
Aku segera menyusul Lusiana ke rumah sakit Timah, Pangkalpinang.
Saat aku tiba, Lusiana lagi ditangani di ruangan Instalasi Gawat Darurat.
Administrasi sudah ditandatangani oleh Mang Kosim dan aku yang mengurus semua jaminan untuk pembayaran Lusiana.
Mang Kosim dan Usman sudah menungguku di depan pintu IGD.
Dokter yang menangani menyuruh kami untuk menunggu di luar, supaya di dalam tidak terlalu banyak orang.
"Orang tua Lusiana sudah dikabari Mang Kosim?" tanyaku.
" Belum Pak...tidak tau nomor teleponnya," jawab Mang Kosim.
"Ya udah, biar saya saja," ucapku sambil mengambil ponselku.
Untung aku pernah menyimpan nomor ponsel mama Lusiana yang dulu sempat kuminta saat Lusiana baru diterima menjadi pegawai ku.
Nomor ponsel mama Lusiana ku tekan.
Tak lama menunggu, mama Lusiana mengangkat teleponnya.
"Hallo...," sapanya.
"Hallo Tante...ini Hendra, maaf mengganggu..." ucapku mengatur kata- kata supaya mama Lusiana tidak kaget.
"Iya Nak ada apa?"
" Tante...Tante bisa datang ke rumah sakit Timah sekarang?" ucapku hati- hati.
" Siapa yang sakit Nak? Lusiana sakit? ia tidak apa- apa kan?" ku dengar suara mama Lusiana terdengar cemas.
" Tenang dulu Tante...atau Tante tunggu di situ nanti sopir saya yang jemput?" ucapku.
" Lusiana kenapa Nak?" tanyanya cemas.
" Tadi Lusiana disenggol pengendara sepeda motor waktu mau pulang Tan..."
" Bagaimana kondisi Lusiana Nak, parahkah?" mama Lusiana tidak bisa menyembunyikan kecemasannya, terdengar dari suaranya yang bergetar.
" Masih ditangani Tan...di IGD," jawabku.
"Tante langsung ke sana saja Nak, kebetulan ada Nak Dirga di sini," jawab mama Lusiana buru- buru.
" Baik Tante...hati- hati di jalan."
" Makasih Nak Hendra," ucapnya mengakhiri sambungan teleponnya.
Dokter keluar dari ruang IGD, aku segera menyambutnya.
" Gimana kondisi Lusiana dokter?"
" Syukurlah lukanya tidak terlihat parah Pak...cuma ada luka sobek karena benturan di kepalanya..dan sudah dijahit...juga ada memar di lengan kanannya," dokter menjelaskan.
" Dia pingsan karena mengalami shock dan juga banyaknya darah yang keluar. Sudah benar pas dibawa ke sini lukanya ditekan, sehingga sangat membantu supaya tidak kehabisan darah..."
" Tapi untuk memastikan apakah ada luka yang parah, perlu dilakukan Rontgen ya pak, tolong nanti diurus untuk persetujuan dilakukan Rontgennya dan juga untuk pemindahan pasien ke ruang rawat inap."
Dokter menjelaskan dengan rinci dan panjang lebar.... mendengar penjelasan dokter aku sedikit lega Lusiana tidak apa- apa, walaupun masih harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
" Terima kasih dok..."
__ADS_1
" Sama- sama..."
Aku menyuruh Mang Kosim dan Usman untuk pulang....
Kuselipkan beberapa lembar uang untuk Mang Kosim dan Usman, walaupun tadinya mereka menolak dan akhirnya terpaksa menerima pemberianku setelah berhasil kupaksa.
Aku mengurus persetujuan tindakan Rontgen dan memilih kamar VIP untuk Lusiana.
Lusiana sudah dipindahkan ke ruang VIP....aku mendampinginya.
Sudah ku kirim pesan pada mama Lusiana bahwa Lusiana sudah dipindahkan ke ruangan ini.
Aku duduk di samping tempat tidur Lusiana, kupandangi wajahnya yang agak pucat. Ada perban di kepalanya.
Ia masih belum sadarkan diri, mungkin sebentar lagi ia akan segera siuman.
Selang infus sudah terpasang di tangannya.
Ku genggam jemari tangannya...
"Tolong cepat bangun Lus...sadarlah...," ku usap jemarinya.
" Aku mencintaimu Lus...aku ga mau terjadi apa- apa sama kamu....," bisikku di telinganya.
Aku memikirkan apakah ini perbuatan papa? nanti sepulang dari sini akan kutanyakan pada papa.
Kalau ini adalah semua perbuatan papa, entah tindakan apa yang akan ku lakukan.
Aku mengambil ponselku....
"Pa...apa ini perbuatan papa?"
kukirim pesan lewat whatshapp ke nomor ponsel papa.
Drrrrt, papa membalas pesannya.
" Ini baru permulaan...lihat saja apa yang akan papa lakukan selanjutnya kalau kamu masih membantah"
Aku membelalakkan mata...ternyata benar ini perbuatan papa.
Aku mengepalkan jari tanganku, sebisanya aku menahan kemarahanku pada papa.
Rasa bersalah langsung membuncah di dadaku....perasaan bersalah pada Lusiana dan mamanya.
Mereka tidak tau apa- apa...
Aku menahan rasa sesak di dadaku...
Papa tega mencelakai orang yang kucintai...
Betapa teganya papa melukai hati puteranya sendiri demi egonya.
" Ya Tuhan....ampunilah dosa papaku..." ucapku sambil memejamkan mata.
Sebagai anak, aku merasa kecewa dengan perbuatan papa dan juga takut papa melakukan dosa besar.
Rasa marah, kasihan, takut bercampur menjadi satu....
Papa tidak tau, perbuatannya membuat orang yang paling terluka adalah puteranya sendiri..aku...
Aku menangis dalam hatiku. Syukur Lusiana tidak terluka parah.
__ADS_1
Taukah Papa...jika terjadi sesuatu pada Lusiana sampai nyawanya melayang, apakah puteranya selamanya bisa hidup bahagia?
Dan yang aku takutkan adalah ancaman papa bahwa ia akan melakukan hal yang lebih buruk lagi jika aku membantahnya.
Aku takut Lusiana terluka lebih parah, dan aku tidak sanggup hidup jika itu terjadi.
Aku mencium tangan Lusiana.
" Maafkan aku Lus....aku mencintaimu...tapi tak bisa memilikimu..."
Tanganku membelai pucuk kepala Lusiana dengan hati- hati, takut mengenai perbannya.
" Cepatlah bangun sayangku....aku mencintaimu sayang.....," bisikku lagi di telinganya.
krekkk.....
Pintu kamar terbuka lebar, mama Lusiana bersama seorang pria gagah menerobos masuk....
Aku terperanjat.....aku melepaskan genggamanku di jemari Lusiana dan menghentikan belaianku di pucuk kepala Lusiana.
Mama Lusiana sekilas melihat gerakan tanganku, tapi sepertinya ia lebih mencemaskan puterinya.
" Bagaimana kondisi Lusiana Nak Hendra?"
" Dokter bilang tidak apa- apa Tante, Lusiana hanya shock karena benturan..." jawabku.
Kulihat mama Lusiana menarik napas lega.
Aku menarik bangku yang ada di situ dan menyuruh mama Lusiana dan Dirga, lelaki yang pernah dikenalkan padaku di swalayan waktu itu.
" Tante dan mas Dirga sudah makan?" tanyaku.
" Belum sempat Nak Hendra... tadi udah masak lagi nunggu Lusiana pulang."
" Biar saya aja yang pesanin makanannya Tan..." ucap Dirga.
" Tidak usah Mas... ini saya udah pesan 3 porsi buat kita," jawabku.
Aku memesan tiga porsi nasi Hainan lewat aplikasi ****food.
"Mas Dirga ini teman atau saudara Lusiana?" tanyaku ingin tau.
" Saya sahabat baik Vino, abangnya Lusiana bro..," jawabnya.
" Tadi kebetulan lagi datang berkunjung ke rumah Lusiana...," sambungnya lagi.
" Makasih lho Nak Hendra...sudah bantuin Lusiana," ujar mama Lusiana padaku.
" Sudah kewajiban saya Tante...," jawabku.
Andai mama Lusiana tau, yang menyebabkan anaknya masuk rumah sakit adalah papaku...mungkin mama Lusiana tidak akan berterima kasih padaku.
Aku mendesah dalam hati, terlalu besar penghalang untukku mencintai Lusiana.
Penghalang yang bisa membahayakan nyawa gadis yang kucintai itu.
Mama Lusiana juga pasti tidak akan mengizinkan aku untuk menikahi anaknya, andai ia tau nyawa anaknya dalam bahaya karena perbuatan papaku.
Lusiana mendesah...ia mengerjap- ngerjapkan matanya.
Kami menoleh ke arah Lusiana terbaring.
__ADS_1
" Lusiana....."