
Aku menikmati hari- hari ku dengan sibuk bekerja. Aku memimpin perusahaan milik ku sendiri, perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor.
Aku memiliki seorang sekretaris yang baik hati, rajin dan totalitas dalam bekerja.
Kami seumuran, sehingga cocok dalam berbagai hal.
Sekretarisku, Yanti sudah kuanggap seperti adik Perempuanku sendiri. Aku menyuruhnya juga memanggilku dengan Mas Aldo tanpa embel- embel Pak atau bapak.
Mulanya ia menolak dan protes saat aku menyuruhnya memanggilku dengan panggilan Mas Aldo.
Tapi karena aku terus memaksanya, ia pun akhirnya mulai terbiasa memanggilku dengan panggilan Mas Aldo.
Aku tidak peduli jika ada pegawai lain yang heran atau bertanya- tanya, toh ini adalah perusahaanku, aku yang memimpin di sini.
Hubunganku dan Yanti lebih ke arah hubungan dengan seorang teman baik daripada antara atasan dan bawahan.
Kami juga selalu mengisi waktu bersama, aku selalu mengajaknya pergi menemaniku apalagi dalam urusan kantor.
Aku juga selalu makan siang bersama dengan Yanti, gadis itu kadang suka membuatku gemas dengan candaannya, aku suka sekali mengacak rambutnya karena kegemasanku.
Mungkin karena aku adalah anak tunggal yang tidak memiliki saudara kandung, sehingga sering membayangkan Yanti sebagai adik perempuan kandungku.
Aku juga mencurahkan perhatianku padanya, aku sering main ke rumahnya dan kadang mengajaknya main ke rumah sepupuku si Herman, anaknya Tante Dewi.
Aku juga sering mengajak Yanti jalan berdua, kadang kami pergi nonton bersama.
Aku sudah mengenal dekat kedua orang tua Yanti. Papanya yang baik dan sabar, mungkin sifat Yanti menurun dari Papanya itu. Sementara mamanya suka bicara dengan berapi- api.
Aku dan Yanti suka membicarakan segala hal, dari urusan pekerjaan sampai percintaan.
Gadis itu dengan sabar akan mendengarkan ceritaku.
Aku juga berniat menjodohkan Yanti dengan sepupuku Herman, mereka sama - sama masih single.
Yanti adalah gadis yang baik pasti cocok dengan Herman sepupuku itu.
Aku ingin Yanti mendapatkan pasangan yang baik seperti Herman. Aku ingin melihat Yanti bahagia.
Aku tidak ingin Yanti berhubungan dengan pria yang tidak baik, karena aku kadang sangat mengkhawatirkannya.
Dari cerita Yanti, aku tau dia belum pernah berhubungan dengan pria manapun.
Aku juga menceritakan pada gadis itu bahwa aku jatuh cinta pada seorang gadis.
__ADS_1
Yanti bertanya padaku siapa gadis yang membuatku jatuh cinta. Aku belum memberitahu Yanti siapa gadis yang telah membuatku jatuh cinta.
Aku ingin membuat kejutan, ia pasti akan terkaget- kaget jika ia tau kalau gadis yang ku cinta adalah sepupu Yanti sendiri, Lusiana....
Aku tau dari Tante Dewi, bahwa Lusiana adalah sepupu dari Yanti.
Yanti pasti merasa senang, kalau nanti aku akan menjadi ipar sepupunya.
Aku tersenyum- senyum sendiri membayangkan hal itu.
Dan Yanti apabila ku jodohkan dengan Herman sepupuku , akan menjadi hubungan yang unik.
Yanti dan Lusiana sepupuan. Aku dan Herman sepupuan. Maka kami adalah pasangan sepupu yang berpasangan dengan pasangan sepupu. Ha....ha....
Aku lalu menggelengkan kepala, aku belum sempat menghubungi Tante Dewi, belum tentu juga mimpiku jadi kenyataan.
Entah bagaimana kabar dari Lusiana, entah apakah gadis itu sudah memberikan jawaban dari lamaranku.
Kalau Lusiana sudah menerima lamaranku, rencananya baru akan memberitahu Yanti siapa gadis yang lagi kutaksir.
Aku sudah katakan pada Yanti, aku mau berhubungan serius dan langsung memberi lamaran pada gadis yang berhasil menjatuhkan hatiku itu.
Yanti juga nampak bahagia yang kubaca dari raut wajahnya yang sumringah, ketika kuberitahu tentang lamaranku itu.
Ia pasti juga bahagia mendengar hal itu, ia pasti mendukung keputusanku.
Beberapa hari kemudian, pagi - pagi Yanti mengirimkan aku pesan whatshapp minta izin tidak masuk karena sedang tidak enak badan.
Aku mencemaskan Yanti, aku tau ia tidak akan absen kalau cuma tidak enak badan biasa.
Gadis itu akan tetap masuk kerja kalau hanya tidak enak badan sedikit.
Ia biasanya akan minta waktu untuk beristirahat di ruang kerjaku.
Dan aku akan membiarkannya tidur sebentar atau sekedar memejamkan matanya dengan bersandar di sofa ruang kerjaku.
Aku takut Yanti sakitnya parah sampai ia absen ke kantor.
Aku segera meneleponnya tapi panggilan teleponku tidak dijawabnya, dan ini berhasil membuatku merasa cemas.
Apa ia sakit parah?
Kemudian, aku mencoba meneleponnya lagi dan panggilan keduaku ini ternyata diangkat oleh Papa Yanti.
__ADS_1
Katanya Yanti sedang tidur sehingga Papanya lah yang mengangkat panggilan telepon dariku.
Yanti pasti kali ini benar- benar sakit, aku menawarkan untuk mengantarnya ke dokter, tapi Papanya tidak mau merepotkan ku. Dan kata Papanya, Yanti tidak apa- apa cuma tidak enak badan biasa.
Aku lega, apalagi Papanya bilang besok pasti Yanti udah bisa masuk kerja.
Aku berharap gadis itu baik- baik saja, aku sudah terbiasa dengan kehadiran nya dan aku pasti merasa sepi kalau gadis itu tidak ada di kantor menemaniku.
Sepulang kerja nanti aku rencananya akan menemui Tante Dewi, sekalian ingin bertemu Herman.
Aku akan menanyakan kepada Tante Dewi apakah sudah ada jawaban dari Lusiana mengenai lamaranku padanya.
Jantungku berdebar kencang jika teringat pada Lusiana.
Semoga mimpiku untuk menggapainya terkabulkan.
" Habiskan sarapanmu Nak," mama menegurku yang sedang asyik dengan lamunanku.
"pagi- pagi udah melamun, ini karena sekretarismu izin tidak masuk atau karena memikirkan Lusiana? ucap mama lagi.
" He...he...mama tau aja aku memikirkan keduanya," jawabku sambil nyengir.
"Habiskan dulu sarapanmu, bengong sampai dari tadi makanannya didiemin," lanjut mama.
" Maklum ma, namanya juga anak muda lagi jatuh cinta," Papa menyambung ucapan mama dengan tertawa.
" Tapi ingat jangan sakit hati kalau lamaranmu ditolak, seenggaknya kamu udah punya niat baik," sambung Papa lagi.
Obrolan hangat di meja makan memang selalu menjadi kebiasaan rutin di keluargaku.
Andai aku bisa membawa Lusiana masuk ke dalam keluargaku, ia pasti akan merasa bahagia dengan kehangatan keluargaku.
Mama dan Papa pasti akan menyayanginya seperti Puteri sendiri.
Aku tau mama dari dulu sangat mendambakan seorang Puteri, tapi Tuhan hanya memberinya satu orang putera.
Dari cerita mama, setelah aku lahir mama masih ingin menambah anak dan berharap mendapatkan seorang anak perempuan.
Tapi walaupun sudah berusaha, hanya aku anak satu- satunya mama dan papa.
Kalau Lusiana masuk ke keluargaku, mama pasti akan memperlakukannya dengan sangat baik.
Dengan Herman sepupuku itu pun mama papa memperlakukannya sama denganku.
__ADS_1
Kalau ia menginap ke sini, Mama akan masak makanan kesukaan Herman dan kadang akan memberikannya pelukan sayang seperti pelukan yang sering mama berikan padaku.
Nanti setelah aku menikah dengan Lusiana akan kujadikan keluarga ini menjadi keluarga yang paling bahagia.