Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Fendi: aku ingin senyum Lusiana hanya untukku.


__ADS_3

Aku mendapat kabar dari Eni bahwa Lusiana mengalami kecelakaan.


Tentu saja aku panik bukan kepalang.


Aku takut terjadi apa- apa pada Lusiana.


Setelah mendengar kabar itu, aku segera menelepon Lusiana dan menanyakan kondisinya.


Ternyata Lusiana sudah pulang ke rumahnya, dan aku sedikit lega mendengarnya.


Lusiana bilang lukanya tidak parah dan tinggal pemulihan saja.


Tapi tetap saja hatiku sangat cemas, sebelum melihat secara langsung kondisinya hatiku tidak bisa tenang.


Aku memutuskan besok untuk kembali ke Indonesia untuk melihat keadaannya.


Aku segera memilih penerbangan tercepat sampai ke Jakarta.


Aku menginap di Jakarta untuk meneruskan penerbangan ke Pulau Bangka keesokan harinya.


Yang kupikirkan adalah untuk segera bertemu dengan Lusiana.


Di sore hari aku menjemput Eni ke rumahnya dengan mobil pinjaman milik Abangku.


Aku sengaja tidak mengabari Lusiana bahwa aku sudah kembali dari Taiwan.


Aku cuma mengabari Eni dan melarangnya untuk memberitahu pada Lusiana.


Aku ingin memberi kejutan padanya.


Dan aku juga ingin melihat apakah ia akan senang jika melihatku datang mengunjunginya.


Bersama Eni aku datang mengunjunginya.


Lusiana terkejut melihatku.


Kuobati kerinduanku selama ini hanya dengan melihatnya.


Kulihat Lusiana semakin cantik dan dewasa.


Keanggunan terpancar dari wajahnya.


Eni suka meledekku dengan Lusiana, dari dulu ia memang yang paling ingin aku dan Lusiana bisa bersama.


Aku memanfaatkan waktu ku selama berada di Bangka untuk selalu bisa bersama Lusiana.


Tiap hari aku datang ke rumahnya, mengobrol dan bercanda untuk mengobati kerinduanku selama ini.


Hingga obrolan kami akhirnya ke masalah kelanjutan hubungan kami.


Lusiana mengakui selama ini ia juga menyukaiku sejak semasa kami masih SMA.


Tentu saja aku bahagia mendengar pengakuannya, selama ini ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.


Lusiana berharap aku bisa kembali dan bekerja di Indonesia.

__ADS_1


Tapi tentu saja tidak segampang itu, aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku yang baru ku rintis.


Usaha rumah makan yang modalnya dari hasil kerjasamaku dengan temanku yang warga Taiwan itu sudah mulai ramai dan sudah menampakkan hasil.


Aku dan temanku juga sedang berencana untuk membuka cabang di tempat lain.


Lalu aku menawarkan Lusiana untuk ikut bersamaku ke Taiwan, ia bisa bantu- bantu di rumah makanku.


Tapi Lusiana menolak tawaranku, ia tidak bisa meninggalkan mamanya sendirian.


Tentu saja aku sangat kecewa, bagaimana hubungan kami bisa ada kemajuan sementara tidak ada titik temu di antara kami berdua.


" Jalan satu- satunya...kita harus bisa saling melepaskan Fen...carilah gadis yang kamu suka," ucap Lusiana padaku.


" Tapi aku sukanya sama kamu Lus," ucapku sambil menatap lurus pada Lusiana.


" Tapi percuma Fen kalau kita saling menunggu, tidak ada ujungnya," jawab Lusiana lagi.


Aku tentu saja sangat kecewa.


Tapi apa yang dikatakan Lusiana itu benar adanya, aku tidak bisa memaksakan kehendakku padanya.


Sementara aku sendiri tidak bisa mengalah untuk melepas pekerjaanku yang ada di Taiwan.


Kami akhirnya memutuskan untuk tetap menjalani kehidupan kami masing- masing tanpa ada yang merasa terikat.


Kami tetap menjalani pertemanan jarak jauh, walaupun aku tetap berharap banyak pada Lusiana.


Aku tau dari cerita Eni padaku, di sini banyak laki- laki yang " mengincar" Lusiana.


Andai aku punya pekerjaan di sini, Lusiana sekarang pasti sudah menjadi milikku.


Tapi apa boleh buat, aku terpaksa mencari pekerjaan di Taiwan, dan setelah aku berhasil mengumpulkan modal, kebetulan ada temanku yang menawarkan kerja sama untuk membuka usaha.


Tidak mungkin aku melepaskan hasil kerja kerasku selama ini begitu saja.


Kalaupun aku berani memulai pekerjaan di Indonesia, aku harus berjuang dari nol lagi.


Dan itu tentu tidak mudah.


Aku hanya berharap, semoga ada jalan yang terbuka bagi kami berdua untuk bisa bersama sebagai pasangan hidup.


Tapi aku tetap mendoakan Lusiana seandainya kami tidak berjodoh, aku berharap Lusiana bisa hidup bahagia dengan laki- laki pilihannya.


............................


Malam hari aku datang ke rumah Lusiana, aku ingin berpamitan dengannya...besok aku sudah harus kembali.


Besok penerbangan dari Bangka ke Jakarta dengan pesawat pagi, dan dari Jakarta aku langsung pulang ke Taiwan.


Ku lihat ada sebuah motor gede dan sebuah mobil sedan terparkir di rumah Lusiana.


Lusiana lagi ada tamu rupanya.


" Masuk Fen..." ajak Lusiana ketika ia melihatku turun dari mobil.

__ADS_1


Aku mengikuti Lusiana masuk dan kulihat di ruang tamu ada dua orang laki- laki tampan.


Satu orang laki- laki gagah mengenakan kemeja kotak- kotak lengan pendek. Wajahnya tampan dan terlihat sudah matang dengan penampilan berwibawa.


Dan seorang lagi laki- laki dengan postur tinggi tegap dengan model rambut ala artis Korea, tampan dan kutebak ia seumuran denganku. Ia mengenakan kaos casual yang dipadu dengan celana jeans.


"Kenalin Fen ini Mas Dirga dan ini Aldo," Lusiana memperkenalkan mereka padaku.


" Mas Dirga, Al...ini Fendi temanku semasa SMA, ia kerja di Taiwan dan baru balik ke sini," ucap Lusiana.


"Halo," sapa mereka.


" Halo..." jawabku.


" Duduk Fen...sini," ajak Lusiana.


Lusiana berjalan ke arah dapur, lalu keluar membawa segelas air putih untukku.


" Fen, makan martabak," tunjuk Lusiana pada martabak yang ada di meja tamu.


" Makasih Lus, nanti aku makan," jawabku.


"Sudah lama kerja di Taiwan Fen?" tanya laki- laki yang memakai kemeja kotak- kotak lengan pendek yang Lusiana kenalkan padaku dengan panggilan Mas Dirga.


" Dari tamat SMA Mas, ga lanjut kuliah langsung dapat kerjaan di sana," jawabku.


" Sering pulang ke Bangka Fen?" tanya laki- laki satunya yang bernama Aldo.


" Jarang....kalau pas ada yang penting saja, soalnya sekarang lagi merintis usaha rumah makan di sana, dan sekarang lagi sibuk- sibuknya," jawabku.


"Ini juga besok mau balik ke Taiwan, datang ke sini mau pamitan sama Lusiana," tambahku lagi.


" Besok udah mau balik Fen?" tanya Lusiana.


" Iya Lus, temanku udah ngerecokin suruh aku cepat balik. Dia kerepotan sendirian ngurus kerjaan," jawabku.


Aku sedikit kecewa, sebenarnya hari ini aku ingin mengajak Lusiana keluar makan.


Aku ingin menghabiskan malam ini berdua dengannya, sebelum aku kembali ke Taiwan.


Ternyata di rumah Lusiana lagi ada tamu- tamu tampan.


Tapi salahku sendiri, harusnya aku janjian dulu pada Lusiana.


Ia tidak mungkin pergi meninggalkan tamu- tamunya.


Aku menghela napasku, kusembunyikan rasa kecewaku dengan senyum di bibirku.


Biarlah biar ada tambahan teman ngobrol walaupun aku tau mereka sebenarnya adalah " sainganku" untuk memperebutkan hati Lusiana.


"Gimana dengan lukamu Lus? masih sakitkah?" tanyaku pada Lusiana.


" Masih sedikit Fen, memarnya juga udah mulai berkurang," jawabnya tersenyum manis padaku.


" Ah ...Lusiana betapa aku ingin senyum manismu itu hanya diberikan untukku," gumamku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2