Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Hendra: andai saja


__ADS_3

Aku dan mama Lusiana yang menjaga Lusiana di ruang VIP rumah sakit.


Mama Lusiana tidur di ranjang kecil yang berada di samping tempat tidur Lusiana.


Sementara aku tidur di sofa panjang.


Sambil berbaring, aku mengirim pesan pada mamaku, mengabarkan aku nginep di rumah sakit menjaga Lusiana.


"Bagaimana kondisi Lusiana Nak?" tanya mama.


" Untung tidak parah ma," jawabku.


"Apa ini karena perbuatan papa mu?"


Mama pasti sudah menebak yang menyebabkan Lusiana kecelakaan adalah ulah papa.


" Hendra ga tau Ma," aku tidak ingin mama membuat mama khawatir.


Mama pasti akan kepikiran dan merasa bersalah kalau ku katakan yang sebenarnya, papa menyuruh orang suruhannya untuk menabrak Lusiana.


Biar nanti kuselesaikan semuanya dengan papa tanpa melibatkan mama.


" Mama khawatir ini perbuatan papamu Nak, semoga saja bukan."


" Iya ma....mudah- mudahan ini bukan perbuatan papa."


" Ya sudah...istirahat aja Nak...mama juga mau tidur.'


" Papa udah tidur ma?" tanyaku.


" Belum, masih di ruang kerjanya."


" Oke...mama tidur aja. MET malam mama sayang..."


" Selamat malam juga Nak..."


Aku dan mama mengakhiri percakapan kami lewat chat whatshapp.


Baru saja aku ingin mematikan ponselku, ada notifikasi pesan di whatshapp ku. Dari Papa...


" Hen...kamu tidak pulang?"


" Ga Pa...tadi udah kasih tau mama," jawabku.


" Kamu nungguin gadis itu?"


" Tentu saja iya Pa, aku harus bertanggung jawab padanya karena aku bos nya."


"Lagian juga ini karena perbuatan Papa."


" Papa kasih kamu kesempatan terakhir bersama gadis itu....sesudah ini lihat saja kalau kamu masih keras kepala."


"Apa lagi mau Papa? Papa ingin mencelakai Lusiana lagi?"


" Itu semua tergantung sikap kamu."


"Tolong jangan sakiti Lusiana Pa, dia bahkan tidak tau kalau aku mencintainya."


" Papa tidak peduli...papa hanya ingin kamu segera mendekati Firda. Titik..."


"Papa egois."


" Terserah kamu mau bilang papa egois, kamu lihat saja akibatnya kalau kamu masih membantah."


"Please Pa...jangan lakukan apa- apa."


" Kita lihat saja nanti."


Papa mengakhiri chatnya, ku lihat statusnya sudah tidak online lagi.


Aku memijit pelipisku....aku jadi sakit kepala.


Ku coba pejamkan mata ku untuk segera tidur.

__ADS_1


....................................


"Periksa tensi ya nona Lusiana..." ku dengar suara seorang suster bicara.


Aku membuka mataku, ternyata sudah pagi.


Ku lihat jam di ponselku sudah menunjukkan jam delapan lewat empat puluh lima menit.


Aku terlambat bangun, biasanya kalau di rumah jam enam pagi aku sudah bangun.


Aku bangun lalu duduk....


" Tensinya bagus ya..," ucap suster itu lagi.


"Nanti siang tunggu kunjungan dari dokter Inge ya...kalau dokter Inge mengizinkan, mungkin nona Lusiana hari ini bisa pulang."


" Makasih sus...," ucap Lusiana pada perawat itu.


Setelah mengecek infus, suster itu kemudian permisi untuk mengecek pasien lain.


Aku masih menguap...


"Pagi Tante...Lusiana...," sapaku.


" Pagi Nak Hendra, sudah bangun rupanya," mama Lusiana menoleh ke arahku.


Aku pergi ke kamar mandi...mencuci muka dan gosok gigi dengan sikat gigi yang kubeli semalam di supermarket yang ada di lantai bawah rumah sakit.


Setelah dari kamar mandi aku menelepon Rosa, sekretarisku.


Aku mengabarkan aku hari ini tidak masuk ke kantor.


Rosa menanyakan padaku kabar Lusiana, anak- anak kantor sudah tau berita tentang Lusiana yang kecelakaan.


Mungkin tau dari Pak Surya atau Mang Kosim.


Setelah memberi pesan -pesan mengenai pekerjaan yang harus ia lakukan selama aku tidak masuk pada Rosa, aku memesan makanan untukku dan mama Lusiana.


Makanan yang aku pesan sudah datang.


" Tante kalau mau makan, udah dibeliin," ucapku pada mama Lusiana.


" Jadi ngerepotin Nak Hendra...makasih ya," jawab mama Lusiana.


Ku lihat Lusiana sudah selesai makan...


" Ayo Tan makan bareng....," ajakku.


"Makasih Nak..Tante pikir nanti turun ke kantin saja, eh udah dibeliin...jadi ngerepotin Nak..."


" Ga lah Tante...saya juga lapar...ayo makan...," aku membuka nasi kotak untuk mama Lusiana.


Kami menghabiskan sarapan dengan menu sayur capcai dan ayam teriyaki.


Selesai makan, aku memeriksa isi ponselku.


Pesan Whatshapp dari mama.


" Mama mau ke situ jenguk Lusiana..."


" Kalau mau jenguk jangan kesiangan ma...mungkin hari ini Lusiana sudah bisa pulang."


" Ini mama udah mau siap- siap, mama naik g*** biar papamu tidak curiga."


"Papa masih di rumah ma?"


" Masih, tunggu Papa berangkat dulu...kalau mama suruh Edi yang anterin takut nanti Edi ngasih tau Papa, mama ke rumah sakit," jelas mama.


" Oke ma. hati- hati di jalan."


Aku lalu menyimpan ponsel ke dalam saku celanaku.


Aku menghampiri Lusiana.

__ADS_1


"Bagaimana Lus, masih sakit?"


" Masih mas, terutama yang di lengan," jawabnya.


Tok....tok...


Dokter Inge dan seorang suster masuk sambil tersenyum pada kami.


" Selamat pagi....." sapanya ramah.


" Pagi dok...."


Dokter Inge memeriksa lengan Lusiana dan menyuruh suster yang menemaninya untuk mengoleskan salep.


Dokter Inge membuka perban di kepala Lusiana dan memeriksa lukanya.


Dokter Inge tampak membersihkan jahitan di kepala Lusiana dan meneteskan obat di luka jahitannya.


"Perbannya saya ganti ya," ujarnya setelah mengobati kepala Lusiana.


" Nona Lusiana hari ini sudah boleh pulang ya, nanti lima hari lagi kontrol."


"Besok perbannya boleh dibuka, diangin- anginkan saja biar lukanya cepat kering. Kecuali terpaksa berada di luar harus dikasih perban ya biar ga kena debu," jelas dokter Inge secara mendetail.


"Baik dok...terima kasih," jawab Lusiana.


"Untuk memar di lengan, bantu kompres ya sebelum dikasih salep," jelas dokter Inge lagi.


" Silahkan ditunggu ya Pak, kalau sudah siap nanti dipanggil untuk urus pelunasan biaya rawat inapnya ya, biar dihitung dulu sama bagian kasirnya," ucap dokter Inge.


" Baik dok...makasih..," jawabku.


"Baiklah saya permisi dulu...semoga Nona Lusiana cepat pulih ya...jangan lupa untuk kontrol lima hari lagi."


" Makasih dok...," jawabku dan mama Lusiana bersamaan.


" Makasih dokter...," ucap Lusiana sebelum dokter Inge keluar.


Dokter Inge dan suster yang menemaninya lalu berjalan keluar.


Mama ku sudah tiba...ia datang membawa dua kantong buah- buahan.


" Halo...," mama mengangguk pada mama Lusiana.


" Kenalin Tan...ini mama Hendra...," aku mengenalkan mama Lusiana pada mamaku.


" Iya, jadi ngerepotin jenguk ke sini," ucap mama Lusiana.


Mama memberikan kantong buahnya pada mama Lusiana.


" Waduh....makasih...jadi repot," ucap mama Lusiana pada mama.


" Sama sekali ga repot," balas mama tersenyum.


" Halo Tante...naik apa ke sini?" Lusiana bertanya pada mama.


"Duduk ma," aku menarik bangku untuk mama.


" Naik taxi online Lus...kamu gimana kondisinya?"


" Tidak parah Tan...hari ini sudah boleh pulang," jawab Lusiana.


" Syukurlah kalau begitu."


" Tante repot- repot datang jenguk Lusi..."


" Ga lah Nak...lagian rumah Tante juga ga terlalu jauh dari sini."


"Makasih Tan udah jenguk Lusi...."


"Sama- sama sayang," mama menepuk lembut tangan Lusiana.


"Andai saja mereka bisa jadi mantu dan mertua...."

__ADS_1


__ADS_2