Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Yanti :


__ADS_3

Aku bekerja di sebuah perusahaan ekspor impor sebagai seorang sekretaris.


Bosku bernama Aldo, ia seorang pria yang sangat baik, ganteng, dan sopan.


Ia memperlakukan aku bukan seperti seorang atasan pada bawahannya tetapi seperti seorang sahabat.


Dia tidak mengijinkan aku memanggilnya dengan panggilan bapak, tapi dengan panggilan Mas Aldo walaupun kami masih berada di lingkungan kantor.


" Aku bosnya, siapa yang merasa keberatan?" begitu jawabnya ketika aku protes saat ia menyuruhku memanggilnya dengan Mas Aldo.


Ini karena kami seumuran, begitu alasannya. Dia tidak suka bersikap terlalu formal. Harus fleksibel, begitu katanya padaku waktu itu.


Aku yang tadinya keberatan, mulai membiasakan diriku memanggilnya dengan panggilan Mas Aldo.


Mas Aldo suka mengajakku bercanda, kadang tak memandang lagi berada di kantor.


Ia juga suka mengacak rambutku kalau lagi bercanda denganku, gemes katanya.


Hatiku berbunga- bunga, semua orang di kantor mengira aku ada hubungan spesial dengan Mas Aldo.


Semua orang di kantor memandang segan padaku dan mereka memperlakukan aku layaknya seperti bos.


Mereka menjaga jarak denganku dan seperti berhati- hati bicara padaku. Mungkin mereka takut aku melaporkan kepada Mas Aldo bila mereka melakukan kesalahan.


Tapi aku tidak merasa tinggi hati, aku tetap memperlakukan mereka sewajarnya.


Dan aku selalu ramah kepada mereka semua.


Mas Aldo selalu mengajakku ke manapun ia bepergian, apalagi bila ada urusan kantor.


Kami selalu makan siang bersama dan ia juga sering mengajakku makan malam berdua.


Di hari liburpun, kami selalu berdua. Malam Minggu Mas Aldo sering mengajakku keluar jalan- jalan atau sekedar nonton di bioskop.


Ia juga sering mengajakku ke rumah sepupunya, Herman yang ternyata anak dari Tante Dewi salah satu teman mamaku sewaktu di SMA.


Rumah Tante Dewi tidak begitu jauh dari rumah Tante Nadya, mama Lusiana.


Tante Nadya adalah istri dari Abangnya Papa ku, almarhum Om Anto.


Hubungan mama dan Tante Nadya tidak begitu baik, mamaku yang selalu bersikap kasar pada Tante Nadya dan juga Lusiana.


Aku sudah sering menegur mamaku agar tidak bersikap begitu, tapi mana mau mama mendengarku, mamaku seorang yang keras kepala.


Papaku saja tidak bisa berkutik menghadapi mama, di rumah mama yang jadi bosnya.


Papaku seorang yang sabar, kadang aku melihat Papa hanya bisa mengurut dada melihat tingkah laku mama.


Mama seperti seekor singa betina, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya kalau lagi marah.


Tidak tau sikap mama menurun dari siapa, menurut ingatanku kakek nenek ku tidak seperti mamaku.


Mamaku juga suka bersikap sombong, suka memandang rendah orang lain apalagi pada orang yang kelas ekonominya di kalangan bawah, mama akan memandang mereka dengan sebelah mata.


Kadang aku suka malu pada tetangga, mereka kadang suka berbisik- bisik kalau mamaku sudah menyombongkan diri.


Aku dan mamaku kerap berdebat karena sikap buruknya itu.


Aku tau pada dasarnya ia sangat menyayangiku, hanya karena sifatnya itu yang membuat kami jadi seperti kucing dan tikus kalau sudah berdekatan.


Kadang aku merasa iri, melihat hubungan Tante Nadya dan Lusiana.


Mereka sangat dekat seperti dua orang sahabat baik, tampak akur dan kompak.


Mereka suka bercanda dan kadang saling meledek.


Tante Nadya seorang yang lemah lembut dan murah senyum, berbeda seperti langit dan bumi antara mama dan Tante Nadya.


Mama sangat keras kepala dan sulit sekali diajak bicara.

__ADS_1


Di depan Mas Aldo aja yang main ke rumah, ia suka menyombongkan diri. malu- maluin aja.


Sampai terkadang, ingin rasanya menyimpan muka ku ini di balik tembok saking malunya.


Setiap Mas Aldo main ke rumah, pasti cepat- cepat ku ajak keluar, agar jangan berlama- lama ngobrol sama mama.


Hanya dalam setiap doaku, selalu ku panjatkan agar sikap mama bisa berubah.


Aku lebih dekat dengan Papaku, karena sifat kami berdua hampir sama.


Papa dan mama pernah menanyakan status hubunganku dengan Mas Aldo, ku katakan hanya sebagai seorang teman baik.


Ku akui, di dalam hatiku aku ingin menjadikan hubungan kami lebih daripada hubungan teman.


Aku mengharapkan lebih dari itu, entah sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh.


Hatiku selalu berbunga- bunga bila ada di dekatnya, dan selalu merasa rindu bila satu hari tidak bertemu dengannya.


Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta, semua terasa sangat indah kalau aku ada di dekatnya.


Mas Aldo juga selalu bersikap melindungi ku, bila aku pergi bersamanya dan berada di pinggir jalan, Mas Aldo akan selalu mengambil posisi di sebelah kananku.


Di saat kami makan bersama pun, ia yang selalu melayaniku, seolah dia bukan bosku.


Dia akan menarik tempat duduk untukku, menyendok kan lauk ke piringku, sikapnya sangat manis.


Apakah aku salah menilai semua perlakuan manisnya padaku? aku merasa Mas Aldo juga mencintaiku.


Mas Aldo memang tidak pernah mengatakan apa- apa, tetapi dari sikapnya yang manis itu aku tidak akan salah mengambil kesimpulan.


Di mana ada Mas Aldo, di situ ada aku.


Walaupun begitu, saat bekerja aku tetap berusaha untuk profesional.


Pada suatu hari di saat makan siang bersama, Mas Aldo bercerita bahwa dia merasa sedang jatuh cinta.


Mas Aldo bilang, dia jatuh cinta pada seorang gadis yang cantik, lemah lembut, kalau diajak ngobrol nyambung katanya.


Lalu aku pura- pura bertanya," siapa gadis itu?"


"Ada deh, nanti juga kamu tau siapa orangnya."


"Mas Aldo sudah menembaknya?" tanyaku antusias.


"Buat apa main tembak- tembakan, aku mau langsung melamarnya."


"Usia ku udah cukup matang, aku ga mau main tembak- tembakan, aku mau langsung ke hubungan yang serius," lanjut mas Aldo lagi.


"Aku udah sreg dengan gadis itu, hatiku udah klik. Nanti aku akan meminta Tante Dewi untuk menyampaikan lamaranku."


" Lho kenapa harus Tante Dewi yang menyampaikan? mengapa bukan mama Mas Aldo saja yang melamarnya?" tanyaku lagi.


"Karena Tante Dewi adalah sahabat dari mama gadis itu, teman Tante Dewi sewaktu SMA," jawab mas Aldo.


Deg...., tidak salah lagi. Gadis itu adalah aku. Bukankah Tante Dewi adalah teman mamaku sewaktu SMA?


Terjawab sudah, mas Aldo memang mencintaiku. Ia tidak mau menembakku, karena mau langsung lamaran katanya.


Aku serasa terbang di awang- awang. Tak bisa ku lukiskan kebahagiaanku kala itu.


Aku ingin rasanya berlari dan memeluk mas Aldo, tapi aku menahannya. Aku malu.


Sepulang dari kantor, ku ceritakan semua nya pada mamaku, aku tidak bisa menahan kebahagiaanku, jadi ku luapkan di depan mama ku.


Aku tidak akan bakal mengira, hal ini akan menjadi bumerang nantinya.


Seharusnya aku bisa menahan emosi ku...saking bahagianya.


Beberapa hari kemudian, mama pulang sambil marah- marah, aku saat itu lagi bersantai menonton TV bersama Papa.

__ADS_1


"Dasar anak ga tau diri, mamanya kegatelan anaknya juga sama," kata mama marah sambil mengepalkan jari tangannya.


"Ada apa sih ma? mama ngomongin siapa?" tanya Papa.


" Itu si Lusiana, katanya dia mau dilamar sama Nak Aldo, bukannya kata Yanti yang mau dilamar sama Aldo itu anak kita Pa," aku kaget mendengar cerita mama, serasa ada petir yang menyambar di telingaku.


"Mama tau dari mana ma?" tanya Papa.


" Dari si Dewi, tadi aku habis ketemu Dewi di rumahnya. Dewi yang bercerita, Pa."


Aku tidak bisa mempercayainya, aku baru ingat Tante Nadya juga merupakan teman SMA dari Tante Dewi. Mengapa aku bisa melupakan hal ini?


Ah bodohnya aku, aku menyimpulkan sendiri pendapatku tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.


Berasa ada beribu jarum yang menusuk, perih sekali rasa hatiku. Aku merasa dihempaskan dari tempat yang tinggi setelah aku merasa terbang di awang- awang. Sakit banget....


Aku mengusap air mataku yang tanpa ku sadari sudah menetes di pipi ku.


Aku kecewa... aku marah.... aku segera berlari ke kamarku dan mengunci pintunya.


Ku hempaskan tubuhku di atas kasur empuk ku. Ku peluk gulingku dan mulai menangis.


Tak ku pedulikan suara ketukan pintu di kamarku. Papa mama memanggil- manggil namaku.


Lalu ku dengar suara Papa.


" Biarkan dia menenangkan diri dulu, kita jangan mengganggunya lagi, biarkan ia menangis sepuasnya biar lega," kata Papa pada mama.


" Menangis lah Nak, buang segala kesedihanmu dengan air matamu. Setelah itu lupakan semuanya. Anggap dia bukan jodohmu," teriak Papa di depan pintu kamarku.


Entah sudah berapa lama aku menangis . Ku tumpahkan segala sesak dalam dada ku. Begitu pahit ku rasakan, ternyata begini rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta yang tak berbalas.


Apa arti dari sikap manis Mas Aldo selama ini padaku, mengapa ia memperlakukan aku seperti seorang ratu kalau hanya akan membuatku salah paham dan menyakiti hatiku.


Aku tak mungkin berharap terlalu tinggi, kalau saja Mas Aldo memperlakukanku biasa- biasa saja atau memperlakukan aku seperti seorang atasan pada bawahannya.


Mengapa....? mengapa.....? tak bisa ku jawab beribu pertanyaan dalam isi kepalaku.


Aku tidak membenci Lusiana, bukan salah gadis itu kalau Mas Aldo ternyata jatuh cinta padanya.


Salahku sendiri yang terlalu baper, terlalu tinggi berharap pada orang yang karena sikap manisnya, kusimpulkan dengan pendapatku sendiri bahwa ia telah jatuh cinta padaku.


Dasar bodoh.....aku memaki diriku sendiri.


Aku benci pada diriku sendiri.....aku marah.....kesel.....malu....semua bercampur aduk jadi satu.


Andai aku tidak kegeeran, dan tidak menceritakan pada mama dan papa bahwa Mas Aldo akan melamarku, aku tidak akan sekesal dan semalu ini...


Tapi semua sudah terjadi, aku tak bisa membalikkan waktu lagi. Andai bisa, yang ku lakukan adalah menjaga jarak dengan Mas Aldo, agar tidak tumbuh benih- benih cinta ini untuknya.


Aku menghapus air mataku, lalu bangun dari tempat tidurku. Aku berkaca di depan cermin meja rias yang ada di kamarku.


Aku melihat mataku yang bengkak dan hidungku yang memerah.


Mungkin besok aku tidak bisa kerja dengan mata yang bengkak seperti mata ikan mas koki.


Semua orang akan bertanya- tanya apa yang terjadi padaku, mengapa mataku bengkak.


Terutama Mas Aldo, dia pasti yang akan jadi orang pertama yang menanyakan hal itu padaku.


Lalu apakah harus ku jawab semua ini gara- gara Mas Aldo yang bukan ingin melamarku, tapi melamar Lusiana.


Aku patah hati karena Mas Aldo.....


............................


.


( Dari Author: Jangan terlalu bahagia berlebihan saat kamu sedang bahagia dan jangan juga terlalu sedih berlebihan jika kamu sedang bersedih.

__ADS_1


Kebahagiaan dan kesedihan akan datang silih berganti, tergantung dari sikap kita dalam menyikapinya.


Bersikaplah sewajarnya jangan berlebihan, maka kamu akan mengganggap kebahagiaan dan kesedihan menjadi hal yang wajar yang akan menjadikanmu menjadi orang yang berhati besar dan berjiwa kuat.... Salam)


__ADS_2