
Setelah mengurus semua administrasi biaya rumah sakit, Mas Hendra mengantarku dan mama pulang ke rumah.
"Makasih Mas atas semuanya, biaya ruang VIP pasti mahal, Mas Hendra bisa memotong dari gaji aku....aku ga enak semua biaya dibebankan pada Mas Hendra," ucapku setelah sampai di rumah.
Kami duduk di ruang tamu.
" Itu sudah tanggung jawabku Lus, kejadiannya juga masih dekat dengan lokasi kantor kita," jawab Mas Hendra.
" Kamu tenang saja, ga usah kamu pikirkan masalah biaya rumah sakit, aku ga akan memotong gajimu."
" Makasih Mas Hendra, maaf aku jadi merepotkan," aku menatap Mas Hendra.
Telepon genggam mama berdering, ku lihat mama mengangkatnya.
" Halo Nak Dirga," sapa mama.
" Ini baru nyampe rumah Nak, dokter sudah mengizinkan Lusiana pulang...."
" Iya Nak, makasih ya...boleh saja kalau Nak Dirga tidak repot."
" Baik Nak...makasih," mama menutup sambungan teleponnya.
"Dari Mas Dirga Ma?" tanyaku.
" Iya Nak. Nanti malam dia mau ke sini jenguk kamu," jawab mama.
"Owh...," jawabku.
"Nak Hendra duduk saja dulu ya...Tante mau siapin makan dulu. Jangan pulang dulu, Nak Hendra makan di sini," ucap mama.
" Ga usah repot Tan...Tante pasti capek dari rumah sakit. Kita pesan aja Tan, saya pesankan," ujar Mas Hendra.
" Jangan Nak, Tante ga capek...biar masak saja," mama menolak tawaran Mas Hendra.
Mama lalu berlalu ke dapur meninggalkan aku dan Mas Hendra di ruang tamu.
"Lus, aku mau minta maaf sama kamu..."
" Minta maaf kenapa Mas? Mas Hendra ga punya salah sama aku kok minta maaf?" tanyaku bingung.
"Kalau aku punya salah maukah kamu memaafkan aku?" tanyanya lagi.
" Tentu saja, tapi Mas Hendra ga salah apa- apa," jawabku.
" Aku lega kalau kamu mau memaafkan aku."
Aku menatap Mas Hendra dengan bingung, apa karena selama ini ia sering memarahiku waktu di kantor?
Karena aku sedang sakit, Mas Hendra jadi kasihan padaku karena selama ini ia sering "menindasku".
Mas Hendra ada- ada saja, padahal aku sudah melupakannya.
Tiba- tiba ponselku berdering, aku melihat nama Eni ada di layar ponselku.
" Tunggu bentar ya Mas Hendra, ini dari temanku Eni."
Mas Hendra menganggukkan kepalanya.
" Halo En...," sapaku setelah menekan tombol hijau.
" Lus, hari ini ketemuan yuk... di tempat biasa, setelah kamu pulang kerja," terdengar suara riang Eni.
" Sori En, aku baru pulang dari rumah sakit...sekarang lagi di rumah," jawabku.
__ADS_1
"Loh...kamu sakit Lus? sakit apa?" tanyanya.
" Aku habis kecelakaan En, disenggol sepeda motor," jawabku memberitahunya.
" Lho kapan kejadiannya? kok aku ga dikasih tau?" tanyanya.
" Kemaren pas pulang kerja, nginep sehari di rumah sakit, aku ga ngabarin kamu takut ngerepotin...lagian ga parah kok..," jawabku.
" Astaga Lus, kamu anggap aku sahabat bukan? kok takut ngerepotin?" ujarnya agak sewot.
" Iya sori...ini udah aku kasih tau kan?" aku tertawa.
" Ya udah...besok aku ke rumahmu sekalian bawa dress seragam buat acara nikahan abangku. Tadinya mau kukirim lewat kurir...."
" Okelah kalau begitu, besok kutunggu," jawabku tertawa.
"Ya udah, aku tutup dulu ya...sampai ketemu besok," ujar Eni.
" Iya En, makasih ya...bye...," tutupku.
"Sori Mas Hendra, itu teman SMA ku Eni, lama ngobrolnya."
" Ga apa- apa Lus, santai aja," jawabnya.
Baru aku meletakkan ponselku di meja tamu, ponselku berdering lagi. Dari Aldo...
"Sori Mas Hendra, aku angkat telepon lagi ya..." ucapku meminta maaf pada Mas Hendra.
" Halo Al," sapaku.
" Udah pulang ke rumah Lus?" tanyanya.
" Udah Al...udah nyampe rumah," jawabku.
"Iya Makasih Al.." jawabku.
" Nanti malam boleh aku ke situ Lus jenguk kamu?" tanyanya.
" Boleh aja Al...kalau kamu ga merasa direpotin," jawabku lagi.
" Ga kok, sekalian main," ucapnya terkekeh.
" Silahkan aja Al..."
" Kalau begitu, sampai ketemu nanti malam ya...aku tutup dulu ya Lus teleponnya."
" Iya Al...makasih ya," tutupku.
"Sama- sama Lus."
kami menutup pembicaraan kami, lalu aku letakkan ponselku di atas meja tamu.
" Itu Aldo ya Lus?" tanya Mas Hendra.
"Iya Mas betul," jawabku.
" Nanti malam mau datang jenguk katanya Mas."
" Lus...aku mau terus terang...," ucap Mas Hendra terlihat ragu.
"Ada apa Mas Hendra?" tanyaku bingung melihat sikap Mas Hendra yang terlihat ragu.
"Aku...."
__ADS_1
" Katakan saja...Mas Hendra ga usah ragu," ujarku padanya.
" Aku mau tanya Lus...sebenarnya kamu suka ga sama aku?" tanyanya hati- hati.
" Maksud Mas Hendra suka bagaimana?" tanyaku bingung.
" Maksudnya suka antara laki- laki dengan perempuan."
Aku terdiam, aku harus menjawab apa. Jujur aku mulai menyukai bosku ini.
Tapi aku tidak terlalu yakin dengan perasaanku ini.
Dengan Fendi pun aku merasakan hal yang sama, ada perasaan suka.
" Ya sudah ga usah dijawab dulu. Ga apa- apa Lus."
" Aku cuma ingin jujur sama kamu Lus, sebenarnya aku mencintaimu...aku ga tau kapan perasaan ini mulai ada," ucapnya menatapku dalam.
Aku jadi salah tingkah karena tatapannya.
"Tapi Papaku ingin menjodohkan aku dengan Firda...dan Papa sudah tau aku menyukaimu bukan Firda Lus."
Aku masih mendengarkan Mas Hendra bicara.
" Saat papa tau gadis yang aku suka itu adalah kamu, papa marah besar Lus...papa maunya aku sama Firda," ucapnya sedih.
" Aku tidak mau bertunangan dengan Firda Lus apalagi menikahinya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa- apa," sambung Mas Hendra lagi.
"Papa mengancam akan mencelakai kamu Lus, kalau aku menentang keinginannya."
Aku mengerenyitkan dahiku.. deg...jantungku berdebar kencang. Jangan- jangan penyebab aku kecelakaan karena...
"Aku minta maaf, sebenarnya yang menabrakmu adalah orang suruhan Papa," Mas Hendra seperti merasa bersalah.
Aku terperanjat...ternyata benar dugaan ku.
" Sungguh aku minta maaf Lus...maafkan aku dan papaku."
Aku tidak menyangka, Papa Mas Hendra yang melakukan semua ini padaku... hanya demi mengancam anaknya sendiri.
Aku menarik napas panjang, aku menatap mata Mas Hendra.
" Mas Hendra, ini bukan salahmu...katakan pada papamu mas, aku juga tau diri...aku ga mungkin menerima cintamu walaupun misalnya aku juga mencintaimu," jawabku dengan perasaan yang bercampur aduk.
Mas Hendra menatapku kecewa, tapi aku tidak peduli.
Aku sendiri sibuk menenangkan perasaanku, walaupun kulihat tatapan tulus dari mata Mas Hendra.
Aku tidak marah padanya, cuma harga diriku seperti terinjak.
Aku cuma merasa kecewa pada Papa Mas Hendra, tanpa tau apa perasaanku pada anaknya, ia langsung melakukan kekerasan padaku.
Aku juga tidak mungkin mau menjadi pasangan dari orang yang orang tuanya tidak merestui hubungan kami.
"Tolong kamu jangan marah Lus, kasih kesempatan aku untuk berjuang. Mama juga mendukungku. Mamaku sangat menyukaimu Lus," katanya dengan wajah memelas.
" Aku tidak marah Mas Hendra, cuma merasa kecewa. Aku merasa dihukum walaupun aku tidak bersalah," ucapku.
" Tolong Mas Hendra jangan katakan hal ini pada mamaku, aku tidak ingin mamaku shock dan cemas," ujarku tegas pada Mad Hendra.
" Baiklah Lus, aku berjanji tidak akan memberitahu mamamu... Tapi tolong beri aku satu kesempatan."
Di mata Mas Hendra kutemukan kesungguhan dalam ucapannya.
__ADS_1
Tapi....