
Aku sedang berkunjung ke rumah Lusiana.
Seperti pesan Vino padaku sebelum ia kembali ke Cianjur, aku harus sering- sering mengunjungi adiknya, Lusiana dan mamanya.
Vino menitipkan adik dan mamanya padaku.
Aku sangat cemas saat mama Lusiana mendapat kabar dari bos Lusiana, bahwa Lusiana kecelakaan karena ditabrak pengendara motor.
Aku segera membawa mama Lusiana ke rumah sakit tempat Lusiana dirawat dengan mobilku.
Di tengah perjalanan mama Lusiana mendapat telepon dari temannya, Tante Dewi yang katanya mau datang ke rumah Lusiana.
Mama Lusiana memberitahu tante Dewi sedang menuju ke rumah sakit karena Lusiana mengalami kecelakaan.
Sesampainya di rumah sakit, aku dan mama Lusiana dengan panik masuk ke ruangan VIP yang sudah diurus oleh Hendra, bos Lusiana.
Kami buru- buru masuk...
Tangan Hendra kulihat membelai pucuk kepala Lusiana.
" Cepatlah bangun sayangku....aku mencintaimu sayang.....," bisik Hendra di telinga Lusiana.
Ketika kami masuk, Hendra terlihat kaget dan segera menarik tangannya... satu tangan yang menggenggam tangan Lusiana dan satunya yang membelai pucuk kepala gadis itu.
Mama Lusiana juga sekilas kulihat melihat adegan di depannya.
Ada terbersit perasaan cemburu di hatiku melihatnya, tapi segera ku tepis perasaan itu.
Siapakah aku bagi Lusiana? hanya sebagai sahabat abangnya.
Aku tidak berhak untuk cemburu.
Aku belum ada ikatan apa- apa dengan Lusiana.
Aku sangat mencemaskan kondisi Lusiana, semoga Lusiana lukanya tidak parah.
Mama Lusiana menanyakan kondisi Lusiana pada Hendra, dan aku sedikit lega setelah mendengar dari Hendra luka Lusiana tidak parah.
Hendra menarik bangku buat mama Lusiana dan aku...mempersilahkan kami untuk duduk.
Ia lelaki yang perhatian, ia juga menanyakan apakah kami sudah makan.
Mama Lusiana tadi di rumahnya sudah menyiapkan makan dan kami duduk mengobrol sambil menunggu Lusiana untuk makan bersama.
Aku juga karena panik, sampai melupakan mama Lusiana dan aku yang belum makan.
Aku ingin membelikan makanan, tetapi Hendra bilang ia sudah memesan makanan buat kami lewat aplikasi ****food.
Hendra memperhatikan hal- hal kecil dengan sangat detail....tapi sangat berarti. Aku masih harus belajar banyak padanya.
Semua perawatan Lusiana, Hendra semua yang mengurusnya.
Dalam hati kecilku, aku mengagumi sosok bos Lusiana ini, ia sangat pantas menjadi pendamping Lusiana.
Lusiana pasti akan bahagia, jika Hendra lah nantinya yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
Hendra mencintai Lusiana. Aku sudah mendengarnya sendiri saat kami masuk tadi.
Walaupun dalam hati kecilku, ada rasa cemburu...tapi kalau Lusiana juga mencintai Hendra, tentu dengan berbesar hati aku akan mendukungnya.
Bagiku, yang penting Lusiana bisa mendapatkan laki- laki baik yang bisa membuatnya bahagia.
Ada sedikit rasa "minder", karena laki- laki yang menyukai Lusiana semuanya tampan, berkelas, dan usia mereka lebih muda dari usiaku.
Tak lama kemudian Lusiana juga sudah sadar dari pingsannya.
Aku merasa sangat lega...ia juga langsung memanggil mamanya dan juga mengucapkan terima kasih padaku.
Dokter yang menangani Lusiana pun sudah membacakan hasil Rontgennya dan semua hasilnya bagus tidak ada yang parah. Syukurlah...
__ADS_1
Tidak lama setelah kami makan, mama Lusiana mendapat kabar dari Aldo yang ingin menjenguk Lusiana bersama dengan tante Dewi.
Aldo dan Tante Dewi datang tidak lama kemudian.
Aldo juga terlihat begitu mencemaskan Lusiana. Ia begitu perhatian.
Aku lebih banyak diam saat berada di sana. Hanya melihat Lusiana dari jarak yang tidak terlalu dekat.
Aku tidak tau apa yang harus kulakukan.
Urusan rumah sakit sudah dibereskan semua oleh Hendra.
Hendra juga tidak mau pulang saat mama Lusiana menyuruhnya pulang untuk beristirahat.
Mama Lusiana juga melakukan hal yang sama padaku.
Dan aku juga ingin berada di sana supaya bisa membantu kalau mereka membutuhkan sesuatu.
............................
Aku terpaksa pulang ke rumah, setelah mama Lusiana memaksaku pulang.
" Pulang saja Nak Dirga...Tante ingin kamu istirahat...nanti tunggu Lusiana pulang kamu datang lagi, besok mungkin Lusiana juga udah boleh pulang."
"Tapi Tante....,"
" Iya ga apa- apa mas Dirga....pulang saja...jangan khawatir ada saya di sini," Hendra juga menyuruhku pulang.
Aku akhirnya mengalah....
" Nanti Tante kabari kalau Lusiana sudah pulang," kata mama Lusiana lagi.
"Baiklah kalau begitu Tan, Dirga balik dulu...," ucapku akhirnya.
Aldo dan Tante Dewi juga sudah pulang dari tadi.
Akhirnya aku pulang setelah berpamitan dengan mama Lusiana dan Hendra.
Hendra mengantarku sampai di depan pintu.
" Hati- hati di jalan mas," ucapnya.
" Iya...makasih ya."
Aku mengendarai mobilku sampai ke rumah.
Mama sudah menyambutku.
" Bagaimana kondisi Lusiana Nak?" tanya mama padaku.
Tadi aku sempat mengabarkan lewat pesan whatshapp pada mama, Lusiana mengalami kecelakaan.
" Untung tidak parah ma...hasil Rontgennya semuanya baik."
" Syukurlah kalau begitu, apa Vino sudah tau adiknya kecelakaan?"
" Belum ma...nanti saja biar mamanya saja yang kasih tau, takut dia cemas, kasihan nanti di sana dia panik," jawabku.
Mama cuma menggangguk.
" Kamu udah makan Nak?" tanya mama.
"Udah ma, tadi bosnya Lusiana beliin makanan waktu di rumah sakit," jawabku.
" Kalau begitu kamu segera mandi... habis itu pergi istirahat," ucap mama.
" Papa udah tidur ma?"
" Udah Nak," jawab mama.
__ADS_1
Setelah mandi, aku memeriksa ponselku, ada beberapa pesan whatshapp dan beberapa email yang masuk.
Aku mulai dengan membuka email dan memeriksa laporan transaksi dari swalayan yang dikirimkan oleh pegawaiku.
Aku kemudian membuka pesan whatshapp, ada notifikasi pesan dari Vino, Abang Lusiana.
"Hai bro....sibuk ya?"
Aku tersenyum....sahabatku itu memang rajin menjalin komunikasi denganku.
" Enggak, baru habis mandi..."
Kemudian pesanku dibalas lagi olehnya.
" Baru pulang? jam segini baru mandi, habis ngapelin adekku yaπ"
Aku ragu apakah harus memberitahu Vino bahwa adiknya lagi dirawat di rumah sakit.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahunya, lagian Lusiana kondisinya tidak parah.
" Boleh dibilang begitu...tadi aku ke rumahmu, mengunjungi mamamu," balasku.
" Mengunjungi mamaku atau mengunjungi adekku?π"
"Dua- duanya," jawabku tidak berbohong.....aku memang mengunjungi mama Lusiana di rumahnya dan mengunjungi Lusiana di rumah sakit.
" Keren bro...langkah awal...," balas Vino lagi meledekku.
Vino tidak tau, sepulang dari rumah sakit menjenguk Lusiana, aku malah down.
Aku setengah " menyerah"...mana mungkin aku menang bersaing dengan Hendra, bos Lusiana. Belum lagi ada Aldo yang sama muda, ganteng...
Mereka lebih muda,tampan, gagah, perhatian, dan juga mencintai Lusiana.
"πππ"
Aku hanya membalasnya dengan emoticon...
" Harus gerak cepat bro...jangan sampai keburu dilamar orang," balas Vino.
" Diusahakan bro," jawabku.
" Kok seperti pesimis bro...jangan diusahakan...tapi dipastikanπͺπͺπͺ"
Aku menghela napas, Vino memberi semangat padaku untuk mendekati adiknya.
Vino tidak mengerti perasaanku, aku merasa "tua" untuk bersaing dengan mereka.
Sainganku bukan hanya satu, tapi ada beberapa nama yang sudah kukenal.
Di antara mereka mungkin aku urutan yang kesekian di mata Lusiana.
Lusiana menghormati aku sama seperti dia menganggap aku seperti abangnya, karena aku adalah sahabat bang Vinonya.
" Belum tidur bro?" tanyaku mengalihkan topik obrolan kami.
"Kalau udah tidur ga bisa ngetik bro...ππ"
" Maksudnya masih belum niat tidur? nanti ponselnya digoreng sama Wita tuh...baru tau rasa," balasku meledeknya.
"Astaga kamu benar bro....kalau ponselnya digoreng nanti dipaksa makan lagi.πππ"
" Ya udah aku tidur dulu ya bro...," tutup pesannya.
" Oke...." balasku.
Aku kemudian menonaktifkan ponselku, aku ingin istirahat.
Mengistirahatkan tubuh dan pikiranku...
__ADS_1