
Aku adalah orang yang percaya dengan bibit, bebet, dan bobot.
Prinsipku sebuah pernikahan akan berhasil jika tau bibit, bebet, dan bobot dari pasangan.
Aku ingin Hendra, puteraku satu- satunya juga berhasil dan langgeng dalam pernikahannya kelak.
Firda adalah pilihan yang tepat untuk menjadi pendamping Hendra.
Apalagi Firda adalah Puteri semata wayang dari Dicky Praditha temanku, tentu saja udah jelas bibit, bebet, dan bobotnya.
Dicky seorang konglomerat yang namanya sudah dikenal di kota kami sebagai seorang terpandang dan terhormat.
Kami sama- sama pebisnis, hubungan kami juga selama ini cukup dekat.
Firda adalah pewaris tunggal dari seorang Dicky Praditha.
Sangat membanggakan kalau bisa menjadi besan dari seorang Dicky Praditha.
Firda gadis yang supel, manis, berpendidikan tinggi, dan juga cantik.
Tapi entah apa yang dilihat Hendra...ia tidak suka kujodohkan dengan Firda.
Padahal Dicky dan Sumi, isterinya sudah menyetujui perjodohan ini.
Dan Firda juga tidak menolaknya, bahkan gadis itu terlihat sangat menyukai Hendra.
Awalnya Hendra tidak mengakui bahwa ia menolak Firda karena ia lebih tertarik pada pegawainya yang bernama Lusiana.
Tapi, Hendra tidak bisa mengelak lagi saat ku dengar obrolannya dengan mamanya.
Di depan mamanya Hendra mengakui bahwa ia mencintai Lusiana.
Ku akui Lusiana memang cantik, malah lebih cantik daripada Firda.
Tapi ia dari keluarga biasa- biasa saja, bukan dari keluarga terpandang.
Aku tentu saja menentang kalau Hendra memilih Lusiana.
Mau ditaruh di mana mukaku, putera seorang Beyudha menikahi pegawainya sendiri.
Hendra memiliki perusahaannya sendiri. Walaupun bukan perusahaan raksasa, tapi perusahaannya cukup maju dan mempunyai omzet yang lumayan besar.
Aku masih memimpin perusahaanku sendiri, Hendra tidak mau menjalankan perusahaanku karena ia ingin berdiri sendiri.
Nama seorang Beyudha juga kurasa cukup dikenal di kota kami sebagai seorang pebisnis sukses.
Mana mau aku bermenantukan seorang pegawai biasa yang tidak punya apa- apa.
Amarahku dimulai ketika Hendra dengan terang- terangan menolak Firda saat aku mendesak Hendra agar segera menentukan hari untuk acara per- tunangan mereka.
Hendra seakan sengaja mencoreng mukaku di hadapan Dicky.
Aku merasa malu ia berani menolak secara halus perjodohan dengan Firda di depan Dicky dan isterinya saat mereka datang berkunjung ke rumahku.
Aku sudah emosi saat itu, untung Dicky menenangkanku agar aku mau memberi waktu untuk Hendra dan Firda agar bisa menjadi dekat.
Emosiku memuncak saat Hendra mengakui ia mencintai Lusiana saat sedang mongobrol dengan mamanya.
__ADS_1
Aku tidak terima dengan penolakan Hendra.
Apapun yang terjadi, aku ingin perjodohan Hendra dengan Firda tetap terlaksana.
Aku mengancam Hendra akan berbuat sesuatu pada Lusiana jika ia berani menentang keinginanku.
Aku sempat bertengkar dengan isteriku karena mama Hendra yang membela Hendra.
Aku tidak peduli kalau aku dibilang egois oleh ibu dan anak itu.
Aku lakukan ini demi nama baik dan harga diriku.
Aku juga ingin Hendra tidak dihina oleh orang- orang di sana karena menikahi seorang gadis miskin.
Demi menakuti Hendra, aku membayar orang suruhan ku untuk menabrak Lusiana sepulangnya ia dari bekerja.
Aku perintahkan agar hanya menyenggolnya saja, bukan membunuhnya.
Aku hanya ingin menggunakan Lusiana untuk menakuti Hendra, sehingga dia mau menjauhi Lusiana dan menerima Firda.
Aku mengancamnya kalau masih menolak Firda, maka aku akan melakukan hal yang lain lagi pada Lusiana.
Kalau memang Hendra mencintai Lusiana, pasti ia tidak akan mau gadis yang dicintainya itu menjadi celaka.
Ku harap ancamanku ini akan berhasil untuk membujuk Hendra mau menerima Firda menjadi pendamping hidupnya.
Dan Hendra sampai memohon agar aku tidak menyakiti Lusiana lagi, karena Lusiana tidak tau apa- apa tentang perasaan Hendra padanya.
Ini bukan hanya sekedar ancaman saja, tentu saja akan kulakukan apapun agar rencana ku berhasil.
Aku memang tidak ada niat untuk membunuh Lusiana, aku hanya akan membuatnya terluka.
Sebentar lagi kurasa Hendra pasti akan mengalah.
.................................
"Apa Hendra masih menjaga Lusiana di rumah sakit ma?" tanyaku pada Melda, isteriku.
" Iya pa," jawab mama Hendra singkat.
"Pa, mama mau tanya....apakah papa yang menyuruh orang untuk menabrak Lusiana?" isteriku menatapku tajam.
" Kalau iya kenapa memangnya ma?" tanyaku tanpa rasa bersalah.
" Sudah ku duga, Papa sudah kelewatan," isteriku terlihat marah.
"Mama tidak usah ikut campur, ini urusanku," jawabku ringan.
" Apa Papa bilang? mama tidak usah ikut campur....? ini menyangkut nyawa anak orang Pa..," Melda berteriak padaku.
"Papa kan tidak membunuhnya?" jawabku membela diri.
" Papa sudah menyakitinya, bagaimana kalau ia sampai cacat atau meninggal?" suara Melda meninggi.
" Toh tidak ada yang tau itu perbuatan Papa," jawabku lagi tidak ingin kalah.
" Tuhan punya mata Pa...," balasnya sengit.
__ADS_1
" Itu urusan Papa," jawabku lagi.
" Apa Papa tidak memikirkan perasaan mama Lusiana? apa yang dirasakan seorang ibu bila melihat anaknya celaka. Pikir pakai otak Pa," Melda menunjuk kepalanya.
Aku mulai marah, beraninya dia melawan ku, suaminya sendiri.
" Kamu bisa diam tidak?" bentak ku.
"Tidak...aku ga akan diam, Papa akan mama laporkan ke polisi," ancam Melda padaku.
Plakkk...
Aku menampar Melda, ia berlebihan.
"Papa berani menampar mama?" teriaknya sambil menangis.
Aku langsung terdiam, tanpa sadar karena marah aku telah menampar Melda, isteri yang selama ini aku perlakukan dengan lembut.
"Maaf Ma, Papa ga sengaja," jawabku merasa bersalah.
" Tidak sengaja Papa bilang? dengan sadar tadi Papa menampar mama...," teriak Melda.
"Itu karena mama terlalu ikut campur urusan Papa," jawabku kembali emosi.
" Kalau Papa berani menyakiti Lusiana lagi, mama tidak akan segan- segan melaporkan Papa ke polisi," ancamnya lagi.
"Mama berani?" aku mendelik kan mataku padanya.
"Aku seorang ibu...aku tidak ingin seorang ibu yang lainnya melihat anaknya dicelakai orang," ucapnya tegas.
Aku mengangkat tanganku lagi, siap untuk menampar Melda lagi.
" Ini Pa...tampar...silahkan tampar sepuasnya biar aku punya alasan untuk menggugat cerai Papa," ujarnya sambil menyodorkan pipinya.
Aku menurunkan tanganku, apa yang barusan tadi ia bilang? ia mau menggugat cerai?
Dalam mimpipun tak pernah terlintas untuk kami bercerai.
Apalagi dengan usia kami yang sekarang, apa kata dunia tentang hal ini?
Bisa- bisa menjadi sebuah berita besar di kota kami.
Aku langsung terdiam, aku berjalan menjauh menuju kamar.
Biarlah kali ini ku anggap selesai, aku tau sifat Melda.
Ia tidak pernah main- main dengan ucapannya.
Sempat ku lihat, Melda menghapus air matanya.
Mengapa aku jadi melakukan kekerasan padanya?
Seharusnya tadi aku tidak usah meladeninya. Biar saja dia mau bicara apa.
Tapi Melda sudah kelewatan, suaminya sendiri ingin dilaporkan ke polisi. Ia anggap apa aku selama ini?
Melda lebih membela Lusiana daripada suaminya sendiri.
__ADS_1
Aku semakin tidak menyukai Lusiana, gadis itu tidak boleh menjadi bagian dari keluargaku.
Lihat saja....