Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Direndahkan


__ADS_3

Hendra


menatap tajam pada Firda setelah ia bangun keesokan harinya.


"Kenapa kamu menatapku begitu sayang?" Firda tersenyum gemas pada Hendra.


"Siapa yang sudah mempe*****i kamu hah? dasar perempuan murahan," Hendra sengaja ingin menyakiti hati Firda.


Senyum Firda langsung hilang dari bibirnya, ia pucat pasi.


Ia tidak menyangka Hendra akan mempersoalkan tentang kesuciannya.


Firda menyangka, di zaman modern seperti sekarang hal itu sudah tidak dipermasalahkan lagi.


Firda langsung teringat pada Novar, mantan pacarnya yang sudah merenggut keg***s*n nya, yang diberikan Firda dengan suka rela.


"Kenapa kamu diam saja hah? siapa yang sudah melakukannya?" bentak Hendra.


Hendra sebenarnya tidak peduli dengan hal itu, toh ia tidak pernah mencintai Firda.


Tapi Hendra jadi tau, Firda memang gadis yang tidak bisa menjaga martabatnya sendiri.


Dan itu semakin menambah nilai minus Firda di mata Hendra.


"Apakah itu penting?" tanya Firda.


" Tidak penting juga...aku hanya ingin tau siapa yang melakukannya?" tanya Hendra geram.


"Novar mantan pacarku," jawab Firda akhirnya.


"Bagus....aku jadi punya alasan untuk segera menceraikanmu," ancam Hendra.


" Apa? jangan gila sayang...kita kan baru saja menikah...aku bisa dibunuh sama papaku," kata Firda memelas.


Hendra tersenyum penuh kemenangan, ia sudah punya senjata untuk melawan papanya.


"Kita lihat saja nanti," Hendra tersenyum dingin.


"Dan satu lagi aku ingatkan padamu....jangan coba- coba memberiku obat pe*******g lagi, kalau kamu lakukan itu lagi lihat saja apa yang bisa aku lakukan," ancam Hendra.


" Ja...di...kamu sudah tau?" Firda tergagap.


" Kamu kira aku laki- laki bodoh yang tidak tau apa- apa?" Hendra tersenyum sinis.


"Pantesan kamu berani memaksa aku untuk menikahimu, padahal sudah tau keadaan dirimu yang sudah kotor...kamu kira aku bodoh juga tidak bisa membedakan mana gadis yang masih suci atau tidak?" ejek Hendra.


Firda terdiam, mukanya merah padam.


Hendra berani merendahkannya karena ia yang sudah tidak suci lagi.


Belum pernah Firda merasa terhina seperti ini.


Selama berpacaran dengan Novar, ia bisa memperlakukan Novar seenaknya.

__ADS_1


Tapi Firda tidak berkutik di hadapan seorang Hendra.


"Jangan coba- coba mendekatiku lagi...kalau tidak akan kukatakan semuanya pada papa mamamu biar mereka tau kelakuan anak mereka," ancam Hendra.


Firda bungkam, ia tidak bisa berkata apa- apa, orang tuanya memang selama ini memberi kebebasan penuh padanya.


Tapi andai mereka tau apa yang sudah ia lakukan bersama dengan Novar, mungkin Firda akan mendapatkan kemarahan orang tuanya.


"Bereskan pakaianmu, kita check out," perintah Hendra.


Hendra lalu membawa mobilnya menuju ke rumah Hendra.


"Sayang...kenapa kita ke rumahmu, bukankah sudah diputuskan kita tinggal di rumah papaku?" tanya Firda.


"Aku tidak peduli kamu mau ikut aku atau tidak, kalau kamu memang tidak mau ikut...aku antar kamu ke rumah orang tuamu," ketus Hendra.


Firda langsung terdiam, ia mati kutu. Ia yang biasanya bersikap sombong dan suka memerintah tidak berkutik di hadapan Hendra.


Hendra memang sengaja membawa Firda ke rumah orang tua Hendra.


Hendra pun sebetulnya sudah punya rumah sendiri yang sudah lama ia beli tanpa sepengetahuan papanya.


Hanya mama Hendra yang tau, dan Hendra memang tidak berniat memberitahu papanya.


Rumah yang Hendra beli dirawat oleh Bi Ida dan suaminya Mang Yadi, orang kepercayaan Hendra.


Hendra membeli rumah yang ia persiapkan apabila ia sudah menikah dengan orang yang dicintainya.


Hendra sengaja membawa Firda ke rumahnya untuk menunjukkan pada papanya, bagaimana pernikahan Hendra dengan Firda nantinya.


Biar papanya bisa membuka matanya lebar- lebar, perempuan seperti apa Firda itu.


Hendra tau, selama ini Firda suka hidup berfoya- foya, suka dunia malam, dan keluyuran.


Sifat yang sudah terbawa dalam waktu lama, Hendra berani bertaruh setelah menikah pun Firda tidak akan berubah.


Lihat saja....biar papa tau perempuan macam apa yang diinginkannya menjadi menantu itu.


Hendra memarkirkan mobilnya ke dalam rumah orang tuanya.


Mamanya datang menyambutnya.


"Lho kalian pulang ke sini Nak? bukankah tadinya kalian udah sepakat tinggal bersama orangtua Firda?" tanya mama Hendra heran.


"Perubahan rencana ma, Firda bilang dia mau jadi menantu yang baik mau melayani mama dan papa," jawab Hendra asal.


Papa Hendra yang baru keluar dan mendengar jawaban Hendra tertawa.


" Bagus itu, Firda memang menantu papa yang paling bisa dibanggakan," tawa papa Hendra.


Hendra tertawa dalam hati.


"Lihat saja Pa....nanti akan terbuka sendiri sifat asli Firda," gumam Hendra sinis di dalam hati.

__ADS_1


Firda yang mendengar kata- kata Hendra hanya bisa memaki dalam hatinya.


"Mati aku...," Firda tersenyum salah tingkah sendiri.


"Ayo masuk Nak, ini rumahmu sekarang," ajak papa Hendra.


"Masuklah Nak," ajak mama Hendra.


Firda lalu mengikuti Hendra yang langsung masuk ke kamarnya. Ia menarik kopernya perlahan.


Papa Hendra tersenyum.


"Lihat ma...pengantin baru terlihat akur...," tawa papa Hendra yang terlihat senang.


Mama Hendra diam saja, ia tidak berkomentar apa- apa.


Mama Hendra bisa merasakan sikap dingin Hendra terhadap Firda.


"Simpan bajumu di dalam lemari, susun yang rapi...aku tidak suka berantakan," ketus Hendra.


"Nanti saja suruh pembantu yang susun," jawab Firda merasa malas.


"Di sini pembantu cuma mengurus cucian, masak, nyapu, dan ngepel...yang lain urus masing- masing," ujar Hendra.


"Kamu tinggal di sini harus ikut peraturan di sini...kalau tidak mau silahkan pulang dan jangan balik lagi," Hendra berkata tegas.


Firda cemberut, di rumahnya semua dilakukan oleh pembantu...ia tinggal tunjuk dan perintah saja.


Firda mengeluarkan pakaian dari koper dengan kasar, ia terpaksa menyusun dan merapikannya sendiri.


"Telepon orang tuamu, katakan kalau kamu yang ingin tinggal di sini," perintah Hendra.


"Nanti malam kamu boleh ambil alih tempat tidurku, aku tidur di sofa itu....jangan coba- coba menyentuh dan mendekatiku," tambah Hendra.


Firda bungkam, dalam hatinya ingin ia berteriak...


Tapi kelemahannya sudah dipegang sama Hendra.


Ia jadi menyesali apa yang sudah dilakukannya dulu bersama Novar.


Sekarang Firda yang merasakan akibat dari perbuatannya yang sudah berani melanggar aturan.


Andai ia bisa mengulang waktu, Firda tidak ingin melakukannya kalau tau sikap Hendra akan begini terhadapnya.


Sikap yang direndahkan sebagai seorang isteri, ia seperti sampah yang tidak ada artinya.


Tapi itu adalah konsekuensi dari perbuatannya di masa lalu.


Dulu ia bersenang- senang tanpa memikirkan akibatnya untuk di kemudian hari bila ia menikah.


Ini dunia Timur, di mana masih menjunjung nilai- nilai martabat dan harga diri seorang gadis.


Mungkin cerita ini bisa dijadikan pelajaran bagi para gadis yang belum menikah untuk bisa menjaga harga diri dan martabatnya sebagai seorang gadis agar tidak direndahkan di kemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2