
Akhirnya kelar juga pekerjaanku, aku menarik napas lega, setelah berkutat dengan pekerjaaanku yang menumpuk ditambah pikiranku yang terus memikirkan kondisi Lusiana aku bisa segera pulang.
Aku segera meninggalkan ruangan kerjaku, kutinggalkan saja dokumen- dokumen yang sudah kuperiksa dan tandatangani, biar Rosa yang akan merapikan semuanya.
Aku melangkah keluar kantorku dan menuju mobilku yang terparkir.
Pak Surya segera membuka gerbang dan kuklakson mobilku seperti biasa saat akan keluar gerbang.
Sekarang belum terlalu sore, jam kantor juga belum selesai, tapi kutinggalkan kantor dengan buru- buru demi seorang gadis yang bernama Lusiana.
Entah mengapa, pikiranku tak bisa lepas dari gadis itu, apalagi masih ada perasaan bersalah dan akupun belum sempat meminta maaf padanya.
Aku mampir ke toko buah, lalu membeli beberapa jenis buah dan meminta pegawai toko buah mengisinya di keranjang dan memintanya untuk membuatkan aku parcel.
Setelah dari toko buah, aku melanjutkan perjalananku menuju rumah Lusiana.
Aku memarkirkan mobilku setelah sampai di depan rumah Lusiana, rumahnya terlihat lengang.
Aku segera turun dari mobil, dengan menenteng parcel buah dan pakaian Lusiana yang tadi pagi sudah kuambil dari butik mama.
"Permisi..."
Terlihat mama Lusiana keluar dan menyambutku.
__ADS_1
" Halo Tante," sapaku lalu memberikan buah tangan yang kubawa pada mama Lusiana.
" Nak Hendra, ayo masuk Nak, ini kenapa repot bawa buah segala," katanya lagi.
Aku mengekori mama Lusiana masuk, lalu aku memberikan pakaian Lusiana yang udah dilaundry dan terbungkus rapi dengan plastik bening pada mama Lusiana setelah mama Lusiana meletakkan parcel buah yang kubawa
di meja tamu Lusiana.
"Lusiana bagaimana Tante, apa udah sehat?" tanyaku.
"Demamnya udah turun Nak, udah baikan, kepalanya juga udah ga sakit lagi."
" Sebentar ya, Nak Hendra duduk aja Tante panggilkan Lusiana ke sini."
Lusiana duduk di sofa di seberang meja, setelah menyapaku.
"Bapak tumben ke sini?" Lusiana memanggilku dengan bapak bukan dengan sebutan mas.
"Saya mau minta maaf sama kamu tempo hari udah marah-marah dan bentak- bentak kamu," aku juga ikut- ikutan memanggilku dengan sebutan saya bukan aku.
" Sekalian jenguk kamu," lanjutku lagi.
"Bapak ga perlu minta maaf, kan bapak bos nya, saya hanya karyawan bapak. Bapak ga salah kok, saya yang salah. Dan terima kasih bapak udah jenguk saya dan udah bawa buah tangan buat saya," jawab Lusiana pelan.
__ADS_1
aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal, kenapa tiba- tiba jadi horor ya.
Aku bingung mau jawab apa, Lusiana bisa membungkam mulutku yang biasanya suka memarahinya.
Suasana jadi hening, aku menghela napas sambil memandang Lusiana yang sepertinya sudah sehat.
"Saya tetap mau minta maaf sama kamu, kamu tidak salah. Saya yang salah," kataku kemudian.
" Ya udah Pak, kejadian itu udah lewat juga, anggap aja ga ada, saya juga udah lupa," jawab gadis itu.
Mama Lusiana datang membawakan ku segelas air putih.
"Silahkan diminum Nak Hendra, maaf ga disuguhin apa- apa."
"Makasih Tante, ga apa-apa, saya juga mau pamit masih ada yang mau dikerjakan."
"Diminum dulu Nak."
Aku meneguk air putih yang disuguhkan mama Lusiana, lalu bangkit dari tempat dudukku.
"Saya pamit dulu Tante..., Lusiana..."
"Terima kasih Pak udah jenguk saya, jadi merepotkan bapak," kata Lusiana setelah lama diam saja.
__ADS_1
" Yang penting kamu udah sehat, saya udah lega," jawabku.