Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana: demam


__ADS_3

Aku terbangun ketika mama mengetuk pintu kamarku. Lalu ku lihat mama masuk ke kamarku yang pintunya memang tidak kukunci.


Mama duduk di sampingku berbaring lalu meraba keningku.


"Badanmu panas Nak, kamu demam." ujar mama dengan khawatir.


Biasanya pagi- pagi sekali aku sudah bangun lalu membuat sarapan, mama mungkin merasa heran hari ini tidak biasanya jam segini aku belum bangun.


" Semalam mama udah merasa kamu sepertinya lemas dan kurang sehat Nak, nanti sesudah sarapan kamu minum obat," kata mama.


" Lusi ga nafsu makan ma, kepala Lusi juga sakit."


"Kebetulan hari ini mama buatin bubur ayam kesukaan kamu, makan sedikit aja," mama berlalu dari kamarku.


Aku dan mama memang selalu rebutan bangun pagi, yang bangun duluan biasanya langsung membuat sarapan.


Kalau mama bangun duluan, biasanya aku langsung membantunya di dapur, begitu juga sebaliknya.


Mama masuk membawa semangkuk kecil bubur untuk ku. Beruntungnya aku punya orang tua sebaik dan perhatian seperti mama.


Kami saling menyayangi dan saling mengisi, mama adalah teman bagiku. Dari kecil, aku dekat dan mamaku.

__ADS_1


Bagiku, mama adalah sorgaku dan segala- galanya bagiku, apalagi sejak Papa meninggal dan kedua abangku sudah menikah.


Aku ingin membahagiakan mama, aku juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan Mama karena mama sudah tidak bekerja, walaupun sekarang aku hanya seorang pegawai biasa tapi cukup untuk untuk biaya hidup kami berdua.


Kedua abangku sesekali masih mengirim uang buat mamaku yang biasanya mereka transfer ke rekeningku.


Tapi, pernah aku tidak sengaja mendengar mamaku bicara pada kedua abangku agar mereka tidak terlalu sering mengirimi mama uang, mama ingin kedua abangku fokus menghidupi keluarga kecil mereka.


Aku sering terkagum melihat sikap mama, mama tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.


Mama tidak pernah mau merepotkan anak- anaknya. Mama selalu bilang, "Kebutuhan mama tidak banyak jadi pergunakan uang kalian untuk keluarga kalian, anak- anak kalian masih butuh biaya yang banyak," begitu selalu yang dikatakan mama pada kedua abangku.


" Habiskan buburnya Nak," suara mama menghentikan lamunanku.


Biasanya aku bisa menghabiskan semangkuk penuh bubur ayam yang menjadi makanan favoritku, apalagi kalau bubur buatan mama yang rasanya yummy banget.


Setelah itu mama memberiku sebutir Paracetamol, dan aku segera menelannya dibantu segelas kecil air.


" Kamu istirahat aja Nak, nanti mama akan ngabarin dan minta izin sama bos kamu, mama pinjam ponselmu Nak."


" Iya ma, makasih."

__ADS_1


Mama mengambil ponselku yang ada di meja, lalu keluar sambil membawa mangkuk bekas makanku."


Kepalaku terasa berat, aku memutuskan untuk berbaring sambil memejamkan mata.


Sempat kudengar suara mama yang berbicara, pasti lagi menghubungi bosku.


Tak lama kurasakan benda di keningku, ternyata mama mengompres keningku.


"Istirahatlah Nak, mama nanti keluar sebentar ya. Mama beli sayur bentar ke depan sekalian mampir ke rumah Tante Dewi, semalam Tante Dewi kirim pesan ke mama suruh mampir ke rumahnya."


"Ada apa ma, kok tumben?"


"Mama ga tau, ada yang mau dibicarakan katanya, mama tinggal bentar ya Nak."


"Iya ma, ttdj ma." sahutku lemas.


Tante Dewi adalah sahabat mama dari kecil, kebetulan rumahnya juga tidak terlalu jauh dari rumah kami.


Kudengar pintu depan ditutup mama, aku kembali memejamkan mataku, badanku terasa sakit semua.


Mudah- mudahan panasku cepat turun setelah minum obat, aku merasa tidak betah lama berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


Aku ingin segera bisa ke kantor lagi, bertemu rekan- rekan kerjaku dan bos galakku.


__ADS_2