Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana: Kepergian Fendi


__ADS_3

Pagi- pagi Fendi mampir ke rumahku. Bukankah semalam ia sudah pamitan denganku dan juga mama?


Ia diantar abangnya yang cuma menyapaku lalu kembali menunggu di mobilnya.


" Lho Fen, belum ke bandara?" tanyaku.


"Ini sudah mau ke bandara Lus, mampir sebentar mau lihat kamu," katanya memandangku seakan ia tidak rela untuk meninggalkanku.


" Mungkin sehabis ini lama kita baru bertemu Lus, abangnya Eni nikah aku belum tau bisa datang atau tidak," lanjutnya lagi.


" Lus, aku masih berharap masih ada jalan untuk kita berdua," ucapnya.


" Kita serahkan saja semuanya pada takdir Fen, kalau kita berjodoh pasti bisa bersama," jawabku.


" Semoga hatimu selalu untukku," katanya lagi.


Aku tersenyum padanya dan tidak berani untuk menjanjikan apa- apa.


"Lus apa di antara kedua laki- laki yang datang semalam ada yang kamu suka?" tanyanya dengan pandangan ingin tau.


" Semuanya masih ku anggap teman Fen," jawabku.


"Aku cemburu Lus," katanya lagi.


"Semalam aku tidak bisa tidur memikirkan hubungan kita, andai saja ada salah satu dari kita yang bisa mengalah," ucapnya sendu.


" Jangan begitu Fen, mungkin suatu saat nanti kamu akan menemukan seseorang yang mungkin lebih baik dari aku," jawabku.


"Apa kamu tidak bisa memikirkan ulang tawaranku Lus?" tanyanya lagi penuh harap.


Aku menggeleng, aku terpaksa harus menolak tegas.


" Maaf sekali Fen, aku tidak bisa meninggalkan mama dan sudah sempat kubicarakan juga dengan mama, mama tidak mau meninggalkan kota kelahirannya Fen," jawabku.


Fendi menghela napasnya.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak bisa memaksa lagi. Aku berharap kamu bisa jaga diri baik- baik Lus...aku akan selalu berdoa agar suatu saat kita bisa bersama Lus," ucapnya lagi.


Fendi mengacak- ngacak rambutku, ia memberi senyuman untukku.


" Aku pergi dulu ya, takut ketinggalan pesawat Lus. Apapun yang terjadi nanti kita tetap komunikasi ya Lus," ujarnya lalu ia berjalan ke arah dapur untuk berpamitan dengan mamaku.


"Makasih ya Fen udah mampir ke sini lagi, di Taiwan jaga kesehatan ya.... hati- hati di jalan," ucapku tulus padanya.


" Sama- sama Lus, kamu juga jaga kesehatan ya," jawabnya padaku sambil mengacak rambutku lagi.


Aku lalu mengantar Fendi ke mobil abangnya yang sudah menunggu, ku lambaikan tanganku kepadanya.


Fendi membalas lambaian ku setelah ia masuk ke dalam mobil.


Abang Fendi membuka kaca jendela mobilnya dan mengangkat tangannya padaku lalu membunyikan klaksonnya tanda berpamitan padaku.


Aku harap Fendi selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan selamanya.


Aku memandang mobil yang membawa Fendi pergi sampai mobil itu mengecil lalu menghilang di kejauhan.


Ada sesuatu yang terasa kosong di hatiku dengan kepergian Fendi.

__ADS_1


Ada perasaan tidak rela melepasnya kembali ke negeri orang.


Aku menghela napas, entah sudah berapa lama aku berdiri terpaku di depan teras rumahku sampai mama memanggilku masuk.


"Lus....sini Nak," panggil mama.


Aku segera masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu teralis depan.


Mama duduk di ruang tengah menungguku.


" Sini Nak...duduklah," suruh mama padaku.


Aku menurut, lalu duduk di sebelah mama.


" Kamu sedih dengan kepergian Fendi?" tanya mama padaku.


Aku mengangguk, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku di depan mama.


Mama seakan tau isi hatiku, mama bisa menebak apa yang ada di dalam pikiranku.


"Kamu mencintai Fendi?" tanya mama lagi.


" Iya ma," jawabku.


" Kamu bisa pikirkan tawaran Fendi untuk menyusulnya di Taiwan, jangan pikirkan mama. Mama bisa menjaga diri mama sendiri," ucap mama bijak.


Aku menggeleng, tak ada sedikitpun terlintas dalam pikiranku untuk meninggalkan mama seorang diri.


Bagaimana bila terjadi apa- apa sama mama? aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika itu terjadi.


" Lusiana tidak pernah berpikir untuk meninggalkan mama sampai kapanpun ma," jawabku.


" Jangan sampai mama yang menjadi penghalang kebahagiaanmu Nak...mama ingin kamu bisa bebas menentukan pilihanmu sendiri," sambung mama.


" Lusi tidak pernah merasa mama jadi penghalang kebahagiaan Lusi ma. Ini keputusan Lusi sendiri," jawabku.


" Tapi bagaimana dengan Fendi Lus? kalau kalian saling mencintai, pergilah...atau minta Fendi untuk menikahimu lalu ikutlah dengan Fendi," ujar mama.


Aku menggelengkan kepalaku.


" Lusi tidak mau ma, laki- laki bisa dipilih ma...tapi mama Lusi cuma satu," jawabku menolak.


"Lusi ingin selalu dekat dengan mama," kataku lalu memeluk leher mama.


" Tapi bagaimana dengan perasaanmu sendiri Lus, katanya kamu mencintai Fendi?" mama masih bertanya.


" Masih bisa Lusi kendalikan ma, Lusi tidak akan membiarkannya terus berkembang, " jawabku.


"Kalau Lusi dipaksa pisah dari mama, Lusi bisa menangis setiap hari ma," ucapku sambil menyandarkan kepalaku pada mama.


"Jangan sampai kamu nanti menyesal Nak."


"Lusi akan menyesal kalau pergi meninggalkan mama sendiri," ucapku lalu mencium pipi mama dengan sayang.


" Dasar anak manja, kolokan," mama mencubit pelan hidungku sambil tertawa.


" Biarin...manjanya sama mama sendiri," jawabku.

__ADS_1


Mama dengan gemas mengacak- ngacak rambutku.


Mama terlihat sangat bahagia, akupun sama. Bagiku mama adalah kebahagiaanku dan akan selalu begitu.


Ponselku yang ada di atas meja berdering, apakah Fendi yang meneleponku?


Ku lihat nama yang keluar di layar ponselku, Mas Hendra.


"Halo Mas Hendra, pagi..." sapaku.


" Pagi Lus....Lus dokter Inge tadi meneleponku, kamu lupa kontrol ya?" ini udah seminggu lho. Maaf, aku lupa mengingatkanmu...," Ujar Mas Hendra.


" Sebenarnya ga lupa sih Mas, cuma aku pikir ga apa- apa telat sehari dua hari," jawabku.


" Mana boleh, jahitan di kepalamu kan harus dibuka. Kamu bagaimana sih? sekarang kamu siap- siap sebentar lagi aku jemput," omelnya lalu langsung menutup sambungan teleponnya.


Mama menatapku.


" Mama kan sudah bilang harus kontrol sesuai jadwal, bandel...," omel mama.


Aku tertawa...


" Ga apa- apa ma....cuma telat sehari dua hari aja kok...Lusi ganti baju dulu ya ma, nanti Mas Hendra ke sini," jawabku.


" Ya udah buruan gih...," suruh mama padaku.


Mas Hendra datang tak lama kemudian, setelah pamit pada mama kami berangkat ke rumah sakit.


" Aku lupa kamu diam aja ...kamu pintar bikin orang cemas ya," di dalam mobil Mas Hendra masih mengomeliku.


" Maaf Mas Hendra, cuma telat dua hari kok," jawabku.


" Besok- besok jangan diulangi lagi," tambahnya lagi.


" Besok- besok aku ga mau sakit lagi Mas...," jawabku.


" Pinter jawab ya, siapa yang mau kamu sakit? bandelnya itu jangan diulang," Mas Hendra terlihat kesal.


Aku tertawa


" Iya Mas...maaf...aku jangan dimarahin lagi dong...Cukup di kantor aja Mas ngomel- ngomelnya," ledekku melihat wajah kesal bosku itu.


"Kebiasaan kamu itu pinter jawab," balasnya.


Aku cuma bisa nyengir mendengar ucapan Mas Hendra.


Tak lama kemudian, mobil Mas Hendra membelok ke arah area parkir rumah sakit, kami sudah sampai.


Aku dan Mas Hendra turun dari mobil lalu menuju ke dalam rumah sakit.


Sesampainya di dalam, Mas Hendra menyuruhku untuk duduk.


Mas Hendra melakukan pendaftaran untuk mengambil nomor antrean.


Mas Hendra lalu mengajakku menuju ruang tunggu yang dekat dengan ruang praktek dr. Inge.


Baru beberapa langkah kami berjalan, ada suara seorang perempuan yang memanggil mas Hendra.

__ADS_1


"Hendra....."


Kami spontan menoleh...


__ADS_2