
Dua hari ini aku berusaha menghindari Pak Nino.
Ia masih berusaha mendekatiku, padahal aku sudah menolaknya secara halus.
Beruntung aku bisa meminta bantuan mas Dirga.
Hari ini tepat jam lima sore, mas Dirga meneleponku.
" Hari ini butuh dijemput Lus?" tanyanya.
" Hari ini sepertinya aman mas Dirga, Lusi naik angkot saja," jawabku.
Aku dan Mbak Tin sudah melangkah keluar gerbang kantor, dan mbak Tin juga membantuku melihat kalau- kalau ada Pak Nino.
" Aman Lus," kata mbak Tin tertawa.
Aku menghembuskan napas lega, dua hari ini aku dibuat bingung mencari- cari alasan untuk menolak ajakan Pak Nino.
*********
POV Nino
Besok aku kembali ada tugas di Kota Pangkalpinang, sore ini aku meluncur dengan mobilku menuju kota Pangkalpinang.
Aku melajukan mobilku sambil memikirkan Lusiana, besok aku akan mencoba mencari rumah Lusiana.
Dari Lusiana aku tidak mendapatkan apa- apa, mungkin aku harus menggunakan cara lain.
Aku akan menguntitnya secara diam- diam.
Seorang Nino akan melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya.
Keesokan sorenya,
Setelah pekerjaanku selesai, aku pulang ke rumahku untuk meninggalkan mobilku.
Aku pergi dengan menggunakan taxi online.
Aku membayar sejumlah uang agar sopir taxi online yang kupesan mau kuajak kerja sama.
Taxi online itu meluncur menuju ke tempat yang kuminta, lalu aku menyuruhnya berhenti dan parkir di tempat yang tidak jauh dari kantor Lusiana.
Aku mengawasi pintu gerbang yang masih dalam keadaan tertutup.
Aku melihat jarum jam tanganku...
" Tinggal lima menit lagi," gumamku.
Pintu gerbang kantor Lusiana dibuka lima menit kemudian, aku mengawasi dengan tajam ke arah pintu gerbang yang sudah terbuka lebar.
Lalu satu persatu karyawan di situ sudah mulai keluar.
Aku tersenyum senang ketika orang yang ku "incar" sudah keluar bersama temannya yang bertubuh agak subur itu.
Mereka berdua terlihat celingukan mencari sesuatu.
Lalu keduanya berjalan menuju tempat mangkal angkot.
Aku menyuruh sopir taxi mengikuti mereka dari jarak aman.
Lusiana dan temannya masuk ke dalam angkot.
"Tunggu di sini dulu Pak, nanti kalau angkot yang dimasukin dua orang perempuan itu jalan, ikutin dari belakang," suruhku pada sopir taxi.
" Itu pacarnya mas?" tanya sopir taxi itu padaku.
" Betul Pak," jawabku penuh percaya diri.
__ADS_1
"Yang gemuk atau yang langsing?" tanyanya lagi.
"Yang langsing dong Pak, kan lebih muda masa yang gemuk," jawabku.
" Pacarnya cantik mas," kata sopir taxi itu lagi.
"Iya dong Pak, kan pacar saya," jawabku dengan bangga.
Tak lama kemudian, angkot itu sudah mulai bergerak, penumpangnya sudah terisi penuh.
"Jalan Pak, ingat nomor plat angkot itu. Ikuti..." perintahku.
Aku tersenyum penuh kemenangan, kali ini Lusiana tidak bisa mengelak lagi.
Aku bisa mendatangi rumahnya kapanpun aku mau.
Mobil taxi yang kutumpangi selalu mengikuti di belakang mobil angkot yang Lusiana tumpangi.
Ketika satu persatu penumpang turun, maka mobil taxi ikut berhenti di belakangnya.
Aku menyuruh sopir taxi menjaga jarak agar jangan terlalu dekat dengan mobil angkot itu.
Aku takut nanti terjadi salah paham, dan nanti malah digebukin rame- rame.
Akhirnya tiba waktunya Lusiana untuk turun, kulihat gadis itu melambaikan tangannya pada temannya.
Dia melangkahkan kakinya pada sebuah rumah yang di depannya banyak tanaman bunga.
"Akhirnya aku tau juga di mana kamu tinggal," senyumku.
Aku menyimpan letak rumah Lusiana di dalam otakku.
Lalu aku ingat untuk mengeluarkan ponselku dari dalam saku kemejaku.
Aku memfoto rumah Lusiana dan Lusiana yang sedang berjalan masuk pun tidak luput dari kemera ponselku.
" Tidak usah lain kali saja, ayo Pak kita balik ke rumahku," ajakku.
Yang penting aku sudah mengetahui lokasi rumah Lusiana.
Kalau aku mampir sekarang, Lusiana akan mengetahuinya kalau aku telah menguntitnya.
Bisa- bisa malah membuat ia curiga dan berpikir negatif padaku.
Aku akan menyusun rencana untuk langkah selanjutnya.
Mobil taxi yang kutumpangi memutar arah lalu kembali menuju rumahku.
aku tersenyum memuji kecerdasan otakku, kalau hari ini aku menggunakan mobilku Lusiana pasti sudah mengenali mobilku.
Ia pasti tidak menyangka kalau aku bisa menggunakan cara ini untuk mendapatkan alamat rumahnya.
Kebetulan aku juga masih ada tugas di kota Pangkalpinang, maka aku akan memanfaatkan waktu dengan sebaik- baiknya.
********
Keesokan sorenya, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku hari ini aku mengendarai mobilku menuju ke rumah Lusiana.
Aku sudah membeli buah- buahan yang akan kubawa ke rumahnya.
Rencana pertama mulai kujalankan.
Aku akan mendekati orangtua Lusiana, yang pernah kudengar hanya tinggal mamanya saja.
Aku membelokkan mobilku di halaman rumah Lusiana.
Seorang wanita yang kupastikan merupakan mama Lusiana sedang merawat bunga yang ada di halaman depan rumah Lusiana.
__ADS_1
Ia melihat aku turun dari mobil, mungkin dia bertanya- tanya siapa tamu yang datang ke rumahnya.
Ku lihat wajah mama Lusiana yang walaupun sudah berumur, masih terlihat jelas sisa- sisa kecantikannya di masa muda.
Sepertinya kecantikan Lusiana menurun dari mamanya ini.
"Sore Tante, Lusiananya ada?" aku menyapanya dan pura- pura bertanya.
Aku sudah tau, jam segini Lusiana pasti belum nyampe ke rumah.
"Sore...Lusiananya belum pulang kerja Nak," jawab mama Lusiana ramah.
"Saya Nino.. teman Lusiana Tante...ingin menemuinya. Boleh saya menunggu Lusiana Tante?" aku menyalami tangan mama Lusiana.
Mama Lusiana melepas sarung tangan plastik yang ia kenakan, lalu menyambut tanganku.
"Silahkan saja Nak Nino, ayo masuk duduk di dalam saja," jawabnya.
Aku lalu menyerahkan buah tangan yang aku bawa.
" Kenapa repot- repot Nak?" mama Lusiana menerima pemberianku.
"Cuma buah saja Tante," jawabku sopan.
"Makasih Nak, ayo masuk," ajaknya.
Mama Lusiana mengajakku masuk.
"Silahkan duduk Nak, bentar ya Tante ambilin minum," mama Lusiana lalu menuju ke belakang rumahnya.
Aku melihat sekeliling rumah Lusiana, tampak rapi dan bersih.
"Akhirnya aku bisa juga sampai ke sini," gumamku bersorak dalam hati.
Aku akan menjaga sikapku di depan mama Lusiana, aku harus bisa mengambil hatinya agar menyukaiku.
Mama Lusiana membawa teh manis dan sepiring pisang goreng dan meletakkannya di atas meja tamu.
"Minum Nak, dan dimakan baru digoreng...pisang gorengnya masih hangat," kata mama Lusiana.
"Makasih Tante," anggukku.
"Nak Nino tinggal di mana?" tanya mama Lusiana.
"Di Sungailiat Tante, saya lagi ada tugas di Pangkalpinang jadi berada di sini. Tapi saya juga rumahnya ada di Pangkalpinang Tante...jadi kadang bolak balik Sungailiat- Pangkalpinang," jawabku sopan.
Mama Lusiana mengangguk.
" Tante tinggal berdua saja dengan Lusiana?" aku pura- pura bertanya.
"Iya Nak, papa Lusiana sudah meninggal...kedua Abang Lusiana sudah menikah dan tinggal di kota lain di luar pulau," jawab mama Lusiana.
Aku manggut- manggut, lalu mencari bahan pembicaraan agar bisa terlihat akrab.
" Tante sudah punya cucu?" tanyaku lagi.
"Sudah ada empat, masing- masing Abang Lusiana punya dua anak," jawabnya tersenyum ramah.
Aku tersenyum mendengar jawabannya.
Tak lama kemudian, Lusiana pulang ke rumah.
"Halo Lusiana..." sapaku.
"Pak Nino...bagaimana bisa tau rumah Lusiana?" tanyanya heran.
" Dari....
__ADS_1