
Entah mengapa, akhir- akhir ini kepalaku selalu terisi dengan bayangan seorang gadis cantik yang berhasil menjerat hatiku.
Lusiana selalu selalu ada dalam pikiranku. Pagi, siang, malam bahkan dalam mimpiku bayangan gadis itu selalu menggodaku.
Aku tau, Lusiana tidak pernah membalas semua pesanku dan sikapnya pun terkesan menghindari aku.
Tapi semakin ia menjauh, semakin aku ingin berlari mengejarnya.
Walaupun tak mudah untuk mendapatnya, aku - seorang Nino tak akan segampang itu untuk menyerah.
Lihat saja nanti, akan ku buat gadis itu bertekuk lutut meminta cintaku.
Aku selama ini terkenal sebagai penakluk wanita, banyak wanita yang tidak bisa menolak pesonaku.
Pas di hari Minggu, aku seperti biasa lagi berada di rumahku yang ku beli di pusat kota, besok Senin juga aku kebetulan ada tugas ke luar lapangan mengunjungi beberapa relasi perusahaan tempatku bekerja.
Jadi hari ini dan besok aku punya banyak waktu untuk menjalankan misi ku.
Saat siang ku coba menelepon Lusiana.
Aku ingin menemuinya.
Aku ingin meminta alamat rumahnya yang sampai ini belum kudapatkan.
Kalau lewat pesan whatshapp percuma, ia tidak akan pernah membalas pesanku.
Sudah beberapa kali aku mengirimkan pesanku, cuma ada tanda centang biru yang artinya gadis itu sudah membaca pesanku.
Tapi percuma, ia tidak pernah membalas pesanku itu.
Aku tidak pernah kehabisan akal, akan ku hubungi gadis itu dengan sambungan ponselku.
Seorang Nino tidak akan menyerah hanya karena pesan yang tidak terbalaskan.
Ku dengar nada tersambung ke nomor ponsel gadis itu dan yes...ia mengangkatnya.
"Halo...," lembut terdengar suara gadis yang kurindukan itu.
"Halo cantik, lagi ngapain?"
Gadis itu lama tidak menjawab, mungkin ia langsung bisa menebak aku lah yang sudah meneleponnya.
Entah apakah nomor kontakku sudah disimpannya di daftar kontaknya atau tidak.
Besar kemungkinan ia tidak menyimpan nomor kontakku, ini bisa kutebak karena gadis itu langsung mengangkat telepon dariku.
Aku tau dari sikap gadis itu, ia berusaha menjaga jarak dariku.
Walaupun aku bertemu dengannya masih dalam hitungan jari, tapi aku bisa membaca dari gerak tubuhnya.
"Halo...kok diam aja sih? lagi mikirin aku ya?" kataku lagi menggodanya dengan percaya diri.
"Eh iya Pak," jawabnya terbata.
Ku tebak ia pasti saat ini sangat gugup.
"Jangan panggil aku dengan panggilan bapak dong, kesannya aku udah tua banget, kan kita lagi di luar urusan kantor, panggil mas dong," kataku lagi.
__ADS_1
"Saya sudah terbiasa Pak, bapak kan relasi kantor saya, ga enak kalau saya panggil bapak dengan mas."
Aku agak kecewa, tapi tidak apa- apa ini baru permulaan, namanya juga usaha.
"Jangan begitu dong, kan ini di luar urusan pekerjaan, katanya kamu mau berteman dengan aku. Terus ngomongnya pake aku kamu dong jangan pake saya saya biar akrab gitu," kataku dengan tertawa kecil.
Terdengar hening sesaat, gadis itu kembali terdiam.
"Tuan Puteri bengong lagi, jawab dong jangan diam aja, kalau begini kamu tambah bikin aku gemes deh," kataku tertawa lagi.
"Saya ga tau mau ngomong apa Pak, sebenarnya bapak menghubungi saya ada apa?" tanya gadis itu kemudian.
"Aku lagi di Pangkalpinang nih, sengaja mau main ke rumah kamu. Share loc rumah kamu sekarang ya."
Aku berdoa dalam hati, agar gadis itu mau mengabulkan permintaanku.
"Maaf Pak, saya bentar lagi mau pergi," jawabnya membuatku kecewa lagi.
" Kalau boleh tau mau pergi kemana?"
"Ada deh, bapak mau tau aja urusan perempuan," jawabnya.
Aku menghela napas, ternyata memang tidak gampang menaklukkan seorang Lusiana.
" Ya sudah kalau begitu, lain kali saja aku main ke rumahmu," mungkin aku tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa.
Aku lalu berpamitan dan menutup sambungan ponselku.
Ya sudahlah, anggap aja aku hari ini belum beruntung. Akan kucoba lagi kali.
Aku mungkin akan mencoba mencari alamat rumah Lusiana dari kenalan yang mengenal gadis itu.
Aku akan mencari cara agar bisa mendekatinya, tidak cukup hanya dengan rayuanku saja.
Aku bangun dari tempat duduk, sumpek juga sendirian di rumahku ini.
Sepi, Bi Ida asisten rumah ku tadi sudah pulang ke rumahnya.
Bi Ida adalah orang yang ku tugaskan untuk mengurus dan membersihkan rumah keduaku ini, rumah ini hanya kutempati setiap Sabtu Minggu saja atau bila ada tugas lapangan ke kota ini.
Selebihnya aku lebih banyak di rumah yang kutinggali bersama keluargaku di Kota Sungailiat.
Bi Ida hanya datang tiap pagi, setelah tugasnya selesai ia akan kembali ke rumahnya, ia juga punya kunci cadangan rumah ini agar ia bisa masuk kalau aku lagi pulang Ke Sungailiat.
Aku mengunci pintu rumahku dan menuju mobilku yang terparkir di halaman rumahku.
Mending aku jalan- jalan menghilangkan kekecewaan ku setelah gagal untuk menemui Lusiana di rumahnya. Alamatnya saja susah kudapatkan.
Aku mengemudikan mobilku dengan perlahan, belum tau akan kuarahkan kemana tujuanku.
Aku memutari pusat kota sambil mendengarkan musik.
Setelah puas berkeliling pusat kota, aku mengarahkan mobilku ke arah Pantai Pasir Padi, pantai yang ada di Pangkalpinang.
Kenapa baru terpikirkan untuk berjalan- jalan ke pantai saja.
Aku teringat lagi bayangan wajah Lusiana, kubayangkan kecantikan wajahnya, tubuhnya yang langsing, senyum manisnya yang membuatku mabuk kepayang.
__ADS_1
Aku membayangkan mencium bibirnya yang mungil sambil memeluk tubuhnya yang langsing. Aku menelan saliva ku dan kemudian menggeleng- gelengkan kepalaku.
Setiap aku membayangkan gadis itu, entah mengapa pikiranku akan berubah menjadi liar dan jiwa mudaku seperti terbakar tanpa aku sadari.
Aku memang mengakui aku sangat tertarik untuk memiliki Lusiana. Pesona gadis itu belum pernah kutemui pada wanita lain, termasuk Desi.
Aku mendesah ketika teringat Desi, udah lama aku mendiamkannya.
Aku tidak tau bagaimana perasaanku pada Desi sekarang, Desi juga wanita yang cantik walaupun tidak secantik Lusiana.
Desi wanita yang baik, lembut, dan sabar. Ia mencintaiku dengan tulus.
Dulu aku memang pernah mencintainya tetapi sekarang sedikit demi sedikit rasa cinta itu sudah memudar.
Setiap bersama dengan Desi, perasaanku terasa hambar dan aku seperti kehilangan semangat jiwa mudaku.
Sekarang, semangat dan gairahku akan menggebu hanya dengan membayangkan wajah Lusiana.
Selain Desi, masih ada wanita lain yang pernah dekat denganku. Beberapa nama seperti Alda, Betty, Mona, Siska, dan beberapa nama lagi.
Mereka semua memiliki wajah yang cantik, tapi aku tidak pernah mengganggap mereka istimewa.
Aku hanya ingin bersenang- senang, selagi masih muda dan punya uang.
Lusiana berbeda dengan mereka, Lusiana sangat sulit untuk didekati.
Tapi itu yang aku suka dari Lusiana, ia terlihat elegan di mataku.
Tidak seperti wanita yang pernah dekat denganku, mereka dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukanku hanya dengan rayuan manis dari mulutku.
Mereka akan datang dengan sendirinya dan mengejarku.
Mungkin bagi sebagian orang, aku termasuk cowok bre****k, tapi aku tidak peduli.
Toh aku tidak pernah memaksa kehendakku pada mereka, salah mereka sendiri kenapa percaya dan mau kugombali.
Aku tidak pernah menjanjikan mereka apa-apa, aku juga tidak pernah berkomitmen untuk berhubungan serius.
Kecuali dengan Desi, aku pernah berjanji untuk setia padanya. Tapi janji tinggal janji, aku tidak pernah menepati janjiku padanya.
Sekarang malah hatiku selalu dipenuhi bayangan Lusiana, aku tertantang untuk memilikinya.
Karena keasyikan melamun, tidak terasa mobil yang kukendarai sudah sampai ke gerbang pintu masuk Pantai Pasir Padi.
Setelah membayar karcis, aku memelankan mobilku untuk mencari tempat parkir.
Aku kemudian berjalan menyusuri pantai dan mencari tempat yang banyak pohon bakaunya.
Mataku tiba- tiba tertuju pada sosok yang memenuhi mimpi indahku akhir-akhir ini, sosok gadis yang kurindukan.
"Lusiana, ternyata kamu di sini," panggilku.
Gadis itu menoleh ke arahku, ia bersama dengan bosnya, Hendra.
"Pak Nino...?"
Gadis itu sepertinya kaget melihatku berada di sini dan bertemu dengannya.
__ADS_1
Aku menatapnya lama setelah menyapa Hendra.
Jantungku berdetak kencang, ingin rasanya aku berlari dengan kencang menghampirinya lalu memeluk dan menciumnya.