Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Firda: membeli cinta


__ADS_3

Aku Puteri semata wayang seorang konglomerat terpandang di kotaku.


Di kotaku, siapa yang tidak mengenal seorang Dicky Praditha, seorang milyarder yang punya banyak kegiatan sosial.


Para wartawan sering meliput kegiatan papaku, bukan hanya sebagai pebisnis tapi juga sebagai donatur tetap beberapa yayasan amal.


Sebagai Puteri dan anak semata wayangnya, tentu saja kasih sayang kedua orang tuaku semua dicurahkan untukku.


Semua keinginanku akan selalu dituruti oleh papa mamaku, termasuk keinginanku untuk dijodohkan dengan Hendra, pria yang menjadi incaran ku sejak lama.


Apalagi ternyata papaku adalah teman lama dari papa Hendra. Ini memudahkan ku untuk bisa dekat dengan Hendra.


Hendra membuatku tertarik dengan pembawaannya. Tidak hanya ia pria tampan, kaya tetapi juga aura yang keluar dari sikapnya yang tegas, dan satu lagi aku penasaran dengan sikap "dingin"nya padaku.


Selama ini tidak ada pria yang menolak jika aku dekati, siapa yang tidak mau menjadi menantu dari seorang Dicky Praditha?


Siapa yang tidak mau menjadi pewaris tunggal Dicky Praditha?


Tapi pria- pria itu cepat membuatku bosan, mereka selalu menuruti apapun yang aku mau.


Mereka seperti robot....membosankan...


Tapi sangat berbeda dengan Hendra, ia tidak pernah bermanis- manis di depanku. Ia apa adanya...dan justru ini yang membuatku terpikat padanya.


Tapi, tidak semudah apa yang kupikirkan....


Waktu aku, papa, dan mama berkunjung ke rumahnya dan papa menanyakan kapan rencana acara pertunangan kami dilakukan, Hendra terang- terangan menolaknya.


Om Bey, papa Hendra tampak marah pada puteranya itu, dan itu membuatku sangat girang.


Hendra pasti tidak akan bisa membantah papanya itu, cuma butuh waktu saja untuk melunakkan hatinya.


Yang aku tau selama ini dari cerita papa, Hendra tidak pernah membantah perkataan om Bey.


Dan tentu ini akan memuluskan jalanku untuk bisa menjadi pasangan Hendra.


Aku tidak tau, apakah Hendra punya seseorang gadis yang disukainya, aku tidak mempedulikannya.


Bagiku, selama Hendra bisa menjadi milikku aku tidak peduli dengan hal lain.


Aku sebelumnya juga punya beberapa mantan pacar yang setelah bosan, mereka kutinggalkan.


Toh mereka juga tidak mencintaiku, aku tau mereka cuma memanfaatkan kekayaan orang tua ku.


Novar, cinta pertamaku...


Aku dan Novar adalah teman di masa kuliah, ia berasal dari keluarga biasa- biasa saja.


Aku mulanya memang mencintainya.


Kami sering makan bareng, nonton bareng, dan melakukan hal- hal yang kami suka hanya berdua.


Aku sering membelikannya pakaian, tas, jam tangan branded yang tidak akan mampu ia beli dengan uangnya.

__ADS_1


Bermacam hadiah lainnya aku belikan untuk Novar, termasuk motor gede untuk dia pakai untuk menjemputku bila kami bepergian.


Mama sempat menolak hubunganku dengan Novar, tapi papa mendukungku.


Papa bilang, yang penting aku suka apapun keinginanku akan dituruti.


" Toh kita tidak kekurangan apapun, jadi kamu bisa pacaran dengan siapa saja yang kamu suka."


Mama terpaksa mendengarkan ucapan papa, tapi perkataan papa ada benarnya juga.


Aku tidak perlu mencari pria kaya untuk jadi pasanganku, toh kami sudah kaya...tidak butuh kekayaan dari pasanganku kelak.


Bagiku asalkan pria itu ganteng dan bisa menyenangkanku itu sudah cukup...tapi itu dulu sewaktu aku belum menyukai Hendra.


Aku dan Novar sudah sering pergi bersama ke tempat jauh.


Papa memberikan kebebasan padaku, papa tidak pernah melarangku untuk melakukan hal apapun yang aku suka.


Aku dan Novar pernah pergi liburan ke Bali, hanya berdua saja.


Dan waktu itu kami sudah melakukan hubungan yang lebih dari sekedar pacaran.


Kami melepaskan rindu sepuas hati, tidur berdua di salah satu hotel berbintang yang ada di Bali.


Dan aku sudah melepaskan kega***anku pada Novar.


Nafsu iblis sepasang anak manusia membuat kami melakukan perbuatan dosa yang memabukkan.


Aku dan Novar sudah melakukannya berkali- kali.


Bagiku aku akan menikmati masa muda ku dengan mereguk manisnya sorga duniawi sebanyak- banyaknya.


Aku dan Novar berpacaran satu tahun lamanya dan lama- kelamaan entah mengapa di saat bersamanya aku merasa hambar.


Tidak seperti di waktu awal kami mulai pacaran.


Aku merasa bosan....


Novar selalu menyenangkan hatiku dengan melakukan apapun yang aku minta.


Kami tidak pernah bertengkar...kalaupun aku marah padanya, ia selalu mengalah dan akan segera meminta maaf padaku.


Novar tidak pernah melarangku melakukan apapun.


Jika aku melakukan hal yang tidak dia sukapun, dia hanya diam tidak pernah memprotesku.


Tapi justru dengan sikapnya yang seperti itu yang membuatku merasa jenuh, tidak ada hal yang membuatku bisa merasakan hal yang berbeda.


Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Novar.


" Var...aku mau putus," ucapku pada Novar waktu itu.


" Apa Fir...kenapa? apa aku punya salah sama kamu?" Novar menatapku dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku.


" Kamu tidak salah Var," jawabku cepat.


" Lalu kenapa Fir?"


" Aku bosan Var...," ucapku ringan.


" Tapi Fir...aku mencintaimu...," Novar berucap pelan.


"Aku tau Var, tapi mulai bosan dengan hubungan kita Var.."


" Apa karena aku bukan orang kaya Fir?" tanya Novar lagi.


" Bukan masalah itu, aku udah tau kamu bukan orang kaya dari awal Var. Kalau karena masalah itu, tentu dari awal kita kenal aku tidak akan mau pacaran sama kamu Var," jelasku pada Novar.


" Tapi Fir.. kita sudah melakukan......"


" Stttt..." aku memotong ucapan Novar.


" Aku baik- baik saja, toh aku tidak sampai hamil kan Var? aku tidak akan meminta tanggung jawab darimu," tambah ku lagi.


Novar kelihatan kecewa, ia tidak bisa berbuat apa- apa, ia pasti tau kalau aku sudah bersikeras pada sesuatu maka tidak ada yang bisa menghalanginya.


" Bagaimana kalau orang tua mu sampai tau kalau kita sudah melakukan itu Fir?" tanyanya lagi.


" Kamu tidak usah khawatir Var.....


selama kamu tidak buka mulut, tidak ada yang tau tentang hal itu," jawabku menatapnya.


" Dan aku tidak mau kalau hal ini sampai bocor di luar sana, jika ada cerita di luar sana tentang hal ini...maka kuanggap itu keluar dari mulutmu....dan kamu tau akibatnya kalau itu sampai terjadi....." ucapku tajam mengancam Novar.


Novar hanya bisa menggangguk lesu, mana bisa dia melawanku.


"Dasar lelaki lemah," umpatku dalam hati.


Novar tidak lebih dari sebuah "sampah", tidak salah aku mencampakkannya.


Aku tidak butuh lagi orang seperti Novar.


Selama ini dia juga cuma ku jadikan "pesuruh" ku, ia akan menjadi "tukang antar jemput" ku, pemuas n***u b****i ku...


Setelah merasa bosan, aku campakkan dia.


Aku tidak peduli apakah telah melukai perasaannya atau tidak.


Bukankah selama ini aku membeli dan sudah membayar


kepatuhannya padaku?


Aku sudah membayarnya mahal selama ia menjadi pacarku.


Ia tidak perlu keluar modal apapun jika bersamaku. Dompetnya selalu ku isi penuh dengan uang...

__ADS_1


Dari makan, jalan- jalan, nonton, liburan semua biaya yang kami keluarkan adalah dari uang papaku.


Jadi ia tidak mungkin merasa dirugikan.... betul kan?


__ADS_2