Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Pernikahan Abang Eni


__ADS_3

Lusiana sudah rapi, pagi- pagi Eni sudah menjemputnya untuk pergi ke salon.


Hari ini adalah hari pernikahan Abang Eni, Bang Arvian dengan Marsella.


Eni meminta Lusiana untuk menemaninya menjadi penerima tamu dan penunggu bagian buku tamu.


Eni dan Lusiana menggunakan dress warna biru... seragam yang sama.


Setelah dirias, Lusiana semakin terlihat sangat cantik. Ia yang jarang berdandan membuat yang melihatnya langsung pangling.


Eni yang juga sudah selesai dirias melihat Lusiana dengan takjub.


"Kamu berkali- kali lipat terlihat cantik Lus," puji Eni.


"Kamu juga cantik En," jawab Lusiana.


"Kalau saja Fendi bisa datang...ia pasti semakin terpesona begitu melihatmu Lus..." ledek Eni.


"Fendi ga jadi datang En?" tanya Lusiana.


" Ga ada kabar Lus, ponselnya udah ga aktif dari kemarin...mungkin ia sengaja menghindari ku," jawab Eni sambil mengangkat bahunya.


" Kita foto berdua yuk, nanti ku kirimkan pada Fendi ...biar dia nyesel ga ketemu kamu...," kata Eni sambil mengarahkan kamera depannya pada mereka berdua.


" Satu kali lagi Lus," Eni mengambil foto dengan pose mereka yang berbeda.


"Lihat Lus, kamu cantik sekali...." Eni memuji Lusiana dengan tulus.


"Makasih prend...kamu juga cantik," balas Lusiana.


" Sudah kukirimkan pada Fendi....tapi masih centang satu," Eni memberitahu.


"Ayo Lus, mobil kita sudah menunggu...kita ke acara resepsi," Eni menarik tangan Lusiana pelan.


Mereka dengan jalan bergandengan keluar dari salon, beberapa pasang mata melihat Lusiana dengan pandangan kagum melihat kecantikan gadis sederhana itu.


"Lihat Lus, orang- orang melihatmu dengan tatapan kagum....kamu cantik," lagi- lagi Eni memuji Lusiana.


Eni menyadari tatapan mata orang- orang yang mereka lewati semua tertuju pada Lusiana.


"Makasih pujiannya Prend...bentar lagi aku jadi besar kepala karena dipuji terus sama kamu," jawab Lusi tertawa kecil.


"Besar kepala juga ga apa- apa kok, emang beneran cantik," ujar Eni lagi.


" Udah En...nanti aku benar- benar jadi besar kepala nih," senyum Lusiana.


Sopir membuka pintu untuk Eni dan Lusiana.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil untuk menuju hotel tempat acara resepsi pernikahan Bang Arvian dan Marsella.


Sesampainya di tempat acara, Eni lalu menunjuk tempat duduk buat mereka.


Masih terlihat sepi, hanya yang ada para panitia dari pihak hotel dan pihak keluarga kedua mempelai yang sudah datang terlebih dahulu.


Mereka berdua mengambil tempat duduk mereka yang berdampingan.


Lusiana melihat ada satu bangku kosong di sebelahnya.


Ia juga melihat buku tamu dan kotak Ang pao ada tiga, masing- masing mereka dapat satu.


"Ini masih ada bangku satu lagi En, ini bangku buat siapa?" tanya Lusiana.


"Itu nanti buat sepupu Kak Marsella, jadi kita bertiga yang jadi penunggu buku tamu," jelas Eni.


" Mungkin ia masih di salon Lus, belum datang," jawab Eni lagi.


Lusiana mengangguk, ia melihat ke arah panggung yang sudah dihiasi dengan bunga- bunga indah.


Dari arah pintu depan sudah dipasang karpet merah yang kiri- kanannya juga dihias dengan bermacam bunga.


Karpet merah yang nanti akan dilalui kedua pengantin pada saat acara akan dimulai.


Suara musik masih disetel dengan suara kecil...


Seorang perempuan muda dengan perut sedikit membuncit muncul di depan mereka lalu menyapa Eni dan mengangguk pada Lusiana.


"Halo Eni cantik..."


"Halo Des...baru nyampe?"


"Iya telat ke salonnya, riasnya agak lama," jawab perempuan itu tertawa.


"oh ya kenalin Des...ini Lusiana sahabat aku... Lus...ini Desi...adik sepupu dari Kak Marsella," Eni memperkenalkan Lusiana dengan Desi sepupu dari Marsella.


Lusiana menyambut uluran tangan dari Desi.


Desi lalu duduk di sebelah Lusiana. Lusiana duduk di antara Desi dan Eni.


" Udah isi berapa bulan Des?" tanya Eni.


" Masuk bulan ke empat En...tapi udah kelihatan ya?" tawa Desi.


Desi terlihat mengelus- ngelus perutnya, ia terlihat sangat bahagia dengan kehamilannya.


"Suaminya mana Des? belum kelihatan?" tanya Eni lagi.


" Nanti menyusul En...ia masih ada urusan," jawab Desi tersenyum.


"Owh..." mulut Eni membulat sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Host mengetuk- ngetukkan Mic di tangannya.


"Tes satu dua tiga," serunya mengetes suara Mic yang dipegangnya.


Tamu- tamu juga sudah mulai berdatangan.


Lusiana, Desi, dan Eni mulai sibuk melayani para tamu yang menuliskan nama mereka di buku tamu.


Mereka memasukkan ang pao dari para undangan, lalu memberikan souvernir satu persatu kepada para tamu yang sudah menuliskan nama mereka.


Musik sudah disetel dengan suara lebih kencang.


Host memanggil mempelai untuk masuk ke ruangan resepsi.


Para tamu sudah berdiri menyambut sepasang pengantin yang tersenyum dengan raut kebahagiaan.


Kedua pengantin masuk diiringi dengan para pengapit yang membawa bunga dan menghambur- hamburkannya.


Lagu beautiful in white mengiringi kedua mempelai saat berjalan melalui karpet merah.


Not sure if you know this


But when we first met


I got so nervous I couldn't speak


In that very moment


I found the one and


My life had found its missing piece


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


What we have is timeless


My love is endless


And with this ring I


You're my every reason


You're all that I believe in


With all my heart I mean every word


So as long as I live I love you


Will haven and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


You look so beautiful in white, yeah yeah


Na na na na


Di belakang pengantin berjalan diikuti orang tua dari kedua pihak mempelai.


Para tamu bertepuk tangan setelah pengantin menuju ke atas panggung.


Acara demi acara segera dimulai.


Suara musik sudah dikecilkan kembali.


Desi di sebelah Lusiana terlihat gelisah,


sebentar- sebentar ia melihat ponselnya.


"Ada apa Desi? kamu terlihat gelisah, mungkin ada yang bisa aku bantu?" tegur Lusiana ramah.


" Ga apa- apa Lus, ini suamiku kemana ya? jam segini belum muncul juga," jawab Desi.


"Ga coba ditelepon saja?" tanya Lusiana.


" Iya...ini mau coba ditelepon," Desi lalu mulai menelepon suaminya.


Terdengar suara telepon yang berdering...


Lusiana sekilas melihat sekelebat sosok pria yang seperti dikenalnya berlalu di balik tiang di seberang mereka duduk.

__ADS_1


Tapi Lusiana tidak yakin, karena hanya terlihat dari belakang dan itupun hanya sekelebat saja karena sudah menghilang di balik tembok yang terhalang oleh tiang besar.


"Tidak diangkat....," Desi terlihat kecewa.


" Ya udah sabar aja Des...mungkin sebentar lagi suaminya sampai," hibur Lusiana.


" Mudah- mudahan saja, makasih ya Lus," ucap Desi dengan senyum yang dipaksakan.


"Ting.. Ting.." terdengar pesan masuk dari ponsel Desi.


Desi membuka ponselnya, lalu ia menghela napas kasar....ia terlihat kecewa.


"Suamiku batal datang...karena katanya mobilnya mogok...aku nanti disuruh pulang naik taxi," kata Desi kecewa.


" Nanti biar suruh sopir papa aja yang anterin kamu pulang Des...," Eni yang rupanya mendengar percakapan kami ikut nimbrung.


" Takut ngerepotin En...ga apa- apa aku naik taxi aja...," tolak Desi.


" Jangan...kamu kan lagi hamil...ga ngerepotin kok...nanti biar aku yang ngomong sama papa," jawab Eni.


" Baiklah kalau begitu, thanks sebelumnya ya En...," ucap Desi.


"Sama- sama Des...udah jangan dipikirin ya...nikmatin pestanya...Ayuk kita makan mumpung di sini sepi," ajak Eni.


" Gantian aja En...kamu sama Lusiana duluan gih...aku nanti saja," jawab Desi.


" Ga apa- apa Des...kamu kan lagi hamil, jangan sampai anak kamu kelaparan, Ayuk..." paksa Eni.


Mereka bertiga mengambil makanan lalu membawanya duduk di tempat mereka bertiga bertugas.


Dengan bujukan Eni, dan candaan dari Eni dan Lusiana Desi akhirnya bisa tersenyum kembali.


Ia melupakan kekecewaannya dengan tidak hadirnya suaminya di pesta sepupu Desi.


Padahal Desi berharap suaminya sekalian menjemputnya untuk pulang bersama- sama di rumah mereka yang ada di kota Pangkalpinang.


Dua malam ini Desi menginap di Pangkalpinang agar tidak terlalu capek kalau harus langsung pulang ke Sungailiat.


Tiba- tiba seorang pria tampan berdiri di depan Lusiana dengan tersenyum


"Fendi....," panggil Lusiana dan Eni bersamaan.


"Kejutan....," kata Fendi.


"Astaga....kapan kamu sampai? ponselmu ga aktif dari kemaren," Eni heboh sendiri.


" Aku sengaja mematikan ponselku, dari kemaren aku udah nyampe ke Pangkalpinang En..he..he," tawa Fendi.


"Kamu benar- benar ya...," omel Eni.


" Tunggu dulu...aku isi buku tamu dulu," Fendi lalu mengisi namanya di buku


tamu dan memasukkan ang pao ke dalam kotak Ang pao.


"Ini Fen...," Lusiana memberikan souvernir ucapan terima kasih.


"Kenalin Fen, ini Desi sepupu dari kakak ipar Eni," Lusiana mengenalkan Desi pada Fendi karena melihat Desi yang memandang mereka dengan rasa ingin tau.


"Des...ini Fendi sahabat aku dan Eni," Lusiana melihat ke Desi.


" Halo...," sapa Fendi ramah.


"Halo juga...," jawab Desi.


" Ya udah Fen...sana langsung makan aja keburu habis nanti," suruh Eni.


Fendi mengangguk, lalu masuk untuk makan.


Lalu Rina dan pacarnya bareng Aldi juga datang.


"Rin, Al...udah ada Fendi di dalam...nanti kita reunian ya," Eni bersemangat.


"Ya udah masuk dulu yuk...susul Fendi di dalam," Jawab Aldi.


" Lus...En...kita masuk dulu ya..." Aldi, Rina dan pacarnya lalu masuk ke dalam menyusul Fendi.


Desi tersenyum melihat mereka.


" Aku iri melihat kalian...," kata Desi.


" Lho iri kenapa?" tanya Eni heran.


" Kalian masih bebas berteman...kalian jangan seperti aku...terlalu cepat nikah jadi begini," Desi terlihat muram.


" Sudah Des...tidak baik bersedih, kasihan anak di dalam perutmu. Kamu boleh kok ikutan kumpul sama kita- kita, betul ga Lus," kata Eni menghibur Desi.


" Iya Des...kita bisa jadi teman baik kok," sambung Lusiana.


Mata Desi berbinar...tapi kemudian meredup lagi.


" Tapi aku tinggal jauh dari kalian...," jawab Desi.


" Aku dengar suami kamu kan juga punya rumah di Pangkalpinang ...sering- seringlah nginep di Pangkalpinang lalu kita bisa kumpul," kata Eni memberi solusi.


Mata Desi berbinar lagi, sudah lama ia tidak pernah kumpul dengan teman- temannya sejak ia menikah.


Teman- temannya seakan segan dengan suaminya. Suaminya juga melarang Desi sembarangan bergaul.


Kalau Eni kan adik ipar dari kakak sepupunya, suaminya pasti tidak akan melarang karena sekarang Desi dan Eni sudah ada hubungan keluarga.

__ADS_1


__ADS_2