Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Nino: suka atau tertantang?


__ADS_3

Aku sepertinya mulai menyukai gadis yang bernama Lusiana.


Tadi siang aku sempatkan menemuinya di kantor tempat gadis cantik itu bekerja.


Dari pandangan pertama kali aku berkenalan dengannya di kantorku, aku mulai tertarik padanya.


Kulitnya yang putih bersih, hidungnya yang bangir, matanya yang bening, bibirnya yang mungil.


Tubuhnya juga proporsional, tidak terlalu tinggi tapi cukup untuk ukuran wanita Asia. Langsing dan enak dilihat memanjakan mata.


Kecantikannya sederhana, alami tanpa polesan seperti gadis- gadis yang sering kutemui.


Senyumnya sangat manis menurutku, sanggup memenuhi pikiranku akhir- akhir ini.


Aku juga merasa tertantang, sepertinya Lusiana bukanlah gadis sembarangan yang gampang ditaklukkan. Buktinya pesan whatshapp ku tidak satupun yang dibalasnya.


Ia juga biasa- biasa saja saat aku memanggilnya cantik. Tak membuatnya merespon rayuanku.


Semakin sulit, semakin ku penasaran untuk mendapatkannya.


Aku memang bukan pria kaya- raya, tapi aku memiliki posisi penting di perusahaan tempatku bekerja.

__ADS_1


Tadinya aku bekerja di kantor cabang yang lain milik perusahaan tempatku bekerja, tapi karena prestasi yang kucapai aku ditarik ke kantor pusat.


Gaji yang kudapat setiap bulan cukuplah besar, jadi aku termasuk pria yang cukup mapan.


Banyak wanita di luar sana yang menyukai dan mencari perhatianku. Tapi bagiku mereka hanya selingan untukku bersenang-senang.


Toh mereka juga mengincar uangku, aku bukan pria bodoh yang gampang dimanfaatkan wanita.


Prinsipku nikmati hidup selagi masih muda dan punya uang, apalah arti tiap hari bekerja keras kalau tidak untuk dinikmati.


Wanita lain banyak yang mengejar- ngejarku. Aku masih muda dan berwajah cukup tampan.


Berbeda dengan Lusiana, ia sepertinya tidak begitu tertarik, tapi di situlah letak kelebihannya dan membuatku ingin mendekatinya.


Aku sengaja meluangkan waktuku untuk menemuinya.


Aku juga belum mendapatkan alamat rumahnya. Padahal tadi siang aku hampir mendapatkan alamatnya, cuma sialnya Si Hendra, bosnya Lusiana tadi siang mengacaukannya. Ia muncul di saat yang tidak tepat. Huh, kesal sekali aku jadinya.


Aku mempunyai dua tempat tinggal, satu tempat tinggal yang kutempati bersama keluargaku di Kota Sungailiat.


Aku juga sempat membeli satu rumah di kawasan kota Pangkalpinang. Rumah ini hanya kutempati sekali-sekali hanya pas aku lagi ada tugas ke kota Pangkalpinang.

__ADS_1


Hal ini juga bisa mempermudah urusanku untuk mendekati Lusiana. Aku ga perlu bolak- balik Pangkalpinang - Sungailiat.


Aku bisa meluangkan waktuku di akhir pekan. Sabtu Minggu waktu yang tepat untuk mencapai tujuanku.


Aku juga punya banyak kenalan yang ada di kota Pangkalpinang. Aku sering main ke sana kalau lagi ada berasa jenuh.


Aku mendapatkan nomor hp Lusiana dari Wati, staffku di kantor. Aku pernah mengajaknya ngobrol di whatshapp, tapi cuma ia baca dan tak pernah membalasnya.


Aku ingin mencoba lagi mengajaknya ngobrol, mungkin waktu itu dia lagi sibuk jadi ga sempat membalas pesanku.


Ku keluarkan hp ku, lalu segera ku ketik pesan.


" Halo cantik, lagi apa?"


Tanda centang dua tapi belum berwarna biru, artinya pesanku udah masuk tapi belum dibaca.


" Minta alamat rumahnya dong cantik, kita kan temenan."


" Masa teman sendiri ga dikasihtau alamat rumahnya."


Pesan masih belum dibaca, aku memandang dengan penuh harap.

__ADS_1


Aku mendesah, tapi tidak patah semangat. Masih banyak waktu dan kesempatan untuk menarik perhatian seorang Lusiana.


__ADS_2