Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana: gratisan


__ADS_3

Sabtu


Hari ini bang Vino akan kembali ke Cianjur. Pesawatnya sore nanti akan membawanya pulang ke Jakarta dan akan melanjutkan perjalanan ke Cianjur dengan menggunakan kereta api.


Mas Dirga pagi- pagi sudah datang ke rumah kami. Rencananya Mas Dirga akan mengajak bang Vino belanja di swalayan milik mas Dirga untuk membeli oleh- oleh untuk dibawa pulang ke Cianjur.


Bang Vino mengajakku ikut bersama mereka, kali ini dengan senang hati kuterima ajakan bang Vino karena aku ingin dekat dengan bang Vino.


Bang Vino akan kembali pulang pada anak isterinya, dan tentu saja aku akan memanfaatkan waktu bersama bang Vino sebelum dia kembali.


Entah kapan lagi ia akan pulang ke Pulau Bangka, aku pasti akan merindukan abang jahilku ini.


Sesampainya di swalayan milik mas Dirga, kami masuk dan para pegawai di situ langsung menyapa bos mereka.


Bang Vino langsung memburu semua makanan kesukaan isteri dan kedua anaknya.


Kemplang, kerupuk, lempok cempedak, kue semprit, dll dimasukkannya ke dalam troli belanjaannya.


" Lus, kamu ingin apa? ambil saja mas Dirga yang bayarin," kata Mas Dirga kepadaku.


" Jangan ah mas, kalau mau nanti Lusi beli...mas Dirga kan dagang...mana boleh gratis," ucapku.


" Bukan gratis, tapi mas bayarin," sanggah mas Dirga.


" Sama aja itu mas," kataku tertawa.


" Aku yang borong, ga ditawarin dibayarin bro....," bang Vino meledek mas Dirga.


" Ambil aja, siapa takut...," ucap mas Dirga tertawa.


" Bercanda bro....," kata bang Vino cengengesan.


" Udah gampang bro...nanti dikasih diskon."


" Janganlah bro...harga umum aja, kamu dagang ga tega aku pelorotin sahabat sendiri," bang Vino tertawa sambil mencari- cari yang masih ingin dibelinya.


Mas Dirga mengambil beberapa bungkus makanan dan membayarnya ke kasir.


" Ini buat mamamu Lus," mas Dirga menenteng " belanjaan" nya dan meletakkannya di dalam troli bang Vino.


" Ga usah bro, ini aku udah beli lebih juga buat mamaku," kata bang Vino.


" Udah masuk pembukuan kasir bro, ga bisa dibalikin," mas Dirga tertawa.


" Makasih Mas Dirga," ucapku dengan perasaan tidak enak.


" Tekor kamu bro...bukannya dapat untung kita belanja di sini, malah ngasih ke kita," bang Vino menggaruk kepalanya.


" Ga lah bro tenang aja....," jawab mas Dirga tertawa.


Mas Dirga menemani kami berkeliling di swalayan nya yang mulai ramai oleh pembeli yang berdatangan.


"Lusiana....," suara yang sudah kukenal memanggilku.


Aku menoleh ke belakang... bang Vino dan Mas Dirga juga langsung menoleh ke arah Mas Hendra.

__ADS_1


"Mas Hendra...."


" Belanja apa Lus?" tanyanya tersenyum padaku.


" Nemenin abangku belanja Mas cari oleh- oleh.....,hari ini mau balik ke Cianjur. Oh ya kenalin ini bang Vino, abangku dan ini Mas Dirga. Bang Vino..Mas Dirga ini Mas Hendra, bosku," aku memperkenalkan mereka bertiga.


Mereka bersalaman sambil menyebutkan nama masing- masing.


" Mas Hendra belanja apa?"


"Lagi nyariin kemplang panggang Lus buat mama," jawab Hendra.


" Owh..."


" Ya udah Lus, aku lihat- lihat dulu ya. Mari bang...mas...," ucap Hendra pada kami.


Ia meninggalkan kami untuk mencari barang belanjaannya.


" Bosmu ganteng juga Lus...," bisik bang Vino.


" Sainganmu berat- berat bro..." bisik bang Vino pada Mas Dirga.


Mas Dirga hanya nyengir, aku ga tau apa yang dipikirkan mas Dirga tentang abangku yang usil ini.


" Tapi jangan menyerah bro....aku tetap dukung dari jauh...," bisiknya lagi.


Aku hanya bisa geleng kepala melihat ulah abangku ini.


Bang Vino akhirnya selesai, kami kemudian menuju kasir. Sementara Mas Dirga mendekati pegawainya yang bekerja sebagai kasir.


Ku lihat bosku sedang membayar belanjaannya, kantong belanjaannya banyak juga. Cepat juga bosku memilih belanjaannya.


Hendra selesai, giliran bang Vino yang maju.


Hendra menghampiriku dengan tentengannya.


" Lus, ini buat kamu dan mama kamu. Dan yang ini titip buat abangmu ya?" Hendra memberikan dua kantong belanjaannya padaku.


" Lho mas Hendra, ini buat apa?" tanyaku bingung.


" Cepat ambil," katanya memaksa.


"Aku duluan ya, lagi ditunggu mama. Titip salam buat bang Vinomu dan mamamu ya," kata Hendra.


" Ya mas, makasih ya," ucapku setelah menerima pemberian Hendra.


Hendra kemudian meninggalkan tempat itu.


Sementara itu aku lihat bang Vino lagi berdebat dengan mas Dirga.


Kasir yang melayani terlihat kebingungan...


" Dipotong aja mbak...," tegas Mas Dirga.


" Jangan mbak, harga normal saja. Kalau begini caranya aku ga mau lagi belanja di sini bro...malu...," bang Vino ngotot menolak belanjaannya dipotong harga sama mas Dirga.

__ADS_1


Kasir cuma diam kebingungan, serba salah.


" Udah jangan dipotong lagi mas Dirga...itu juga tadi udah dikasih banyak," ucapku "membela" abangku.


" Kalau dipotong aku ga jadi belanja bro...aku balikin semuanya," kata bang Vino lagi.


Aku mendukung prinsip bang Vino.


Papa dan mamaku memang mengajarkan kami untuk boleh menerima kebaikan orang. Tapi kami harus tau diri, harus punya malu dan punya harga diri.


Kami tidak boleh "memanfaatkan" kebaikan orang. Bila begitu namanya udah dikasih hati minta jantung.


Dan bang Vino menerapkan ajaran orang tua kami, ia bersikeras menolak diskonan yang mau diberi Mas Dirga.


Apalagi tadi kami sudah "dipaksa" menerima pemberiannya.


Dagang harus tetap dengan prinsip dagang. Walaupun bang Vino adalah sahabat Mas Dirga, bang Vino tidak mau mengambil untung dari kebaikan mas Dirga.


Mas Dirga berdagang untuk mencari untung, maka sudah sewajarnya bang Vino membayar belanjaannya dengan harga normal.


Mas Dirga akhirnya mengalah setelah sempat saling ngotot, karena antrian di belakang sudah mulai panjang.


Bang Vino segera membayar belanjaannya setelah kasir selesai menghitung.


***********


"Lus, itu kantong dari mana lagi?" tanya bang Vino melhatku yang menenteng dua kantong plastik yang penuh dengan belanjaan.


" Ini dari bosku tadi bang, satu buat mama dan satu lagi buat bang Vino katanya," jawabku.


" Hari ini banyak yang ngasih gratisan," bang Vino melirik mas Dirga yang cengar- cengir.


" Nanti tolong titip ucapan terima kasih buat bos kamu Lus," ucap abangku kemudian.


Mas Dirga lalu mengantar kami pulang, mama sudah menunggu kami dan menyiapkan makan siang untuk kami.


" Ayo makan Nak Dirga," ajak mama.


Kami mencuci tangan, lalu segera mengitari meja makan.


"Ma, mas Dirga beliin mama makanan dari swalayan nya, terus ada titipan juga dari bosku buat mama," aku memberitahu mama.


"Kenapa repot- repot Nak Dirga? makasih ya," ucap mama pada Mas Dirga.


" Sekali- kali kok Tan...aku aja sering Tante suruh makan di sini," jawab Mas Dirga.


" Ini Tante sekalian masak," ujar mamaku tersenyum.


"Lus, mama titip ucapin terima kasih buat Hendra juga ya."


" Iya ma..."


" Bos kamu tadi buru- buru amat Lus...jangan- jangan takut sama bang Vino ha...ha...," ledek bang Vino.


" Tadi lagi ditungguin mamanya katanya bang."

__ADS_1


" Oowh....kirain..."


__ADS_2