
Aku menaruh banyak makanan pemberian teman- teman sekantorku di piring lalu membawanya ke meja tamu.
" Mas Dirga, dicobain ini dari teman- teman sekantor."
"Makasih Lus, banyak amat makanannya," kata mas Dirga.
" Ga tau tuh, teman- teman pada rebutan ngasih Lusi makanan, katanya karena ga sempat jenguk Lusi pas Lusi kecelakaan," jelasku.
Dari mulai martabak, empek- empek, tahu kok bahkan buah- buahan.
"Lusi lagi panasin tahu kok Mas, habis ini makan tahu kok," kataku tertawa.
"Masakan mama ga laku dong Lus," mama tiba- tiba muncul sambil membawa dua mangkok tahu kok.
( Tahu kok\= makanan berkuah seperti sop khas Bangka yang terbuat dari tahu yang diberi campuran daging ikan tenggiri yang dibentuk dengan sagu, ada campuran baso ikan, Fu kian\= adonan daging ikan tenggiri dan sagu yang dibungkus dengan kulit kembang tahu, dan sayur sawi).
"Dimakan Nak Dirga," mama meletakkan mangkok yang berisi tahu kok di meja tamu.
" Makasih Tan..." ucap Dirga.
" Mama ga makan?" tanyaku.
" Nanti, udah mama sisakan bagian mama," jawab mama.
Mama lalu meninggalkan kami untuk makan malam.
Aku dan mas Dirga menikmati tahu kok pemberian teman kantorku.
"Kenyang Lus...makasih ya, malah ditawarin makan," mas Dirga menghabiskan tahu kok nya.
"Banyak mas, itu belum lagi makanan yang lain," jawabku.
"Teman- temanmu perhatian banget," puji mas Dirga.
" Iya mas, Lusi diperlakukan seperti adek bontot," tawaku.
" Mereka semua sudah berkeluarga mas, rata- rata seumuran mbak Tin," ceritaku.
Mas Dirga tersenyum mendengar ceritaku.
"Temanmu Fendi jadi balik ke Taiwan?" tanya mas Dirga.
"Udah mas, yang waktu malam ketemu mas Dirga besoknya langsung balik," jawabku.
"Bagaimana hubunganmu dengan Fendi Lus...? maaf kalau seperti ingin tau," tanya mas Dirga.
" Ga ada titik temu mas," jawabku.
" Maksudnya?"
"Fendi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya yang ada di Taiwan, dia memintaku untuk bersamanya kerja di sana...aku juga ga bisa mas, mana tega aku meninggalkan mama sendiri di sini," jawabku.
"Jadi ya kami tidak bisa mengikat satu sama lain, bebas mas...," tawaku.
"Bagaimana dengan bosmu Lus?"
" Ga lah mas, status kami terlalu jauh berbeda, lagian orang tuanya sudah menjodohkan mas Hendra, bentar lagi dia udah mau tunangan," jawabku.
" Lalu bagaimana dengan Aldo Lus, mas Dirga lihat dia laki- laki yang baik," ujar mas Dirga.
"Belum ada rasa mas," jawabku tertawa.
"Kalau sama mas Dirga?"
__ADS_1
Aku terdiam, mas Dirga serius atau bercanda nih?
Aku lalu tertawa, mas Dirga pasti bercanda.
"Mas serius Lus, tapi ya sudah lah. Lagian masih terlalu cepat," katanya lagi.
Aku belum bisa mencerna kata- kata mas Dirga.
"Jalanin aja dulu, semua butuh proses bukan?" tanyanya lagi.
" Iya mas...," jawabku.
"Lus, kapan- kapan mau mas Dirga ajak main ke rumah? mama mas Dirga sering nanyain kamu."
" Oh ya...salam buat Tante mas...," jawabku.
"Cuma Lusi malu kalau diajak main ke rumah mas Dirga," sambungku lagi.
"Lho malu kenapa?" tanyanya.
"Biasa kalau diajak ke rumah itu bukannya calon menantu mas?" tanyaku polos.
Mas Dirga tertawa, ia lalu mengacak- ngacak rambutku.
" Kamu itu emang lucu Lus, pantesan suka diisengin Bang Vino mu," mas Dirga terkekeh.
Aku menggaruk belakang tengkukku yang tidak gatal.
"Apanya yang lucu mas? Lusi kan bukan badut?" tanyaku.
" Lucu aja, ngemesin," ujarnya lalu ia tertawa.
"Mamanya mas Dirga itu dulunya pengen punya anak perempuan, tapi ga kesampaian. Sama Nely aja, isterinya Dilan adikku mama sayangnya minta ampun."
"Kalau Dilan sama Nely bertengkar, yang dibelain selalu Nely...kata mama perempuan selalu benar," mas Dirga terkekeh.
Aku bisa melihat, mama mas Dirga wanita yang baik dan ramah, sama seperti mamaku.
Mamaku juga selalu mengganggap menantu perempuannya seperti anaknya sendiri.
Dulu Bang Vino juga pernah bertengkar dengan mbak Wita, malah bang Vino yang diomelin mama habis- habisan, kata mama masa laki- laki ga mau ngalah sama perempuan.
Mbak Wita waktu itu meledek bang Vino dengan senyuman penuh kemenangan.
Aku jadi senyum- senyum, beruntunglah yang punya mertua seperti beliau- beliau.
"Napa senyum sendiri Lus? ada yang lucu?" tanya mas Dirga.
"Keinget sama bang Vino sama isterinya," jawabku.
"Oh lagi kangen sama abangnya?"
"Bang Vino sering telponan sama mas Dirga?" tanyaku.
"Sering banget Lus, biasanya malam sebelum tidur," jawab mas Dirga.
"Ih, kayak orang pacaran aja," tawaku.
"Iya Lus, udah kebiasaan dari dulu," jawab mas Dirga.
"Senang ya punya teman awet begitu."
"Lusi juga punya teman kayak gitu toh?" tanyanya.
__ADS_1
"Punya Mas, tapi ga sering telponan sebelum tidur," jawabku tertawa.
"Tapi kan kamu sering ngumpul sama teman- temanmu Lus."
" Iya sih mas," jawabku.
**************
" Lus..." sebuah tangan menyentuh pergelangan tanganku.
Aku spontan menepis tangan yang memegang ku.
Mbak Tin juga terlihat kaget.
"Pak Nino..."
"Maaf Lus...aku ingin mengantarmu pulang," terlihat rasa bersalah di wajahnya karena mengagetkanku.
" Ga usah Pak Nino, bentar lagi kita dijemput kok," tolakku.
"Siapa yang jemput Lus?" tanyanya
"Abangku Pak, ini mau nemenin mbak Tin dulu ke toko buah, kami janjian dijemput di situ," tunjukku pada toko buah di seberang kantorku.
Pak Nino terlihat tidak percaya.
Aku mengambil ponselku, lalu menelepon mas Dirga.
Mas Dirga mengangkat panggilan teleponku.
Aku sengaja membuka speaker ponselku, agar Pak Nino mendengar.
"Halo Lus...."
"Tunggu bentar ya Pak Nino, ini Abangku," tunjukku ke ponselku dengan suara agak keras.
"Halo mas Dirga, jangan lupa jemputnya di toko buah seberang kantorku ya,"
"Aku dan Mbak Tin tunggu di sana," sambungku lagi.
"Oke Lus, bentar lagi mas Dirga sampai kok...ini lagi otw," jawab mas Dirga.
Aku menarik napas lega, mas Dirga bisa diajak kerja sama.
Untung Mas Dirga mengerti yang aku teriakkan tadi dengan suara agak kencang.
Pak Nino tidak bisa berkata- kata apa- apa lagi, semoga dia tidak tersinggung dengan penolakan ku kali ini.
Semoga Pak Nino percaya aku memang sudah janjian mau dijemput mas Dirga.
Mbak Tin ikut membantuku memainkan sandiwara kami.
" Jadi ga Lus temani mbak beli buahnya?" tanyanya.
" Jadi mbak Tin, ayo," ajakku.
"Permisi ya Pak Nino, maaf kami duluan ya."
"Baiklah Lus, lain kali ya aku jemput kalau pas lagi tugas di sini," katanya dengan kecewa.
"Mari Pak...permisi," pamitku padanya.
Ada rasa kasihan dan tidak enak hati pada Pak Nino, tapi apa boleh buat aku tidak boleh memberinya harapan.
__ADS_1
Aku juga tidak ingin ia terlalu berharap padaku, karena lebih baik menolak di awal daripada nanti.