamit sama mama," jawab mama Hendra.
" Mama melakukan apa sama Firda sampai ia pergi ga kasih tau sama mama?" tanya papa Hendra dengan nada curiga.
"Mama ga ngapa- ngapain, mama dari tadi merajut di kamar....tanya Bi Asih," jawab mama Hendra.
Hendra cuma tersenyum sinis, biar papanya tau orang macam apa perempuan yang dipilihnya jadi menantu itu.
"Ga sopan banget ma, masa pergi ga pamit sama mama?" ujar Hendra manas- manasin papa Hendra.
"Mungkin Firda ga mau ganggu mama yang lagi di kamar," bela papa Hendra.
"Kan bisa ketok pintu sebentar, apa susahnya sih....dasar ga pernah belajar tata krama," omel Hendra.
"Kamu kok ngomong gitu...
Firda isterimu sendiri lho," papa masih saja membela Firda.
"Isteri pilihan papa..." jawab Hendra pada papanya.
" Ma lapar....kita makan duluan aja," ajak Hendra.
__ADS_1
"Ga menunggu Firda?" tanya mama.
" Keburu kena asam lambung ma kalau nungguin dia," jawab Hendra yang melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam tujuh malam.
Mereka kemudian makan malam bersama.
" Kamu ga telepon Firda lagi di mana?" tanya papa Hendra.
"Firda aja pergi ga izin sama Hendra...ngapain Hendra nanyain dia," jawab Hendra.
"Kamu ya....biar papa yang telepon," jawab papa Hendra berang.
Hendra hanya mengangkat bahunya, lalu meneruskan makan malamnya.
Mama Hendra hanya diam, dia tidak ingin turut campur.
Papa Hendra sambil makan, meletakkan ponselnya di meja makan... menunggu ponselnya diangkat Firda.
Ia membuka speaker pada ponselnya.
Tut....Tut...
Nada tersambung, tapi tidak diangkat.
Hendra hanya melihat sinis pada papanya...
"Tidak diangkat," ujar papa Hendra kecewa.
"Biarkan saja Pa....Firda ga bakalan hilang," jawab Hendra asal.
"Kamu sebagai suami di mana tanggung jawabmu?" hardik papa Hendra tidak suka.
"Lho...itu kan bukan salah Hendra...dia sendiri yang pergi tanpa pamit," sahut Hendra.
Mama Hendra menepuk tangan Hendra, ia menggelengkan kepalanya.
Mama Hendra tidak ingin Hendra melawan papanya.
Sampai jam sebelas malam, Firda belum juga kembali.
Mereka menunggu di ruang tamu dengan mengantuk.
Papa Hendra mencoba menelepon Firda kembali.
Tut....
Papa Firda membuka loudspeaker ponselnya...
"Halo....," akhirnya Firda menjawab teleponnya.
Suara musik terdengar kencang dari seberang.
"Firda kamu di mana? kenapa belum pulang?" tanya papa Hendra.
"Apa Pa? Firda ga dengar....," terdengar suara Firda yang beradu dengan suara musik yang berdentum.
"Firda di mana?" ulang papanya.
"Diskotik pa....udah ya....Firda lanjut dulu," Firda langsung menutup ponselnya.
Papa Hendra terdiam, ia sepertinya sangat kaget dengan jawaban Firda.
" Diskotik? sama siapa?" gumamnya.
" Itu menantu yang punya bibit, bebet, bobot bagus lho pa...," sindir Hendra sinis.
Mama Hendra menepuk paha Hendra, Hendra hanya mengedikkan bahunya.
Papa Hendra masih terpaku, ia shock...
" Udah Ma, Pa...tidur yuk..tidak usah menunggu Firda, bisa sampai jam satu jam dua...nanti malah darah tinggi karena kurang tidur," ujar Hendra.
Hendra dan mama Hendra bangun menuju kamar masing- masing.
__ADS_1
"Tidur Pa....," tegur mama Hendra yang melihat suaminya masih terbengong.
"I...iya ma...," jawabnya tergagap.