
Ku lihat mata mama agak bengkak, mama seperti habis menangis.
Aku merasa bersalah, beberapa hari ini aku tidak memperhatikan mama.
Aku terlalu sibuk dengan urusan Lusiana.
Ada apa dengan mama? apa mama habis bertengkar dengan papa?
Ku lihat sikap mama pada papa tidak seperti biasanya, biasanya mama penuh perhatian dan suka bercandain papa.
Sikap mama juga terlihat dingin pada papa, walaupun sesekali masih menjawab kalau papa mengajak mama bicara.
Apa mama dan papa bertengkar tanpa aku ketahui?
Apa gara- gara aku?
Aku menghampiri mama, mama tersenyum begitu aku mendekat.
Aku memeluk lengan mama dan menyandarkan kepalaku padanya.
Mama membelai lembut rambutku, sudah agak lama aku tidak bermanja- manja pada mama.
"Ma..." panggilku.
" Hmmm...iya Nak," jawab mama.
" Hendra boleh tanya pada mama?"
" Tanya apa Nak?" tanya mama menatap wajahku.
" Apa mama dan papa habis bertengkar?" tanyaku hati- hati.
Mama terdiam sebelum menjawab pertanyaanku.
"Kamu tau dari mana mama dan papa habis bertengkar hm?"
" Hendra mengira- ngira aja ma, benar ma?"
Mama mengangguk...
"Apa karena Hendra Ma?" tanyaku lagi.
" Bukan karena kamu Nak, papamu saja yang terlalu egois...mama hanya berusaha meluruskan papamu," jawab mama.
" Lalu mama banyak menangis? mata mama bengkak," ucapku lagi.
Mama memegang matanya.
" Benarkah?" tanya mama padaku.
Aku mengangguk.
Mama menghela napas panjang.
" Maafkan mama Nak, mama sudah berusaha," ujarnya dengan wajah sendu.
Aku memeluk mama...kutatap matanya.
"Apa ini ma?" kuraba pipi mama, ada bekas merah di sana.
Mama memegang pipinya, mama memiringkan wajahnya menjauh dariku.
"Papa menampar mama?" tanyaku dengan pandangan penuh selidik.
" Bukan Nak, ini bukan apa- apa," jawab mama menghindar.
"Hendra bukan anak kecil lagi ma, berani papa melakukan itu pada mama," aku bangun dari tempat dudukku.
Aku mengepalkan kedua jemariku, akan ku susul papa.
__ADS_1
Aku beranjak pergi, tapi mama dengan buru- buru menarik tanganku.
" Kamu mau kemana Nak?" tanyanya khawatir.
"Hendra mau buat perhitungan dengan papa," jawabku penuh kemarahan.
"Jangan Nak, tolong..." kata mama memelas.
" Papa sudah kelewatan ma...," jawabku berapi- api.
" Tolong dengarkan mama Nak, tenangkan dirimu," mama memegang kencang tanganku.
"Lepaskan tangan mama, Hendra tidak bisa diam saja," jawabku berusaha melepaskan tangan mama.
Mama menangis...
" Tolong dengarkan mama sekali ini saja Nak...kendalikan emosimu...," isak mama.
" Mama mohon....jangan pergi, kalau kamu masih menganggap mama sebagai mama kamu...tolong kali ini dengarkan mama Nak...," mama menatapku berlinangan air mata.
Aku memeluk mama dengan erat...mama menangis di dadaku.
Aku terpaksa mendengarkan mama, kali ini aku terpaksa memendam kemarahanku pada papa.
Entah apa yang akan kulakukan pada papa kalau mama tidak menahan ku.
Mama pasti takut aku akan bertengkar dengan papa, lalu kami akan saling menyakiti.
Kasihan mama, demi membelaku mama yang harus menanggung keegoisan sikap papa.
Hati mama pasti sakit, orang yang selama ini mendampinginya tega menyakiti mama hanya demi sebuah ego.
Aku melepaskan pelukan pada mama setelah kulihat mama sudah tenang.
Aku membimbing mama untuk duduk, sesekali masih ada bulir- bulir air matanya yang menetes turun ke pipi wanita yang kucintai itu.
Aku mengusap lembut air mata mama, hatiku sakit melihat wanita yang kucintai ini harus menangis.
"Tapi Hendra tetap akan menegur papa," ucapku tegas.
"Jangan Nak, biarkan saja papamu...," jawab mama.
"Tapi ma...Hendra tidak bisa diam saja melihat papa sudah berani main tangan, apalagi karena mama membela Hendra."
"Mama tidak ingin ada pertengkaran antara ayah dan anak, mama takut kamu jadi anak durhaka...takut kamu emosi lalu memukul papamu sendiri Nak," kata mama lagi.
" Mama sudah mengenal sifat papa, ia tidak akan segan- segan kalau kamu berani melawannya Nak, tolong lupakan masalah papa yang menampar mama," ucap mama padaku.
" Mama mau, kalau kamu di depan papa pura- pura tidak tau saja," sambung mama lagi.
"Kamu mau berjanji pada mama Nak? tolong jangan ungkit masalah ini di depan papa."
" Baiklah ma...Hendra janji. Tapi hanya untuk kali ini. Kalau papa melakukannya di lain waktu, Hendra ga akan segan- segan lagi," tambahku lagi.
" Ngomong- ngomong bagaimana keadaan Lusiana Nak?" tanya mama.
" Masih izin ma...masih butuh waktu untuk pemulihan lukanya," jawabku.
"Ma...Hendra sudah memberitahu Lusiana tentang perasaan Hendra padanya juga tentang perbuatan papa padanya," ceritaku pada mama.
Mama agak terkejut mendengar ceritaku.
"Lalu apa kamu meminta maaf padanya karena perbuatan papa?"
" Sudah ma, Lusiana tidak marah...tapi ia hanya mau berteman denganku sementara ini ma."
" Lusiana tidak mau menjalin hubungan tanpa restu katanya ma..."
" Mama udah bisa nebak...Lusiana gadis yang baik...ia punya harga diri, mama makin suka padanya," ucap mama.
__ADS_1
"Andai papa punya pemikiran yang sama seperti mama..."
"Sabar ya Nak...," mama mengusap lembut tanganku.
Terdengar suara mobil papa pulang...
Mama menatapku.
"Ingat ya Nak, jangan diungkit," bisik mama pelan.
Aku menggangguk.
"Sayang.....," suara Firda memanggilku.
Aku saling berpandangan dengan mama, ternyata Firda ikut papa ke rumah.
Astaga...
" Malam Tante...," panggilnya pada mamaku.
"Malam Firda...kok ada di sini?" sahut mama.
"Ikut Om Bey Tan...tadi Om Bey mampir ke rumah Firda, ketemu papa," jawabnya.
Papa benar- benar sudah keterlaluan, bikin suasana hatiku semakin tidak enak.
"Sayang..." Firda langsung bergelayut manja memeluk lenganku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
Mama yang melihatnya hanya bisa diam mengawasi Firda.
Aku mendorong pelan tubuh Firda, risih rasanya dipeluk- peluk olehnya.
Papa masuk belakangan dan tersenyum simpul melihat Firda yang masih berusaha memeluk lenganku.
Perasaanku langsung menjadi sangat sebal plus kesal.
"perempuan model apa yang akan dijodohkan denganku oleh papa ini?" gumamku dalam hati.
Berbanding terbalik dengan Lusiana yang selalu menjaga tingkah lakunya.
Aku selalu membanding- bandingkan sikap Firda dengan Lusiana.
Tiba- tiba aku sangat merindukan gadis itu, entah sedang apa Lusiana saat ini.
Aku tersenyum sendiri.
"Nah gitu dong senyum sama aku...ganteng deh kalau senyum begitu," kata Firda mengagetkanku.
Aku langsung menarik senyumku, astaga Firda mengira aku tersenyum padanya.
Ku lihat papa juga tersenyum senang, astaga Hendra apa yang kamu lakukan.
Aku menyumpah dalam hati...
Firda kembali memeluk lenganku
" Sayang....kita duduk di depan teras yuk," ajaknya.
"Banyak nyamuk," jawabku enggan.
"Enggak kok, anginnya kencang di depan ga ada nyamuk," rajuknya lagi.
Ini pasti akal- akalan Firda agar bisa berduaan denganku.
" Angin kencang, nanti masuk angin," tolakku.
"Anak laki kok takut masuk angin," sahut papa.
Sebal banget aku...andai tidak ingin menjaga perasaan mama dan sopan santunku sebagai anak, pasti sudah kubalas papa dengan jawaban ini.
__ADS_1
"Kalau begitu...papa saja yang temani Firda di depan."
Tapi ku telan saja jawaban itu...