Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Masih POV Yanti


__ADS_3

Pagi ini aku mengirim pesan whatshapp pada Mas Aldo, hari ini aku izin tidak ke kantor dengan alasan sedang tidak enak badan.


Bukan badanku yang sedang tidak enak, tapi hati ku. Hu...hu...hu..aku menangis dalam hati. Masih terasa perihnya...


Lagi pula tidak mungkin aku pergi ke kantor dengan kondisi mata bengkak seperti ini setelah semalaman menangis.


Aku memutar kunci pintu kamarku, dan keluar dari kamar tidurku. Aku tidak ingin papa mama menjadi khawatir, karena aku tidak keluar- keluar dari kamar setelah kejadian kemarin.


Papa mama sedang sarapan di meja makan, mereka langsung menoleh ke arahku yang berjalan lesu menghampiri meja makan.


" Pagi sayang, ayo duduk sini kita sarapan bersama," Papa yang menyapaku duluan.


Aku lalu duduk di sebelah Papa, mama mengambilkan nasi goreng untukku.


" Makan yang banyak Nak, supaya bisa merebut kembali Aldo dari tangan Lusiana," kata mama sambil menatapku.


" Hush mama, sementara ini jangan singgung- singgung Aldo dulu," Papa menegur mama pelan.


" Makanlah Nak, jaga kesehatan jangan sampai kamu sakit,' Papa berkata lembut padaku.


Memang hanya Papa yang mengerti aku dan berpikiran bijak.


Sementara mama tidak mengerti perasaanku, bukannya menenangkan hatiku malah menambah luka yang tertoreh di dalam dadaku ini.


Mama masih tidak mengerti, Aldo mencintai Lusiana bukan aku.


Aku menyendokkan nasi goreng yang ada piringku dan memasukkan ke mulutku.


Lalu mengunyah nasi goreng di mulutku dengan perlahan sambil menundukkan kepalaku.


Aku hanya bisa diam dan tidak sedang ingin bicara.


Ponsel di saku piyamaku berdering, aku tidak berniat mengangkatnya.


Aku sudah bisa menebak, itu pasti panggilan dari Mas Aldo.


Ia pasti ingin menanyakan kondisiku.


Aku sangat jarang sakit, aku juga jarang izin tidak masuk ke kantor. Kalaupun izin itu juga dalam hitungan jari.


Aku hanya beberapa kali tidak masuk ke kantor kalau memang aku benar- benar dalam kondisi tidak fit.


Dan biasanya Mas Aldo akan langsung menelepon menanyakan seberapa parah sakitku.


Ia akan sangat mencemaskan ku, lalu bertanya dari A sampai Z sampai ia merasa tenang.


Aku biasanya akan tetap memaksakan masuk ke kantor kalau hanya merasa tidak enak badan sedikit.

__ADS_1


Dan biasanya Mas Aldo akan membiarkanku duduk bersandar dan beristirahat sambil memejamkan mata di sofa ruangan mas Aldo sampai aku bisa melanjutkan pekerjaanku.


Aku menggigit bibirku, ngilu rasa hatiku mengingat kebaikan dan perhatian Mas Aldo padaku selama ini.


Ponselku berdering lagi, aku mengeluarkan benda pipih itu dari kantongku. Tertera nama Mas Aldo.


Aku memberikan ponselku pada Papa.


" Katakan aku sedang tidak enak badan Pa, tadi aku udah kirim pesan izin tidak masuk kerja hari ini," kataku dengan suara parau.


Papa menerima ponselku dan segera menerima panggilan dari Mas Aldo."


" Halo, kamu sakit apa Yan? parah ga?" bisa ku dengar suara mas Aldo terdengar khawatir.


" Ini Om Nak Aldo, maaf Yanti nya tidur. Ia sedang tidak enak badan Nak," kata Papa berbohong.


Ku lihat mama matanya mendelik dan mukanya cemberut.


" Apa Yanti sudah minum obat Om? atau saya antar ke dokter, nanti saya ke situ ya?"


" Eh jangan Nak Aldo, tidak usah...Yanti hanya tidak enak badan nanti akan dikasih obat kalau dia udah bangun, biar dia istirahat aja."


" Nak Aldo tidak usah khawatir, Nak Aldo tidak usah repot datang ke sini. Om tau Nak Aldo banyak kerjaan di kantor, besok juga Yanti pasti sudah masuk ke kantor," sambung Papa lebih lanjut.


" Baiklah Om, semoga Yanti baik- baik saja, kalau ada apa- apa hubungi saya ya Om."


Papa menyerahkan kembali ponselku


setelah menutup panggilan telepon dari Mas Aldo.


" Makasih Pa," kataku sambil menerima ponsel yang diulurkan Papa.


Papaku memang paling bisa diandalkan, sementara mamaku terlihat mencibir ke arah kami.


" Kamu tenangkan hatimu dulu hari ini, nanti kompres matamu. Besok kamu sudah harus kembali ke kantor," kata Papa menatapku.


" Kamu harus berlapang dada, masih banyak pria baik di luar sana. Kamu anak papa yang baik hati, cantik lagi. Tetap semangat ya sayang..." Papa menepuk pelan bahuku.


"Tapi Aldo pria yang sempurna Pa, anak kita juga mencintai Aldo. Jangan mau mengalah sama Lusiana, kamu harus jadi pemenangnya Nak," dengan berapi- api mama menjawab ucapan Papa padaku.


" Mama jangan egois, ini bukan tentang menang atau kalah. Perasaan tidak bisa dipaksakan...ujung- ujungnya anak kita yang akan terluka, mama mau Yanti nanti hidupnya menderita?" balas Papa pada mama.


" Masih belum terlambat untuk melupakan semuanya, anak kita pasti bisa menghilangkan perasaan cintanya sedikit demi sedikit, iya kan Nak?" Papa melihat ke arahku.


Aku mengangguk, benar apa yang dikatakan Papa. Cinta tidak akan punya pondasi kuat jika hanya satu orang yang membangunnya.


Cinta harus dibangun oleh dua orang yang saling mencintai.

__ADS_1


Jika dipaksakan, akan ada salah satu pihak yang terluka.


Aku akan menyembuhkan luka di hatiku, selagi masih belum terlalu parah dan masih bisa disembuhkan.


Aku akan melepaskan Mas Aldo, bukan hanya demi kebahagiaan Mas Aldo saja, tapi demi kebahagiaanku juga.


Aku akan berlapang dada, semoga Mas Aldo akan selalu bahagia...bersama siapapun yang nantinya akan menjadi pendamping hidupnya.


Besok aku sudah harus ke kantor, ku beri waktu untuk diriku sendiri. Hari ini aku tidak akan menangis lagi. Sudah cukup puas aku menumpahkan air mataku semalaman.


Walaupun tidak segampang itu untuk melupakan rasa cintaku pada Mas Aldo dalam sekejap, tetapi setidaknya aku sudah mengikhlaskannya.


" Mama nanti mau ke rumah Nadya, akan ku kasih pelajaran ibu dan anak itu," kata mama tiba- tiba menghentikan semua lamunanku.


" Buat apa ma?" aku dan Papa bertanya bersamaan.


Aku dan Papa saling berpandangan, kami khawatir mama akan buat masalah.


" Mama mau buat perhitungan dan mau Lusiana menjauhi Aldo."


" Mama jangan bikin malu ma, Papa ga mau mama bikin masalah baru," kata Papa.


"Ini bukan salah Lusiana ma, Yanti mohon mama jangan buat masalah. please mama...."


" Kalian berdua bapak dan anak sama saja. Bo**h.....mau aja diinjak- injak harga dirinya."


" Cukup ma... Yanti pusing, terserah apa yang mau mama lakukan, percuma Yanti bicara sama mama," kataku kesal sambil berlalu.


Mama bikin kepalaku jadi sakit, aku ingin menenangkan diri sambil berendam seharian.


Aku juga akan mengompres mataku yang bengkak, aku tidak ingin besok Mas Aldo bertanya- tanya.


Aku menuju kamar tidurku dan menyiapkan keperluan mandi ku.


Hari ini aku akan memanfaatkan waktu untuk memanjakan diriku sendiri.


Aku harus bisa cepat bangkit....agar bisa move on ....


Aku pasti bisa... ..semangat Yanti...


.................................


( Dari Author: Cinta tidak bisa hanya dibangun oleh satu orang, pondasinya tidak akan kuat......cinta hanya akan kuat jika ada dua orang yang saling mencintai, terlibat di dalamnya.


Hati yang melepaskan.....akan membuat hatimu tenang.


Lepaskan segala amarah, dendam, dan iri dengki....Lihatlah maka akan ada taman bunga yang bermekaran dalam hatimu....Salam....)

__ADS_1


__ADS_2