Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana & Hendra


__ADS_3

Mas Hendra baru menghenyakkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahku setelah menyapa mamaku.


Suara dering dari ponselnya terdengar dari dalam saku celananya.


Mas Hendra mengangkat ponselnya, tampak kerut tak senang saat ia membaca layar ponselnya.


" Bentar ya Lus, aku angkat dulu," Mas Hendra memberitahuku.


Aku menggangguk, lalu menuju dapur untuk mengambil minum untuk kami, aku juga haus sepulang dari rumah sakit.


Mama sedang menonton drama Korea kesayangannya.


Aku lalu melangkah ke ruang tamu sambil membawakan minum untuk mas Hendra.


"Papa percaya begitu saja?" papanya mas Hendra ternyata yang meneleponnya.


"Tolong nanti kita bicara di rumah saja Pa, Hendra pusing mau istirahat dulu," ujar mas Hendra lalu setelah itu ia menutup ponselnya.


Mas Hendra lalu menekan tombol teleponnya.


" Halo Rosa, hari ini saya tidak ke kantor ya. Tolong kamu pending dulu pekerjaan saya hari ini," ternyata Mas Hendra menelepon mbak Rosa, sekretaris kantor kami.


Mas Hendra lalu menutup dan meletakkan ponselnya di atas meja tamu.


Ia memijit pelipisnya.


"Lus, kepalaku pusing...aku boleh ya numpang tidur di sini?" katanya meminta izin.


"Mau minum obat Mas Hendra? aku punya stok obat," tawarku.


" Tidak usah Lus, aku hanya butuh tidur sebentar saja. Tolong izin sama mamamu ya," katanya lalu ia membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Ia memejamkan matanya dengan tangan kanan bertumpu pada keningnya.


Aku tidak mengganggunya lagi, setelah menerima telepon dari papanya suasana hati mas Hendra terlihat tidak baik- baik saja.


Aku membiarkan mas Hendra tidur, lalu ku hampiri mamaku yang sedang asyik menonton Drakor kesayangannya.


" Lho Nak Hendranya mana?" tanya mamaku heran.


" Sttt...kepalanya pusing ma, ia tidur di sofa. Tadi sekalian titip minta izin sama mama," jawabku berbisik.


"Lho tadi ga kenapa- napa?" tanya mama.


Aku mengedikkan bahuku...


" Ga tau ma...," jawabku.


"Nanti ajak dia makan siang di sini Lus, mama udah masak," kata mamaku.


"Iya ma...," aku mengangguk.


"Lus, gimana hasil kontrolnya?" tanya mama.


"Bagus semua ma, jahitannya udah dibuka," jawabku.


" Baguslah kalau begitu," jawab mama.


" Lus , bosmu itu sangat perhatian padamu," kata mama berbisik.


"Iya ma," jawabku.


**********


Aku membangunkan mas Hendra yang tertidur nyenyak di sofa ruang tamu, karena sudah jam satu siang dan mas Hendra belum makan siang.


"Mas Hendra bangun....makan siang yuk," panggilku.


Mas Hendra membuka matanya...lalu perlahan ia bangun untuk duduk.


" Masih pusing mas?" tanyaku.


"Udah enggak Lus, enak tidurnya," jawabnya.


" Makan siang yuk...udah lapar nih...dari tadi nungguin belum bangun- bangun," ujarku sambil menepuk perutku yang sudah lapar.


" Jam berapa sekarang Lus?" mas Hendra melihat ponselnya.

__ADS_1


" Udah siang," ia menjawab sendiri pertanyaannya.


" Kamu kenapa ga makan duluan Lus?" tanyanya.


" Ga apa- apa mas Hendra, bareng saja...ayo mama udah nyiapin makan buat kita," jawabku.


" Maaf ya jadi ngerepotin mama kamu," ucapnya lalu ia berdiri.


" Ga apa- apa mas, ayo," ajakku.


Mama sudah menunggu kami di meja makan.


" Ayo Nak Hendra, duduk sini," ajak mamaku.


"Makasih Tante, jadi ngerepotin."


Aku dan Hendra mencuci tangan lalu duduk di meja makan.


"Udah enakan Nak Hendra...kepalanya masih pusing?" tanya mama.


" Udah enggak Tante, tidurnya pules...pusingnya hilang," jawabnya.


" Syukurlah...."


Kami makan dengan lahap, masakan mama memang yang paling enak.


Mas Hendra saja begitu menikmati makanannya, walaupun masakan sederhana tapi rasanya maknyoss.


Setelah selesai makan, aku membereskan bekas makan kami sementara mama lanjut menonton tv.


Aku dan mas Hendra lalu duduk di ruang tamu.


" Lus, makasih ya untuk hari ini...maaf jadi tidur di sini," katanya padaku.


"Udah Mas...itu kan karena mas Hendra kepalanya pusing," sahutku.


"Aku bentar lagi balik ya Lus...ada yang mau aku kerjakan," ujar mas Hendra.


"Mau ke kantor mas Hendra?" tanyaku.


" Selesaikan baik- baik mas Hendra," ujarku.


" Iya Lus...ya udah aku pergi sekarang ya," pamitnya.


"Tante...saya pergi dulu ya, makasih makan siangnya," pamit mas Hendra pada mama.


" Iya Nak, udah mau balik?"


" Iya Tante," jawabnya.


..............


Aku mengetuk pintu ruangan papa...


"Masuk," suruh papa.


" Lho Hendra, kenapa ke sini?" tanya papa heran.


" Pengen selesaikan urusan kita Pa," jawabku.


" Katanya nanti tunggu di rumah," jawab papa.


" Ga bisa tunggu lagi," jawabku agak ketus.


Aku lalu mengambil tempat duduk yang ada di depan meja kerja papa.


"Apa benar yang dikatakan Firda, kamu tadi yang mengantar Lusiana ke rumah sakit?" tanyanya.


" Iya, aku mengantarnya untuk kontrol, emang apa salahnya, itu wujud tanggung jawabku karena perbuatan papa," jawabku.


" Baiklah itu tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah kenapa kamu nyuekin Firda?"


"Ya..papa percaya sama si tukang ngadu...," jawabku.


"Hendra..." bentak papa.


"Memang iya pa, papa langsung percaya apa yang diomongin Firda," jawabku kesal.

__ADS_1


"Bukan hanya Firda yang ngomong, tapi Tante Sumi juga sempet ngasih tau sama papa."


" Anak dan ibunya sama saja," gumamku sebal.


" Papa ga mau tau, secepatnya kamu harus segera melakukan pertunangan dengan Firda...," perintah papa.


" Kalau Hendra ga mau pa?"


" Papa akan melakukan sesuatu pada Lusiana...lihat saja," ancam papa.


" Papa sudah gila," teriakku.


Lagi- lagi papa menggunakan Lusiana untuk mengancam ku.


"Paling lambat lima bulan dari sekarang, kamu sudah harus mempersiapkannya."


" Papa sudah kelewatan..." aku sangat kesal.


" Tidak ada bantahan," jawabnya.


"Hendra tidak mau.."


Papa menyeringai...


" Kamu mau papa buktikan omongan papa sekarang?" ancamnya sambil menekan ponselnya.


" Tunggu pa...," aku harus bisa mengulur waktu.


Aku tidak akan membiarkan papa menyakiti Lusiana lagi.


" Biarkan Hendra berpikir dulu..."


Papa menyimpan kembali ponselnya, ia tersenyum penuh kemenangan.


Biarlah kali ini aku mengalah dulu sambil kupikirkan cara lain.


"Pergilah, obrolan kita sudah selesai," kata papa mengusirku.


Aku melangkah keluar dari kantor papa dengan lesu, aku kalah telak kali ini.


Aku tidak berkutik menghadapi papa karena ia memakai Lusiana sebagai ancaman.


Dengan langkah gontai aku menuju ke tempat parkir lalu meninggalkan kantor papa dengan melesatkan mobilku pulang ke rumah.


Aku ingin mengadu pada mama, tapi takut untuk menambah beban pikiran mama.


Aku memutuskan untuk memendam sendiri masalahku, biarlah sambil mengulur waktu.


Mama menyambutku pulang dengan senyumnya.


" Tumben Nak, pulangnya cepat?" tanya mama.


" Ga ngantor hari ini ma, mampir ke rumah Lusiana habis nganterin ia kontrol," jawabku.


" Gimana hasil kontrolnya?" tanya mama perhatian.


" Bagus ma, udah cabut benang jahitan di kepalanya, kulitnya juga udah nyatu," jawabku.


" Syukurlah," kata mama lega.


"Kamu habis ketemu Lusiana kok lesu Nak?" tanya mama dengan pandangan menyelidik.


Mama memang paling pandai melihat suasana hatiku.


"Di rumah sakit ketemu Firda sama Tante Sumi Ma...," aduku akhirnya.


"Terus..?" tanya mama khawatir.


" Biasa si tukang ngadu ngelapor sama papa biar Hendra ditegor," ceritaku kesal.


Mama menghela napas panjang.


" Andai mama bisa mengendalikan papa...," sesal mama.


"Papa mendesak Hendra untuk cepat melakukan pertunangan dengan Firda Ma..," adu ku lagi.


"Mama ingin kamu bahagia Nak, tapi tidak bisa melawan papa," mama berkata dengan sedih.

__ADS_1


__ADS_2