
Di mata mas Hendra kutemukan kesungguhan dalam ucapannya.
Tapi....mana mungkin aku bisa memberinya kesempatan.
Belum apa- apa saja papanya Hendra sudah menentang perasaan anaknya, apalagi misalkan kalau kami sudah memulai sebuah hubungan.
Aku memang gadis sederhana yang tidak punya apa- apa, tapi aku menjunjung tinggi harga diriku.
Aku tidak mungkin " mengemis" cinta kepada seorang laki- laki, walaupun laki - laki itu mengakui bahwa ia sangat mencintaiku.
Tak seorangpun boleh menginjak harga diriku, bukannya aku sombong tapi ini adalah sebuah prinsip.
Apalagi aku seorang perempuan....aku akan mengorbankan segalanya untuk mempertahankan harga diriku, termasuk kalau pekerjaanku nantinya akan dipertaruhkan.
" Lus....kamu dengar apa yang ku katakan, kenapa kamu diam saja?" mas Hendra membuyarkan lamunanku.
" Iya Mas, sebaiknya Mas Hendra turuti apa kata Papa Mas Hendra, jangan libatkan Lusi," ucapku akhirnya.
" Tapi Lus, aku tidak mencintai Firda...apa kamu tega melihatku menjalani pernikahanku nantinya dengan orang yang tidak aku cintai?" Mas Hendra melihatku dengan tatapan memelas.
Aku menghela napas panjang, aku merasa sedikit kasihan melihat tatapan mas Hendra.
" Maaf Mas Hendra, Lusi merasa tidak pantas untuk Mas Hendra cintai...aku hanya seorang gadis biasa Mas."
" Mengapa tidak pantas Lus? cinta tidak memandang status," jawabnya.
" Tapi cinta saja tidak cukup...harus ada restu orang tua Mas Hendra...," jawabku.
" Aku tau Lus, maka itu tolong kasih aku kesempatan untuk melunakkan hati papa, aku akan berusaha," ucap mas Hendra serius.
" Kita berteman aja Mas Hendra, kalaupun di kemudian hari kita berjodoh...maka aku akan menerimanya," ucapku padanya.
" Sementara ini hubungan kita tetap seperti ini, aku tidak mau membuat keluargaku khawatir," sambungku lagi.
Aku memang tidak mau membuat mamaku dan abang- abangku khawatir, seandainya papa Hendra bertindak lebih jauh lagi padaku...bukan hanya aku yang akan menerima akibatnya tapi keluargaku yang akan menanggungnya.
Bukan karena aku takut, tapi yang paling aku pikirkan adalah perasaan mamaku, mama yang akan paling bersedih jika terjadi sesuatu padaku, Puteri bungsu kesayangannya.
Mas Hendra menarik napas panjang...
" Baiklah kalau begitu maumu Lus, aku menghormati apapun keputusanmu," ujar mas Hendra.
" Yang aku minta tolong jangan menjauhiku karena papa, aku ingin kita tetap dekat walau sementara hanya sebagai seorang teman," kata mas Hendra lagi.
Aku menganggukkan kepalaku.
Mama kemudian datang, sepertinya mama sudah selesai memasak.
" Lus...Nak Hendra kita makan yuk...," ajak mama.
" Tante masak pindang ikan, ayam kecap, sama lempah darat." (masakan khas Bangka yang berisi sayuran seperti mentimun, pepaya setengah matang, daun ubi dengan kemplang mentah yang bumbunya berupa terasi, bawang merah, bawang putih, dan cabe)
" Ayo Mas Hendra kita makan dulu," ajakku.
" Makasih Tante...jadi ngerepotin," ujar Hendra.
Kami menuju meja makan, kemudian mulai makan.
Mama membantuku menyiangi ikan dan mengambilkan makanan yang lain untukku.
" Sakit lengannya Nak?" tanya mama padaku.
" Masih ma...," jawabku.
Tentu saja masih terasa nyeri...
Hendra memandangku dengan perasaan bersalah.
" Makan Mas Hendra," kataku untuk mengalihkan pikiran mas Hendra dari rasa bersalahnya.
" Iya Lus," jawabnya lalu menyendokkan nasi ke piringnya.
__ADS_1
Mama menyendokkan sayur dan lauk ke piring mas Hendra.
" Makan yang banyak Nak Hendra," ucap mama.
" Makasih Tan," ucap mas Hendra.
Kami menikmati masakan mama, akupun makan dengan lahap.
"Masakan Tante enak," puji mas Hendra.
" Tambah lagi kalau enak Nak, jangan sungkan," kata mama tersenyum.
" Iya Tan...ini nambah," jawab mas Hendra.
Selesai makan, aku dan mas Hendra duduk di ruang tamu sementara mama membereskan piring- piring kotor.
" Lus, aku di sini dulu ya...belum mau pulang. Boleh ya?" tanyanya menatapku.
" Boleh saja Mas, tapi Mas Hendra sudah kabarin mama Mas Hendra belum?" tanyaku.
Mas Hendra lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu mengetik pesan.
" Udah ini Lus, mama udah ku kabari," jawabnya.
Terdengar deru sebuah sepeda motor berhenti di depan rumahku, aku mau bangun dari dudukku tapi dihalangi mas Hendra.
" Duduk saja, kamu masih perlu istirahat...biar aku saja yang lihat," mas Hendra melarangku bangun.
Mas Hendra bangun dari duduknya, ia membuka pintu teralis besi rumahku.
" Masuk bro...," ucap mas Hendra pada tamu yang datang.
Aldo datang dengan motor gedenya.
" Makasih bro...," jawab Aldo.
" Halo Lus, gimana kondisinya? udah mendingan?" tanya Aldo begitu ia masuk.
" Duduk Al..."
Aldo dan Mas Hendra duduk.
Mama keluar dari arah dapur membawa nampan dan tiga gelas air putih dan sekantong obat- obatan.
"Malam Tan.." sapa Aldo.
" Malam Nak Aldo...ini silahkan minum ya Nak," mama membawakan minum buat Aldo dan Mas Hendra.
Mama pasti sudah mendengar suara motor gede Aldo dari dapur, dan membawakan minum sekalian membawakan obatku.
" Minum dulu obatnya Nak," suruh mama padaku sambil membuka kantong plastik yang ia bawa.
Mama merobek plastik yang membungkus obatku dan memberikannya padaku.
" Makasih ma," ucapku setelah meminum obat yang dibawa pulang dari rumah sakit.
" Nak Aldo udah makan?" tanya mama.
" Udah tadi di rumah Tan sebelum ke sini," jawabnya.
"Oh ya Lus, tadi kata Yanti besok sore dia mau datang jenguk kamu bareng Herman."
" Owh...kamu cerita sama dia Al?" tanyaku.
" Emang kenapa Lus? Yanti kan sepupumu, dia aja sampai kaget."
" Ga kenapa- napa sih Al, cuma takut merepotkan," jawabku.
"Yanti aja tadi ngomong Lus, kenapa kamu ga ngabarin dia," cerita Aldo.
Kak Yanti memang baik, aku hanya tidak mau merepotkan.
__ADS_1
Selain itu aku ga mau berurusan dengan Tante Linda.
Terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumahku, pasti mas Dirga yang datang.
Mas Hendra hendak bangun dari duduknya, tapi kali ini mama melarang Mas Hendra bangun.
" Udah Nak Hendra duduk saja, itu pasti Nak Dirga yang datang....biar Tante saja," ujar mama kemudian membuka pintu teralis.
" Malam Tante...," suara Mas Dirga dari arah teras.
" Malam Nak...ayo masuk."
Mas Dirga membawa sekantong buah dan memberikannya pada mama.
" Repot- repot Nak, makasih ya.." mama menerima kantong yang diberikan Mas Dirga.
" Wah lagi rame ternyata..." ucap mas Dirga begitu masuk.
" Halo.." Hai.." sapa Aldo dan Mas Hendra.
" Halo semuanya," jawab Mas Dirga.
"Duduk Nak," suruh mama pada Mas Dirga.
Mas Dirga lalu bergabung dengan kami duduk di sofa tamu.
"Gimana Lus udah baikan?" tanya mas Dirga padaku.
"Masih nyeri Mas...terutama yang di lengan," jawabku.
Mama ke dapur... mengambilkan minum untuk mas Dirga lalu duduk bersama kami.
" Nak Dirga udah makan?" tanya mama pada Mas Dirga.
" Udah Tan, tadi di rumah," jawabnya.
Ponselku berdering, di layar ponselku tertera nama Fendi.
" Sori ya aku angkat telepon dulu," izinku pada para tamuku.
" Halo Fen..."
" Lus, kata Eni kamu habis kecelakaan? gimana kondisimu? di mana yang sakit?" tanya Fendi terdengar panik.
"Aku ga apa- apa Fen, ini udah pulang dari rumah sakit kok," jawabku menenangkannya.
" Yang terluka di mana Lus?" tanyanya lagi.
" Kata dokter ga parah Fen, cuma memar aja di lengan kanan dan ada sedikit luka sobek di kepala," jelasku.
" Terus kepala kamu gimana?"
" Udah dijahit...hasil Rontgen semuanya bagus Fen, ga parah," jawabku.
" Syukurlah kalau begitu, aku udah cemas pas Eni kasihtau," ujar Fendi lagi.
"Ga usah cemas Fen, aku ga apa- apa," jawabku.
" Fen, maaf ya aku lagi ada tamu nih...nanti kita sambung lagi ya."
" Owh... oke Lus...cepat pulih ya...aku ga mau ada apa- apa sama kamu. Jaga diri baik- baik ya.. bye...," ucapnya menutup obrolan.
" Makasih ya Fen, bye..." tutupku.
Aku menutup ponselku, kemudian aku terdiam melihat tiga pasang mata yang semuanya menatap ke arahku. Aku salah tingkah.
Aku berdehem...
Ketiga laki - laki di depanku seakan tersadar.
Ku lihat mama tersenyum dan mengedipkan matanya padaku.
__ADS_1
Mama sedang meledekku.