
Desi sudah beberapa kali mengirimkan pesannya padaku.
"Dasar perempuan...tidak sabaran," ucapku dalam hati.
Aku sedang menuju ke acara pernikahan Marsella, kakak sepupu Desi.
Pesan yang masuk dari Desi tidak kuhiraukan, toh aku dalam perjalanan, sebentar lagi sudah mau sampai.
Aku memarkirkan mobilku di tempat parkir. Aku memilih parkir di dalam basement hotel.
Dengan terburu- buru aku lalu menuju lantai dua tempat acara resepsi diadakan.
Ketika sudah dekat, mataku langsung terfokus pada gadis cantik yang membuatku terbelalak.
"Lusiana," pekik ku dalam hati.
Di sebelah Lusiana duduk Desi, isteriku yang sedang memegang ponselnya.
Desi sedang menekan tombol teleponnya.
Telepon genggam yang ada di saku celanaku tiba- tiba berdering.
Lusiana mencari ke arah suara dering teleponku, aku cepat berbalik ke arah sebelah tembok.
Untunglah ada sebuah tiang besar yang ada di situ, sehingga mengganggu pandangan Lusiana padaku.
Aku segera mematikan ponselku, untung saja Desi tidak mendengar suara dering dari ponselku.
Mungkin ia lagi fokus pada ponselnya.
Aku mengurut dadaku lega, hampir saja aku ketahuan.
"Mengapa Lusiana bisa ada di sana sebagai penunggu buku tamu? bersama Desi?" aku berpikir keras.
Ternyata dunia ini begitu sempit, apa mungkin Lusiana adalah keluarga dari suami Marsella?
Syukurlah keberuntungan lagi berpihak kepadaku, Lusiana duduk sebagai penunggu buku tamu.
Coba kalau tidak, rahasiaku akan terbongkar hari ini di depan Desi dan Lusiana.
Astaga....aku menghela napas lega.
Aku segera mengetik pesan untuk Desi.
" Des, aku sepertinya tidak bisa datang ke sana, mobilku tiba- tiba mogok," bohongku.
"Nanti kamu pulang naik taxi saja ya," tambahku.
Aku lalu segera meninggalkan tempat itu, sebelum ada yang mengenaliku sebagai suami Desi.
Bisa berantakan rencana ku untuk mendapatkan Lusiana.
Kalau Lusiana berhasil kudapatkan, aku tidak akan segan- segan untuk menceraikan Desi.
__ADS_1
Aku sudah muak dan bosan hidup bersama dengan Desi.
Desi terlalu membosankan, apalagi sekarang saat ia lagi hamil.
Tubuhnya mulai terlihat semakin gendut, pipinya terlihat tembem dan banyak jerawat tumbuh subur di mukanya itu.
Desi tidak bisa merawat diri, sejak hamil ia jadi malas bangun pagi dan selalu mandi kalau hari sudah siang.
Terkadang kalau aku pulang ke rumah, rambutnya pun selalu terlihat berantakan.
Ia suka memakai daster, ya ampun padahal aku selalu memberinya uang lebih untuk merawat diri.
Kalau aku menyuruhnya ke salon jawabnya pasti begini.
" Ga usah ke salon mas, sayang uangnya mending aku tabung saja," begitu selalu jawabannya.
Pernah aku belikan skincare untuk perawatan wajahnya, hasilnya apa skincare nya tetap utuh tidak pernah ia pakai.
"Kenapa skincare yang mas beli tidak pernah kamu pakai?" tanyaku.
" Malas mas...walaupun pakai skincare tidak akan bikin aku tambah cantik mas...," begitu selalu jawabannya.
Jadi bukan salahku sepenuhnya dong, kalau ada perempuan lain yang lebih cantik aku akan mengagumi mereka.
Kalau Lusiana, dari sananya memang sudah cantik...walaupun tanpa riasan... ia mempunyai kecantikan alami.
Beda dengan Desi...walaupun sebenarnya Desi juga cantik...tapi kalah jauh dengan Lusiana.
Lusiana dari bodinya saja udah membuatku tertarik, tubuhnya langsing indah dilihat mata.
Bagaimana aku bisa tahan dengannya.
Belum lagi ia malas mandi, pagi sebelum aku berangkat kerja ia belum mandi dan saat aku pulang ke rumah di sore hari ia juga belum mandi.
Kapan ia bisa berdandan untuk suaminya?
Ia tidak pernah tampil cantik saat aku ada di rumah.
Heran aku...
Walaupun itu tidak menjamin aku tidak melirik wanita lain saat berada di luar, tapi setidaknya ia harus bisa terlihat cantik dan rapi saat bersamaku.
Lain hal kalau kami kekurangan uang, sehingga ia memilih untuk menyimpan uangnya daripada untuk mempercantik dirinya.
Kami tidak pernah kekurangan uang, selain aku mempunyai jabatan yang cukup tinggi di perusahaan tempatku bekerja...aku juga punya tempat kos- kosan beberapa pintu yang diserahkan oleh papaku atas namaku.
Aku tidak pernah melarang Desi untuk belanja apapun keperluannya, ia bebas menggunakan uangku.
Tapi ia sendiri yang selalu menolak kalau aku menyuruhnya melakukan perawatan.
Baik itu pergi ke salon kecantikan ataupun perawatan ke dokter kecantikan.
Selalu yang dipikirkannya ditabung dan ditabung.
__ADS_1
"Buat anak- anak kita nanti," jawabnya.
Desi hanya memikirkan anak- anak yang lahir ke dunia saja belum, tapi tidak pernah ia memikirkan kemauan suaminya.
Aku ingin Desi selalu bisa tampil cantik di depanku, tapi Desi tak pernah peduli keinginan suaminya ini.
Aku sampai di tempat parkir, segera aku masuk ke mobil dan menjalankan mobilku menuju ke rumahku yang ada di Pangkalpinang.
Sudah dua hari Desi ikut denganku ke rumah kami yang ada di sini.
Dan rencananya masih akan tinggal beberapa hari lagi karena aku juga sedang tugas di kota ini.
Sekali- kali ada Desi yang menemani tidak apa- apa, ini karena kebetulan ada acara pernikahan Marsella, kakak sepupu Desi.
Biasanya aku enggan mengajak Desi nginep di sini.
Selain karena Desi sedang hamil agar ia tidak capek bolak- balik Pangkalpinang- Sungailiat, juga karena aku tidak ingin Desi jadi halangan buatku untuk mendekati Lusiana.
Aku akan kerepotan mencari alasan meninggalkannya sendirian di rumah.
Setelah sampai di rumah, aku segera mandi mengganti pakaianku.
Lalu makan mie instant untuk mengisi perutku, tadinya aku pikir untuk makan di pesta pernikahan Marsella.
Tapi semua gagal dan di sinilah aku akhirnya berada.
Setelah menggosok gigi aku berbaring di sofa sambil menonton acara televisi.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku baru terbangun keesokan paginya.
Aku melihat ada selimut yang membungkus tubuhku, pasti Desi yang menyelimutiku.
Semalam aku tidak mendengar waktu Desi pulang.
Aku lalu melipat selimutku, lalu menaruhnya kembali di atas sofa.
Aku membuka pintu kamar untuk mengambil pakaian kerjaku dan akan membawanya ke kamar mandi di dekat dapur.
Aku tidak ingin mandi di dalam kamar mandi kamarku, takut membangunkan Desi.
Ku lihat Desi masih terlelap.
Aku menutup pintu kamar dengan hati- hati.
Setelah menggantung pakaian kerjaku di kamar mandi, aku menyiapkan sarapan untukku dan Desi.
Aku membuat roti panggang lalu mengoleskannya dengan selai nanas kemudian menyeduh segelas susu untuk Desi.
Setelah selesai, aku segera mandi baru kemudian makan sarapanku.
Aku berangkat kerja setelah mengunci semua pintu, aku tidak pamit kepada Desi karena tidak ingin membangunkannya.
Ada sedikit rasa bersalah padanya setelah apa yang kulakukan semalam, aku membiarkan Desi pulang sendiri dalam keadaan lagi hamil anak kami.
__ADS_1
Ah biarlah, toh sudah tidak ada lagi rasa cinta ku pada isteriku itu.
Aku hanya sekedar menjalankan pernikahan yang kurasa sudah semakin hambar...