
Akhirnya hari ini aku kembali ke kantor, teman- teman sekantorku menyambutku dengan berbagai perhatian.
Mereka membeli berbagai macam makanan untukku yang mereka pesan lewat aplikasi online.
"Aku jadi ga enak...ini udah numpuk makanannya," kataku pada mereka.
" Ga apa- apa, buat si bontot," kata mereka.
" Nanti bawa pulang, makan pelan- pelan di rumah," sahut yang lainnya lagi.
Aku memang merasa semua mengistimewakan ku, mereka begitu tulus menyayangiku.
Aku betah kerja di sini juga karena sikap mereka semua yang begitu baik padaku.
Setelah selesai makan siang, aku melihat seorang gadis melangkah masuk ke arah ruangan mas Hendra.
"Firda," gumamku dalam hati.
Firda melewatiku, aku mengangguk padanya yang dibalas dengan membuang muka oleh Firda.
Ia melengos lalu buru- buru masuk ke ruangan mas Hendra.
Aku tidak begitu ambil pusing dengan sikap Firda, aku sibuk mengetik di komputerku.
" Masih jam istirahat Lus, jangan terlalu sibuk," mbak Tin menegorku.
Mbak Tin sedang bersantai di bangkunya.
"Tanggung mbak," jawabku.
Ponselku berdering, nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya, siapa tau telepon penting.
" Halo...selamat siang," sapaku.
" Siang cantik, gimana kabarnya?" itu suara Nino.
"Baik Pak Nino, ini nomor baru Pak Nino?" tanyaku.
" Iya...disave ya Lus, nomor lama udah ga dipakai lagi," beritahu Pak Nino.
Sudah lama Pak Nino tidak pernah menelepon atau mengirim pesan, ku pikir ia sudah menyerah.
"Maaf Pak Nino ada apa ya?" tanyaku.
" Aku kangen kamu Lus, udah lama aku ga liat kamu," gombalnya.
"Boleh aku jemput kamu pulang sore ini? aku lagi ada tugas di Pangkalpinang," ujarnya padaku.
Aku harus memikirkan alasan apalagi untuk menolaknya , pusing aku.
"Maaf Pak, sepertinya nanti sore tidak bisa," jawabku.
"Kenapa Lus?" tanyanya.
"Aku pulang bareng bosku, kami ada acara," jawabku asal.
Pak Nino terdengar kecewa.
" Dengan cara apa ya bisa mengajak kamu Lus? apa perlu aku culik?" ucapnya tertawa.
Aku bergidik, mudah- mudahan Pak Nino hanya sekedar bercanda.
Aku tidak ingin kejadian seperti di film- film yang pernah aku tonton.
Tokoh utama yang diculik, lalu disiksa karena selalu menolak permintaan si penculik.
Membayangkannya saja aku ga berani, terlalu menyeramkan.
"Sekali lagi saya minta maaf ya Pak," ucapku supaya Pak Nino tidak sakit hati dengan penolakan ku.
" Ya udah Lus, lain kali saja. Tapi tolong dong jangan ditolak lagi," pintanya padaku.
Aku diam saja, tidak berani menjanjikan apa- apa.
__ADS_1
Pak Nino lalu mematikan panggilan teleponnya.
"Serius amat Lus, dari Pak Nino kan?" mbak Tin ternyata menguping pembicaraanku.
"Iya mbak Tin, gimana dong kalau pulang nanti ia memergoki kita," tanyaku agak was- was.
Tentu saja aku tidak mau nanti ketahuan berbohong demi menghindarinya.
" Ya udah realisasi aja minta bantuan si bos," jawab mbak Tin tertawa.
" Lagi ada calon tunangannya mbak Tin..." aku menaruh telunjukku di bibirku.
Mbak Tin menutup mulutnya, lalu melirik ke arah belakang.
Ia menarik napas lega setelah menengok ke belakang tidak ada siapa- siapa, Firda belum keluar dari ruangan Mas Hendra.
Aku menahan tawa melihat tingkah- laku mbak Tin yang lucu.
"Mbak Tin nanti bantu aku ngawasin di depan kantor ya, takutnya Pak Nino nungguin di depan."
" Minta tolong saja sama teman abangmu Lus, daripada kamu was- was begitu," sarannya.
" Tapi aku takut ngerepotin dia mbak Tin," jawabku.
" Sekali- kali ga apa- apa Lus , daripada kamu seperti ketakutan gitu," desak mbak Tin lagi.
Ada benarnya juga, mas Dirga pasti dengan senang hati mau membantuku.
Ku ikutin saran dari mbak Tin, jujur di dalam hatiku memang ada rasa takut dengan Pak Nino.
Instingku mengatakan, Pak Nino bukanlah pria baik- baik, aku harus tetap waspada.
Ku cari nomor kontak mas Dirga di ponselku, lalu ku tekan untuk memanggilnya.
Mas Dirga mengangkatnya.
"Iya Lus, ada apa tumben telepon?" sapa mas Dirga.
" Iya maaf mas, Lusi mau tanya mas Dirga sore nanti sibuk gak?"
" Ga terlalu Lus, ini mas masih di swalayan cuma ngawasin aja, ada apa Lus?" tanyanya lagi.
"Bisa Lus...tumben minta dianterin," ucapnya tertawa.
"Nanti Lusi ceritain, tapi jangan telat ya mas, Lusi jam lima sore udah pulang," tambahku.
" Siap tuan Puteri," jawab mas Dirga tertawa.
" Makasih ya mas, oke deh nanti Lusi tunggu ya....bye..." ucapku mengakhiri panggilan telepon.
"Beres mbak Tin," kataku lega.
" Tuh beres kan?" mbak Tin tertawa.
" Nanti mbak Tin ikut bareng ya?" ajakku.
" Oke tapi sampai di rumah kamu aja Lus, nanti aku telepon suami mbak jemput di rumah kamu aja, ga enak ngerepotin Dirga nganterin ke rumah mbak," jawab mbak Tin.
"Rebes mbak," kataku tertawa.
Sorenya, aku dan Mbak Tin keluar dari kantor.
Kami berjalan beriringan, ku lihat mas Dirga melambaikan tangannya.
Mobilnya parkir di dalam halaman kantor, mungkin udah izin sama Pak Surya.
" Mbak Tin ikut ya mas," izinku.
" Tentu saja, ayo masuk..."
Mas Dirga membukakan pintu buat kami.
Aku dan Mbak Tin duduk di bangku belakang mobil mas Dirga.
" Kamu duduk di depan saja Lus," mbak Tin menggodaku.
__ADS_1
"Di sini aja mbak, kesian mbak Tin sendirian," tawaku.
Mbak Tin menyenggol lenganku, ia menunjuk dengan dagunya.
Di seberang kantorku, kulihat Pak Nino bersandar di depan mobilnya.
Tidak tau apakah ia sudah melihatku atau belum.
Untung kaca mobil mas Dirga berwarna tidak transparan, jadi aku bebas melihatnya dari dalam mobil.
"Untung saja mbak Tin," ucapku lega.
" Udah siap ya, kita jalan," mas Dirga sudah menjalankan mobilnya keluar dari pintu gerbang kantor kami.
Mas Dirga menurunkan kaca mobilnya, mengangkat tangan pada Pak Surya.
Mas Dirga lalu menaikkan kembali kaca mobilnya.
" Mas Dirga, coba lihat dari spion... itu Pak Nino," Mas Dirga melihat sekilas dari spionnya.
" Iya Lus," jawabnya.
" Lusi menghindari Pak Nino Mas...ia tadi telepon mau jemput Lusi. Padahal udah Lusi tolak," ceritaku.
"Oh itu penyebabnya..." Mas Dirga tertawa.
" Lusi takut mas, tadi di telepon dia sempat sebut mau culik, walaupun hanya bercanda tapi Lusi ga nyaman mas..." adu ku.
" Mas Dirga lihat juga laki- laki itu bukan orang baik Lus, hati- hati."
" Mas ga nakut- nakutin kamu, cuma waspada ga ada salahnya," nasehatnya lagi.
" Iya mas...makasih," jawabku.
" Nanti kalau perlu dijemput lagi, kabarin mas ya," katanya lagi.
" Ga ngerepotin mas?" tanyaku.
" Ga repot lah Lus, daripada nanti kamu ada apa-apa," jawab mas Dirga lagi.
" Dirga..Mbak turun di rumah Lusiana aja ya ga usah dianterin, nanti biar mbak telepon suami mbak buat jemput di rumah Lusi," mbak Tin memberitahu Mas Dirga.
"Ga apa- apa mbak...nanti dianterin aja, kesian suaminya harus jemput lagi," jawab mad Dirga.
" Ga ngerepotin nih?" tanya mbak Tin ga enak.
" Santai aja mbak, ga apa- apa," jawab mas Dirga tertawa.
Mas Dirga lalu mengantar mbak Tin ke rumahnya.
"Lus pindah di depan," tawar mas Dirga setelah sampai di depan rumah mbak Tin.
"Dirga, makasih banyak ya, bye Lus..," lambai mbak Tin.
Aku lalu pindah duduk di sebelah mas Dirga.
Kalau aku ga pindah, seperti supir yang membawa penumpangnya saja.
Mas Dirga membawa mobilnya untuk mengantarku pulang.
" Lus, kamu jangan mau diajak sama Pak Nino, mas Dirga ga percaya sama dia," kata mas Dirga padaku.
"Lusi juga merasa begitu mas Dirga," jawabku.
" Kalau sama teman cowok kamu seperti Aldo sama bos kamu, terus Fendi mas Dirga ga masalah. Hanya perasaan mas Dirga sama pak Nino aja sepertinya ga sreg gitu...entah apa," sambungnya.
" Kamu boleh telepon mas Dirga kapan aja, mas siap anterin kamu kalau diminta," tambahnya lagi.
" Oke...makasih mas," jawabku.
Dengan mas Dirga aku merasa aman dan nyaman.
Sikap mas Dirga yang dewasa serta selalu melindungiku seperti sikap kedua abangku.
Aku seperti merasa memiliki Abang ketiga.
__ADS_1
Cuma bedanya, kedua abangku suka mengisengi ku.
Sementara mas Dirga melindungiku dengan caranya sendiri.