
Eni janji akan datang sore ini, ia mengirim pesan padaku.
Seharian ini aku merasa sangat bosan, aku tidak melakukan apa- apa, mama tidak mengizinkanku untuk membantunya.
"Istirahat aja Nak, kamu belum pulih...lihat aja lenganmu aja masih memar gede kayak gitu," begitu kata mama padaku.
" Tapi ma, Lusi bosan banget ga ngapa- ngapain," jawabku.
Mama mencubit lembut hidungku, mama tertawa.
" Orang lain bosan kalau disuruh kerja, kamu disuruh istirahat malah bosan."
" Jahitan di kepalamu saja belum dibuka, kamu ada- ada aja Nak," sambung mama lagi.
Terdengar suara motor gede berhenti di depan rumahku.
Belum sore...Eni yang datang?
Mama langsung keluar melihat siapa yang datang, lalu membuka pintu teralis depan.
"Siang Tante Nadya," sapa dua orang tamu yang baru datang.
" Siang...Herman? Yanti? ayo masuk, silahkan duduk," mama mengajak tamunya masuk.
Aku keluar dari ruang tengah.
" Halo Kak Yanti...Herman..." sapaku pada mereka.
" Gimana Lus udah baikan? kamu kok ga ngasihtau kamu kecelakaan?" tanya kak Yanti padaku.
" Ga parah Kak, sengaja ga ngabarin biar ga bikin cemas...takut ngerepotin Kak Yanti," jawabku tersenyum.
" Aku kan kakakmu, benar- benar kamu Lus," omelnya.
" Maaf Kak," jawabku nyengir.
Mama dari dapur mengambilkan minum untuk Kak Yanti dan Herman.
"Minum Nak," mama meletakkan nampan yang berisi dua gelas air putih di atas meja tamu.
" Makasih Tan."
" Ngomong- ngomong kalian kok bisa bareng? tanya mama.
"Tadi Yanti minta dijemput ke kantornya Tan, katanya pengen jenguk Lusiana," jawab Herman.
" Makasih ya Nak udah repot- repot jenguk Lusi," ucap mama.
" Ga repot kok Tan," jawab Kak Yanti.
"Bagaimana bisa ditabrak motor sih dek?" tanya Kak Yanti padaku.
" Ga tau Kak, namanya juga musibah," jawabku.
"Kata Mas Aldo, syukurnya ga ada yang parah Lus, Kakak sampai kaget lho," ujar kak Yanti.
" Kalian udah makan siang?" tanya mama pada Kak Yanti dan Herman.
" Udah Tan."
" Tadi kata mama nanti mau jenguk Lusiana ke sini," Herman memberitahu mamaku.
__ADS_1
" Mamamu lagi sibuk apa Nak?"
" Biasa Tan ngurus bunga- bunganya, sama kayak Tante punya banyak bunga," kekeh Herman.
" Anak udah gede, ga ada yang diurusin lagi ha...ha..," tambah Herman lagi.
"Siapa bilang anak udah gede ga perlu diurusin, ini kalau lagi sakit tetap aja harus diurusin," tawa mama.
Aku hanya nyengir mendengar candaan mama.
" Nanti juga ngurusin cucu, kalau kamu udah nikah dan punya anak Nak," mama meledek Herman.
Ku lihat wajah Kak Yanti bersemu merah, syukurlah seperti cerita Aldo padaku Kak Yanti lagi dekat dengan Herman.
Aku turut senang, akhirnya Kak Yanti punya seorang yang dekat dan mencintainya.
" Ha...ha...Tante Nadya bisa aja," Herman membalas ucapan mama dengan tertawa.
" Ini ngomong- ngomong kapan kirim undangan ke Tante?" ledek mama lagi.
" Sekarang juga boleh Tan...undangan makan- makan aja kan, Tante mau makan di mana?" ledek Herman balik.
Herman sudah terbiasa bercanda dengan mama, karena mama dan Tante Dewi sering ketemu dan ngobrol.
Dari kecil, Herman udah terbiasa bertemu dengan mama.
Sama halnya aku dengan Tante Dewi juga sudah akrab karena mama dan Tante Dewi hubungannya sudah seperti keluarga, saling berkunjung dan selalu memberi kabar.
Apalagi letak rumah kami yang tidak terlalu jauh.
" Bukan undangan makan yang kayak gitu," sahut mama.
" Herman sih maunya cepat Tan...tergantung yang diajak mau ga cepat- cepat," Herman melirik ke arah Kak Yanti.
Mama dan aku tertawa melihatnya.
Andai sikap Tante Linda bisa seperti Kak Yanti, alangkah senangnya.
" Nanti Yanti masih balik ke kantor?" tanya mama.
" Ga Tan, udah kuculik dia, Aldo ga akan berani marah- marah..." Herman tertawa.
" Tadi udah izin ke mas Aldo Tan, katanya ga apa- apa ga usah balik lagi ke kantor," Kak Yanti menjelaskan.
"Gimana hubunganmu dengan Aldo Lus? kakak senang kalau kamu dekat sama dia," Kak Yanti beralih padaku.
" Aldo laki- laki yang baik," katanya lagi.
"Aku bukan laki- laki yang baik gitu?" Herman meledek Kak Yanti.
" Bukan begitu, aku kan lagi ngomongin Aldo bukan kamu," Kak Yanti memukul lengan Herman lagi.
"Dari tadi dipukul- pukul sama ponakan Tante nih," ledek Herman.
Mama dan aku tertawa melihat tingkah dua orang di depanku ini.
" Oh ya Lus, Aldo sering bicarakan kamu sama aku, dia benar- benar suka sama kamu dek," sambung Kak Yanti.
" Lusi temenan dulu aja Kak Yanti, ga tau ke depannya....jodoh ga ada yang tau," jawabku.
"Betul sekali Lus, seperti Kak Yanti mu ini aja Lus dulunya kan dia naksir sama Aldo, siapa sangka akhirnya malah pacarannya sama sepupunya Aldo," Herman kembali meledek Kak Yanti.
__ADS_1
Kak Yanti langsung memukul lengan Herman lagi.
" Dasar ga bisa dipercaya...tau begini ga mau aku cerita sama kamu," kata Kak Yanti cemberut.
Herman tertawa lebar, tampaknya senang sekali ia meledek pacarnya itu.
"Awas saja kalau kamu masih ada perasaan sama Aldo...," ledek Herman lagi.
Kak Yanti mencubit pinggang Herman, sementara yang dicubit mengaduh sambil tertawa- tawa.
Mama hanya menggelengkan kepala dan aku tertawa melihat mereka.
Hatiku terhibur melihat tingkah laku Kak Yanti dan Herman.
Dari semalaman, aku masih memikirkan cerita Mas Hendra tentang perasaannya dan juga karena papa Hendra yang sengaja mencelakai ku.
Aku seakan "dipaksa" terlibat dalam pertentangan antara anak dan ayah itu.
Padahal itu hanya tentang perasaan Mas Hendra yang tidak mau dijodohkan dengan Firda.
Bagaimana kalau seandainya aku beneran pacaran dengan Mas Hendra?... aku ga bisa membayangkan apa yang akan papanya lakukan padaku.
"Hai Lus, kok bengong aja...lagi mikirin Aldo ya?" Kak Yanti meledekku.
Candaan Kak Yanti membuyarkan lamunanku.
" Ga lah Kak...kita kan cuma temenan..." jawabku tersenyum.
" Kata Aldo, saingannya banyak Yan...," Herman meledekku.
"Kamu bisa aja Her...semua cuma teman," jawabku tertawa.
"Semalam aja kata Aldo saingannya pada ngumpul semua...ha...ha..."
"Bagus dong kalau begitu...biar banyak pilihan," Kak Yanti yang menjawab.
"Aldo harus berjuang keras tuh...ha...ha.." ledek Herman.
" Udah ah, kamu cuma bisa meledek orang," ucap Kak Yanti pada Herman.
" Biar ga terlalu serius sayang...," Herman menowel dagu Kak Yanti.
Kak Yanti cuma mesem- mesem.
Mama dan aku tertawa.
"Sudah sore nih, yuk balik...kita mampir ke mama dulu," ajak Herman pada Kak Yanti.
"Ayuk."
"Tante...Lus...kita pulang dulu ya," pamit Kak Yanti.
"Cepat sembuh ya Lus...kita pamit dulu. Kita balik dulu ya Tan...," Herman pamit padaku dan mama.
" Makasih ya udah dijenguk," jawabku pada mereka.
"Hati- hati bawa motornya Nak..," ucap mama.
" Iya Tan..."
Kak Yanti dan Herman lalu pulang...
__ADS_1
Eni datang tak lama kemudian...
"Lus....