
Hari Minggu adalah hari yang paling kutunggu- tunggu, aku bisa ngobrol sama mama sepuasnya, juga bisa bantu mama beres- beres rumah.
Di halaman rumahku banyak tanaman bunga, mama yang tiap hari merawatnya.
Setelah semua pekerjaan beres, aku ke depan rumah melihat mama yang asik memindahkan bibit bunga ke dalam pot baru.
Mama memang hobi bertanam dan penyuka bunga, khususnya bunga mawar, sebagai hiburan kata mama.
Aku juga suka melihat kalau bunga- bunga itu sudah mekar.
Tiba- tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah kami yang kukenali itu mobil Tante Linda, isterinya Om Ferdi.
Ada apa kok tumben sekali Tante Linda berkunjung ke rumah.
Tante Linda turun dari mobilnya lalu menghampiri kami dengan wajah masamnya.
Ada apa ini? firasat ku tidak enak, pasti ada sesuatu karena Tante Linda emang jarang sekali datang kalau tidak ada perlu, apalagi melihat muka nya yang seperti orang sedang marah.
"Pagi Tante," sapaku sopan.
"Aku mau bicara sama kamu dan mamamu," katanya sambil telunjuknya menunjuk mama.
"Dasar tidak sopan," gumamku dalam hati.
" Kita bicara di dalam aja Lin, silahkan masuk," kata mama sabar.
Tante Linda langsung masuk ke rumah tanpa menunggu tuan rumah, ga ada sopan- santunnya sama sekali. Hatiku geram melihat tingkahnya.
Ia langsung duduk tanpa disuruh, ga punya etika sama sekali.
__ADS_1
Mama ikutan duduk, aku menuju dapur untuk mengambilkan minum buat Tante Linda.
Aku kemudian menemui Tante Linda sambil membawa segelas air putih dan meletakkannya di meja tamu.
"Silahkan diminum Tante, maaf seadanya."
" Saya ga haus, kamu duduk sini ," ketus sekali Tanteku ini. Aku hanya bisa bersabar.
"Sebenarnya ada apa Lin?" tanya mama.
" Anakmu ini kegatelan, sama kayak kamu. Ibu dan anak ga ada bedanya." sembur Tante Linda.
Aku heran, apa Tante Linda salah minum obat. Ga ada angin ga ada hujan mengumpat orang semaunya.
"Apa maksud kamu ngomong gitu Lin?" tanya mama.
" Jaga mulut kamu Lin, tolong kalau bicara jangan kasar, semua bisa dibicarakan baik- baik," kata mama
masih berusaha sabar.
" Percuma bicara baik- baik sama perebut pacar orang, sama kayak kamu dulu merebut Anto dari tanganku, buah emang ga jauh dari pohonnya."
" Tunggu Tante, apa maksud Tante bawa- bawa nama almarhum Papa?"
"Tanyakan saja sama mamamu, apa yang dia lakukan waktu muda? dasar perebut pacar orang, udah miskin ga tau diri," Tante Linda mencibirkan mulutnya.
Untung aku masih menghormatinya sebagai Tante, kalau tidak ingin kutampar mulutnya karena sudah menghina mamaku.
" Aku ga pernah merebut milik orang lain, lagian kejadian dulu itu udah masa lalu ngapain diungkit- ungkit lagi."
__ADS_1
" Kalau begitu ajarin anakmu jangan berani mendekati Aldo lagi, Aldo itu milik Yanti anakku, cukup kamu yang ga tau diri udah miskin sok cantik".
" Jaga mulut Tante, jangan pernah Tante menghina mamaku, kami punya harga diri," aku menggelukkan gigiku menahan amarah.
" Harga diri? berapa harga diri kalian, sini aku bayar. Berapa?" Tante Linda semakin menjadi- jadi.
" Cukup Linda, kalau kamu ga bisa jaga mulutmu pergi dari sini, kamu tamu di sini," akhirnya mama marah juga.
" Sabar ma, mama jangan marah," aku jadi khawatir darah tinggi mama bisa kumat.
" Maaf Tante, pertama saya ga tertarik sama Aldo dan saya tidak akan menerima lamarannya, kedua saya ga pernah merebut Aldo dari siapapun, ketiga Tante boleh menghina saya tapi jangan pernah menghina mama saya," jawabku dengan berani.
" Dasar anak ga punya sopan santun, berani kamu hah sama Tante?"
" Tante yang ga punya sopan santun, ga punya etika, bertamu ke rumah orang marah- marah ga jelas," kutantang mata Tanteku yang melotot seperti bola matanya mau keluar.
" Sebaiknya Tante segera pulang, kami ga terima tamu yang ga tau etika."
" Aku juga ga mau lama- lama di sini, tidak sudi aku punya keluarga kayak kalian, udah miskin ga tau diri," Tante Linda bangkit dari sofa lalu berjalan ke luar dengan buru- buru menuju mobilnya yang terparkir.
" Dasar nenek sihir," umpatku dalam hati.
Mama hanya menghela napasnya dalam- dalam. Aku mengusap punggungnya dengan perlahan.
" Tante Linda emang keterlaluan ma, jangan dipikirkan ucapannya,"
" Mama cuma sedih, ia masih mengungkit masa lalu," mama kembali menghela napasnya.
"Sebenarnya ada masalah apa mama sama Tante Linda di masa lalu ma?" tanyaku sambil menatap mama dengan rasa ingin tau.
__ADS_1