
Saat sarapan bersama Papa mama aku mendengar dering telepon dari ponselku, aku segera merogohnya dari saku celanaku. Dan kubaca nama kontak yang menghubungiku tertera nama Lusiana.
Ada apa pagi- pagi Lusiana menghubungiku, tidak biasanya gadis itu meneleponku kalau tidak penting.
Segera ku tekan tombol berwarna hijau yang menyala.
" Halo."
" Selamat pagi Nak Hendra, maaf mengganggu Nak Hendra pagi- pagi, mau ngabarin Lusiana hari ini izin ga ke kantor. Lusiana pagi ini sakit Nak Hendra, " ternyata mama Lusiana yang menelepon.
" Lusiana kenapa Tante?"
" Badannya panas Nak, kepalanya katanya juga sakit."
" Udah minum obat Tante?"
" Udah Nak."
" Ya udah Lusiana suruh istirahat aja dulu, kalau ada apa- apa Tante hubungi saya ya."
" Iya Nak Hendra, makasih."
" Semoga cepat sembuh ya Lusiananya Tante."
" Iya Nak Hendra, makasih perhatiannya, selamat pagi."
__ADS_1
"Iya Tante, selamat pagi."
Lusiana sakit, apa karena aku penyebabnya?
" Lusiana kenapa Nak?" tanya mama
" Lagi sakit ma, hari ini izin ga ke kantor," jawabku.
" Papa lihat kamu perhatian sekali sama pegawai kamu itu Hen," kata Papa.
" Wajar Hendra perhatian sama pegawainya yang sedang sakit Pa," mama yang menjawab.
" Apalagi setau mama gadis itu sangat rajin bekerja. Mama pernah lihat sendiri, pas jam istirahat dia masih tekun mengerjakan tugasnya," sambung mama.
" Emang kalau Hendra ada hati sama Lusiana apa salahnya Pa, mereka sama- sama masih lajang. Kalau ada hati sama Rosa baru salah Pa karena Rosa udah punya suami," komentar mama sambil tertawa.
" Papa serius, Papa ga suka Hendra berhubungan dengan gadis yang dari keluarga biasa- biasa saja."
" Iya udah ngerti, harus tau bibit bebet bobotnya," cibir mama.
"Papa serius ma, Papa mau Hendra dengar kata- kata Papa, kita ga bisa hidup hanya dengan cinta," lanjut Papa.
" Susah bicara sama Papa kamu yang pikirannya kolot Nak, bagi mama yang penting pendamping kamu mencintai kamu dan dari keluarga baik- baik aja udah cukup," kata mama lagi.
" Ya udah ma, pa Hendra berangkat ke kantor dulu ya", pamitku setelah menghabiskan sarapanku.
__ADS_1
" Hati- hati di jalan Nak, " jawab mama, sementara Papa hanya menganggukkan kepalanya.
Saat aku sudah berada dalam mobilku, ada pesan whatshapp dari Niken, pegawai butik kepercayaan mama. Isi pesannya menyampaikan baju dan celana jeans Lusiana yang tempo hari ditinggal di butik udah selesai dilaundry.
Aku memutar kemudiku ke arah butik mama, nanti sore sepulang kerja aku berniat mengantar pakaian Lusiana sekalian menjenguk dan minta maaf pada gadis itu.
Perasaan bersalahku semakin menjadi, gadis itu mungkin sakit karena kejadian kemarin.
Setelah dari butik mama, aku lalu sampai ke kantorku dan berjalan menuju ke ruangan ku.
Para pegawai juga sudah mulai berdatangan, termasuk Rosa sekretarisku. Mereka sempat menyapaku ketika tadi bertemu di depan lobi kantor.
Aku segera menyandarkan tubuhku di kursi kebesaran ku.
Terdengar ketukan pintu, terlihat Rosa berjalan ke arahku setelah kupersilahkan masuk. Ia membawa beberapa dokumen yang memerlukan tanda tanganku.
" Lusiana tadi mengabari saya Pak, katanya hari ini izin ga masuk karena sakit."
" Saya udah tau, mamanya tadi pagi sudah mengabari saya," jawabku.
Rosa hanya ber - owh saja.
Setelah Rosa keluar, aku segera memeriksa dokumen yang tadi dibawa Rosa.
Pikiranku masih sepenuhnya memikirkan Lusiana, entah bagaimana kondisi gadis itu apakah demamnya udah turun. Aku mendesah dalam hati, semoga gadis itu baik- baik saja.
__ADS_1