
Lusiana baru selesai makan malam saat Desi meneleponnya.
" Halo malam Des, apa kabar?" sapa Lusiana.
"Lus...maaf mengganggu kamu," terdengar suara Desi terisak.
"Des, ada apa? kamu menangis?" tanya Lusiana.
" Lus, aku tidak tau harus bicara sama siapa...aku cuma ingat sama kamu," Desi berkata dengan suara parau.
"Tenang dulu Lus, kamu lagi di mana sekarang?" tanya Lusiana.
"Lagi di rumah Pangkalpinang, tadi aku baru bertengkar sama Mas Nino Lus, ia pergi dengan marah," Desi terisak.
"Kamu tenang dulu...aku ke rumahmu ya?"
"Sama siapa Lus? ini udah malam," Desi menjawab khawatir.
" Nanti aku coba telepon temanku, minta dia mengantarku ke rumahmu...kamu tunggu bentar ya," kata Lusiana.
"Oke Lus, makasih ya," Desi menutup sambungan teleponnya.
"Ma, Lusi mau ke rumah Desi ya, dia ada yang masalah sepertinya," Lusiana meminta izin pada mamanya.
"Sama siapa Lus? ini udah malam lho...," tanya mama Lusiana.
"Lusiana coba minta tolong Aldo ma, bentar Lusiana telepon Aldo," Lusiana lalu menelepon Aldo.
"Halo Lus," Aldo menjawab panggilan Lusiana.
"Al...lagi repot ga?" tanya Lusiana.
"Ga Lus...ini habis makan...lagi nyantai sama mama, ada apa Lus?" tanya Aldo.
"Aku boleh minta tolong Al? anterin ke rumah teman...dia lagi ada masalah...tadi dia cari Lusiana."
" Boleh Lus, ya udah tunggu bentar ya...aku jemput sekarang," Aldo menutup ponselnya.
Lusiana mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana panjang jeans.
Ia juga mengikat rambut panjangnya.
"Nanti Lusiana langsung berangkat ya ma," kata Lusiana pada mamanya.
"Lusiana bawa kunci serep, kalau kemalaman...mama tidur duluan aja," kata Lusiana.
"Iya Lus...Desi itu yang kamu cerita tempo hari kan? isterinya Nino?" tanya mamanya.
" Betul ma, kasihan dia...," ujar Lusiana.
" Dia katanya habis bertengkar sama suaminya, sepertinya dia butuh teman bicara ma," tambah Lusiana lagi.
" Ya udah, pulangnya jangan kemaleman Lus," pesan mama Lusiana.
__ADS_1
"Iya ma."
Tak lama kemudian, Aldo sampai di rumah Lusiana.
Setelah berpamitan pada mama Lusiana, mereka berangkat ke rumah Desi.
Aldo membawa mobilnya, motor gedenya ditinggal di rumahnya.
Setelah sampai di rumah Desi, mereka sudah ditunggu oleh Desi.
Desi langsung membuka pintu untuk mereka, mata dan hidung Desi tampak merah.
Desi masih terisak.
"Maaf ya Lus...aku ngerepotin kamu dengan masalahku," kata Desi yang menyeka air matanya.
"Ini temanku Des, Aldo," Lusiana mengenalkan Desi pada Aldo.
"Ga ngerepotin kok...," jawab Lusiana.
"Duduk yuk," ajak Desi.
Setelah duduk, Desi menghela napas panjang.
"Lus....Mas Nino selingkuh...dia main perempuan," tangis Desi.
"Perempuan itu tadi pagi datang ke rumah...ia minta tanggung jawab pada mas Nino Lus...ia sudah hamil...bayangkan Lus perempuan itu udah hamil delapan bulan," cerita Desi.
"Apa? bagaimana bisa?" tanya Lusiana kaget.
"Nama perempuan itu Mona Lus, ia udah lama mencari Mas Nino yang menghilang tanpa kabar...dan setelah lama mencari ia tau alamat Mas Nino yang ada di sini," lanjut Desi.
"Aku aja baru hamil empat bulan Lus...," Desi kembali menangis.
"Tadi sore mas Nino mengakui semua perbuatannya...termasuk dia juga mengincar kamu Lus, dia bilang gara- gara aku...kamu menolaknya," cerita Desi lagi.
Lusiana menepuk lembut tangan Desi.
"Lus...aku mau cerai sama Mas Nino..."
"Tapi kamu lagi hamil Des, udah kamu pikirkan matang- matang?" tanya Lusiana.
"Aku tidak sanggup Lus...selama ini aku udah bersabar dengan sikap mas Nino."
"Kamu udah bicarakan hal ini sama orang tua atau saudara kamu Des?" tanya Lusiana cemas.
"Aku udah ga punya orang tua Lus...aku anak tunggal, papa mama ku udah meninggal...aku udah ga punya siapa- siapa lagi Lus."
Lusiana memeluk Desi, ia merasa sangat prihatin.
Betapa Nino tega menyakiti Desi, apalagi Desi yang sudah tidak punya orang tua...tidak ada tempat untuk mengadu.
"Kamu yang sabar ya Des...pikirkan dulu baik- baik, apa keputusan yang kamu buat baik untuk kamu dan calon anak kamu," ujar Lusiana.
__ADS_1
" Tadi aku sudah meminta cerai pada Mas Nino Lus, kamu tau apa jawabannya?"
"Apa Des?"
"Dia bilang, baguslah kalau kamu tau diri...aku juga udah bosan sama kamu...kalau kita bercerai aku tidak ingin kamu tinggal di rumahku."
Lusiana mengepalkan jarinya, tega- teganya Nino melakukan itu...padahal Desi sedang mengandung anak mereka.
"Aku ingin cerai darinya Lus...tapi aku tidak tau mau tinggal dimana kalau kami bercerai nanti."
"Nanti saja dipikirkan hal itu nantinya Des, cuma kamu sudah yakin ingin bercerai dalam keadaan lagi hamil begini, pengadilan pun belum tentu menyetujuinya Des..." ucap Lusiana lagi.
"Tapi aku tidak tahan Lus...ia sudah menghamili wanita lain, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Mona."
"Begini saja, aku punya teman seorang pengacara Lus...mungkin kita bisa minta bantuan dari dia," Aldo yang dari tadi diam saja akhirnya buka suara.
" Tapi aku ga punya uang buat bayar pengacara," jawab Desi.
"Tenang saja...dia teman baikku, aku sering meminta bantuannya...ia juga sering membantu kasus- kasus orang yang tidak punya uang tanpa minta bayaran," ujar Aldo.
" Sebaiknya kita konsultasikan dulu sama dia," tambah Aldo.
"Baiklah kalau begitu, makasih untuk bantuannya Aldo," ucap Desi.
"Sama- sama."
"Des, nanti kita bicara lagi kalau udah ada pengacara teman Aldo...sekarang kamu jangan banyak pikiran dulu...kasihan anakmu...kita pulang dulu ya...kamu istirahat juga," pamit Lusiana.
"Makasih ya Lus kamu mau datang dengerin masalahku," ucap Desi.
"Sama- sama Des...kita kan sekarang udah jadi teman," jawab Lusiana.
"Ayo Al kita pulang dulu," ajak Lusiana.
"Oke."
"Des...kalau ada apa- apa jangan segan- segan telepon aku ya," kata Lusiana.
" Iya Lus...makasih ya.."
"Oke Des...kita pamit ya..."
Aldo lalu mengantar Lusiana kembali ke rumah Lusiana.
"Kelewatan ya Lus si Nino....berani- beraninya lagi dia coba mendekatimu."
" Iya Al...betul yang dikatakan mas Hendra tentang Pak Nino...pantesan mas Hendra marah waktu itu."
"Syukurlah Lus...kamu dapat bos yang baik...kasihan Desi ya Lus."
" Iya Al, mana ada isteri yang rela suaminya menghamili wanita lain."
"Tidak salah kalau Desi minta cerai pada Pak Nino."
__ADS_1
"Cuma apa Pak Nino ga punya hati ya? seenggaknya ia harus menahan Desi untuk menggugat cerai sampai Desi melahirkan," ujar Aldo.
"Yang namanya laki- laki udah ga cinta lagi dan ga setia Al...ia ga berpikir lagi sampai sejauh itu."