Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Antara Lusiana dan Aldo, Hendra dan Firda


__ADS_3

Kasus pengajuan perceraian Desi sudah masuk ke pengadilan.


Setelah beberapa kali sidang, dan waktu mediasi juga tetap ingin melanjutkan perceraian...hakim akhirnya memutuskan perceraian Desi dan Nino disahkan.


Keputusan hakim juga menyatakan Nino harus memberikan lima puluh persen dari hartanya untuk Desi, dan apabila Desi nanti melahirkan maka anak itu hak asuhnya jatuh pada Desi, dan Nino tetap berkewajiban untuk memberikan nafkah untuk anak mereka.


Desi menangis haru mendengar keputusan hakim.


Selama ini ia tinggal di rumah Lusiana, dan Lusiana lah yang membantunya memenuhi kebutuhan makan dan juga biaya periksa ke dokter kandungan.


Setelah nanti Desi menerima pembagian harta dari Nino, Desi berniat untuk membuka butik.


Kebetulan mama Lusiana dulunya seorang penjahit profesional, ia bisa mengajarkan ilmunya untuk Desi.


Desi akan mencari beberapa karyawan yang bisa bekerja untuk membantunya.


Desi ingin bisa menghidupi dirinya dan anaknya nanti.


Mama Lusiana tidak keberatan Desi ingin menjadikan lahan kosong di samping rumah mereka untuk dibangun menjadi sebuah butik.


Nino sudah memberikan kompensasi dari pembagian harta gono- gini untuk Desi, karena Nino tidak ingin menjual rumahnya maka ia menggantinya menjadi uang tunai untuk Desi.


Nino sudah mentransfer uang itu ke rekening Desi.


Desi tidak menunggu lama, setelah perizinan keluar dibangunlah sebuah butik di samping rumah Lusiana menjadi bangunan dua lantai.


Lantai dua untuk para penjahit...dan lantai satu untuk memajang pakaian yang akan Desi jual.


Selain mencari pakaian jadi dari luar, Desi juga ingin ada pakaian yang dibuat sendiri di butiknya.


Desi yang memang hobi menggambar model pakaian bisa memanfaatkan keahliannya untuk menciptakan model pakaian dengan karyanya sendiri.


Nino juga terpaksa menikah lagi dengan Mona untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Mona bersedia membantu sebagai saksi di sidang perceraian Desi dan Nino.


Mona juga ingin status Nino menjadi jelas saat menikahinya, sehingga ia juga tidak keberatan saat Desi meminta bantuannya untuk menjadi saksi di persidangan perceraian Desi dan Nino.


Dirga yang sudah kembali dari Kalimantan juga sering diminta Lusiana untuk membantunya mengantar Desi untuk memeriksakan kandungannya di dokter kandungan.


Usia kandungan Desi sudah semakin bertambah, perutnya semakin membesar.


Mama Lusiana juga merasa senang, di siang hari ada yang menemaninya di rumah.


Mama Lusiana sudah menganggap Desi sebagai putrinya sendiri.


Desi yang sudah tidak memiliki orang tua juga merasa memiliki seorang ibu lagi dan memanggil mama Lusiana dengan sebutan mama juga.


Ia sudah menganggap keluarga Lusiana adalah keluarganya sendiri.


Desi menganggap Lusiana adalah adik perempuannya, begitu juga sebaliknya Lusiana merasa punya seorang kakak perempuan.


Selagi menunggu bangunan butik yang dalam proses pembangunan, Desi belajar menjahit dari mama Lusiana.


Desi yang cepat belajar dan menyukai kegiatan barunya cepat menguasai dan sudah ahli dalam menjahit.

__ADS_1


Aldo semakin dekat hubungannya dengan Lusiana.


Aldo dan Dirga bersaing secara sehat, tapi Dirga sudah merelakan Lusiana pada Aldo.


Dirga bukannya menyerah, tapi ia merasa Aldo adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping Lusiana.


Dirga tidak merasa sakit hati, ia menyayangi Lusiana karena ia menyayangi Vino sahabatnya.


Bagi Dirga, yang penting Lusiana bahagia dan bisa mendapatkan pasangan yang baik.


Di saat yang tepat, Aldo menembak Lusiana.


"Lus, mungkin selama ini kita sudah cukup dekat dan sudah mengenal satu sama lain...maukah kamu menjadi pendampingku? aku tidak memaksa kamu untuk segera menikah denganku...kita bisa pacaran dulu," ujar Aldo.


Lusiana tersenyum, ia juga sudah merasa nyaman dengan Aldo.


Dengan Dirga, Lusiana lebih merasa Dirga seperti abangnya...


Lusiana mengangguk...


"Aku bersedia Al...," jawab Lusiana tersenyum.


Aldo merasa girang, setelah bersusah payah akhirnya Lusiana menerima Aldo menjadi pacarnya.


"Makasih Lus," Aldo mengeluarkan kotak merah dari saku celananya.


Aldo membuka kotak merah itu dan mengeluarkan seuntai kalung yang terbuat dari emas putih, dengan bandul berbentuk hati.


"Ini untukmu Lus, semoga kamu suka," Aldo memasangkan kalung itu di leher jenjang Lusiana.


"Makasih Al...cantik sekali," ucap Lusiana.


"Makasih juga sudah mau menerima cintaku," jawab Aldo mengecup jemari Lusiana.


Desi, mama Lusiana dan Dirga keluar dari ruang tengah...


Mereka bertepuk tangan...


"Selamat ya Al...Lus...," ucap mereka bersamaan.


"Makasih...," jawab Aldo dan Lusiana.


"Sebaiknya kalian jangan lama pacaran, tidak baik," ujar mama Lusiana.


"Saya akan segera melamar Lusiana kapanpun Lusiana siap Tan...,"ujar Aldo.


"Sabarlah sebentar ma...Lusiana belum siap kalau terlalu cepat...Lusiana janji akan menjaga diri dengan baik...betulkan Al?" tanya Lusiana.


"Saya juga janji Tan...tidak akan macam- macam, saya akan menjaga kehormatan Lusiana," jawab Aldo.


"Baiklah, terserah bagaimana baiknya, yang penting kalian bisa jaga diri," balas mama Lusiana.


"Kamu akan berhadapan denganku Al kalau berani berbuat macam- macam," Dirga buka suara.


"Siap laksanakan bos....," Aldo memberi hormat.

__ADS_1


Candaan Aldo membuat semua tertawa, suasana hangat terasa di rumah Lusiana.


"Mas Dirga harus tetap sering kemari...," tambah Aldo.


" Pasti...aku kan juga anggota keluarga di sini," sahut Dirga tersenyum.


Dirga sudah merasa nyaman berada di tengah- tengah keluarga Lusiana.


Walaupun Dirga tidak mendapatkan cinta Lusiana, tapi Dirga menyayangi keluarga Lusiana seperti mencintai keluarganya sendiri.


**********


Pukul tujuh malam...


Firda pulang dalam keadaan mabuk, Papa Hendra menjadi berang.


"Firda...kamu adalah menantuku...tidak pantas kamu melakukan hal ini," omel papa Hendra.


"Papaku saja tidak pernah mengomeliku...kamu siapa berani memarahiku...," jawab Firda dengan menunjuk- nunjuk papa Hendra.


"Percuma Pa...dia lagi mabuk...mana bisa terima papa ngomong apa," tukas Hendra kesal.


Mama Hendra cuma bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Firda.


"Hoek....Hoek...," Firda muntah.


Hendra melihat jijik ke arah Firda.


"Bi Asih....tolong bantu dong," teriak Hendra.


Bi Asih yang masih sibuk di dapur bergegas keluar mendengar panggilan Hendra.


Bi Asih mengambil segulung tisu, ia membersihkan muntahan Firda.


Papa Hendra memijit pelipisnya...


"Ma...papa sakit kepala...tolong pijitin di kamar...," pinta papa Hendra.


Mama Hendra memapah papa Hendra...


" Bi Asih...maaf ya...jadi direpotin," ucap mama Hendra.


" Ga apa- apa Bu...," jawab Bi Asih.


Ia membersihkan lantai bekas muntahan Firda, setelah mengumpulkannya dengan tisu...bi Asih mengepel lantai dengan memberi karbol untuk menghilangkan bau asam bekas muntahannya.


Sementara Firda duduk berselonjor di sofa, ia tertawa.


" Aku senang....tiap hari bisa menikmati waktu luang ku untuk bersenang- senang," ocehnya.


"Kamu mau tidur di sini atau di kamar?" tanya Hendra ketus.


"Aku di sini saja ...lagian kamu ga pernah mau melayani aku toh....apa bedanya tidur di sini atau di kamar," jawab Firda.


Hendra berpandangan dengan bi Asih yang melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Jangan dengerin bi Asih...," tawa Hendra.


Bi Asih menggelengkan kepalanya, ia mengerti... hubungan tuan mudanya itu dengan isterinya tidak sedang baik- baik saja.


__ADS_2