Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Teman Tapi Mesra


__ADS_3

Aldo berkunjung di rumah Tante Dewi, Aldo ingin menanyakan kepada Tante Dewi apakah sudah ada jawaban dari Lusiana, selain itu tentu saja Aldo ingin bertemu dengan sepupunya sekaligus sahabat kecilnya, Herman.


Kebetulan, Herman juga sudah pulang kerja dan sedang ada di rumah.


" Gimana Her, kapan lagi pergi bareng?"


" Boro- boro pergi bareng, kamu aja sibuk, biasanya kan kamu perginya Ama Yanti, sekretaris kesayanganmu itu," ledek Herman.


"Ha...ha...gimana menurut pendapatmu, Yanti cantik ga?"


" Cantik pake banget....Napa cantik gitu kamu anggurin Al? kalau aku jadi kamu udah lama aku pacarin tu cewek," ucap Herman sambil tertawa.


" Kamu ga tau aja Her, si Aldo naksir nya sama Lusiana," sahut Tante Dewi yang tiba- tiba muncul sambil membawa tiga gelas sirup dingin.


" Serius? Lusiana anaknya Tante Nadya ma?" tanya Herman.


"Iya Lusiana mana lagi? langsung pake ngelamar anak gadis orang lagi," jawab Tante Dewi sambil tertawa.


" Beneran ma? gila kamu Al, mode cepat nih. Takut disambar orang ya?" Herman tergelak.


" Tunggu dulu, kita bahas Yanti dulu," ucap Aldo dengan wajah serius.


" Ada apa dengan Yanti Al?" tanya Tante Dewi ingin tau.


"Aldo ingin jodohin Yanti dengan Herman Tan," jawab Aldo.


"Emang Yanti nya mau dijodoh- jodohin Al?" tanya Tante Dewi lagi.


" Biar Aldo nanti deketin mereka Tan, yang mau Aldo tau, Herman suka ga sama Yanti?"


Herman menggaruk belakang telinganya sambil tertawa.


"Aku sih mau aja Al, Yanti cantik gitu kok, anaknya sopan dan baik lagi," jawab Herman dengan semangat empat lima.


" Tuh kan Tan, diam- diam Herman udah suka tuh sama Yanti, berarti ga salah kan kalau nanti Aldo deketin mereka berdua."


"Tante sih ga keberatan, Yanti anak yang baik walaupun mamanya rada- rada gitu," ucap Tante Linda sambil tertawa.


Aldo dan Herman berpandangan bingung.


" Rada- rada apa ma maksudnya?" tanya Herman penasaran.


" Ya gitu deh, rada- rada semaunya."


"Yang Aldo lihat sih emang mama Yanti kalau ngomong suka seenaknya, kalau papanya sih baik sama kayak Yanti," jelas Aldo.


" Yang penting sih anaknya Her, Mama lihat Yanti baik kok."


"Oh ya Tan, gimana dengan Lusiana? udah ada kabar?"


" Udah Al, Tante Nadya udah ngabarin Tante, maaf Tante belum sempat ngabarin kamu."


" Lusiana jawab apa Tan?"


"Tante Nadya bilang, Lusiana belum memikirkan ke arah situ Al, dia juga minta maaf katanya belum bisa terima lamaran kamu," jawab Tante Dewi hati- hati takut Aldo merasa kecewa.


"Berarti ditolak dong lamaran Aldo Tan?"


Tante Dewi menganggukkan kepalanya.


Aldo menghela napas, tentu saja ia merasa kecewa.


"Kamu ga apa- apa kan Al?" Tante Dewi menatap lurus pada Aldo.

__ADS_1


" Kamu sih main langsung lamar aja anak orang Al, jadi takut Lusiananya," ucap Herman meledek Aldo.


"Hush...," Tante Dewi menyikut lengan anaknya.


Herman langsung mengatupkan mulutnya, matanya memandang Aldo yang terlihat kecewa.


" Aku ga apa- apa Tan, Aldo akan tetap mendekati Lusiana. Mungkin Aldo memang terlalu terburu- buru..."


" Syukurlah kalau kamu ga apa- apa Al, saran Tante sih kamu berteman dulu sama Lusiana, siapa tau seiring waktu dia juga nanti menyukai kamu," nasehat Tante Dewi bijak.


" Iya Tan, ini juga membuat Aldo semakin yakin Lusiana gadis yang ga gampangan yang mau menerima sembarangan orang begitu saja."


" Teman Tapi Mesra aja dulu Al," ledek Herman lagi. Aldo hanya bisa nyengir.


" Ngomong- ngomong Om Rudi belum pulang Tan?"


"Belum Al, tadi katanya masih ada urusan mungkin bentar lagi juga pulang."


"Oh iya Her, nanti kapan- kapan kita pergi main bertiga sama Yanti ya?"


" Oke Al, kamu kabarin aja kapan waktu nya dan mau kemana, tapi kamu serius Al mau deketin aku sama Yanti? kamu sendiri ga mau deketin Yanti? "


" Ga lah Her, dari dulu aku udah niat jodohin kamu sama Yanti."


" Beneran kamu ga ada feeling sedikitpun sama Yanti?"


" Aku anggap Yanti udah seperti adik perempuanku sendiri Her, suer ga ada perasaan lain."


" Oke, oke aku percaya. Aku hanya ingin lebih yakin dan mastiin aja biar aku nanti ga ada kesan merebutnya darimu. ha....ha...."


" Kamu ini ada- ada aja...ha...ha...," Aldo ikutan tertawa.


Tante Dewi tersenyum melihat tingkah laku putera dan keponakannya ini, mereka memang selalu akur dari mereka waktu kecil.


" Ajak Aldo makan malam Her, mama udah masak tuh. Kalian makan duluan aja, mama nanti tunggu papa pulang," ucap Tante Dewi kemudian.


" Kamu itu....Tante tunggu- tunggu dari tadi ga pulang- pulang, ya terpaksa disuruh makan ha....ha...," balas Tante Dewi tak mau kalah.


Herman ikutan tertawa.


Aldo menghabiskan sirup dinginnya, lalu menuju meja makan di dapur diikuti oleh Herman.


Suasana ramai memang selalu terasa di rumah Dewi kalau ada Aldo dan Herman, serasa punya dua putera.


.................................


Lusiana melihat tanda notifikasi pesan whatshapp dari layar ponselnya.


Banyak pesan yang masuk. Pesan dari Fendi.


Jarak waktu Taiwan lebih cepat satu jam dari Waktu Indonesia Barat.


"Hai Lus, gimana kabarnya sekarang?"


" Udah lama kita ga berkirim kabar nih, maaf ya aku agak sibuk."


" Kamu juga pasti sibuk kan?"


"Aku kangen kamu..."


" Kamu kangen aku ga?"


" Kamu masih nunggu aku pulang ke Indonesia kan?"

__ADS_1


"Awas kamu jangan pacaran dulu di sana ya."


Lusiana tersenyum membaca semua pesan dari Fendi. Jujur ada juga kerinduan pada teman SMA nya itu.


Lusiana membalas pesan Fendi dan mulai mengetik ...


" Kabarku baik, kamu di Taiwan gimana juga kabarnya?"


" Aku ga kangen.....ngapain kangen sama kamu😂😂😂."


" Jadi kapan balik ke sini?"


" Pacaran.... hmmm, lagi nyari pacar nih🤔🤔😂".


Lusiana meletakkan ponselnya di meja kamarnya, lalu pergi untuk menyikat giginya, ia bersiap- siap untuk tidur.


Tiba- tiba ponselnya berdering, Lusiana buru- buru menyelesaikan kegiatannya menyikat gigi.


Dering ponselnya mati, Lusiana melihat panggilan tidak terjawab dari Fendi.


Lusiana baru berniat untuk menelepon balik, Fendi duluan meneleponnya lagi.


Lusiana segera mengangkatnya, terdengar suara yang Lusiana rindukan dari seberang sana.


"Halo Lus, udah tidur?"


" Udah....nih yang angkat teleponnya kembarannya..."


Terdengar suara bariton tertawa.


" Gimana kabar kamu dan mamamu Lus," tanyanya kemudian.


" Mama sehat Fen, aku juga sehat. Kamu sendiri gimana kabarnya?"


" Sehat juga Lus, gimana kerjaan kamu? betah?"


" Biasa Fen, betah- betah aja sih, yang penting dapat gaji."


"Aku beberapa bulan lagi kalau ga ada halangan mau pulang ke Indonesia Lus, kita kumpul bareng ya."


" Masih ingat pulang Fen?" ledek Lusiana.


" Ya ingatlah, apalagi sama kamu ga terlupakan."


" Gombal."


" serius, ga pake gombal."


" Emang ada acara apa sampai ingat pulang?"


" Pertama sih kangen sama kamu, kedua kangen rumah, ketiga Eni mau ngundang."


" Eni ngundang? dia mau merit gitu? kok aku ga tau."


" Bukan Eni yang mau nikah, tapi abangnya, dia maksa aku pulang walaupun tanpa dia paksapun, aku emang rencananya mau pulang cuma lagi lihat waktu yang tepat."


" Kok Eni belum ngabarin aku ya?"


" Dia sih bilang entar aja ngasihtau kamu nya, kalau aku kan biar bisa jauh- jauh hari atur waktu pulang."


" Ooowh."


" O bulat," tawa Fendi.

__ADS_1


Lusiana ikut tertawa, dari dulu Fendi memang menyenangkan. Lusiana selalu tertawa bila bersama Fendi.


" Aku kangen kamu Lus."


__ADS_2