Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana


__ADS_3

"Hendra.....,"


Aku dan Mas Hendra menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.


Aku melihat yang memanggil mas Hendra adalah seorang wanita paruh baya berpenampilan modis dan terlihat "wah".


"Tante Sumi...sedang apa di sini?"


" Biasa Check up saja, kamu sedang apa di sini dan siapa gadis ini?" tanya wanita itu dengan pandangan penuh selidik.


"Sayang.....kamu ada di sini?" Firda tiba- tiba muncul.


Gadis itu langsung memeluk lengan mas Hendra.


Mas Hendra langsung melepaskan pelukan tangan Firda pada lengannya.


Mas Hendra terlihat risih dengan sikap Firda.


"Siapa dia?" tunjuk Firda begitu ia menyadari kehadiranku.


"Kenalkan ini Lusiana, dia...."


" Saya pegawainya," jawabku memotong ucapan Mas Hendra.


Aku tidak ingin memperburuk hubungan mas Hendra dengan Firda.


" Lus, kenalkan ini Firda dan ini Tante Sumi, mamanya Firda," Mas Hendra memperkenalkan mereka padaku.


Aku menganggukkan kepalaku.


" Mengapa kalian berdua ada di sini?" Tante Sumi yang bertanya.


" Mau kontrol Tante," Mas Hendra menjawab tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.


Mas Hendra terlihat enggan berlama- lama berada di situ.


"Maaf Tante Sumi...kami permisi dulu, sudah ditunggu dokter," Mas Hendra menarik lenganku untuk pergi bersamanya.


" Tunggu dulu...," Firda terlihat tidak suka.


"Apa- apaan ini?" tunjuk Firda.


"Ini rumah sakit, tolong jangan bikin ribut. Nanti saya jelaskan," ujar mas Hendra tegas.


Aku jadi serba salah, terjepit di tengah- tengah masalah antara mereka.


"Sayang....," Firda merajuk.


" Sudahlah...saya masih banyak urusan, lagi banyak kerjaan yang menunggu," mas Hendra tidak mempedulikan Firda lagi.


"Tapi..."


" Firda, biarkan saja...orang- orang melihat kamu," Tante Sumi menarik puterinya menjauh dari situ.


Terlihat kemarahan terpancar dari wajah Tante Sumi.


"Ayo...," mas Hendra menarik ku.


Namaku dipanggil tak lama setelah kami duduk, mas Hendra mengikutiku masuk ke ruangan dokter Inge.


"Pagi dokter..." sapaku pada dokter Inge.


" Pagi....silahkan duduk, kenapa telat kontrolnya?" tanya dokter Inge tersenyum.


" Ga apa- apa kan dok?" tanyaku.


" Coba saya lihat dulu, bagusnya kontrol tepat waktu ya..." jawabnya.

__ADS_1


"Bandel dok," celetuk mas Hendra yang membuat pipiku menjadi merah.


Dokter Inge tersenyum simpul, lalu membuka perban di kepalaku.


Dokter Inge memeriksa, lalu dengan perlahan ia menggunting dan mencabut benangnya.


" Bagus ya pemulihannya, kulitnya sudah menyatu..cuma tetap hati- hati ya jangan terkena gesekan karena kulitnya masih tipis," kata dokter Inge.


Dokter Inge memeriksa lengan kananku.


"Memarnya tinggal sedikit ya, tetap diolesin obatnya," sambungnya lagi.


" Selesai..." katanya kemudian.


" Makasih dokter," ucapku padanya.


"Sama- sama, nanti silahkan pembayarannya di bagian kasir ya Pak," tambahnya lagi.


Setelah keluar dari ruangan dokter Inge, Mas Hendra menuju ke kasir.


Aku menunggunya duduk di ruang tunggu.


"Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengan Hendra!" suara Firda mengagetkanku.


Mama Firda, Tante Sumi berdiri di belakang Firda, ia nampak sinis memandangku.


"Maaf, hubungan saya hanya antara atasan dengan pegawainya," sahutku tenang.


" Jangan bohong kamu..." bentaknya.


Beberapa pasang mata pengunjung rumah sakit yang ada di situ melihat ke arah kami.


" Maaf, ini rumah sakit...jangan mengganggu ketenangan di sini. Lihat orang- orang melihatmu," jawabku tanpa rasa takut.


Aku tidak merasa takut, karena aku tidak merasa berbuat salah padanya.


"Aku tidak peduli...," ia mengecilkan suaranya setelah melihat sekeliling.


"Kalau kamu hanya pegawainya, lalu kenapa harus Hendra yang menemanimu ke sini," ucapnya ketus.


"Karena saya kecelakaan masih dalam lingkungan kantor," jawabku.


Tidak mungkin aku katakan ini karena disebabkan oleh perbuatan papa Mas Hendra yang sengaja ingin mengancam anaknya.


Firda berpikir sejenak.


" Baiklah, kali ini aku percaya dengan ucapanmu. Tapi awas kalau kamu bohong," ancamnya.


Aku hanya tersenyum mendengar ancamannya.


Aku tidak ingin meladeni orang yang tidak bisa menghormati orang lain.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, saya udah katakan yang sebenarnya," jawabku.


"Ayo ma kita pulang," ajaknya pada Tante Sumi.


Firda melengos, lalu ia dan mamanya melangkah pergi meninggalkanku.


" Hati- hati di jalan...," ucapku tersenyum simpul.


Mereka tidak mempedulikan ucapanku, dengan buru- buru mereka pergi dari situ.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


Ku lihat Mas Hendra melangkah ke arahku, aku segera berdiri menghampirinya.


"Sudah Mas?" tanyaku.

__ADS_1


" Beres, ayo kita pulang," jawabnya.


Aku mengikuti Mas Hendra ke tempat parkir.


Mas Hendra membukakan pintu depan mobil untukku, aku jadi merasa tidak enak.


Mas Hendra lalu duduk di depan kemudinya.


" Lus, tadi pas aku lagi bayar...aku sempat melihat Firda dan Tante Sumi baru pergi ngelewatin kamu, apa mereka sempat bicara yang macam- macam sama kamu?" tanyanya.


" Iya Mas, Firda tanya apa hubungan kita, ya kujawab saja apa adanya, aku pegawai kamu," jawabku.


"Lalu..?"


" Tadinya dia ga percaya, tapi kuyakinkan dia kalau aku memang pegawaimu Mas," sambungku.


"Biarkan saja dia mau percaya atau tidak, ga penting juga," jawab mas Hendra terdengar kesal.


" Heran ada orang seperti itu, ga punya harga diri," ketusnya lagi.


" Dia itu calon isterimu lho Mas," ledekku.


" Bodo amat, kalau bukan karena paksaan Papa...males aku," katanya lagi.


" Cinta bisa datang belakangan Mas Hendra," ucapku sok bijak.


" Itu mah kalimat papa ku Lus," kekehnya.


Aku tertawa....


"Kalau kamu disuruh cepat- cepat nikah sama Firda gimana Mas?" tanyaku iseng.


" Entahlah Lus, aku ingin memperjuangkanmu, andai tidak bisa ya sudah mau dibilang apa."


Aku langsung terdiam, aku ingat Fendi.


Fendi tidak berusaha memperjuangkanku, ia lebih memilih pekerjaannya dibandingkan aku.


Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, aku tau bagi seorang laki- laki, pekerjaan adalah harga dirinya.


Tanpa pekerjaan, seorang laki- laki tidak mungkin bisa menegakkan kepalanya.


Aku tidak boleh egois, aku juga sadar aku juga tidak bisa memperjuangkan cinta kami dengan meninggalkan mamaku.


Aku dan Fendi skornya satu- satu, sama- sama punya alasan sendiri.


"Lus, kamu kok diam saja?" mas Hendra menyadarkan lamunanku tentang Fendi.


"eh iya Mas..." jawabku tergagap.


" Lus, aku cuma takut papa berbuat yang tidak- tidak padamu, andai bukan karena alasan itu aku tidak pernah takut untuk dekat denganmu," tambahnya lagi.


" Jalani saja yang ada sekarang Mas, kalaupun nantinya Mas Hendra menikah dengan Firda...jalanin itu dengan bahagia Mas," ujarku tulus.


"Bagaimana aku bisa bahagia Lus, sementara tidak ada sedikitpun rasa cinta untuk Firda," jawabnya.


" Cinta bisa datang belakangan Mas, seiring waktu," kataku.


" Kamu ya...itu ucapan Papa ku," mas Hendra terkekeh.


"Tapi aku serius Mas, belajarlah menerima keadaan supaya kamu tidak berat menjalaninya," kataku mengguruinya.


"Mudah- mudahan Lus...," jawabnya.


Mas Hendra membelokkan mobilnya ke halaman rumahku.


" Aku mampir bentar ya Lus," pintanya.

__ADS_1


"Lho bukannya tadi katanya lagi banyak kerjaan?" tanyaku.


" Itu di depan Firda," kekehnya.


__ADS_2